Dua bulan berlalu dan setelah promosi Vizer Academy tidak ada kejadian lain yang menarik. Kehidupan sekolah berjalan seperti biasanya, hari-hari membosankan yang terasa sangat lambat.
"Udah hari terakhir sekolah, tapi belum ada kabarnya juga," gerutu Carla sambil membaringkan kepalanya di atas meja.
"Car, kamu nggak lihat berita terbaru? Sistem pengumuman tahun ini berubah," ucap Saex memberitahu Carla. Entah kenapa Saex yakin Carla tidak mengecek pemberitahuan karena memang biasanya Carla ketinggalan info.
"Owh, gatau tuh. Aku gak sempet lihat pemberitahuan terbaru," ucap Carla sambil tersenyum. Ia sedikit berharap akan dipuji oleh Saex dan Cerland karena ia sangat rajin membaca buku, apalagi hanya mereka berdua yang tahu kalau sebenarnya Carla adalah seorang kutu buku.
"Nggak usah berharap dipuji. Siapa juga yang mau muji seorang kutu buku yang selalu dapet peringkat terbawah. Aku malah bingung, kamu baca buku itu dipahami atau cuma buka-buka aja sih? Bisa-bisanya ada orang yang otaknya tetep kosong walau sudah membaca semua buku di perpustakaan sekolah," celoteh Cerland.
Carla langsung cemberut. Ia bukannya tidak membaca buku-buku itu dengan benar, hanya saja otaknya tidak bisa memprosesnya dengan baik. Ada beberapa tulisan yang cukup menarik bagi Carla, tapi ia tidak mengerti sehingga hanya dibacanya berulang-ulang kali.
Menurut Carla, walaupun ia tidak mengerti artinya, setidaknya ia menghafal beberapa kata sehingga ia bisa memamerkannya ke teman-temannya. Niatnya sih biar terlihat sedikit lebih pintar.
Sayangnya, teman dekat Carla adalah Saex dan Cerland yang sudah mengerti dan hafal semua isi buku yang dibaca Carla, mana bisa Carla memamerkan hasil hafalannya yang tak sampai lima kata itu. Bukannya dapat pujian, ia pasti ditanya-tanyai oleh Cerland.
"Sistem ini baru diresmikan sebulan yang lalu. Jika sebelumnya pendaftaran melalui sekolah, tahun ini pendaftaran dilakukan secara mandiri di stadion tengah kota alias stadion tempat pembukaan Pertandingan Akademi Tahunan. Nanti akan ada stand dari tiap akademi, jika kita sudah memutuskan untuk masuk ke suatu akademi, langsung daftar di sana dan data kita akan masuk. Kertas pilihan yang kita kumpulkan dua bulan lalu hanya akan menjadi pegangan tiap akademi, tidak ada pengaruhnya sama sekali," jelas Saex secara runtut.
Carla hanya mengangguk-angguk sambil berusaha memahami penjelasan Saex. Setidaknya Saex pasti sudah menyederhanakan kata-kata dari berita, sehingga Carla bisa menangkap poin-poin dari penjelasan Saex.
"Kapan pendaftarannya dilakukan?" tanya Carla setelah beberapa detik berpikir.
"Besok pembukaannya, sedangkan pelaksanaannya akan dilakukan selama tujuh hari. Diperbolehkan pergi ke sana kapan pun. Bahkan ketika malam, stand akan tetap di buka. Boleh datang berkali-kali ke sana, tapi jika sudah mendaftar maka sudah tidak bisa kembali ke rumah. Setelah mendaftarkan diri, anak yang mendaftar akan langsung dimasukkan ke asrama akademi. Oh iya, akademi bisa memutuskan untuk menerima atau menolak murid dan batas maksimal penolakan adalah tiga kali. Jika sudah ditolak tiga akademi, maka tidak diperbolehkan mendaftar lagi." Kali ini Cerland yang menjelaskan.
Sistem tahun ini diubah dengan tujuan mengurangi jumlah anak yang tidak masuk akademi. Semua anak yang baru lulus diberikan kesempatan untuk memikirkan pilihan mereka kembali sambil mereka bertanya-tanya di stand yang tersedia.
"Okey, besok ke sana yuk!" ajak Carla setelah mendengar penjelasan dari Saex dan Cerland.
