“Aku … benci ... padamu!” ucap Adeline dengan nada penuh penekanan. Leo tersenyum licik seakan tidak peduli dengan perasaan benci Adeline. Pria itu malah semakin mendekatkan wajah mereka sehingga membuat bibir keduanya hampir bersentuhan. “Aku tidak peduli dengan perasaan bencimu. Aku hanya tidak mau uang yang sudah kuberikan, menjadi sia-sia karena pikiran bodohmu!” Leo melepaskan cengkraman tangannya di tangan Adeline. Memundurkan kepala dan melihat wajah wanita itu yang memerah. Di sisi lain, Adeline merasa sangat kesal dengan sang suami. Namun, dia sadar bahwa perkataan pria itu benar. Pria itu sudah menghabiskan begitu banyak uang untuk membantu KRW Grup kembali bangkit. Dan uang sebanyak itu juga tidak boleh disia-siakan begitu saja. Setelah perdebatan kecil yang terjadi malam i

