2

665 Kata
Part 2 Author POV : Elvan memperhatikan Beatrice yang sedang bercerita dengan teman-temannya. Jujur sebenarnya ia sangat jenuh menghadiri pesta. Memang Beatrice tidak mengajaknya, tapi sebagai suami, ia merasa bertanggung jawab menjaga dan melindungi istrinya. Dan karena tanggung jawab itu jugalah ia rela berada di sini, menjadi maneken, hanya mematung melihat Beatrice yang sibuk mengobrol dengan teman-temannya. “Hai ….” Sebuah suara yang familiar menyapa Elvan. Ia menoleh dan mendapati sesosok cantik sedang tersenyum kepadanya. “Sendirian?” lanjut wanita itu. Elvan tersenyum kaku.  Nama wanita berusia 27 tahun itu Natalie. Elvan mengenalnya setahun lalu di pesta pernikahan sepupunya. Sejak saat itu. Natalie dengan agresif mendekatinya. “Dengan istr—” “Boleh temani aku?” Belum sempat Elvan menjawab, Natalie dengan santai menggamit tangannya dan mengajak menuju meja yang menyediakan konsumsi. Dengan gaya lembut dan memesona, Natalie mengambil beberapa irisan buah untuk Elvan. Elvan merasa kurang nyaman dengan perlakuan Natalie. Ia merasa bersalah pada Beatrice, walau sebenarnya tidak berselingkuh. Setelah mengambil irisan buah untuk diri sendiri, Natalie menggamit Elvan ke pojok yang agak sepi. Pesta taman seperti ini memang lebih santai untuk dinikmati. “Elvan? Siapa wanita ini? Kenapa kalian berduaan di tempat sepi??” Elvan menoleh saat mendengar suara Beatrice menggelegar. Wajah istrinya itu terlihat memerah. Tangan Natalie yang sedang menggamit lengan Elvan, ditepis dengan kasar oleh Beatrice. “Ini laki gue, ngapain lo pegang-pegang!” bentak Beatrice pada Natalie. Belum sempat Elvan melakukan apa pun, Beatrice dengan kasar menarik tangan Elvan dan langsung mengajaknya ke mobil mereka. Beatrice bahkan tidak berpamitan lagi pada temannya. “Ada apa, Trice? Kenapa marah-marah?” tanya Elvan saat duduk di balik kemudi.  “Kau playboy! Sudah memiliki istri, masih saja menggoda wanita lain!” Beatrice membuang muka dan menatap lurus ke depan. “Eh?” Playboy? Predikat itu belum pernah disandang olehnya. Ia pria baik-baik yang tidak pernah menganggap wanita sebagi objek untuk bersenang-senang semata. Dan juga, kenapa dia yang disalahkan? Bukankah Beatrice yang meninggalkannya dan memilih bersama teman-temannya? Karena tidak mau makin memperkeruh suasana atau memancing emosi Beatrice, akhirnya Elvan memilih diam. Bukannya tenang, Beatrice malah tambah emosi. “Kau menyukainya, kan?” Elvan melirik istrinya sekilas. Raut terkejut terpapar jelas di wajahnya. “Trice ….” “Dasar playboy!” Elvan menghela napas panjang, berusaha agar tidak tersulut amarah mendengar tuduhan Beatrice. Dengan perasaan tidak nyaman, ia mengendarai mobil dengan hati-hati. Beatrice di sampingnya terlihat cemberut. Tidak sampai lima belas menit, mobilnya memasuki perkarangan rumah mewahnya. Setelah memarkirkan mobil, dengan langkah ringan Elvan keluar dari mobil. Beatrice menyusul dan berjalan di depannya. Begitu memasuki kamar, Beatrice membanting pintu dengan kuat, membuat Elvan yang juga akan memasuki kamar terpaku dengan wajah memerah. Menikah dengan Beatrice benar-benar menguji kesabarannya. Beatrice sangat emosional dan semaunya. Entah kenapa ayahnya memilih Beatrice untuk menjadi istrinya, padahal di Batam ini, wanita cantik yang baik belum langka. Elvan membuka pintu kamar sembari menyabar-nyabarkan hati. Inilah konsekuensi menikah dengan anak tunggal. Beatrice sangat manja dan keras kepala. “Trice …,” panggil Elvan lembut, menepis jauh segala bentuk kekesalan dalam hati akibat ulah istrinya itu. Beatrice yang sedang menghapus make up, tidak menoleh sama sekali. Elvan berjalan pelan mendekati Beatrice. Ia berdiri di belakang Beatrice dan mennyentuh pelan kedua bahu istrinya. “Maaf telah membuatmu kesal.” Walau sebenarnya ia tidak salah, tapi bila tidak minta maaf, bisa dipastikan Beatrice akan terus uring-uringan. Jika dicueki, Beatrice makin bertingkah untuk menarik perhatiannya. Terkadang,  Elvan frustrasi dibuatnya, tapi ia tahu, istrinya itu ingin dibujuk. “Menyebalkan!” ketus Beatrice. Elvan tersenyum tipis dan menatap wajah Beatrice dari pantulan cermin meja rias. Elvan menunduk dan mencium bahu Beatrice. Malam ini Beatrice mengenakan gaun bermodel bahu terbuka. Seluruh bahunya yang putih mulus terekspos sempurna. “Lain kali jangan begitu lagi!” Kali ini suara Beatrice sudah tidak ketus, tapi cenderung manja. “Iya. Janji!” kata Elvan sambil mengacungkan dua jari, tanda peach. Beatrice tersenyum—yang menurut Elvan, senyum paling manis yang pernah ia lihat dari seorang wanita. ***  bersambung ... Follow i********:: Evathink
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN