3

690 Kata
Part 3 Beatrice POV Aku naik ke ranjang dan memandang Elvan yang sudah berbaring lebih dulu dan tersenyum padaku, senyum yang sebenarnya sangat tidak ingin kuakui sebagai senyum yang selalu berhasil menggetarkan hatiku. Aku turut berbaring di samping Elvan, lalu menarik selimut menutupi tubuh. “Selamat malam, Elvan,” ucapku pelan, lalu memejamkan mata. “Selamat malam.” Tiba-tiba bibirku terasa hangat. Aku membuka mata. “Elvan ...?” Bibir pria itu mulai menelurusi tulang rahangku dan bergerak ke telinga. “Aku menginginkannya, Sayang ....” Dadaku berdebar kencang. Tidak. Aku belum siap. Tiga bulan pernikahan kami, tidur seranjang setiap malam, tapi aku tak pernah membiarkan Elvan menyentuhku lebih dari ciuman di bibir. Aku menikah dengan Elvan karena paksaan papa. Aku butuh waktu untuk menerima Elvan seutuhnya. “Van ..., kau sudah berjanji akan menunggu sampai aku siap.” Aku mendorong pelan kepala Elvan agar menjauh. Terdengar helaan napas yang cukup keras dari Elvan. Ia duduk dan menatapku dengan sorot kecewa. “Aku sudah menunggu terlalu lama, Trice. Kita suami-istri. Bukankah tidak salah melakukannya?” Aku bangkit dan duduk. Turut menghela napas pajang. “Aku tahu aku istrimu, tapi aku belum siap ....” “Aku lelaki normal, Trice. Kau pikir sampai kapan aku bisa menunggu??” Sekali lagi aku menghela napas panjang. “Van ...,” panggilku saat melihat Elvan turun dari ranjang. Namun Elvan tidak menoleh. Ia keluar dari kamar tanpa bersuara sedikit pun. Setitik perasaan bersalah mendera hatiku. “Aku lelaki normal, Trice. Kau pikir sampai kapan aku bisa menunggu??” Kata-kata Elvan kembali terngiang di telingaku. Elvan benar. Dia lelaki normal, dan sudah terlalu lama dia membeku karena aku. Apa setelah penolakan ini, Elvan akan mencari pelampiasannya pada wanita lain? Tiba-tiba saja pemikiran tersebut membuatku takut dan tidak nyaman. Tentu saja aku tidak mau Elvan berpaling dariku. Terlepas dari aku mencintainya atau tidak, aku tidak ingin Elvan menduakanku. Jangankan memikirkannya tidur dengan wanita lain, saat melihat dia bersama seorang wanita di pesta temanku tadi saja, aku merasa terganggu. Aku yakin, aku tidak cemburu. Mungkin hanya sebuah rasa tidak rela karena Elvan adalah suamiku, dan tidak boleh ada wanita mana pun mendekatinya. *** Author POV Elvan mengacak rambutnya dengan kesal. Ia duduk sendirian di beranda. Angin malam yang berembus dingin sama sekali tidak bisa menyejukkan hatinya yang sedang panas. Sekali lagi Beatrice mengecewakannya. Ia memiliki hak atas tubuh Beatrice. Akan tetapi hingga hari ini, ia sama sekali tidak diizinkan mengambil haknya. Beatrice terus menolak dengan alasan yang sama. Dia belum siap! Belum siap karena apa? Usia Beatrice sudah 22 tahun. Dia sepenuhnya seorang wanita dewasa, dan mereka adalah suami istri! Sampai kapan ia akan bertahan seperti ini? Ia lelaki normal. Setiap malam, tidur seranjang dengan Beatrice, melihat lekuk tubuhnya yang aduhai, adalah siksaan! Angin berembus kencang. Elvan menghela napas panjang. Mungkin mulai saat ini ia harus tidur di kamar yang berbeda dengan istrinya. Tidak mungkin ia bisa bertahan tidur seranjang dengan Beatrice tanpa menyentuhnya. *** Beatrice POV Kutatap ranjang kosong di sampingku dengan mata setengah terbuka karena masih harus beradaptasi dengan suasana kamar yang sudah teran-benderang. Aku mengerjap, lalu duduk di bibir ranjang. Memasang telinga baik-baik untuk menangkap aktivitas sekecil apa pun. Tidak terdengar suara apa pun dari kamar mandi. Di mana Elvan? Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi. Secepat kilat aku bangun dan keluar dari kamar tanpa mencuci muka lebih dulu. Apakah Elvan sudah sarapan? Setiap pagi dia tidak pernah lupa membangunkanku. Meski termasuk tipikal pria penyabar dan dewasa, untuk beberapa hal Elvan sangat manja, seperti memintaku membuatkannya kopi dan sarapan. Elvan tidak ada di dapur. Hanya ada pengurus rumah yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. “Elvan mana, Bi?” tanyaku pada Bi Mimin, perempuan paruh baya yang sudah tiga bulan ini bekerja pada kami. “Pak Elvan sudah pergi kerja, Bu.” Aku mendesis kecewa. Tumben Elvan pergi tanpa membangunkanku. Apa Elvan masih marah karena aku menolaknya tadi malam? Tidak. Tidak mungkin. Elvan selalu lembut dan sabar. Dia tidak mungkin marah hanya karena hal kecil seperti ini, kan? Mungkin dia hanya tidak tega membangunkanku yang sedang lelap. Aku menghela napas panjang, berusaha tetap berpikiran positif. *** bersambung ... Follow i********:: Evathink
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN