Bab 1: Titah dari Ndalem
Sore itu, komplek Pondok Pesantren Al-Ikhlas terasa lebih tenang dari biasanya.
Ilham, pemuda berusia 25 tahun dengan wajah teduh dan kacamata yang sesekali melorot ke ujung hidung, baru saja selesai membacakan kitab Fathul Qarib di hadapan para santri.
Namun, ketenangannya terusik ketika seorang santri khidmah menghampirinya dengan napas tersengal.
"Ustadz Ilham, dipun aturi pinarak (diminta datang) ke Ndalem sekarang. Kyai Zubair menunggu," bisik santri itu.
Jantung Ilham berdegup kencang. Dipanggil ke kediaman Kyai secara mendadak biasanya berarti dua hal: tugas dakwah yang berat, atau ada masalah serius.
Dengan langkah takzim, Ilham melangkah menuju bangunan kayu jati yang kokoh itu.
Di dalam, Kyai Zubair duduk tenang sambil memutar tasbihnya. Di sampingnya, duduk seorang pria paruh baya berpakaian rapi namun tampak gelisah—Pak Hartono.
pak Hartono adalah konglomerat yang wajahnya sering menghiasi cover majalah bisnis, sebagai pengusaha sukses dia hidup dengan bergelimang harta, namun entah kenapa dibalik semua kemewahan hidupnya dia merasa ada yang kosong dalam hatinya, sampai suatu saat dia bertemu dengan kyai Zubair, kyai Zubair berhasil menyadarkan pak Hartono bahwa kekosongan dalam hatinya itu karena hatinya kosong dari tuhan, sejak saat itu pak Hartono memutuskan untuk hijrah dan berguru pada kyai Zubair.
setelah sekian lama hijrah ada satu hal yang disesali pak Hartono, yaitu putri semata wayangnya yang jauh dari Tuhan karena sejak kecil memang tidak pernah dikenalkan pada Tuhan.
"Ilham," buka Kyai Zubair dengan senyum kebapakan. "Ini Pak Hartono. Beliau sahabat lama saya yang sedang menjemput hidayah. Beliau punya satu permintaan besar, dan saya rasa hanya kamu yang mampu memenuhinya."
Ilham menunduk dalam. "Tugas apa itu, Kyai?"
"Menikahlah dengan putrinya, Clarissa. Dia seorang pemimpin perusahaan besar di kota, tapi hatinya masih kosong dari cahaya agama. Saya ingin kamu menjadi wasilah (perantara) hidayah untuknya."
Bagai disambar petir di siang bolong, Ilham tertegun.
Menikah?
Dengan anak konglomerat?
Dia hanya seorang ustadz kampung yang harta paling berharganya hanyalah tumpukan kitab kuning.
"Tapi Kyai... saya ini siapa? Kami tidak sekufu (setara). Saya khawatir tidak bisa mengimbangi kehidupan seorang CEO," suara Ilham bergetar karena rasa rendah diri yang hebat.
Kyai Zubair terdiam sejenak.
"Ilham," ucap Kyai dengan lembut. "Saya sebelumnya minta maaf, mungkin Pernikahan ini akan menjadi beban berat bagi kamu, tapi Ini soal niat menyelamatkan satu jiwa. Jika niatmu lillahi ta'ala untuk membimbingnya, maka Allah yang akan menaikkan derajatmu hingga kau setara dengannya di mata-Nya. Jangan takut, restu saya bersamamu."
Mendengar nasihat itu, pertahanan Ilham runtuh. Rasa takutnya berganti menjadi keyakinan meski hatinya masih bertanya-tanya:
Seperti apa sosok Clarissa itu?
apakah dia bisa membimbing Clarissa menjadi lebih baik?
apakah dia mampu?
"bismillah saja lah..." desis Ilham.