Adeline menangis sampai sesenggukan. Dia merasa sangat putus asa atas semua yang sudah terjadi. Rasanya seperti ingin mati dan bergabung dengan sang ayah yang sudah tenang di alam sana. ‘Ya Tuhan! Kenapa harus seperti ini?’ Adeline menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia melihat ruangan yang dulu dipakai sang ayah. Memperhatikan semua pigura yang hampir seluruhnya adalah gambar dirinya dan sang ibu yang sudah tidak ada. Adeline mengambil sebuah gambar yang menampilkan sosok sang ibu yang berdiri di samping ayahnya. Dia kembali menangis ketika mengingat dirinya yang hanya hidup bersama dengan figur seorang ayah saja. Tanpa ibu yang mendampingi. Seharusnya Adeline bisa menjaga amanah yang ditinggalkan sang ayah. Tapi saat ini dia telah gagal bahkan sebelum dia memulai.

