Devan menatap ke arah ayahnya. Wajah Tuan Wijaya begitu marah. Devan menelan salivanya dengan berat. Semenjak semua kedoknya terbuka, Devan tidak bisa bergerak bebas. Apalagi ia tahu, ayahnya tidak akan tinggal diam.
Tuan Wijaya mempunyai banyak orang sewaan dan bodyguard yang handal. Tentu saja rahasia Devan cepat terbongkar. Tidak hanya itu, Devan juga merasa selalu diawasi sekarang ini. Devan memang tidak bisa bermain-main. Ia harus bisa mengambil hati ayahnya kembali.
Setelah melihat ke arah ayahnya, ia malah menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap wajah ayahnya yang penuh kemarahan itu. Tuan Wijaya duduk di sofa sambil terus menatap anaknya yang sedang mati kutu.
"Duduk di sini!!" perintah Tuan Wijaya.
Dengan langkah pelan, Devan duduk di seberang ayahnya. Ia masih menundukkan kepalanya. Meski dia bertingkah banyak di luaran sana, tapi dia tetap tunduk di depan ayahnya.
"Maafkan aku Pa," ucap Devan sambil menundukkan kepalanya.
"Devan, aku sudah berulangkali menasehatimu. Cobalah ingat almarhumah ibumu. Dia pasti sangat kecewa melihat anaknya menjadi seperti ini. Papa juga merasa sangat bersalah tidak bisa mendidikmu secara benar setelah ibumu meninggal," ucap Tuan Wijaya dengan suara sedih.
Devan kembali tertegun. Terkadang ia sadar sudah membuat orang tuanya kecewa. Namun, di saat hatinya berada di dasar keterpurukan, Devan kembali kesal dan ingin melampiaskan kemarahannya.
"Maafkan aku Pa," ucap Devan lagi seolah tidak bisa mengucapkan perkataan lain.
"Berulang kali kamu meminta maaf, aku pasti akan memaafkanmu. Hanya saja, kalau tidak ada perbaikan pada sifatmu, apa yang harus Papa lakukan?? Jujur Papa sangat bingung harus bagaimana lagi," ucap Tuan Wijaya sambil memijat pelipisnya sendiri.
"Aku akan mencoba memperbaiki diri Pa," ucap Devan tak mau membebani ayahnya.
Pak Wijaya mengamati wajah anaknya yang baru saja terangkat itu. Sebenarnya ia sangat sulit untuk kembali percaya. Namun, sebagai orang tua, Tuan Wijaya ingin memberikan kesempatan kedua untuk Devan.
"Baiklah. Papa akan lihat bukti dari perkataanmu itu. Kalau sampai kamu ingkar janji, Papa akan memberimu hukuman. Dan satu lagi, perlakukan Sandrina dengan baik," ucap Tuan Wijaya begitu serius.
"Sandrina?? Kenapa? Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? Siapa dia? Kenapa Papa begitu mengistimewakan anak itu?" tanya Devan.
Tuan Wijaya terdiam cukup lama. Wajahnya seolah menyimpan sebuah rahasia. Devan terus mengamatinya. Tiba-tiba Tuan Wijaya tersenyum.
"Dia gadis yang baik. Kebetulan aku melihat berkas pendaftarannya. Entah kenapa Papa tertarik pada pribadinya. Dia gadis yang sangat polos."
"Apa?? Sejak kapan Papa terkesan dengan gadis polos? Apalagi dia kurang good looking untuk menjadi sekretarisku. Rasanya ada yang aneh," ucap Devan tidak terima.
"Seharusnya kamu tidak terlalu melihat Sandrina dari penampilannya saja. Tapi dari sikap dan perilakunya. Jujur, setiap kali melihat Sandrina, aku teringat dengan Mamamu. Saat muda, mama kamu juga sangat polos. Itu yang membuat Papa jatuh hati karena ketulusan hatinya," jelas Tuan Wijaya.
Sesaat Devan mengingat-ingat beberapa kejadian bersama Sandrina. Bagaimana Devan bisa percaya? Di matanya, Sandrina begitu ceroboh. Tidak hanya itu, bahkan Sandrina juga meminta ganti rugi lebih banyak. Devan menghela napas.
'Dari mana ada ketulusan?? Huh, papa tidak tahu gadis itu yang sebenarnya. Dia begitu ceroboh, tidak bertanggung jawab dan mata duitan. Belum lagi dia juga sangat cuek dengan penampilannya. Wanita serampangan seperti itu,' batin Devan meronta-ronta tidak terima.