"Boleh, jam berapa?" tanya Saex. Sedangkan Cerland hanya mengangguk untuk mengiyakan ajakan Carla.
"Sore ... sekitar jam empat?" usul Carla setelah berpikir selama beberapa detik.
"Oke."
***
Keesokan harinya
"Untung aku sudah memikirkan semuanya," ucap Carla yang masih berbaring di atas tempat tidurnya walaupun jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 pagi.
Walaupun Carla biasanya kesulitan untuk memahami sesuatu, tapi kali ini ia bisa dengan cepat mencari celah agar bisa bangun siang dan bermalas-malasan. Otak kecilnya berfungsi dengan maksimal kemarin sehingga jam pertemuan yang ia sebutkan tidak terlalu lagi, walau bisa dibilang terlalu sore.
Carla memang masih berbaring di atas tempat tidur, tapi pikirannya sudah kemana-mana. Ia memang bisa menentukan pilihan akademinya saat sampai di stadion nanti, tapi tetap saja ia tidak bisa berhenti memikirkannya.
"Semisal aku milih akademi yang bagus, kalau dari segi nilai kemungkinannya kecil ... atau mungkin tidak memungkinkan sama sekali. Kalau dari segi lainnya, anak-anak Vizer Academy bilang kalau aura-ku bagus atau apalah itu, aku tidak mengingatnya," gumam Carla sambil melihat langit-langit kamarnya.
"Kalau akademi tengah, kemungkinannya lumayan juga sih. Kalau akademi rendah, pasti diterima tapi untuk selanjutnya ... entahlah." Carla menutup wajahnya dengan bantal dan berusaha untuk tidur lagi.
"Tapi ada beberapa akademi yang selama ini tidak terlihat sama sekali, bisa saja mereka menarik tapi tidak terlihat ...." Carla lanjut bergumam.
***
"Jadi, berapa lama kita harus menunggu manusia itu di sini?" gerutu Cerland yang sudah lelah berdiri di depan rumah Carla.
"Sampai orangnya keluar sendiri," jawab Saex dengan santai sambil melihat-lihat tanaman yang ada di depan rumah Carla.
Cerland menghembuskan napasnya dengan kasar karena jawaban Saex yang tidak memuaskan. "Kenapa kita tidak memanggilnya saja? Atau bilang mau berkunjung ke rumahnya atau alasan-alasan lainnya supaya tidak dicurigai orang sekitar?" usul Cerland.
"Ini masih belum jam empat, jadi tidak ada alasan kuat untuk kita memanggilnya sekarang. Lalu, Carla sedang sendirian di rumah, akan terlihat aneh jika ada dua orang pria yang tiba-tiba mengunjunginya," jawab Saex dengan santai.
Saex tidak terlihat kesal walaupun sudah beberapa menit menunggu di depan rumah Carla.
"Permisi, paket," teriak Cerland sambil mengetuk pintu rumah Carla. Saex kaget ketika melihat Cerland sudah mengetuk pintu rumah Carla, padahal sebelumnya Cerland masih berdiri tepat di sebelah Saex.
Saex tidak mendekati Cerland, ia hanya menatap Cerland dengan ekspresi datar.
Terdengar suara barang jatuh dari dalam rumah setelah Cerland mengetuk pintu rumah Carla. Saex dan Cerland saling pandang mendengar suara yang agak nyaring itu.
Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki yang mendekat.
Cklek!
"Paket darimana?" tanya Carla sambil membuka pintu. Carla tidak menunjukkan reaksi apa-apa ketika melihat wajah Cerland. Ia melihat ke sekeliling sebentar dan langsung menemukan Saex.
"Sebentar, lima menit lagi aku keluar," ucap Carla dengan cepat sambil tersenyum kecil. Ia menutup pintu rumahnya lalu segera berlari ke kamarnya.
"Aku ketiduran!" gumam Carla di kamarnya sambil melirik jam dinding di kamarnya lalu segera bersiap dengan secepat kilat.
"Kamu lihat tadi? Sudah jam segini dan dia masih memakai piyama, kalau tidak kuketuk, bisa-bisa ia baru mandi jam setengah lima nanti," gerutu Cerland yang berjalan kembali mendekati Saex.
Saex hanya tersenyum kecil mendengar celotehan Cerland.