Warisan atau Pernikahan?
"Menikahlah dalam waktu tiga bulan, atau kau tidak akan mendapatkan apa pun."
Kalimat itu meluncur dari bibir Hartawan Dirgantara dengan nada mantap, tegas, tanpa jeda, seolah yang ia perintahkan hanyalah membuat secangkir kopi-bukan keputusan yang akan mengubah nasib hidup seseorang.
Axel Dirgantara menatap kakeknya lekat-lekat, tak berkedip. Rahangnya mengeras, dan kedua tangannya mengepal erat di atas lututnya.
Di hadapannya, sang kakek duduk di kursi kebesaran menyerupai singgasana, lengkap dengan tongkat ukiran kepala naga yang bersandar anggun di sisi kanan.
"Ini gila, Opa," ucap Axel akhirnya. Suaranya dalam, berat, penuh tekanan.
"Perusahaan ini dibangun dengan kerja keras Ayah. Aku sudah memimpinnya selama tiga tahun dan hasilnya nyata. Dan sekarang Kakek menggantung semuanya... hanya karena alasan pernikahan?"
Hartawan menyipitkan mata. Tatapannya tajam.
"Dirgantara Group bukan sekadar perusahaan. Ini warisan keluarga. Bukan cuma soal angka, grafik, atau strategi. Tapi tentang kesinambungan. Tentang masa depan."
Axel berdiri, melangkah menuju jendela besar di ruang kerja mewah bergaya klasik itu. Dari lantai 30, hamparan Jakarta yang padat dan berkilau memantul di kaca. Tapi pikirannya tak sedang memandang kota.
Ia sedang berusaha memahami jalan pikiran kuno kakeknya.
"Kau bukan hanya butuh istri, Axel," suara Hartawan terdengar dari belakang. "Kau butuh pendamping. Penyeimbang. Penerus."
"Aku butuh mitra bisnis, bukan pasangan hidup," jawab Axel dingin.
"Kalau begitu, kau juga tak butuh perusahaan ini."
Axel berbalik cepat, matanya menyala. "Jadi Opa mengancam?"
Hartawan berdiri perlahan. Usianya memang senja, rambut putihnya tak lagi bisa disembunyikan, tapi aura yang mengelilinginya tetap setajam masa mudanya-saat ia merintis Dirgantara Group dari nol.
"Ini bukan ancaman, Axel. Ini syarat. Wasiat."
Axel mengerutkan dahi. "Wasiat?"
"Jika kau tak menikah dalam tiga bulan sejak hari ini, seluruh saham keluarga akan dialihkan ke Rafael."
Dada Axel terasa sesak. "Rafael?"
"Adikmu punya hak yang sama."
Axel mengepalkan tinju. "Dia bahkan nggak tahu cara memimpin perusahaan. Terlalu santai. Terlalu lembek. Dia menganggap jam kerja itu cuma saran, bukan kewajiban."
"Rafael punya cara sendiri. Dan yang terpenting, dia tak takut membuka hati untuk orang lain. Sesuatu yang tak kulihat darimu, Axel."
Axel mengembuskan napas keras. "Jadi hanya karena aku belum menikah, Kakek rela menyerahkan perusahaan ini ke orang yang bahkan bangun pagi saja susah?"
Hartawan mendekat, menepuk pundak cucunya dengan pelan.
"Aku tahu kinerjamu luar biasa. Tapi Dirgantara Group bukan hanya tentang kinerja. Ini tentang nilai keluarga, tanggung jawab, dan warisan. Aku ingin generasi berikutnya lahir dari darah yang memahami arti menjaga semua ini."
Axel menepis tangan sang kakek perlahan. "Aku nggak percaya sama pernikahan."
"Karena ibumu meninggalkan kalian?" tanya Hartawan, suaranya tajam tapi tak kehilangan empati.
Axel terdiam.
Kakek melanjutkan, "Itu masa lalu. Kamu bukan ayahmu, dan tak semua wanita akan pergi seperti ibumu meninggalkan ayahmu."
Axel menoleh cepat. Mata yang memerah memancarkan luka lama. "Jangan bawa Ibu ke dalam ini."
"Kalau begitu buktikan. Temukan wanita yang bisa kau nikahi. Kalau tidak, perusahaan ini jadi milik Rafael. Dan tak satu pun bisa membatalkan isi wasiat yang sudah ditandatangani di hadapan notaris."
Hening menggantung. Waktu terasa berjalan lambat. Axel melangkah ke meja besar milik kakeknya dan menatap map kulit hitam di atasnya-tertulis: Wasiat Hartawan Dirgantara.
"Kalau aku menikah hanya demi warisan, apa artinya semua ini, Opa?" gumamnya pelan. "Itu sama saja... aku menjual diri."
Hartawan menggeleng. "Justru itu yang akan menyelamatkanmu. Jangan selalu melihat wanita sebagai ancaman, Axel. Ada yang datang bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menyembuhkan."
