1. Mati atau Menghilang
Gadis berwarna rambut hitam legam dengan ujung rambut berwarna cokelat itu berlari ke arah pantai, air matanya bercucuran, menangis tersedu-sedu, wajah dan telinganya pun memerah. Menatap jauh ke arah laut sana, sekarang pikiran dan hatinya sedang berantakan.
Ketika pecahan ombak pantai membasahi kaki putih pucatnya cukup lama, mata gadis itu tertuju kepada sebuah kapal nelayan yang kosong.
Langkah kecilnya membawa ia ke kapal itu dalam waktu kurang dari satu menit. Sambil menahan sesak di d**a. Ia menaiki kapal itu dan melepaskan tali kapal yang semula dikaitkan ke batang kayu. Hingga membuat kapal yang membawa dirinya berlayar ke tengah lautan.
Namanya Araa, gadis SMA yang akan lulus sekolah sebulan lagi.
Permasalahan yang menimpanya saat ini membuat Araa tak memiliki lagi alasan untuk hidup. Ia berniat mengakhiri hidupnya di tengah laut, berharap ikan hiu yang akan memakan jasadnya, hingga orang-orang mengira kalau Araa menghilang.
Mati atau menghilang adalah impian Araa sekarang. Ia benar-benar sudah capek dengan perasaannya. Kecewa kepada diri sendiri karena Araa tak sekuat yang selama ini ia yakini.
Kapal yang membawa Araa sudah jauh dari bibir pantai, angin yang seperti mengerti perasaan Araa, mendorong kapal itu semakin jauh tiap detiknya.
Matahari sudah tak begitu terik karena tertutup awan mendung yang tiba-tiba menutupi area pantai. Araa acuh tak acuh sampai ia melihat kalau kapal yang membawa dirinya sudah jauh dari pesisir.
Araa mencoba berdiri meski sedikit kesusahan karena menyeimbangkan tubuhnya di atas kapal. Air matanya masih terus mengalir tapi ia sudah tak peduli lagi dan menceburkan dirinya ke air asin.
Kapal itu kosong, terombang-ambing sendirian ditengah laut.
Inilah yang Araa mau, tubuhnya tenggelam dan perlahan ia memejamkan mata, menghirup air hingga memenuhi paru-parunya. Entah berada di kedalaman berapa kilometer, Araa tak peduli. Isi pikirannya terlalu berisik untuk sesaat sampai Araa kehilangan kesadaran.
....
Lelaki berambut biru laut dengan ekor ikan berwarna selaras seperti rambutnya, menghentikan seekor hiu yang berenang ke arah manusia yang tenggelam. Menyuruh agar hiu itu menjauh menggunakan bahasa klannya.
Aries, si pemilik rambut dan ekor biru itu berenang mendekati manusia dengan kekuatannya yang bisa merubah diri menjadi transparan, agar tak terlihat oleh manusia itu.
Aries melihat wajah Araa si manusia pucat dengan bibir kecil yang tertutup. Cukup lama Aries memperhatikan Araa sampai perlahan-lahan tubuh Araa hampir menyentuh dasar laut yang dalam.
Bola mata Aries menatap ke atas, ia menggunakan kekuatannya lagi untuk melihat apa yang terjadi di atas sana. Akan tetapi, penglihatannya biru dan sedikit abu-abu dari awan langit yang memantul di matanya.
Pikirannya bertanya-tanya mengapa ada manusia yang tenggelam tanpa ada manusia lain yang menyadarinya.
Manusia tenggelam sudah biasa Aries jumpai hampir tiap bulan karena ada manusia lain yang mendorong rekannya agar mati tenggelam dan dimakan hiu.
Dan sejauh ini Aries acuh tak acuh, karena ia sudah menebak pasti perkelahian yang dilakukan manusia di atas kapal karena ikan tangkapan rekannya lebih banyak.
Aries menghapus jarak untuk menyentuh Araa. Manusia setengah ikan ini dipercaya dapat membaca pikiran atau kejadian apa yang terjadi oleh manusia biasa dengan menyentuh bagian tubuh manusia tersebut.
Setelah menyentuh tangan Araa, Aries tak menemukan sebab mengapa manusia itu tenggelam. Tak menyerah, tangan Aries menyentuh d**a Araa dimana perasaan cinta, sedih, senang, kecewa, tersimpan.
...
"Saya sudah ga peduli sama Araa. Asal kau tau, Araa itu tidak ada gunanya!" ucap lelaki paruh baya yang diyakini adalah Ayah Araa.
"Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu? Ini semua salahku bukan salah Araa."
