Virgo yang sedang duduk santai sambil membaca di ruangan perpustakaan rumahnya tiba-tiba mendengus kesal. Ingatan kejadian tadi siang terus menghampiri pikiran Virgo beberapa kali. Bukan tentang Venus, tapi Araa.
Dia benar-benar yakin baru pertama kali melihat Araa dan biasanya jika Virgo bertemu seseorang dia akan cepat melupakan wajahnya apalagi mengenai wanita, tapi Araa? Mengapa ingatan Araa semakin jelas ketika Virgo memfokuskan otaknya pada bacaan.
"Sial! Gue kena pelet kayaknya." gumam Virgo. Ia menutup buku bacaannya dan pergi menuju kamar. Virgo paling malas kalau fokusnya terganggu dan ia menjadi malas untuk melanjutkan kegiatannya, apapun itu jika ada yang mengganggu ia memilih mengganti kegiatan.
Virgo menutup pintu kamarnya, kemudian ia melepas outer warna cream yang membungkus seragamnya. Sambil mengaca di kaca jendela yang memantulkan dirinya, dahi Virgo berkerut sambil berdecak.
"Ck. Bener-bener cewek sialan! Outer gue kotor lagi. Mana nyadarnya pas udah sampe rumah." lirih Virgo, lalu membuang outer yang baru dibelinya beberapa hari lalu ke tempat sampah.
Sudah jatuh, terbayang cewek aneh, lalu bajunya kotor. Virgo sungguh akan mengingat hari sialnya ini.
Seseorang mengetuk pintu kamar Virgo beberapa kali, membuat Virgo mau tak mau membukakan pintu kamarnya.
Dari balik pintu itu terpampang cowok yang tingginya sama persis seperti Virgo, rambutnya coklat agak ikal, dan kedua matanya yang berbinar sambil senyum.
"Good evening, prince!" sapa lelaki itu, namanya Leo. Sahabat Virgo sejak kecil dan Leo sudah Virgo anggap seperti saudaranya.
"Dateng lagi lo? Udah kayak rumah sendiri ya tiap hari bolak-balik." balas Virgo.
Mereka berdua masuk ke dalam, Leo langsung lari dan rebahan di sofa kamar Virgo sambil pura-pura memejamkan matanya.
"Ada cerita apa di sekolah?" tanya Leo. Seperti seorang saudara sungguhan yang memiliki ikatan batin sehingga Leo menanyakan demikian.
"Sial banget gue hari ini." kata Virgo, ia membuka kancing seragamnya sambil mengaca di jendela.
"Pasti cewek yang namanya Venus itu yaa? Kalo menurut gue, tu cewek kayaknya beneran tulus sama lo deh, Go. Masa lo ga mikir--"
"Bukan Venus. Siapa juga yang mikirin dia? Ogah banget! Udah kayak cewek murahan ngejar-ngejar cowok." ucap Virgo memotong perkataan Leo.
Leo tertawa lirih, "Gue tau tipe lo kayak apa, tapi ga gitu juga ngatain Venus murahan."
Virgo menatap Leo yang masih rebahan di sofa. "Bilang aja lo yang suka, ambil gih." katanya, lalu Virgo berjalan ke arah kamar mandi sambil melempar seragamnya ke tempat baju kotor.
"Dih, gue juga udah punya gebetan kali. Lo tuh yang harusnya jadian sama Venus, biar ngrasain rasanya pacaran." Leo merubah posisinya menjadi duduk.
"Buang-buang waktu. Untungnya pacaran apa sih? Gue juga ga bakal mati kalo ga pacaran." gema suara Virgo yang sudah di dalam kamar mandi.
"Nasehati calon filsuf emang susah." lirih Leo, kemudian matanya tertuju ke baju yang ada di tempat sampah. Leo berdiri dan mengambil outer cream yang sudah dibuang Virgo.
"Minimal lo punya pasangan yang bisa ngurus lo dikemudian hari." ucap Leo sambil memasukkan baju kotor Virgo ke keranjang baju kotor dekat kamar mandi.
....
Gadis berambut hitam legam dengan ujungnya berwarna cokelat itu tengah berjalan sambil bersandung ria. Ia sendirian, karena memang ia tidak mempunyai teman disekolah SMA-nya selama tiga tahun. Tak punya teman, juga tak terkenal disekolah, Araa. Ada atau tidaknya Araa disekolah pasti tidak akan membuat banyak orang sadar.
Saat sembarang memetik daun dipinggir trotoar, tiba-tiba fokus Araa teralihkan. Melihat mobil Mercedes yang berhenti diseberang jalan sana, ia menyipitkan matanya. Memastikan kalau orang yang sedang keluar dari dalam mobil itu bukan Papanya.
Akan tetapi, begitu sosok lelaki dewasa itu tersenyum kepada wanita dan seorang remaja yang juga keluar dari mobil itu, Araa yakin kalau ia tak salah liat bahwa lelaki itu adalah Papanya.