Axel tertawa kecil, getir. "Opa yakin perempuan seperti itu masih ada di dunia ini?"
Hartawan tak menjawab. Ia hanya menyeringai tipis, lalu kembali duduk dan mengangkat cangkir teh hijaunya. Menyesapnya perlahan, seperti baru saja melempar bom dan tengah menunggu ledakannya menjalar.
Tiba-tiba, Hartawan meletakkan cangkirnya. Tatapannya berubah tajam dan menyelidik.
"Atau jangan-jangan... kau belum menikah karena mengalami masalah?"
Axel mengernyit. "Masalah apa?"
"Masalah... kelaki-lakian," ujar Hartawan tenang tapi menusuk. "Kau tahu maksudku. Disfungsi."
"Astaga! Serius? Opa pikir aku... punya masalah seperti itu?"
Hartawan hanya mengangkat alis.
"Wajar aku curiga. Kau berusia tiga puluh enam, belum pernah sekalipun punya hubungan yang serius. Dan bahkan Karen-satu-satunya wanita yang bertahan agak lama-selingkuh."
"Karena dia matre, Opa! Dia meninggalkanku karena pria kaya yang punya yacht. Itu saja."
"Tapi dia juga bilang sesuatu yang lebih dalam dari itu," potong Hartawan. "Dia bilang... kau tak mampu 'memenuhi kebutuhan' sebagai pasangan."
Axel terdiam sejenak, lalu bangkit berdiri dengan marah.
"Omong kosong! Dia hanya cari pembenaran atas perselingkuhannya."
"Tidak hanya Karen," lanjut Hartawan pelan.
"Dua wanita lain. Sekretarismu yang dulu. Dan juga mantan pacarmu dari tahun lalu. Keduanya menyampaikan kekhawatannya padaku. Dengan kalimat yang hampir sama."
"Karena mereka kecewa, Opa!" Axel berseru, frustasi. "Aku mungkin kaku dan nggak romantis. Tapi aku normal, nggak cacat!"
Hartawan menatapnya lekat-lekat.
"Kalau begitu buktikan. Nikahi seseorang. Jalani hidup normal. Bangun keluarga. Buktikan bahwa semua yang mereka katakan itu salah."
Axel memutar tubuh, kembali menatap jendela. Rahangnya mengeras, napasnya berat.
"Jadi ini juga tentang... kemampuan fisik?"
"Ini tentang semua aspek, Axel. Kepemimpinan bukan hanya soal otak dan strategi. Tapi juga keberanian membangun, melanjutkan, dan mencintai."
Axel menggenggam erat tepi jendela. Matanya menyipit memandang keluar, meski yang ia lihat adalah pertarungan dalam dirinya sendiri.
Hartawan menyesap teh hijau sekali lagi.
"Dan aku ingin lihat... apakah kamu laki-laki seutuhnya, atau hanya pria di balik jas mahal yang kosong."
Axel mengepalkan tangan.
"Aku akan buktikan pada Opa... dan pada semua orang," gumamnya pelan tetapi penuh tekad.
Hartawan hanya tersenyum kecil. Seolah itulah jawaban yang sejak tadi ia tunggu.
Axel meninggalkan rumah dengan hati yang panas. Darahnya mendidih.
"Sialan! Dikira mencari istri segampang itu!"
***
Pagi itu, udara kantor terasa jauh lebih dingin dari biasanya. AC lantai 5 seolah diputar ke titik beku. Para staf berlalu lalang dengan wajah tegang.
Tak ada yang ingin berbuat kesalahan, terutama ketika CEO mereka turun langsung ke lapangan.
Dan benar saja, pagi itu Axel Dirgantara turun langsung.
Langkah sepatunya yang tegap menggema di sepanjang lorong kaca. Jas hitam membungkus tubuh tingginya dengan sempurna, rapi tanpa cela, seolah waktu pun enggan meninggalkan kusut.
Aura dingin dan berwibawa mengelilingi kehadirannya. Membuat siapa pun yang dilewatinya segera menunduk.
Termasuk Maira.
Gadis itu baru saja kembali dari pantry dengan dua gelas kopi di tangan. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk seniornya.
Maira berjalan cepat, berharap bisa tiba di meja sebelum presentasi dimulai. Tapi di persimpangan lorong ruang rapat, ia lengah.
BRUK!
"AH!"
Kedua gelas kopi terlepas. Satu pecah di lantai. Satu lagi menumpahkan isinya langsung ke d**a seorang pria-Axel Dirgantara.
Lantai 5 membeku. Waktu seakan berhenti.
Maira menatap dengan wajah pucat. Tangannya gemetar. Jantungnya seperti dipukul palu. Kopi hitam panas mengalir pelan di jas Armani abu-abu gelap yang dikenakan Axel, menyisakan noda dan aroma pahit.
"A-aku... Maaf, Pak. Saya nggak sengaja. Saya beneran nggak lihat..."