Bab.9 Tugas Berat Sandrina

1043 Kata
  Pak Yoga tertegun mendapatkan pertanyaan dari anak dan istrinya. Dia terdiam cukup lama. Sementara Sandrina memandangi ayahnya seperti ada hal yang disembunyikan lelaki paruh baya itu.   "Aduh, kenapa kalian menatapku seperti itu? Jelas aku sering dapat lebih banyak kabar. Sebagai ojek online, aku beberapa penumpang seringkali berkeluh kesah soal bos di DW Group yang galak dan orangnya begitu dingin. Jadi ya, aku tahu namanya," jelas Pak Yoga panjang lebar.   "Benar juga sih. Wajar saja kalau Papa tahu semua itu," kata Sandrina sambil beranjak dari tempat duduknya.   "Ya sudah, kamu hati-hati berangkatnya ya," pesan Bu Fera saat Sandrina menyalaminya.   Seperti biasanya, Sandrina berangkat pakai motor. Baru diperjalanan saja, dia sudah membayangkan penatnya di kantor. Sandrina mendengus kesal.   "Untung aku masih menjalani masa-masa latihan. Pak Andrian orangnya cukup baik. Jadi aku tidak perlu khawatir. Dia juga tampan. Ya meski tidak setampan Pak Devan yang dingin kayak es batu itu," celoteh Sandrina di tengah perjalanan.   Dengan memantapkan hatinya dan menaruh semangat lebih, Sandrina turun dari motornya. Sejenak ia memiringkan kaca spion motor untuk melihat wajahnya. Rambutnya tapi dan wajahnya juga terlihat segar meski ia hanya menggunakan bedak tabur dan lip balm.   Beberapa menit berlalu semenjak Sandrina sampai di ruangannya. Tidak lama Pak Andrian yang datang menghampirinya. Lelaki itu tidak kalah rapi seperti karyawan-karyawan yang lainnya. Ia tersenyum begitu manis pada Sandrina. Wangi parfum Pak Andrian begitu terasa saat lelaki itu semakin dekat.   "Seharusnya saya yang datang ke ruangan bapak," ucap Sandrina.   "Jangan sungkan seperti itu. Dan jangan terlalu resmi bahasanya. Sebenarnya, nantinya jabatan Anda lebih tinggi dariku. Aku hanya menang lebih lama di sini saja," ucap Pak Andrian.   "Eh, kenapa bisa begitu? Bukankah yang melatih pekerjaan di sini bapak?" tanya Sandrina.   "Ya bisa saja. Semua punya tugas masing-masing di sini. Nah, kebetulan sekali saya akan menjelaskan tugas-tugas Anda sebagai sekretaris pribadi," ucapan Pak Andrian semakin membuat Sandrina heran.   "Sekretaris pribadi?? Kata Bu Desy, aku akan menjadi sekretaris CEO. Sebenarnya apa sih posisiku??" tanya Sandrina mulai panik dan sampai lupa menggunakan bahasa formal.   "Posisi Anda memang sekretaris pribadi CEO," ucapan Pak Andrian bagaikan petir di siang bolong.   "Pak, bukankah jabatan seperti itu harusnya diberikan pada orang yang sudah berpengalaman lama. Bukan bocah kemarin sore seperti saya?? Jujur saya merasa minder dengan jabatan itu," ucap Sandrina dengan wajah penuh keringat dan pucat.   Pak Andrian tidak menanggapi perkataan Sandrina. Ia malah meraih tempat tisu dan mendekatkannya ke Sandrina. Agaknya dia risih atau kasihan melihat Sandrina mulai berkeringat.   "Usaplah keringatmu. Aku tahu kegelisahanmu. Melihat dari umurmu dan pengalaman bekerjamu, ini memang bukanlah hal mudah. Apalagi beban yang nantinya akan kamu pukul. Kita bicarakan dengan bahasa yang santai saja biar kamu tidak terlalu tertekan," kata Pak Andrian.   Sandrina mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap wajahnya dengan serampangan. Apa yang baru saja ia dengar sudah cukup membuatnya tertekan.   Ia mencoba menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Meski ia lakukan berulang, ia tetap saja bingung. Banyak sekali pertanyaan berjibun di kepalanya.   “Kenapa saya bisa berada di posisi yang sulit seperti ini Pak?” tanya Sandrina.   “Jangan bilang seperti itu. Setelah kamu bisa melakukan semuanya, pekerjaan ini akan terasa mudah. Jadi tetap semangat ya,” pinta Pak Andrian.   “Aku tahu soal itu Pak. Tapi kenapa aku bisa ada di posisi sulit seperti ini?” ucap Sandrina sambil memijat pelipisnya sendiri.   “Karena kamu adalah karyawan pilihan. Tuan Wijaya sendiri yang merekomendasikanmu. Jadi jangan sia-siakan kesempatan ini,” jawab Pak Andrian.   “Tapi pak, aku tidak kenal siapa Tuan Wijaya dan aku baru melihatnya kemarin. Itupun kebetulan. Jadi bagaimana bisa dia merekomendasikan aku??” Sandrina tidak bisa menerima kenyataan itu.   “Anggaplah saja semua itu keberuntungan yang diberikan oleh Tuhan. Jadi daripada kita banyak berdebat dan membuang-buang waktu, lebih baik kita lanjutkan latihan untukmu. Kemarin kita sudah mengenal perusahaan ini dan bagian-bagian yang ada di dalamnya. Sekarang kita akan belajar tentang apa saja tugas sekretaris pribadi CEO,” ungkap Pak Andrian tidak ingin membuang-buang waktu.   “Baiklah,” ucap Sandrina mencoba menyisihkan rasa bingungnya atas keadaan yang ada.   Pak Andrian mengajak Sandrina ke ruangan meeting. Ia ingin menyampaikan beberapa paparan untuk Sandrina. Dengan langkah lunglai Sandrina mengekor di belakang lelaki itu.   Beberapa pasang mata tampak memperhatikan Sandrina. Entah apa yang mereka pikirkan. Sandrina tidak ingin ambil pusing dengan memikirkan bagaimana pandangan mereka. Sesampainya di ruang meeting itu, Sandrina membantu Pak Andrian memasang alat-alat untuk presentasi.   “Baiklah, kita mulai dari pendahuluan ya. Dalam dunia bisnis, kita mengenal peran sekretaris dalam kesuksesan sebuah perusahaan. Di dalam dunia bisnis para atasan tidak hanya memiliki sekretaris eksekutif yang mengurusi tugas dari perusahaan saja, tapi mereka juga punya sekretaris pribadi untuk urusan mereka di dalam dan di luar pekerjaan kantor,” jelas Pak Andrian.   “Tunggu Pak! Aku merasa tidak cocok dengan tugas itu,” ucap Sandrina.   “Ini baru tugas secara umum saja. Jadi jangan mengambil kesimpulan terlebih dahulu,” pinta Pak Andrian.   “Baiklah, coba dilanjutkan!” akhirnya Sandrina mencoba menahan ego dalam dirinya.   Padahal ia sendiri sudah ngeri saat membayangkan dirinya melayani seorang Devan yang dingin dan arogan. Meskipun bosnya tampan, Sandrina tetap saja merasa kacau.   Pak Andrian meneruskan penjelasannya. Sekretaris pribadi seorang CEO bekerja membantu semua tugas atasannya dan menjadi perantara pimpinannya terhadap yang lainnya. Sekretaris pribadi dituntut mampu mencegah pimpinannya kelebihan beban atau masalah kecil yang tidak penting.   ‘Kalau begitu enak banget ya jadi Devan,' gerutu Sandrina dalam hati.   “Pekerjaan seorang CEO pastilah sangat padat dan penuh tekanan. Untuk itulah sekretaris pribadi direkrut untuk menentukan skala prioritas pekerjaan atasannya, menata appointment mana yang harus didahulukan dan memberikan saran-saran untuk kemajuan perusahaan,” jelas Pak Andrian.   Sandrina terdiam cukup lama. Tatapannya yang tidak memperhatikan layar proyektor sudah menunjukkan dengan jelas bahwa gadis itu sedang melamun. Atau mungkin sedang meratapi hidupnya.   Ada sebongkah penyesalan karena ia sudah menandatangani kontrak kerja di sana. Jauh dalam hatinya ia begitu memberontak karena merasa kesulitan dengan tugas-tugas itu. Baru mendengarnya saja, Sandrina sudah merasa pesimis.   “Jadi apakah sejauh ini sudah paham dengan penjelasan saya??” tanya Pak Andrian agak bingung dengan ekspresi wajah Sandrina yang tidak bersemangat.   “Saya paham dengan penjelasannya. Tapi sepertinya saya tidak bisa melaksanakan semua tugas itu. Saya berada di luar kriteria untuk posisi itu. Saya sadar akan kemampuan diri saya. Dan sebaiknya saya mengajukan resign saja,” ucapan Sandrina langsung membuat Pak Andrian terbelalak kaget.   Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN