CHAP 1 – Masa Lalu
Chapter 1 - Masa Lalu
Jakarta
Keluarga Diana dan Aldo berteman baik, hal itu dimulai dari persahabatan Aditya Sailendra dan Dito Wijaya sejak SMA. Mereka bahkan berjanji jika jenis kelamin anaknya berbeda, mereka akan menjodohkannya untuk mempererat persahabatan mereka. Ternyata apa yang mereka inginkan terjadi. Aldo terlebih dahulu lahir dari Aditya dan Felicia dan 5 tahun kemudian Diana lahir dari Dito dan Lani.
Sejak kecil, Aldo dan Diana selalu Bersama. Tentunya Bersama kakaknya Diana yaitu Marco. Mereka bertiga seperti Three Musketeers yang selalu bersama kemanapun. Keluarga Sailendra dan Wijaya selalu menanamkan anak – anaknya dari kecil untuk selalu saling menjaga dan menyayangi. Bahkan tak jarang Aldo menginap di rumah Diana dan tidur, mandi maupun bermain bersama dengan Diana dan Marco saat kecil.
Setelah Diana mulai memasuki usia remaja, mereka tidak boleh tidur bersama lagi. Lani berkata, Diana sudah tak pantas untuk berbagi ranjang dengan pria, termasuk Marco dan Aldo. Sehingga hal itu membuat Diana mengalami sedikit perbedaan dalam pandangan hidup, yang menyatakan bahwa Diana sudah beranjak remaja dan harus tau membedakan persahabatan dan keluarga, pria dan wanita.
Setiap hari Aldo selalu berangkat bersama dengan Diana dan Marco, meskipun arah dari rumahnya ke sekolah lebih dekat, dia lebih senang berangkat. Susah dan senang mereka lewati bertiga, bahkan kami tidak sungkan untuk berbagi cerita tentang pasangan, walaupun Diana masih kecil waktu itu, Marco dan Aldo selalu bercerita tentang wanita yang mereka taksir di sekolahnya. Sangat menyenangkan mendengarkan cerita mereka yang menggebu-gebu saat menceritakan wanita yang mereka sukai. Satu hal yang Diana tau, meskipun Aldo suka pada seorang wanita, hingga sampai sebelum perpisahan dengan Diana, ia tidak pernah pacaran dengan siapapun.
Marco selalu meledek, jika Aldo tidak punya nyali untuk menyatakan cinta pada wanita yang ia sukai. Diana sendiri tidak tau, wanita mana yang Aldo sukai. Walaupun keluarga mereka sudah menjodohkan Aldo dan Diana, tapi mereka pikir, mereka masih mudah untuk mengerti apa itu perjodohan, dan masih panjang untuk melakukan hal tersebut, jadi sebaiknya mereka menikmati masa muda yang tidak akan terulang kembali.
Tiba – tiba semua keindahan persahabatan mereka menjadi renggang. Keluarga Diana mengalami kebangkrutan, Dito menjadi stress dan tidak menerima kebangkrutannya, setiap hari ia akan pulang dalam keadaan mabuk dan setelah 2 bulan dari kebangkrutannya, Dito mengalami serangan jantung dan langsung meninggal di tempat, yaitu di kantor. Tidak ada yang tau apa penyebab Dito bisa terkena serangan jantung. Semua memaklumi keadaan susah Dito saat ini, sehingga tidak ada yang menyelidiki apapun yang terjadi dengan kisah dibalik kematian Dito. Semuanya tutup mulut.
Di saat berduka, Lani mendapatkan kabar, bahwa Aditya yang menyebabkan Dito bangkrut dan mengambil semua asset Dito untuk membayar seluruh hutang Dito. Marco yang tidak tahan mendengar Lani bercerita sambil menangis langsung mengambil kunci mobil dan hendak melabrak keluarga om Aditya. Diana tidak sengaja tertidur di mobil Marco bagian belakang, karena di rumah rasanya sesak dan menderita setelah Dito meninggal.
Marco tidak sadar bahwa Diana ikut serta di dalam mobilnya. Saat Diana terbangun dari tidur, ia melihat Marco mengendarai mobil dengan sangat cepat, entah berapa kilometer per jam yang ia tempuh dan Diana terkaget saat melihat ada truk di depan mobil yang kami kendarai. Truk itu sepertinya oleng dan Marco tidak bisa mengendalikan mobilnya sendiri.
"Kak.....awas ada Truk." Teriak Diana spontan.
"Di... kamu koq ada di mobil?" Tanya Marco panik sambil mengendalikan setir mobil yang entah mengapa sangat sulit dan pijakkan rem tidak bisa diinjak.
