4

663 Kata
Part 4 Author POV Elvan meraih ponselnya yang sejak tadi berdering hampir tanpa henti. “Ada apa, Trice?” tanya Elvan begitu menerima panggilan dari Beatrice. “Kau di mana? Ini sudah pukul sepuluh malam, kenapa belum pulang?” Elvan menghela napas panjang mendengar nada cemas bercampur kesal dalam suara Beatrice. “Aku lembur. Kau tidur saja dulu. Tidak perlu menungguku.” Terdengar helaan napas yang cukup keras di ujung sana. Elvan tahu Beatrice ingin ia segera pulang. “Aku mau kerja dulu, Trice. Selamat malam.” Elvan mengakhiri panggilan. Ia menatap ponselnya dengan perasaan nelangsa. Sungguh sebenarnya ia tidak tega memperlakukan Beatrice seperti ini. Dan sungguh, di dadanya bergemuruh rasa rindu pada istrinya itu. Sepanjang hari ini ia belum bertemu Beatrice. Ia sengaja berada di kantornya hingga larut malam. Sebenarnya ia sama sekali tidak bekerja. Ia hanya menonton saluran acak dari TV yang ada di ruangannya dengan ditemani segelas kopi. Mungkin Beatrice tidak sadar kalau tadi malam ia tidak kembali ke kamar mereka. Elvan sudah mengambil keputusan untuk tidur terpisah dari istrinya, agar ia tidak menjadi gila karena menahan hasrat sepanjang malam saat harus mencium wangi tubuh Beatrice yang sangat menggoda, atau melihat lekuk tubuhnya yang aduhai. Elvan meraih kopinya dan sedikit meringis menyadari betapa pahit kopi yang ia minum, sepahit kisah di atas ranjang pernikahan mereka. *** Beatrice POV Suara petir yang menggelegar membangunkan tidurku. Aku membuka mata dan menatap langit-langit kamar yang temaram oleh cahaya lampu tidur. Karena masih mengantuk, aku kembali memejam. Tiba-tiba aku terusik oleh tidak adanya suara dengkuran halus yang selama tiga bulan ini telah menemani tidurku. Aku membuka mata dan membalikkan tubuh. Seketika darahku berdesir saat tidak mendapati kehadiran Elvan. Ke mana pria itu? Aku bangun dan duduk di tengah ranjang. Kulirik kamar mandi yang ada di kamar. Terlihat gelap, menandakan Elvan tidak berada di sana. Dadaku bergemuruh tidak nyaman. Apa Elvan tidak pulang malam ini? Kulirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Seketika amarah dan curiga mendera hatiku. Apa Elvan tidak pulang karena aku telah menolaknya dan ia melampiaskan hasratnya pada wanita lain? Dadaku panas terbakar membayangkan Elvan berada di pelukan wanita lain. Lama aku duduk termenung. Kantukku hilang tak berjejak. Dengan perasaan berkecamuk, aku turun dari ranjang dan melangkah menuju pintu kamar, ingin mengambil ponselku yang tadi malam kubiarkan tergeletak di meja di ruang tamu. Aku akan menghubungi Elvan saat ini juga dan menanyakan keberadaannya. Biar saja bila ia dan kekasih gelapnya terganggu oleh panggilan dariku. Baru saja kakiku melangkah keluar dari kamar, perhatianku tertarik pada kamar di sebelah kamar kami. Dari celah garis di bawah pintu, aku bisa melihat cahaya remang-remang. Seketika dadaku berdebar. Kamar itu adalah kamar tamu. Apakah Elvan tidur di sana? Dengan langkah pelan aku mendekati kamar itu dan meraih gagang pintunya. Pintu terbuka. Terlihat Elvan tidur memeluk guling, bahkan tidak menggunakan selimut padahal suhu kamar sangat dingin oleh pendingin udara. Hatiku terenyuh. Aku mendekatinya dan duduk di pinggir ranjang. Kutatap wajah tampannya yang terlihat tanpa dosa saat tidur seperti ini. Elvan tidur di sini pasti karena marah kutolak kemarin malam. Perasaan bersalah menusuk-nusuk hatiku. Istri seperti apa aku yang rela menyiksa suamiku hanya karena alasan ‘belum siap’ yang kupegang teguh setiap Elvan meminta haknya sebagai suami? Dengan perasaan yang sulit untuk dilukiskan, aku mengelus pipi Elvan yang terasa dingin. Hatiku semakin nelangsa. Aku tidak pantas bersikap seperti ini pada Elvan yang telah sangat baik terhadapku. Dengan mata berkaca-kaca, aku meraih selimut di ujung kaki Elvan dan menyelimuti tubuhnya. Baru saja selimut itu kutarik hingga sebatas paha, Elvan menggeliat, dan entah bagaimana ia meraih tubuhku hingga tanpa bisa dicegah, aku membungkuk di dekatnya. Dengan mata terbeliak aku menatap Elvan yang kini memandang dengan tatapan masih mengantuk. “Trice ....” Entah bagaimana, Elvan meraih tubuhku makin merapat padanya. Bibirnya menyapu lembut bibirku. Awalnya terasa dingin, tapi lama-lama kehangatan itu mengalir bukan hanya di bibir kami, tapi juga di sekujur tubuh. Akhirnya malam itu, untuk kali pertama aku dan Elvan b******a. *** bersambung ... Follow i********:: Evathink
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN