Drama Pemecatan

1043 Kata
"A-aku... Maaf, Pak. Saya nggak sengaja. Saya beneran nggak lihat..." Axel menunduk perlahan, menatap noda di dadanya, lalu mengangkat pandangannya pada Maira yang membungkuk panik. "Maira Maharani," gumamnya pelan, tapi nadanya tajam menusuk. "P-Pak?" "Divisi desain produk. Masuk tahun lalu. Riwayat: sering terlambat setor desain, salah input vendor, pernah kirim file presentasi yang salah." Maira menelan ludah, kakinya lemas. "Dan hari ini... kamu tumpahkan kopi ke jas saya." "Pak, saya benar-benar minta maaf..." "Temui HRD. Sekarang." "Pak...." "Saya ulangi. Temui HRD. Segera." Di ruang HRD yang dingin dan berbau arsip, Maira duduk dengan tangan terkepal. Wajah tertunduk dalam, mata berkaca. Pak Yanuar menyerahkan selembar kertas. Wajahnya penuh iba. "Surat peringatan, Maira. Kami sudah cukup toleran. Tapi kamu harus sadar, ini bukan pertama kali." "Saya paham, Pak." Suaranya lirih, nyaris tak terdengar. "Kalau ini terulang lagi... kami harus pertimbangkan pemutusan kontrak." Kata-kata itu menghantam lebih keras dari apa pun. Di tengah proyek besar, krisis keuangan keluarga, dan perjuangannya membesarkan adik setelah ibunya meninggal, ini terasa seperti hukuman tak adil. Maira mengambil surat itu dan keluar tanpa berkata-kata. Langkahnya gontai kembali ke meja. Beberapa rekan menatap iba. Sebagian berpura-pura tak melihat. "Maira..." Salah satu teman mendekat, tapi Maira mengangkat tangan. "Aku nggak apa-apa." Padahal, ia jauh dari kata baik-baik saja. Maira menyimpan surat peringatan itu ke dalam laci, menarik napas dalam-dalam, lalu menatap layar monitor. Tangannya gemetar saat menyentuh mouse. Kata-kata Pak Yanuar menggema di kepala: "Kalau ini terulang lagi..." Seolah satu kesalahan kecil cukup menghapus semua usaha dan dedikasinya. Maira bukan pemalas. Gadis itu bukan pengacau. Hanya... ceroboh. Dia terus belajar dan mencoba. Sayangnya, tak ada ruang untuk 'mencoba' di bawah kepemimpinan CEO sedingin Axel Dirgantara. *** "Lo kejam banget tadi." Axel tak menjawab. "Itu cuma kopi, bro. Lo aja dulu pas magang di London pernah numpahin anggur ke bos besar." "Aku CEO sekarang. Bukan anak magang," jawab Axel datar. "Dia cuma staf. Lo bisa tegur tanpa bikin dia trauma." Axel tetap tak bergeming. Radit menghela napas. "Tapi lo tahu yang paling menarik?" "Apa?" "Dari semua karyawan di sini, gak ada satu pun yang lo perhattin kayak tadi." Dahi Axel mengernyit mendengar itu. "Tapi hari ini lo habisin energi cuma buat marah ke satu gadis ceroboh yang bahkan gak tahu lo lagi cari istri." Axel menoleh, matanya datar. "Gue gak tertarik sama dia, Radit," jawabnya pelan. "Gue bahkan hampir pecat dia." Radit tersenyum kecil. "Tapi lo inget namanya." Axel diam. Karena memang, Radit benar. Maira Maharani. Nama itu melekat. Entah kenapa, Axel sendiripun tak tahu. "Dit..." "Apaan, Pak Axel?" "Gue butuh bantuan," ujar Axel singkat, tanpa basa-basi. "Bantuan cari investor atau cari cewek?" Radit tertawa kecil, tapi langsung terdiam begitu melihat ekspresi serius sahabatnya. "Gue harus menikah dalam tiga bulan. Kalau nggak, perusahaan jatuh ke tangan Rafael." Radit memicingkan mata. "Serius, Bro? Ini terdengar kayak sinetron jam tujuh malam." "Ini kenyataan. Gue nggak bercanda. Kakek sudah menyiapkan surat wasiatnya." Radit langsung duduk lebih tegak. "Oke. Dari mana kita mulai? Kamu mau yang kayak gimana? Cantik, cerdas, seksi, atau anak pengusaha?" "Yang penting... nggak bikin hidup gue makin ribet," gumam Axel pelan. Radit mengangguk penuh pengertian. "Sip. Gue bakal bantu saring sebaik mungkin. Kita bisa mulai dari daftar calon potensial. Gue kenal beberapa perempuan yang-" "Jangan kayak Karen lagi," potong Axel cepat. Radit mengangkat tangan. "Noted. No mantan. No drama. No gold digger." Axel bangkit berdiri dan masuk ke dalam ruangan, tapi langkahnya berhenti tepat di ambang pintu balkon. "Satu lagi..." "Ya?" "Gue nggak peduli siapa cewek itu. Tapi dia harus bisa bersandiwara dengan baik." Radit mengernyit. "Sandiwara? Maksud lo...?" Axel menoleh, sorot matanya tajam. "Karena perempuan yang bakal gue nikahi bukan untuk dicintai... tapi untuk dipamerkan." *** Axel duduk di balik meja kerja dengan tangan yang memijit pelipis. Radit masuk dengan daftar baru di tangan. "Dua belas calon istri lagi minggu ini. Lo harus temui semua dan oilih slah satu. " Axel melirik sekilas. "Gue nyerah." "Apa?! Jangan bilang lo serius mau kasih Dirgantara Group ke Rafael?" "Gue lebih baik bangun perusahaan baru dari nol, daripada hidup dengan orang yang bahkan nggak bisa gue tahan lima menit." "Gue ngerti, Bro. Tapi ingat, ini bukan cuma tentang lo. Ini tentang legacy. Tentang masa depan." Axel diam. Kata itu-warisan-terasa pahit. Sejak kecil, ia tahu hidupnya dibentuk oleh nama belakangnya. Tapi ia tak pernah mengira, pernikahan akan jadi tiket naik... atau pintu jatuh. Radit menyandarkan tubuh. "Lo sadar nggak, dari semua perempuan itu... semuanya punya satu kesamaan?" Axel menoleh. "Apa?" "Mereka semua tahu lo siapa. CEO. Ganteng, kaya. Tapi nggak satu pun thu siapa lo sebenarnya. Mereka cuma lihat Dirgantara Group." Axel tertawa hambar. "Lo pikir ada orang di luar sana yang mau nikah sama gue tanpa tahu siapa gue?" Radit mengangkat bahu. "Kalau ada... itu baru menarik." Sorenya, Axel memutuskan turun langsung ke divisi marketing. Ia ingin mengecek progres peluncuran produk baru. Ia berdiri di sisi ruang terbuka, memperhatikan prototipe desain di monitor para staf. Tiba-tiba, suara gaduh terdengar dari arah pantry. Axel merasa terganggu dan pergi untuk melihatnya. "Astaga! Maaf! Maaf, aku nggak sengaja!" Beberapa orang menjerit pelan. Gelas pecah. Tisu berserakan. Air menggenang hingga hampir menyentuh kabel. Pantry porak poranda. Seorang gadis dengan kunciran setengah dan blus kusut berjongkok panik sambil mengelap lantai dengan tisu seadanya. Matanya merah dengan wajah yang pucat. Tangannya gemetar hebat. Axel mengenal wajah itu. Maira. Gadis ceroboh yang dulu menumpahkan kopi ke jas mahalnya. Nama yang kerap muncul di laporan HRD. Dan kini, ia kembali membuat kekacauan-yang kali ini bisa membahayakan. Beberapa staf melangkah menjauh. Tak satu pun menolong. Axel melangkah ke depan. Sorot matanya tajam. Radit muncul dari belakang, ikut menyaksikan pemandangan itu. "Eh, itu cewek kopi, kan?" bisik Radit. Axel mengangguk pelan. "Panggil HRD. Minta mereka proses pemecatannya," ucap Axel datar. "Serius, bro?" Axel menatap kekacauan di pantry: kabel menjuntai basah, laptop nyaris terendam, dan seorang staf menangis sambil membersihkan tumpahan. "Kesalahan fatal. Ini bukan sekadar ceroboh," tegas Axel. "Dia harus pergi." Radit menelan ludah. "Oke..." Saat Radit berbalik, Axel masih memandang Maira. Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang... berbeda. Namun, tak cukup kuat untuk memaafkan kelalaian sebesar ini. Gadis itu mungkin ceroboh. Tapi untuk sesaat-walau sangat singkat-Axel bertanya dalam hati: "Kenapa dia selalu muncul di saat yang salah... tetapi tak bisa kulupakan?" Dan belum sempat Axel menemukan jawabannya, keputusan sudah diambil. Maira Maharani akan dipecat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN