"Kalau begitu, Kami undur diri dulu, Tuan Aziz!" pamit Ilham.
"Baiklah. Jaga diri Kalian! Allah Hafiz!" jawab Tuan Aziz.
"Allah Hafiz!" pamit Ilham, Aisha, dan Bhai Ali.
Kemudian Mereka pun pergi meninggalkan kantor itu. Setengah jam kemudian kini Mereka telah sampai di alamat rumah baru Aisha.
Setelah memarkirkan mobilnya, kini Bhai Ali keluar dari mobilnya. Lalu Ia berjalan mendekati mobil Aisha. Beberapa saat kemudian, Aisha dan Ilham keluar dari mobil Mereka.
"Ini adalah alamat yang Kita cari. Ini adalah sebuah hostel. Hostel ini kebanyakan dihuni oleh mahasiswi, Aisha!" ucap Bhai Ali.
"Oh? Apakah hostel itu semacam kos-kosan, Ilham?" tanya Aisha.
"Iya, benar! Akan tetapi hostel ini bagus sekali, Ai! Tampaknya memiliki fasilitas yang terpadu. Meskipun mungkin penghuninya ratusan orang," jawab Ilham.
"Hmm. Tidak apa-apa! Sepertinya menyenangkan!" jawab Aisha, diakhiri dengan senyumannya.
Kemudian Ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling hostel itu sambil tersenyum. Tanpa sengaja, Bhai Ali menangkap pemandangan itu. Ia pun tersenyum dan terpana oleh kecantikan dan keluguan Aisha. Beberapa saat kemudian.
"Kalau sudah puas menikmati pemandangan, ayo Kita masuk kedalam! Cuaca diluar sangat panas, Ai!" ajak Ilham.
"Hahaha. Iya, iya! Ayo Kita masuk!" jawab Aisha.
"Kita harus menemui pengelola atau penjaga hostel ini terlebih dahulu!" ucap Bhai Ali sambil berjalan.
"Baiklah Bhai Ali!" jawab Aisha.
Ia pun tersenyum sambil memandang Tuan Ali. Kemudian Bhai Ali membalas senyuman itu.
'O.., MashaAllah. Manis sekali gadis berhijab ini!' ucap Bhai Ali di dalam hatinya.
Beberapa menit kemudian.
"Nah. Ini dia ruangan penjaga hostelnya!" ucap Bhai Ali.
"Assalamu'alaikum!" sapa Bhai Ali sambil mengetuk pintu ruangan itu.
"Waalaikumsalam. Silahkan masuk!" jawab seseorang dari dalam ruangan.
Kemudian Mereka bertiga pun masuk ke dalam ruangan itu.
"Maaf Bu! Kami datang kesini untuk mencari kamar yang telah disewa untuk Nona ini," ucap Bhai Ali.
"Oh. Baiklah. Atas nama siapa, ya?" tanya wanita itu.
"Nona Aisha Anna. Dari Indonesia," jawab Bhai Ali.
"Oh. Tamu dari Kedutaan Besar itu, ya? MashaAllah. Selamat datang, Nona! Senang berkenalan dengan Anda! Semoga Anda betah tinggal di hostel Kami," ucap wanita itu.
"Terima kasih, Bu! Aamiin, InshaAllah," jawab Aisha, diakhiri dengan senyumannya.
"Kalau begitu! Mari Saya antar Kalian ke kamar Nona Aisha!" ajak wanita itu.
"Baiklah," jawab Mereka bertiga.
"Sebentar! Saya cari dan ambil kuncinya dulu!" ucap wanita itu.
"Iya Bu!" jawab Aisha.
"Oh iya! Panggil saja Saya Ibu Zee! Saya adalah penjaga hostel ini," ucap wanita itu.
"Baiklah Ibu Zee!" jawab Aisha.
"Nah. Kuncinya sudah ketemu. Ayo Ikuti Saya!" ajak Ibu Zee.
Mereka bertiga menganggukkan kepala Mereka, kemudian mengikuti langkah wanita paruh baya itu.
"Hostel ini terdiri dari lima lantai. Di setiap lantai, ada dua puluh lima kamar. Lima kamar VIP, sepuluh kamar untuk dihuni berdua, dan sepuluh kamar untuk dihuni berempat," ucap Ibu Zee sambil berjalan.
'Waduh! Kira-kira Mereka memberiku layanan yang mana ya? Hatiku jadi berdebar-debar memikirkannya,' ucap Aisha di dalam hatinya, sambil memandang Ilham.
