Bab 1. Tuan Muda Arogan
Suara pecahan kaca yang nyaring membuat orang-orang yang ada di restoran sedang menikmati makan siang, menoleh ke arah sumber suara, di mana ada seorang pelayan wanita kini berwajah pucat, saking terkejut sekaligus panik. Berbeda dengan seorang laki-laki muda berwajah arogan yang terlihat masang ekspresi marah. Hal ini terjadi dengan begitu cepat ketika pelayan restoran itu sedang berjalan sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman yang hendak diantarkan ke meja pelanggan.
"Apa kamu buta, hah?" bentak laki-laki muda yang memakai setelan jas dari merek terkenal dunia. Suaranya yang melengking membuat orang-orang tahan napas. Mereka tahu siapa orang yang sedang memarahi pelayan itu.
Radeva, tuan muda generasi kelima keluarga Darmawangsa. Orang-orang memanggilnya dengan nama Deva.
Pelayan wanita yang memakai nama Rhea pada tag name yang tersemat pada seragam pelayan Restoran Oishii itu merasa jantungnya jatuh ke dasar perut. Bagaimana tidak? Dia sudah menabrak pengunjung yang terlihat parlente dan termasuk golongan kelas atas.
"Astaga! Apa yang sudah aku lakukan? Pasti bajunya mahal," batin Rhea frustrasi ketika melihat pakaian laki-laki di depannya kotor oleh makanan dan air jus jeruk yang tadi dibawa olehnya.
"Kamu harus tanggung jawab atas perbuatan ceroboh mu yang membuat bajuku kotor," kata Deva masih dengan nada tinggi. "Panggil manajer restoran ini sekarang juga!"
Tidak sampai tiga menit seorang laki-laki paruh baya datang tergopoh-gopoh. Wajah orang itu kaku seperti mayat ketika melihat orang yang sedang bersitegang dengan salah satu karyawan adalah Deva, tuan muda yang terkenal di kota ini sebagai sosok yang arogan dan tidak segan-segan membuat lawannya tidak berkutik jika berurusan dengannya.
"Tu-Tuan Deva, apa yang sedang terjadi?" tanya Pak Manager itu gugup, keringat semakin membanjir keningnya.
"Pelayan itu sudah mengotori pakaianku dan sepatuku," jawab Deva sambil menunjukkan ke bagian dua bagian yang kini kotor.
Tentu saja manager itu tahu berapa mahalnya harga kedua benda itu. Gaji Rhea satu tahun saja tidak akan cukup untuk menggantinya.
"Maafkan kami, Tuan Muda Deva. Sebenarnya apa yang terjadi sampai Anda bisa seperti ini? Karena semua pegawai di sini sudah diajarkan untuk bertindak hati-hati, jangan terburu-buru ketika membawakan pesanan pelanggan," tanya Pak Manager dengan sopan. Karena dia tahu bagaimana Rhea saat bekerja.
Sebenarnya kejadian tadi tidak sepenuhnya kesalahan Rhea. Gadis itu sedang berjalan menuju ke meja di belakang meja Deva. Namun, tiba-tiba saja laki-laki itu berdiri lalu di detik berikutnya membalikan badan sambil melangkah, sehingga tabrakan pun terjadi.
"Pelayan itu seenaknya menabrak aku," jawab Deva dengan yakin dan merasa tidak bersalah.
"Tidak begitu kejadiannya," batah Rhea. "Dia berdiri, membalikan badan, dan berjalan di waktu yang hampir bersamaan ketika aku lewat. Aku mana sempat menghindar. Jadi, kejadian tadi bukan sepenuhnya kesalahan aku."
Deva melotot kepada Rhea karena berani melawannya. Bantahan gadis itu seakan memberikan tanda genderang perang di antara mereka dimulai.
Rhea tipe orang yang berpegang teguh pada kebenaran. Jika dia benar maka akan bersikukuh, tetapi jika salah maka tidak segan-segan akan meminta maaf.
Kedua orang itu saling menatap tajam, karena merasa benar. Orang-orang di sekitar mereka penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Pak Manager, apa Anda lupa dengan hak pelanggan yang datang makan ke restoran ini?" tanya Deva dengan lirikan mata tajam.
Laki-laki paruh baya itu tentu saja tahu, kalau kepuasan pelanggan adalah yang utama. Jika terjadi sesuatu, maka pihak restoran yang akan ganti rugi.
"Ya, Anda benar, Tuan Deva!" jawab Pak Manager. Lalu, dia menyuruh Rhea untuk meminta maaf kepada Deva dan menyuruhnya ganti rugi untuk baju dan sepatunya.
