[Nilam, meeting terbuka itu untuk mempermalukan kamu di hadapan umum, Ryan.] Aku menutup layar ponsel lagi, ternyata dugaanku benar, ini semua direncanakan. Tentu semuanya adalah ulah Kiara, buktinya ia tidak mengundang jajaran staff kantor cabang. "Kita balik ke tempat Mas Arlan aja, Om," ajakku sambil melangkah ke mobil dan ponsel sengaja aku masukan kembali ke dalam tas. Baru saja ingin membuka pintu mobil, suara panggilan dari dalam gedung terdengar. Ia menyerukan memanggil namaku dan Om Farhan. "Sampai dipanggil pakai pengumuman, Om?" tanyaku keheranan. "Berati benar yang dikatakan Ryan dalam pesan barusan, Om," tambahku. "Emang Ryan bicara apa?" tanya Om Farhan yang memang belum aku kasih tahu. "Katanya pertemuan ini untuk mempermalukan aku," timpalku lagi. "Berati kamu