Memahami kegelisahan hati Aisha, Ilham membalasnya dengan kedipan sebelah mata dan senyuman.
"Iya Bu. Saya mengerti," jawab Aisha.
"Oke. Yang tinggal di hostel ini datang dari berbagai tempat. Kebanyakan Mereka adalah Mahasiswi, dan sebagian kecilnya adalah pekerja," jelas Ibu Zee dengan bahasa Inggrisnya yang fasih.
"Iya Bu," jawab Aisha.
"Fasilitas di hostel ini sudah lengkap, Nona! Nanti Saya akan menjelaskannya kepada Anda," ucap Ibu Zee.
"Alhamdulillah," jawab Aisha.
"Ada fasilitas dapur bila Anda ingin memasak makanan Anda sendiri. Untuk lebih jelasnya, tanyakan itu pada Saya nanti! Dan kalau Anda ingin makan diluar, itu tidak masalah. Lahore memiliki banyak restoran yang akan memanjakan lidah Anda!" ucap Ibu Zee.
"Oh iya. Alhamdulillah. Terima kasih, Bu!" jawab Aisha, diakhiri dengan senyumannya.
Beberapa saat kemudian, kini Mereka telah sampai di depan pintu kamar Aisha.
"Nah. Ini dia kamar Anda, Nona! Lantai lima. Kamar nomor satu. Jadi, di pintu masuk kamar ini, ditulis angka lima ratus satu!" ucap Ibu Zee menegaskan.
"Oh. Iya Bu. Saya mengerti," jawab Aisha.
Kemudian wanita itu membuka kunci pintu kamar Aisha. Beberapa saat kemudian.
"Selamat datang! Inilah kamar Anda, Nona! Ayo masuk!" ucap Ibu Zee.
"Assalamu'alaikum!" ucap Mereka berempat.
Kemudian Mereka mulai melihat-lihat ruangan kamar Aisha.
"Lihatlah Nona! Ini salah satu kamar VIP Kami," ucap Ibu Zee.
'Kamar VIP? Yes!' ucap Aisha di dalam hatinya.
Ia pun tersenyum.
"Iya Bu. Alhamdulillah. Sangat nyaman," jawab Aisha.
"Lihatlah pemandangan dari jendela ini, Nona! Mungkin Anda akan menyukainya," ucap Ibu Zee.
Beliau pun membuka tirai dari kamar itu. Kemudian Aisha, Bhai Ali, dan Ilham melangkahkan kaki Mereka menuju ke jendela kamar itu.
"Wah. MashaAllah. Bagus sekali pemandangannya!" ucap Aisha.
Senyuman pun terlukis di wajahnya yang cantik. Tak ingin kehilangan kesempatan, Bhai Ali pun memandang Aisha yang tengah terpesona.
'Oh. Gadis ini sungguh cantik dan menarik,' ucap Bhai Ali di dalam hatinya.
Setelah itu Ibu Zee menjelaskan tentang semua informasi yang Aisha butuhkan. Lima belas menit kemudian, Ibu Zee meninggalkan Mereka bertiga.
"Apakah Kamu sudah membawa kopermu, Aisha? Apakah Kamu akan mulai tinggal disini hari ini?" tanya Bhai Ali.
"Iya Bhai. Aisha sudah membawa koper. Akan tetapi Aisha hanya membawa baju-baju ganti, dan peralatan penting lainnya. Untuk melengkapi semua kebutuhan Aisha, nanti bisa menyusul," jawab Aisha.
"Baiklah," ucap Bhai Ali.
"Lalu. Kalau malam ini Kamu mulai menginap disini, bagaimana denganmu, Bhai Ilham? Tidak mungkin kan kalau Kalian berdua tidur bersama di kamar ini?" tanya Bhai Ali.
"Hahaha. Iya, iya. Tentu saja tidak, Bhai! Aku akan tidur di mobil saja. Tidak apa-apa. Hanya untuk satu dua hari ini saja. Soalnya Aku hanya memiliki sedikit waktu untuk memastikan semua urusan Aisha beres. Iya, sebelum Aku pulang ke Indonesia nanti," jelas Ilham.
"Oh. Begitu ya? Andai saja rumah Saya dekat, Saya pasti akan membawamu untuk tinggal bersamaku," ucap Bhai Ali.