"AWASSSS KAAAA..........." Jerit Diana.
Karena laju mobil sangat kencang, maka Marco tidak bisa mengerem secara langsung. dan terjadilah tabrakan dengan truk. Mobil di bagian depan hancur seketika. Diana tak sadar apa yang terjadi setelahnya.
4 hari Diana koma dan tak sadarkan diri. Ia tak tau apa yang terjadi pada dirinya dan Marco setelah kecelakaan itu. Saat bangun Diana hanya melihat tembok putih dengan bau obat yang sangat menyengat.
"Aku dimana?" Tanya Diana dengan suara serak, kepala terasa sakit seakan membentur benda yang sangat keras. Semakin ingin mengingat, semakin sakit kepalanya.
"Kamu di rumah sakit, de. Bagaimana perasaan kamu?" Tanya suster.
"Sakit, Sus." Jawab Diana menahan sakit mulai dari kepala hingga sekujur tubuhnya. Yang ia rasakan adalah ada perban di kepala dan wajah, tangan diinfus, kaki dan tangan di gips. Benar-benar pemandangan yang menyedihkan untuk dilihat. Sepertinya ia sudah hancur dengan banyaknya perban ditubuh.
"Sebentar saya panggil dokter ya." Suster langsung lari mencari dokter yang bertanggung jawab merawat.
"Hi, saya dokter Dimas. Kamu kemaren ini mengalami kecelakaan. Sekarang kamu ada di rumah sakit Pantai Indah." Jelas dokter Dimas perlahan.
"Iya dok." Jawab Diana lemas. Ia baru menyadari bahwa ia dan Marco sudah terlibat dalam kecelakaan. Ia masih linglung dengan keadaannya sendiri, seakan antara sadar dan tidak sadar dengan dirinya sendiri.
"Kamu tau siapa nama kamu?"
"Tau dok. Nama saya Diana." Diana menutup matanya, karena rasa sakit yang begitu parah di kepalanya.
"OK. Ada keluarga kamu yang bisa dihubungi?" Tanya dokter Dimas.
"Mama dan kakak saya. Oh ya dok, saya kecelakaan bersama kakak saya. Bagaimana keadaannya?" Tanya Diana penasaran karena ia tidak melihat Marco.
"Kakak? Kamu ke sini hanya sendiri. Mungkin waktu kecelakaan, kakakmu dibawa ke rumah sakit lain. Saat kamu dibawa ke sini, kamu tidak memiliki tanda pengenal, jadi kami tidak bisa memberi kabar pada keluarga kamu."
"Ok dok. Terima kasih. Bisa saya hubungi mama saya dok?"
"Boleh, Coba sebutkan nomor telepon mama kamu, saya akan bantu hubungi."
Dokter Dimas langsung menekan tombol loudspeaker, agar Diana bisa berbicara dengan mama. Tangan yang di gips dan diinfus sama sekali tidak bisa memegang barang. Sungguh menyedihkan keadaanya sendiri. Batin Diana.
Setelah mencoba menelepon Lani beberapa kali, akhirnya teleponnya tersambung.
"Ma, ini Diana."
"Di... kamu dimana Di? Sudah 4 hari kamu gak pulang." Isak Lani terdengar putus asa.
"Aku di rumah sakit. Aku kecelakaan ma. Kecelakaan bersama Kak Marco."
"Marco? Kamu ikut di dalam mobil itu?" Nada suara Lani semakin goyah.
"Ya ma. Mama bisa ke rumah sakit K?"
"Ok... mama segera ke sana."
Tidak lama menunggu mama untuk sampai ke bangsal Diana.
"Oh sayang... akhirnya mama ketemu sama kamu. 4 hari mama mencari kamu dan tidak ada kabar apapun." Jelas Lani gelisah sambil memeluk Diana. Ia menangis sejadinya melihat keadaan anaknya yang miris. Tidak bisa bergerak dan satu tubuh ini diperban seperti mumi.
"Di, apa yang terjadi?” Tanya Lani dengan suara bergetar sambil memegang tangan Diana.
"Aku kecelakaan ma bersama kak Marco." Diana menangis terisak.
"Di.... apa yang terjadi dalam kecelakaan itu?" Tanya Lani dengan suara bergetar.
"Aku hanya tau kak Marco mengebut di mobil saat aku bangun tidur. Aku tertidur di bangku belakang. Dan saat aku lihat, ada truk kian mendekat, kecelakaan itu bisa terjadi dan aku masih tidak tau apa – apa setelahnya ma. Kak Marco dimana?" Jelas Diana histeris.