"Maafkan aku, Rhea. Aku terpaksa memecat kamu dan uang pesangon yang harus kamu terima juga digunakan untuk membayar ganti rugi pakaian dan sepatu Tuan Deva."
"Apa? Jadi aku dipecat dan tidak mendapatkan uang!" pekik Rhea terkejut sekaligus merasa tidak terima.
"Hei, berapa ratus juta uang restoran yang digunakan untuk ganti rugi kepada Tuan Deva, tadi!" Pak Manager juga sedang kesal karena dirinya ikut kena imbas.
Rhea pun terdiam. Dirinya merasa didzalimi hari ini.
"Sial bener aku hari ini!" batin Rhea.
***
Sementara itu di waktu yang sama, di sebuah kediaman yang sangat sederhana, Papa Rajasa dan Mama Rinjani—orang tua Rhea—kedatangan seorang tamu. Keduanya terdiam mendengarkan penjelasan kedatangan orang itu ke rumah mereka.
"Sudah lama sekali Tuan Jaya mencari keberadaan Anda, Pak Rajasa. Hal ini karena beliau ingin menjalankan janji yang sudah dibuat dengan Pak Agung—mendiang kakek Rhea—dahulu. Yaitu, menjodohkan cucu mereka, Tuan Deva dengan Nona Rhea," ucap Pak Sakti, orang kepercayaan Opa Jaya.
Papa Rajasa lupa dengan wasiat dari ayahnya itu, kalau Rhea sudah dijodohkan dengan anak sahabat baiknya. Dia tidak mengira kalau orang yang melakukan perjanjian itu adalah Jaya Darmawangsa. Seorang pengusaha terkenal di negeri ini.
"Hari Minggu nanti Tuan Jaya mengundang Anda sekeluarga untuk makan malam bersama di tempat yang akan beliau tentukan," lanjut Pak Sakti dan Papa Rajasa hanya mengangguk.
Kehidupan keluarga Rhea berbanding terbalik dengan kehidupan keluarga Deva, saat ini. Papa Rajasa berharap kedepannya Rhea bisa hidup makmur dengan menikahi orang kaya.
"Baik, Pak Sakti. Kami terima undangan dari Tuan Jaya," balas Papa Rajasa.
Mama Rinjani malah terlihat gelisah. Dia takut Rhea tidak diterima oleh calon suami dan keluarganya. Mengingat putrinya itu terkadang bertindak barbar dan juga berpenampilan tomboi.
***
Rhea pulang dalam keadaan lemah, letih, dan lesu. Zaman sekarang mencari pekerjaan itu sulit. Dahulu, dia bisa bekerja di restoran mahal itu juga karena direkomendasikan oleh dosennya yang berteman baik dengan pemilik restoran, sebelum diwisuda.
"Aaaaaaa! Dasar tuan muda b******k. Gara-gara dia sekarang aku jadi pengangguran!" teriak Rhea melampiaskan rasa kekesalannya.
Suara teriakan Rhea memancing orang-orang dari dalam rumahnya berlarian ke depan rumah. Mereka takut terjadi sesuatu kepada gadis itu. Namun, ketika dilihat keadaan Rhea baik-baik saja, semuanya menghela napas.
"Cepat masuk! Ada yang mau papa bicarakan," titah Papa Rajasa dan Rhea menurut.
Kini keluarga itu berkumpul di ruang tengah. Ada Rhea, kedua orang tuanya, dan kedua adiknya yang bernama Bhumi dan Erlangga.
"Ada apa, Pah?" tanya Rhea setelah melihat semua orang menatap ke arahnya.
"Dengarkan baik-baik apa yang akan papa bicarakan ini," jawab Papa Rajasa. "Kamu ingat dengan pesan mendiang kakek sama kamu, dahulu?"
Rhea mencoba mengingat apa yang sudah dikatakan oleh sang kakek kepadanya dahulu. Setelah berpikir beberapa menit, dia belum juga bisa mengingat pesan itu.
"Memangnya kakek buat pesan apa, Pah? Aku mana ingat kejadian belasan tahun lalu," tanya Rhea.
"Kakek bilang, kalau kamu sudah dijodohkan dengan cucu sahabat baiknya," jawab Papa Rajasa.
"Apa?" Rhea merasa tersambar petir mendengar ucapan ayahnya.
"Hari Minggu nanti kita akan menemui mereka," lanjut Papa Rajasa.
"Tidak mau!" tolak Rhea dengan tegas dan marah. "Aku tidak mau dijodohkan dengan siapa pun!"