"Papa?" gumam Araa. Ia berniat menyeberang jalan untuk menemui Papanya dan menanyakan siapa orang-orang yang bersama Papanya itu.
Ketiga orang yang keluar dari mobil sudah berjalan masuk ke dalam restaurant yang lumayan ramai. Sedangkan Araa masih tengok kanan kiri menunggu jalan agak sepi dari pengendara yang berlalu lalang.
Begitu jalanan lumayan sepi dan Araa hendak menyebrang, tiba-tiba dari arah yang tak diduga muncul kendaraan lain, motor sport warna hitam itu nyaris menabrak Araa jika ia tak membanting stir motornya ke trotoar.
Araa dan si pengendara sama-sama jatuh ke sisi trotoar, keduanya saling menghindar saat kecelakaan hampir terjadi. Beberapa orang yang sedang duduk makan di restaurant depan sana melihat kejadian ini.
Butuh beberapa detik sampai kedua manusia itu bangun dari trotoar. Araa bangkit duluan dan buru-buru membantu si pengendara untuk berdiri.
"Eh maaf ya, aku kurang hati-hati." lirih Araa saat berhasil membantu si pengendara itu berdiri kemudian membenarkan motornya.
Lelaki itu melihat siku dan kening Araa yang juga terluka lalu berujar, "Gue yang minta maaf karena ga liat-liat kalo ada orang nyeberang." sambil membuka kaca helmnya dan menatap kedua bola mata Araa.
"Iyaa gapapa, kamu ada yang luka ga?" tanya Araa mengecek tubuh lelaki di depannya tanpa memedulikan luka ditubuhnya sendiri.
"Aman, gue pake jaket tebel. Lo sendiri tuh yang luka."
Araa refleks meraba sikunya yang terasa perih, "Oh? Iyaa, baru kerasa." senyumnya terasa kecut karena perih.
"Kening lo juga luka." kata lelaki itu dan Araa langsung meraba keningnya, "Oh ini? Emang luka dari beberapa hari lalu."
"Gue ada plester, bentar." kata si lelaki lalu membuka ranselnya.
Setelah menemukan plester yang biasa ia bawa kemana-mana, lelaki itu menatap Araa. "Sorry, gue bantu tempelin ke kening lo ya." katanya tanpa menunggu persetujuan Araa.
Jarak kedua manusia itu begitu dekat, Araa sampai bisa mencium wangi dan mendengar detak jantung lelaki yang berdiri di depannya.
"Nih, satu lagi buat siku lo. Bisa pasang sendiri kan?" kata si lelaki begitu selesai menempelkan plesternya ke kening Araa. Padahal yang sakit bukan di kening, tapi di siku.
"Iyaa, makasih." ucap Araa sambil mengangguk, sebelum ia tersadar akan sesuatu.
"Oh ya kenalin, gue--"
"Aku duluan ya!" Araa memotong ucapan lelaki itu, karena tiba-tiba ia tersadar kalau ia ingin menghampiri Papanya yang ada didalam restaurant sana.
Si lelaki terseyum melihat uluran tangannya tak terbalas, lalu menatap punggung kecil Araa yang perlahan menjauh.
Kembali melajukan motornya, kali ini ia membuka resleting jaket, dan memperlihatkan kaos yang bertuliskan 'LEO'.
....
Araa berhasil masuk ke tengah-tengah banyaknya manusia yang membentuk lingkaran di ruang inti acara restaurant.
Kedua bola matanya menangkap sosok Papanya yang sedang memberi sambutan lewat microphone ditengah sana.
"Kemudian saya ucapkan terima kasih kepada anak dan istri saya yang banyak mendukung dimasa-masa terpuruk." suara Vino, Papa Araa.
Araa tersenyum bangga melihat Vino yang sangat berwibawa.
"Fira," Vino merangkul lembut wanita yang ada disampingnya, "Ia adalah sosok istri sekaligus ibu yang sangat luar biasa."
Lengkungan manis dibibir Araa tiba-tiba turun demi mendengar apa yang diucapkan Vino.
"Dan ini, anak saya satu-satunya yang sangat berprestasi di sekolah, Mita." gadis bernama Mita yang berdiri disamping Vino memberi hormat dengan membungkukkan setengah badannya ke tamu sambil tersenyum.
Semua tamu di restaurant itu memberi tepuk tangan, sementara mata Araa tertuju ke Mita, gadis seusianya dan satu sekolah dengannya.
Batin Araa bertanya-tanya tentang apa yang barusan ia dengar dari Vino. Istri dan anak? Bukankah seharusnya Araa dan Mamanya, tapi kenapa malah nama Fina dan Mita?
"Mari kita nikmati acara sore ini dengan--"
"PAPA!" suara itu berasal dari Araa. Spontan seluruh tamu menoleh ke arah sumber suara. Begitu pula dengan Vino, Fira, dan Mita.
