5 hari sudah berlalu sejak kepergian Anton ke Swiss dan selama itu pula, Sein enggan menerima panggilan dari Anton, bukan hanya enggan menerima panggilan dari Anton, tapi Sein juga tidak membalas semua pesan yang sang suami kirimkan padanya. Sein marah karena Anton pergi tanpa pamit padanya. Jika saja Anton pamit padanya, mungkin Sein tidak akan marah. Sein bersyukur karena bayi dalam kandungannya tidak rewel seperti biasanya. Biasanya ia akan sulit untuk tidur jika tidak menghirup aroma tubuh Anton atau memegang daun telinga Anton. Tapi kali ini ia tidak sulit untuk tidur, bahkan ia bisa tidur seharian. Sepertinya bayi dalam kandungannya juga ikut marah pada Anton. "Non Sein mau ke mana?" Langkah Sein sontak terhenti dan menoleh begitu pertanyaan itu terlontar dari arah bela