"Kamu sama Araa sama saja. Capek-capek saya urus, malah jadi beban, gunakan logikamu jangan perasaan terus!"
"Sudah! Saya mau pergi ke rumah Fira, ketemu Mita yang lebih berprestasi daripada anakmu itu."
"Fira selingkuhan kamu itu, iya?" tanya wanita itu dengan nada tinggi.
"Saya sudah menikah dengan dia."
Sebuah tamparan keras mengenai pipi lelaki yang berkata barusan. "TEGA KAMU! TEGA!"
"Emang sejak kapan saya peduli dengan kamu dan Araa? Mita itu cinta pertama saya dan ingat, saya menikahi kamu karena kasihan."
...
Aries menarik tangannya dari d**a Araa. Menatap gadis itu dengan rasa yang Aries kenal sebagai perasaan sedih.
Setelah itu, Aries membawa tubuh Araa yang sebenarnya sudah tidak bernafas sejak tenggelam satu jam yang lalu ke atas permukaan laut.
Cukup beberapa detik untuk sampai ke permukaan laut, Aries menemukan kapal yang terombang-ambing tanpa pengemudi. Ia mendekat ke kapal itu, tapi terhenti ketika sebuah kapal pesiar lewat tepat Aries menenggelamkan tubuhnya.
Ia berenang kembali sambil membawa tubuh Araa yang suhu tubuhnya sudah sedingin suhu tubuh Aries. Berenang ke tepi pantai jika itu jalan satu-satunya.
Cukup lama untuk Aries membawa tubuh Araa, ia tidak bisa berenang secepat biasanya karena membawa beban (?)
Aries menggunakan penglihatan tajamnya ke pesisir pantai yang tidak ramai manusia dan berenang menuju kesana.
Hingga dirinya dan Araa berhasil mencapai pasir pantai. Ekor biru Aries berubah menjadi kaki.
Suasana pantai terbilang sangat sepi sampai hanya terdengar deburan ombak.
Ia menyentuh kembali tubuh Araa yang sangat dingin dan pucat. Aries tampak seperti berpikir sesuatu, tapi ia tidak tau definisi jelas yang ia pikirkan. "Biar tau manusia masih hidup atau engga, gimana ya?" Jika ekornya berubah menjadi kaki manusia, bahasa Aries juga akan seperti manusia.
Aries berdiam cukup lama sambil mengamati Araa dari balik batu besar, berjaga-jaga barangkali Araa sadar dan melihat dirinya.
Akan tetapi cukup lama, hingga matahari hampir tenggelam, manusia yang Aries amati tak kunjung sadar.
Sepintas pikiran tentang 'mati' lewat di otak Aries.
"Aku ingin mati kalo ga menghilang dari bumi ini." suara batin Araa yang sempat terbaca Aries ketika ia membawa tubuh Araa ke pesisir.
Aries mendekat ke arah Araa lagi, ia menyentuh kening Araa dan dari jari lentik Aries mengeluarkan cahaya biru yang klan duyung yakini sebagai sihir.
Araa batuk dan memuntahkan air laut yang memenuhi paru-parunya. Ia terbatuk-batuk sampai nafasnya benar-benar lancar.
Aries sudah bersembunyi dibalik batu saat merasakan tubuh Araa mulai menghangat berkat sihirnya. Ia mengamati Araa yang nampak bingung setelah beberapa detik melamun, memikirkan apa yang baru saja terjadi padanya.
Araa mencoba mengingat-ingat meski kepalanya sangat pusing. Efek sihir yang diberikan Aries. Mungkin efek lainnya juga akan menyusul seperti, Araa tidak ingat apa yang menimpa dirinya, Araa tidak ingat rasa sakit dan sedih yang membawanya kepada kematian.
Berselang beberapa menit Araa bangun dari duduknya dan membersihkan pasir yang menempel di baju serta celananya. Menatap lurus ke arah laut, mengamati matahari yang perlahan tenggelam.
Araa melirik ke arah jam tangannya yang sudah mati, "Aaaa jam berapa ini, mama pasti ngomel kalo aku pulang telat."
Gadis itu berlari menjauh dari pantai, tapi tiba-tiba berhenti. Ia mencari ransel, ponsel, dan apapun itu yang biasa ia bawa kalau berpergian.
"Araa kamu kok jadi amnesia gini si?" ucap Araa kepada dirinya sendiri. Kemudian ia berjalan cepat-cepat untuk mencari taxi atau kendaraan apapun itu yang bisa membawanya ke rumah.
_____
Next?