"Ada apa?? Kenapa kamu diam saja??" tanya Tuan Wijaya.
"Aku sangat lelah Pa. Rasanya aku sudah ngantuk," jawab Devan tidak ingin memperpanjang perdebatan.
"Oh, kamu boleh tidur sekarang. Papa juga mau tidur," ucap Tuan Wijaya.
Sesampainya di kamar, Devan duduk di tempat tidurnya dengan lemas. Kamar itu begitu sepi dan sunyi. Ia melihat foto ibunya yang terpasang rapi di figura. Ia menghela napas panjang dan mengambil bingkai foto itu.
"Ma, apa mama kecewa denganku?? Andai saja mama ada di sini, aku akan berbagi cerita dengan mama. Mungkin mama akan mengerti apa yang aku rasakan," bisik Devan lirih.
Keesokan harinya di rumah Sandrina, Bu Fera sudah menyiapkan makanan kesukaan Sandrina. Pagi itu, isi meja makan cukup banyak. Tidak seperti biasanya.
'Apa karena aku bangun terlambat pagi?? Jadi semua makanan masih lengkap? Adik-adikku juga belum berangkat. Ah, mungkin ini efek aku bangun terlalu pagi,' batin Sandrina.
"Kenapa malah diam di situ. Cepat duduk dan makanlah. Ibu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Semoga harimu lebih bersemangat lagi," ucap Bu Fera ramah.
"Iya Bu," jawab Sandrina sambil bergabung di meja makan itu.
Tak lama Pak Yoga datang bergabung. Sementara Sandrina masih mengambil makanan di meja dengan kikuk. Pak Yoga melayangkan senyuman ke arah Sandrina seolah tahu kebingungan anaknya.
“Bagaimana hari pertamamu kerja?” pertanyaan Pak Yoga membuat Sandrina hampir tersedak.
Bu Fera langsung mengambilkan aid minum. Kini perhatian penghuni meja makan langsung pada Sandrina. Sandrina meneguk air minum sambil memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan ayahnya. Ia tidak mungkin menjelaskan semuanya secara gamblang.
“Kenapa kamu sampai kaget seperti itu?” tanya Bu Fera heran.
“Aku bingung bagaimana menceritakannya. Aku dapat bos yang galak Bu. Ngeri deh,” jawab Sandrina.
“Apa dia masih muda? Apa dia sudah menikah? Galak bagaimana? Apa kamu melakukan kesalahan?” pertanyaan Bu Fera langsung memberondong.
“Dia sudah dewasa sih, kalau umurnya aku kurang tahu. Belum menikah. Ya galak dari lahir mungkin. Aku nggak melakukan kesalahan kok bu. Hampir semua karyawan juga takut dengannya,” jelas Sandrina.
“Wah, baru juga dapat pekerjaan baru, tapi ujian kamu sudah baru lagi ya,” ucap Bu Fera ikut prihatin.
“Tapi ibu tenang saja. Aku akan berusaha dengan baik. Buktinya hari ini aku bangun lebih pagi, hehehe,” kata Sandrina.
“Baguslah. Semangat ya,” ucap Bu Fera.
Sejak Sandrina bekerja, Bu Fera lebih ramah padanya. Ibunya tidak lagi banyak marah-marah. Mereka kembali melanjutkan makan. Sandrina agak curiga karena ayahnya diam saja.
“Em,, apa posisimu di kantor?” pertanyaan Pak Yoga langsung membuat Sandrina menelan makannya dengan terburu-buru.
“Sekretaris bos yang galak itu Pa,” jawab Sandrina.
“Wah, hebat Bu. Anak kita mendapatkan posisi yang strategis. Pasti gajinya besar. Kamu harus lebih semangat ya,” ucap Pak Yoga
Sandrina tahu, gajinya mungkin akan besar. Namun, tanggung jawabnya juga tidak kalah besar. Sandrinya hanya mengangguk mengiyakan ucapan ayahnya. Ia tahu kedua orang tuanya menaruh harapan besar di pundaknya.
Tuntutan hidup anak pertama perempuan memang cukup berat. Seperti yang Sandrina alami kali ini. Mereka hampir selesai sarapan.
“Apa nama bos kamu yang galak itu Devan?” tanya Pak Yoga tiba-tiba.
“Kenapa Papa bisa tahu?” pertanyaan itu keluar bersamaan dari mulut Sandrina dan ibunya.
Bersambung...