"Apa?? Bagaimana kamu bisa berpikir demikian?? Banyak orang yang berlomba-lomba untuk berada dalam posisimu. Kenapa kamu malah mau resign??" tanya Pak Andrian heran.
Sandrina malah cemberut mendengar ucapan Pak Andrian. Ia masih sulit menerima semua penjelasan yang baru saja disampaikan. Setelah mengetahui tugas-tugasnya, Sandrina menjadi pesimis.
"Pak, aku sangat sadar. Ini bukan tugas yang tepat untukku. Lebih baik aku ajukan pengunduran diri saja. Daripada aku tidak bisa bekerja sesuai keinginan perusahaan," ucap Sandrina.
"Ayolah, seorang karyawan apalagi yang masih baru banyak yang akan berpikiran seperti kamu. Tapi lama-lama setelah mereka belajar dan mengerti tugasnya, mereka akan melakukannya dengan baik. San, coba ingat-ingat pula. Apa kamu nggak butuh uang? Bukankah kamu kerja untuk mencari uang," ucapan Pak Andrian membuat Sandrina kembali bingung.
Tentu saja ia selalu mengingat soal uang. Bahkan dorongan dari ibunya juga karena masalah keuangan. Setelah sekian lama menjadi pengangguran, akhirnya ia mendapatkan pekerjaan juga.
Beberapa kali Sandrina mengatur napasnya untuk menenangkan diri. Ia harus kuat menjalani semuanya. Demi ibunya, demi ayahnya, demi kedua adiknya, dan demi hidupnya sendiri.
"Baiklah, lanjutkan materi bapak," ucap Sandrina pasrah.
"Baguslah. Kalau kamu mundur, aku juga yang akan kena marah Tuan Wijaya," sahut Pak Andrian.
"Tapi kenapa?"
"Entahlah. Kamu menjadi begitu istimewa. Mungkin itu suatu keberuntungan untukmu mengingat kamu tidak memiliki hubungan apapun dengan Tuan Wijaya."
"Aku jadi semakin bingung."
"Aku juga. Tapi kita di sini tidak untuk membahas itu. Aku hanya memiliki waktu untuk memberimu pelatihan, setelah itu kamu akan bekerja sendiri sesuai tugas-tugas yang diberikan," ucap Pak Andrian.
"Aku tahu itu," jawab Sandrina malas.
Pak Andrian melanjutkan penjelasannya mengenai tugas-tugas sekretaris pribadi CEO yang diinginkan perusahaan itu. Mulai dari mengenal lebih dalam sang atasan seperti kebiasaan, hobi, kekurangan, kelebihan dan hal-hal yang disukai. Hal itu akan mempermudah pekerjaan sekretaris untuk melayani sang atasan.
Lalu, ada lagi yang harus diperhatikan Sandrina. Gadis itu harus mulai mempelajari perusahaan itu dengan serius hingga mengetahui semuanya dengan baik. Jadi saat berhubungan dengan klien atau orang penting lainnya ia tidak salah langkah.
Sandrina juga harus bekerja dengan rapi, cepat, dan benar. Sebagai seorang sekretaris ia dituntut untuk cekatan. Seorang sekretaris pribadi haruslah rapi dan terorganisir, karena sekretaris pribadi akan diminta untuk membantu menyimpan dokumen-dokumen atasan atau mengatur pem-folder-an pada komputer atasan, kalau tidak terorganisir, maka akan kesulitan untuk mencari dokumen atau file yang diminta atasan dengan cepat, dan mampu mengoperasikan alat-alat yang berhubungan dengan pekerjaan atasan.
Sandrina juga harus punya inisiatif untuk mengerjakan tanggung jawab sebelum diminta, harus memiliki rasio yang tepat untuk memperkirakan kapan pekerjaan itu harus dilaksanakan dan harus selesai. Semua kata-kata Pak Andrian seperti berputar-putar di dalam kepalanya. Beberapa saat Pak Andrian terdiam.
"Sudah selesai Pak?? Rasanya isi perutku terkuras habis untuk memahami penjelasan bapak dan meratapi nasib ini," ucap Sandrina.