Araa berjalan ke tengah dimana Vino berada. Vino yang menyadari kedatangan Araa langsung merubah raut muka marah, tatapannya tajam kepada Araa.
"Mereka siapa?" tanya Araa sesampainya dihadapan Vino.
Mita dan Fina yang melihat Araa sambil memanggil Vino sebagai Papa juga bertanya-tanya. "Dia siapa mas?" tanya Fina.
"Araa ngapain disini?" lirih Mita, tapi tak dipedulikanan Araa yang malah membalas tatapan Vino.
Vino menarik lengan Araa dengan kuat ke ruang belakang yang tidak ada orang. Seketika terdengar bisik-bisik dari tamu yang kurang mengenakkan.
Fina menatap Mita bingung, begitu pula Mita yang merubah tatapan ke arah dress biru pucatnya sambil bertanya-tanya.
Begitu sampai di belakang, Araa merintih, "Pa, sakit." lirihnya, karena yang Vino tarik adalah lengan Araa yang barusan jatuh dan terluka.
"ARAA KAMU NGAPAIN KE SINI? KAMU GA LIAT PAPA LAGI ADA ACARA?!" tatapan dan suara Vino benar-benar sadis, tak memperlihatkan sosok tatapan dan suara seorang ayah.
"Tadinya Araa cuma lewat, tapi mereka siapa? Dua perempuan tadi yang bareng Papa? Kenapa Papa menyebut mereka sebagai istri dan anak?" Araa membalas tatapan tajam Vino.
"Kamu ga perlu tau!" ucap Vino penuh penekanan, seolah-olah menyimpan benci yang amat dalam terhadap Araa.
"Araa kan anak Papa, Araa berhak tau siapa orang yang sama Papa itu?"
Mendengar ucapan Araa membuat Vino semakin mengeraskan cengkramannya dilengan Araa. "Jangan berani buat saya tambah marah, pulang!" lirih Vino, dan tiba-tiba gumpalan air muncul dipelupuk mata Araa begitu mendengar perkataan Vino yang terasa menusuk hati Araa.
....
Langit biru yang memantulkan warna birunya ke laut, deburan ombak yang tenang, serta angin sepoi-sepoi, mampu membuat siapapun yang tengah beristirahat di pesisir pantai merasa ngantuk dan ingin segera tidur.
Ditengah laut sana, di atas batu ajaib yang mampu mengapung di air, terdapat sosok berambut biru yang nampaknya sedang beristirahat siang. Matanya terpejam, tangannya sebagai bantalan kepala, ekornya mengibas-ibas air laut dengan pelan.
Aries, manusia setengah ikan itu tengah istirahat. Sampai ketika matahari yang semula bersembunyi dibalik awan mengeluarkan cahayanya dan membuat Aries terusik.
Ia menatap cahaya matahari dengan kedua bola mata birunya tanpa silau, "Dewa biarkan aku istirahat sebentar, sehari saja tolong redupkan cahayamu." ucapnya.
"Mana bisa kamu menyuruh-nyuruh dewa." sambar suara lain yang tiba-tiba muncul dari dalam air. Rambutnya panjang berwarna merah, begitu pula dengan ekor dan mata merahnya yang menatap Aries.
Seekor duyung perempuan yang diyakini klan duyung lain sebagai pemanggil dewa matahari. Namanya Sagittarius atau sering dipanggil Gita.
"Pasti ulahmu, Git." tuduh Aries.
Gita tersenyum, ia suka sekali menjahili Aries, kakaknya. "Iya maaf, Es." respon Gita.
Ia berenang pelan untuk ikut duduk di batu ajaib yang digunakan Aries istirahat tadi. Akan tetapi, baru saja ekor merahnya menyentuh batu dan siap duduk, benda itu hilang tiba-tiba dengan sihir Aries. Membuat Gita yang belum siap ancang-ancang terjungkal kembali ke dalam air.
Aries tertawa renyah karena tidak perlu menunggu waktu untuk jahilin balik adiknya. "Satu sama, hahaha." ucapnya dengan sisa-sisa tawa.
"Nyebelin." kata Gita sambil cemberut. Selesai dengan tawanya, Aries menatap ekor merah Gita yang warnanya hampir pudar, tidak semerah cerah biasanya.
"Salah sendiri mulai duluan." respon Aries.
Beberapa detik setelah itu, Aries merasakan siku tangannya memerah dan perih. Ia menyentuhnya dan menatap Gita.
Gita yang menyadari cahaya merah pucat keluar dari siku Aries, menggelang dan berkata, "Kali ini bukan ulahku, Es."
Aries memejamkan matanya sekilas dan langsung tau penyebab datangnya luka itu adalah karena sebagian sihirnya yang ia letakkan dalam tubuh manusia.
____