Part 2. Mengenal Aisha

2007 Kata
"Baiklah Abu!" jawab Ilham. "Pemuda yang baik!" ucap Abu Jaan. "Terima kasih, Abu," jawab Ilham. "Sama-sama, anak tampan!" jawab Abu Jaan. "Oh iya. Untukmu Ammad dan Junaid! Aku harap Kalian berdua tidak melupakan rencana kepulangan Kalian hari ini. Jangan terlambat untuk sampai di Bandara! Oke?" perintah Abu Jaan. "Iya Abu. Terima kasih telah mengingatkan Kami," jawab Ammad. "Baiklah. Aku akan pergi beristirahat di kamarku," pamit Abu Jaan. "Oke. Jaga dirimu, Abu," ucap Ammad. "Baiklah. Sampai jumpa nanti!" ucap Abu Jaan sambil berjalan menjauh dari Mereka. "Oh iya. Jam berapa penerbanganmu ke Gilgit?" tanya Ilham kepada Ammad. "Siang ini. Pukul dua," jawab Ammad. "Kamu sangat beruntung, Ammad! Memiliki rumah di Gilgit dan Islamabad. Tempat dengan karakter yang berbeda, kan? Kamu juga memiliki keluarga besar. Itu sangat menyenangkan," ucap Aisha. "Terima kasih Aisha. Alhamdulillah Aku punya keluarga besar dan dua rumah. Akan tetapi Aisha. Ada yang ingin Aku tanyakan kepadamu," ucap Ammad. "Tentang apa?" tanya balik Aisha. "Mengapa Kamu mengatakan bahwa Aku beruntung dan menyenangkan bagiku untuk memiliki dua rumah dan keluarga besar? Bukankah Kamu juga punya keluarga? Keluarga besar atau rumah lain seperti Aku, mungkin?" tanya Ammad. "Akan tetapi maaf! Aku harap Kamu tidak keberatan dengan pertanyaanku. Kalau keberatan ya nggak usah dijawab," lanjut Ammad. "Oh. Tidak, tidak! Tidak apa-apa, Ammad. Sama halnya denganmu, Aku juga gadis yang santai. Aku tidak pernah terlalu memikirkan hal apapun kecuali yang berkaitan dengan pekerjaan dan tanggung jawabku, termasuk dengan Allah," jelas Aisha. "Alhamdulilah, itu bagus. Aku suka itu. Kamu memiliki pemikiran terbuka. Itu bekalmu untuk sukses. InshaAllah," ucap Ammad. "Aamiin. InshaAllah," jawab Aisha, Ilham, dan Junaid pada saat yang bersamaan. "Oke. Aku akan menjawab pertanyaanmu," ucap Aisha. "Iya. Ceritakanlah kepada Kami!" pinta Ammad. "Ammad, Junaid! Sama seperti Kalian berdua, Aisha juga tidak hanya memiliki satu rumah untuk kembali. Aisha memiliki rumah masa kecil Aisha di desa. Rumahku yang indah. Begitu banyak kenangan disana," ucap Aisha sambil membayangkan rumahnya di desa sambil tersenyum. "Lalu. Aisha juga memiliki rumah lain di kota. Rumah lain dengan anggota keluarga baru yang selalu menyayangi dan merawatku," lanjut Aisha, diakhiri dengan senyumannya. "Oh. Apa maksudmu dengan rumah lain dengan anggota keluarga baru?" tanya Ammad. Kemudian Aisha pun menceritakan dengan singkat kisah masa lalunya. Kisah dimana Ia telah kehilangan kedua orang tuanya dan calon suaminya. "Ya Allah. Aku benar-benar minta maaf untuk menanyakan ini, Aisha! Dan sekali lagi, Aku turut berbela sungkawa untukmu. Semoga Kamu akan menemukan kebahagiaan dalam hidupmu. Aamiin," ucap Ammad, berdoa untuk Aisha. "Aamiin," jawab Ilham, Junaid, dan Aisha pada saat yang bersamaan. Kemudian Aisha kembali teringat semua cerita masa lalunya. Sekarang Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Kini air matanya mengalir di pipinya. Dia tidak bisa menahannya. Kemudian Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, mencoba mengendalikan emosinya. Ammad, Junaid, dan Ilham bingung harus berbuat