"Terima kasih Bhai Ali. Tidak apa-apa. Mungkin besok Kami juga akan pulang ke Islamabad dulu. Karena Aisha baru akan memulai aktivitasnya Minggu depan," jawab Ilham.
"Oh. Begitu rupanya? Jadi. Kalian punya tempat tinggal di Islamabad juga?" tanya Bhai Ali.
"Iya Bhai. Alhamdulillah," jawab Ilham.
"Di kawasan mana? Kebetulan Saya juga punya kantor cabang di Islamabad. Dan Saya punya rumah kecil disana," tanya Bhai Ali.
"Di kawasan Blue Area, Bhai. Lalu. Di kawasan mana rumah Bhai Ali?" tanya Ilham.
"Oh. Benarkah? MashaAllah. Rumah Saya juga berada di Blue Area Islamabad. Ini sungguh kebetulan yang tidak direncanakan!" jawab Bhai Ali.
"Alhamdulillah," ucap Aisha dan Ilham.
Mereka pun tersenyum.
"Ngomong-ngomong Bhai! Anda sungguh merendah dengan mengatakan rumah Anda kecil. Saya tahu, tidak ada rumah kecil di kawasan Blue Area Islamabad," ucap Ilham.
Bhai Ali menanggapinya dengan senyuman. Beberapa saat kemudian.
"Oh iya. Bagaimana kalau Kita makan siang dulu? Kalian berdua belum makan siang kan?" ajak Bhai Ali.
"Oh iya. Mendengar kata makan siang, Aisha jadi lapar. Hahaha," jawab Aisha, diakhiri dengan tawa kecilnya.
"Oh. Ternyata Kamu bisa bergurau juga, Aisha! Lucu sekali ekspresimu!" ucap Bhai Ali, diakhiri dengan senyumannya.
Kemudian Mereka bertiga pun tertawa. Waktu pun berlalu. Kini Mereka telah menyelesaikan makan siang Mereka. Dalam kesempatan makan siang itu, Bhai Ali banyak bercerita tentang hidangan Pakistan, terlebih untuk hidangan Punjabi.
Dalam perjalanan pulang menuju ke hostel, Bhai Ali membelokkan mobilnya ke sebuah supermarket. Ia berbelanja untuk melengkapi semua kebutuhan Aisha di rumah barunya. Ia pun memaksa Aisha untuk menerima pemberiannya.
Hari beranjak sore. Semua barang belanjaan Aisha telah tertata rapi di kamarnya. Setelah itu Bhai Ali pun pamit undur diri.
"Ai! Ayo Kita lanjutkan misi Kita! Ayo Kita kunjungi Markas Besar yayasan Moslem Aid dan Edhie Welfare Foundation!" ajak Ilham.
"Baiklah. Akan tetapi, Aisha mandi dan ganti baju dulu ya? Gerah sekali ini Ham!" tawar Aisha.
"Baiklah! Pergilah sana! Aku menunggumu!" jawab Ilham.
***
Waktu pun berlalu. Minggu ini Aisha memulai aktivitas barunya bersama Yayasan Al Khidmat Foundation. Terkadang Ia juga membersamai kegiatan amal yayasan Moslem Aid dan Edhi Welfare Foundation.
"Alhamdulillah ya Ai. Akhirnya semua urusan beres. Tampaknya semua berjalan dalam kendali. Disini pun Kamu telah mempunyai beberapa orang yang bisa membantu dan menjagamu. Kini Aku merasa lega untuk meninggalkanmu berjuang sendiri disini," ucap Ilham malam itu.
"Iya Ham. Alhamdulillah," jawab Aisha.
"Andai saja mungkin. Sebenarnya Aku tetap tidak tega meninggalkanmu berjuang sendiri disini, Ai. Meskipun kini semuanya baik-baik saja, akan tetapi tetap ada banyak kekhawatiran yang hadir di benakku. Namun Aku hanya bisa berdoa untukmu. Semoga Allah selalu menjagamu dan memberkati setiap langkahmu. Aamiin," doa Ilham.
"Aamiin ya rabbal 'aalamiin. Doa yang sama untukmu, Ham. Semoga para Malaikat mengaminkan doa Kita. Aamiin," jawab Aisha.
"Aamiin ya rabbal 'aalamiin," ucap Ilham.
"Ya sudah. Kalau begitu Aku berangkat dulu ya. Jaga dirimu baik-baik! Sering-seringlah mengirim kabar kepadaku! Kalau jaringan internet sedang tidak bagus, maka kirimlah email! Email itu pasti akan sampai. Dan ceritakanlah pengalaman panjangmu dalam email itu untukku, setiap saat Kamu tidak bisa tidur di malam hari! Oke Aisha?" pesan Ilham.
"Iya Ham. InshaAllah," jawab Aisha, diakhiri dengan senyumannya.
"Ya sudah. Pesawat tampaknya sudah menantikan kedatanganku. Tampaknya pesawat itu tidak akan terbang kalau Aku tidak segera masuk ke dalamnya. Kasihan para penumpang yang lainnya!" ucap Ilham.
"Hahaha. Ilham! Ada-ada saja!" jawab Aisha.
Kemudian Mereka berdua pun tertawa bersama.
"Alhamdulillah. Aku bahagia melihatmu tertawa lepas seperti ini, Ai! Tetaplah tersenyum dan bahagia seperti ini! Oke?" pesan Ilham.
"Iya Ham," jawab Aisha, diakhiri dengan senyumannya.
"Ya sudah. Dari tadi Aku bilang ya sudah ya sudah terus. Sekarang yang terakhir kalinya. Hahaha," ucap Ilham, diakhiri dengan tawanya.
Aisha pun membalas tawa itu.
"Ilham! Ilham!" ucap Aisha, masih sambil tertawa.
"Jaga dirimu baik-baik Ai! Sampai jumpa di lain kesempatan! Allah Hafiz!" pamit Ilham.
"Jaga dirimu juga Ham! Sampai jumpa lagi! Allah Hafiz!" jawab Aisha.
Kemudian Ilham memutar badannya, melambaikan tangannya sebentar, dan mulai berjalan menjauh meninggalkan Aisha.
'Bismillah. Semoga Allah selalu menjagamu, Ai! Doaku selalu bersamamu. Aku tidak boleh menoleh ke belakang! Aku tidak boleh menoleh ke belakang! Aku harus kuat! Mungkin Aisha lebih kuat daripada Aku. Aku tidak boleh terlihat lemah! Bismillahirrahmanirrahim,' ucap Ilham di dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian Ilham sampai di depan boarding pass gateway. Ia pun tidak bisa membohongi nalurinya untuk berhenti melangkahkan kakinya. Kemudian Ia pun menolehkan wajahnya untuk mencari keberadaan Aisha.
Satu detik kemudian Ia melihat Aisha masih berdiri di tempatnya semula. Tempat dimana Ia meninggalkannya beberapa menit yang lalu. Dari kejauhan Ilham melihat, saat itu gadis itu tampak sedang mengusap pipinya dan matanya.
'Apa yang terjadi? Apakah Aisha menangisi kepergianku?' tanya Ilham di dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian kini Aisha memandang ke arah Ilham berada. Seketika pandangan Mereka bertemu. Kemudian Aisha memberikan senyuman manisnya untuk Ilham seraya melambaikan tangannya. Ilham pun membalas lambaian tangan Aisha dan membalas senyumannya.
Waktu berlalu. Hari berganti hari. Minggu berganti Minggu. Musim dingin telah datang di Pakistan. Di banyak daerah sedang membutuhkan banyak uluran tangan kemanusiaan.
Hari ini para relawan pergi ke suatu desa di Kota Kharian, Distrik Gujrat, Punjab. Dalam kegiatan amal itu, Mereka sangat sibuk.
"Assalamu'alaikum. Selamat siang, Aisha!" sapa seseorang yang tiba-tiba datang.
Mendengar seseorang menyapanya, Aisha pun memalingkan wajahnya untuk memandang seseorang itu.
"Oh. MashaAllah! Bhai Ali!" ucap Aisha senang.
"Senang bertemu denganmu, Bhai!" lanjut Aisha.
"Aku pun senang bertemu denganmu, Aisha! Selamat datang di Kota Kharian! Ini adalah area tempat tinggalku. Kapan-kapan mampirlah ke rumahku!" tawar Bhai Ali.
"Oh iya. Aku lupa kalau daerah ini adalah kawasan tempat tinggalmu, Bhai! Dan untuk tawarannya, Aisha ucapkan banyak terima kasih!" jawab Aisha, diakhiri dengan senyumannya.
"Hmm. Tidak masalah, Aisha! Oh iya. Bagaimana dengan kabarmu? Apakah semuanya baik-baik saja? Atau Kamu menemukan kendala dalam kegiatan keseharianmu?" tanya Bhai Ali.