"Marco......Marco…" Jawab Lani terbata-bata terdengar sangat putus asa dan semakin menguatkan pegangan tangannya pada tangan Diana. Diana semakin gelisah melihat Lani seperti ini, artinya ada yang tidak beres dengan keadaan Marco.
"Marco uda meninggal sayang. Marco gak kuat dengan semua luka di tubuhnya, Ia meninggal sesaat setelah kecelakaan." Tangis Lani pecah sambil menutup wajahnya.
"Apa ini karena aku ma.... kak Marco mungkin kaget saat aku bilang awas ada truk ma......" Sesal Diana dalam tangis. Ia menangis sejadinya mendengar Marco meninggal.
Ini karena aku….kak Marco kaget karenaku, sehingga tidak bisa mengendalikan mobilnya.Aku….aku penyebab kematian kak Marco. Batin Diana tersiksa.
"Apa??? Kamu??? Kamu membuat Marco kaget?" Teriak Lani histeris sambil melepaskan genggaman tangannya pada Diana. Ada rasa kecewa dari mata Lani dan sorotnya semakin terasa menyalahkan Diana.
"Maaf ma. Di benar-benar hanya ingin memberi peringatan sama kak Marco." Mata Diana terasa sudah penuh dengan cairan bening yang terus mengalir tanpa bisa dihapus.
"Kamu udah menghilangkan nyawa kakakmu. Anak yang paling kucintai." Jerit Lani histeris dan memundurkan langkahnya menjauhi Diana yang masih terbaring.
"Maaf ma. Di bener-bener minta maaf ma, Di sayang sama mama. Tolong maafkan Di ma.” Diana memohon. Lani memalingkan wajahnya, itu artinya ia sudah tidak dapat memaafkan Diana.
Marco adalah anak yang paling Lani sayangi, walaupun Diana anak kandungnya juga, tapi perhatian Lani hamper seluruhnya tercurah untuk Marco.
“Di mau berbuat apa saja, supaya mama memaafkan." Lanjut Diana sambil terisak dan putus asa.
"Balaskan dendamku pada Aditya Sailendra, ayah Aldo." Jawab Lani dengan tajam, sorot matanya seakan siap membunuh orang yang mengusik keluarganya.
"Iya ma. Di akan lakukan apapun untuk mama. Di sayang mama." Diana memelas kepada Lani.
"Hal pertama yang harus kita urus...Surat kematian kamu. Diana Wijaya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Kedua... mukamu.. kita harus operasi plastik untuk menyembuhkan semua luka di wajahmu dan kita harus balas dendam ke keluarga Aditya."
"Iya ma. Di ikuti semua mau mama." Diana sudah pasrah. Ia sudah tidak bisa membantah apapun yang Lani katakan.
Setelah 1 bulan penyembuhan di rumah sakit, akhirnya Diana diizinkan pulang oleh dokter dan Lani tidak ingin memperpanjang waktu lagi di Indonesia. Ia berpikir harus melarikan diri terlebih dahulu untuk memuluskan semua rencananya.
Akhirnya, segala prosedur tentang meninggalnya Diana Wijaya sudah selesai. Diana sangat miris membaca di salah satu portal berita mengenai kematiannya, Lani dan Marco dalam kecelakaan. Sangat tragis membaca tentang kematian sendiri, tapi mau bagaimana lagi. Segala sesuatu harus terkendali dan rencana balas dendam Lani harus terlaksana.
Saat ini nama Diana berganti menjadi Nathania. Semua data mengenai Nathania sudah ada, Lani menyogok beberapa pejabat agar bisa membantu mengenai akta lahir dan lainnya. Lani membuat jejak baru untuk orang baru, ya.. itu Diana. Diana yang baru. Nathania. Dan Lani berganti nama menjadi Angelica.
Setelah selesai semua urusan administrasi, Lani mengajak Diana ke Melbourne, Australia untuk menghilangkan jejak dan membuat jejak baru di sana.
Cast Cerita:
Wijaya Family :
Dito Wijaya - Ayah dari Diana dan Marco - 45 tahun (sebelum meninggal)
Lani Wijaya alias Angelica - Ibu dari Diana dan Marco - 47 tahun
Marco Wijaya - Kakak dari Diana – 20 tahun ( sebelum meninggal )
Diana Wijaya alias Nathania - 24 tahun
Sailendra Family :
Aditya Sailendra - Ayah dari Aldo - 52 tahun
Felicia Sailendra - Ibu dari Aldo – 50 tahun
Aldo Sailendra - 29 tahun
See you next chapter yaaa... Love you
Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga
Muach...muach..muach..
Siez