"Hahaha, maaf kalau cukup panjang. Tapi masih ada uang belum aku jelaskan. Sebagai sekretaris kamu harus pandai berkomunikasi. Karena kamu adalah penyambung lidah dari sang atasan. Kamu asah lagi kemampuanmu dalam berbahasa. Jangan lupa sopan santun dan attitude yang baik," ucap Pak Andrian.
"Siap Pak," sahut Sandrina lemas.
"Sepertinya kamu sudah kelaparan. Atau kita makan dulu saja sebelum kita melanjutkan materi hari ini," ucap Pak Andrian setelah melihat jam tangannya.
"Baiklah," jawab Sandrina pendek.
"Karena melihat kamu begitu gelisah, bagaimana kalau aku traktir kamu?? Ya biar kamu lebih semangat lagi!" ucapan Pak Andrian membuat Sandrina tersenyum senang.
"Nah, ini yang membuatku semangat, wkwkwk. Apa aku boleh makan apa saja yang aku mau??" tanya Sandrina saat sifat rakusnya keluar.
"Tentu saja," ucap Pak Andrian.
Mereka berjalan keluar dari ruangan meeting. Saat sampai di luar, tiba-tiba langkah Sandrina terhuyung-huyung. Dengan refleks Pak Andrian memegangi tubuh Sandrina. Sesaat mereka saling menatap.
Wajah Sandrina memerah. Tak lama mereka sudah dalam posisi semula. Sandrina memang terlihat pucat. Ia tampak sangat lelah karena pikirannya terbebani oleh semua tugas-tugas itu.
"Kamu nggak apa-apa??" tanya Pak Andrian.
"Nggak apa-apa kok. Mungkin karena lapar dan syok," jawab Sandrina.
"Hahaha, baiklah. Ayo kita segera cari makan," ucap Pak Andrian.
Sandrina mengangguk. Sementara dari arah lain, Devan melihat hal yang baru saja terjadi dengan tatapan sinis. Entah kenapa langkah kakinya mulai mengikuti dua orang yang hendak makan siang itu.
"Cih!! Dasar gadis jengkol nggak tahu diri. Bukannya kerja yang bener, eh dia malah menggoda Andrian. Pasti itu senjatanya. Pintar sekali dia mengambil hati lelaki. Termasuk Papa. Padahal dia nggak cantik dan nyaris gendut. Pasti makannya banyak. Huh!!" gerutu Devan dengan wajah penuh kebencian.
Sandrina dan Pak Andrian duduk bersama dalam satu meja. Lagi-lagi banyak yang menatap mereka dengan tatapan aneh. Namun, Sandrina tidak menghiraukan hal itu. Ia sedang sibuk memilih-milih menu makanan yang ada.
"Aku pesan ini, ini, ini dan ini. Minumnya jus mangga. Tambah es krim juga boleh," ucap Sandrina sambil tersenyum.
"Ternyata kamu makannya banyak juga ya," kata Pak Andrian sambil membalas senyuman Sandrina.
"Ya bisa bapak lihat dari badan saya. Bukankah sudah jelas, sedikit gempal," ucap Sandrina sambil terkekeh.
"Dan kamu juga lumayan cuek orangnya. Tapi bagus sih, malah nggak mudah terganggu dengan omongan orang," kata Pak Andrian.
"Ya begitulah aku. Meski cuek, kadang aku juga tetap mendengarkan omongan orang. Dan kalau kebangetan, aku juga bisa marah," kata Sandrina.
Tiba-tiba ada tepuk tangan terdengar. Sandrina dan Pak Andrian langsung mencari sumber suara itu. Mereka melihat Devan datang sambil bertepuk tangan.
"Hebat sekali karyawan baru ini! Rupanya dia sudah bisa mengambil hatimu juga Andrian??" tanya Devan dengan tatapan sinis.
"Maksud Pak Devan??" tanya Andrian bingung.
"Kamu masih tanya yang aku maksudkan?? Di jam kerja kalian malah pacaran seperti ini," tuduh Devan.
"Tunggu Pak. Ini tidak seperti yang bapak pikirkan. Bapak hanya salah paham," kata Pak Andrian.
Bersambung...