d**a Leo sudah naik turun karena terlalu emosi dengan kondisi Adeline yang tak kunjung sadar dari tidurnya. Dia sangat ingin memukul sesuatu saat ini namun tidak ada satu pun benda atau apa pun itu yang bisa dijadikan objek pelampiasan. Leo menundukkan kepala seraya memijit pelipis. Dia lalu duduk dengan kedua tangan bersedekap. Kedua matanya menatap lurus tubuh sang istri yang masih terbaring. “Jika sampai besok pagi dia tidak bangun juga, jangan harap rumah sakit ini masih bisa berdiri—” Leo terdiam melihat kedua mata perawat tersebut yang terbelalak. Menurutnya itu adalah hal yang tidak sopan ketika sedang berbicara pada orang lain. Terlebih dia adalah pemegang saham tertinggi di rumah sakit ini. “Kenapa kamu menatap seperti itu? Kamu ingin mati—” “Tuan,” perawat itu bergumam. “Is