apa untuk membantu Aisha. Mereka tidak mungkin memberikan pelukan kekuatan untuk Aisha, karena Mereka bukan muhrim. Mereka hanya saling memandang dan tidak tahu harus berbuat apa. Kemudian, setelah beberapa saat. "Oke. menangislah, Aisha! Kamu membutuhkannya. Kadang-kadang Kamu juga benar-benar perlu menunjukkan emosimu. Ini akan memberimu kekuatan baru. Jangan khawatirkan tentang apa pun! Dan jangan malu pada Kami! Kami semua disini untukmu. Kita adalah keluarga. Kamu dapat berbagi apa saja dengan Kami, kapan saja. Jadi, Kamu jangan pernah merasa kesepian lagi. Oke?" saran Ilham. "Iya. Ilham benar, Aisha! Kami semua disini untukmu. Bagi anak perempuan, menangis adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk menunjukkan emosinya. Dan Aku harap Kamu akan merasa lebih baik dari sebelumnya setelah menangis. Oke? Kuatlah Aisha! Aku tahu Kamu bisa melakukannya. Aku percaya padamu!" ucap Ammad. "Iya, Kak Aisha. Junaid juga ada di sini untukmu. Kita adalah keluarga sekarang. Jangan pernah merasa kesepian lagi, oke? Tersenyumlah!" ucap Junaid. Setelah beberapa menit, Aisha menunjukkan wajahnya. Kemudian, Dia menghapus air mata di wajahnya. Sekarang, Dia mencoba memberikan senyumnya untuk Mereka. "Itu bagus! Kamu terlihat lebih cantik dengan senyum di wajahmu, lho," ucap Ammad. Aisha tersenyum kecil menanggapinya. *** "Assalamu'alaikum! Ilham!" suara Ammad memanggil Ilham sambil mengetuk pintu kamarnya. Beberapa saat kemudian, pintu kamar itu pun dibuka dari dalam. "Waalaikumsalam! Oh. Ammad! Ada apa?" sapa Ilham. "Ilham! Aku butuh sedikit bantuanmu," jawab Ammad. "Oh. Baiklah. Katakan saja! Semoga Aku bisa membantu memecahkan masalahmu itu," ucap Ilham. "Begini. Semua orang dirumah ini sibuk. Tidak ada yang mengantar Kami ke bandara. Maukah Kamu mengantar Kami ke bandara nanti? Aku pikir, Kamu juga bisa mengajak Aisha. Dengan sering bepergian ke luar rumah, itu bagus untuk menambah pengalamannya," jawab Ammad. "Hmm. Benar juga! Baiklah Ammad. Aku akan mengantar Kalian ke bandara. Kebetulan Kami juga ada urusan ke Dirjen Imigrasi Kementerian Dalam Negeri. Setelah itu ke kantor Kedutaan Besar," jawab Ilham. "Kebetulan sekali! Kalian bisa pergi kesana setelah mengantar Kami ke Bandara. Bawalah mobilku! Bagaimana? Setuju?" tawar Ammad. "Setuju!" jawab Ilham. "Alhamdulillah. Oh iya Ilham! Sebelumnya Aku telah berbicara dengan Abu Jaan, dan Abu Jaan menyetujui usulanku. Aku serahkan mobil Corolla Altis milikku sebagai inventaris untuk Aisha dan Kamu selama Kamu ada di Islamabad," ucap Ammad. "Oh. MashaAllah. Semoga Allah memberkatimu, Ammad! Aamiin," jawab Ilham. "Aamiin," ucap Ammad. Waktu pun berlalu. Kini Mereka telah tiba di Bandar Udara Internasional Benazir Bhutto Rawalpindi. "Maafkan Aku karena tidak bisa menemani dan memandu Kalian lebih lama lagi," ucap Ammad. "Tidak apa-apa, Ammad. Kami memakluminya. Iya kan, Aisha?" tanya Ilham kepada Aisha. "Iya. Tentu saja!" jawab Aisha. "Oh iya Aisha!" panggil Ammad. "Iya Ammad? Ada apa?" tanya Aisha. "Dengar! Mungkin Kamu akan menemukan banyak kendala dalam perjalananmu untuk mewujudkan niatmu. Akan tetapi, jangan khawatir! Aku akan selalu mendukungmu dan membantumu. Jangan ragu untuk mengirim pesan atau teleponlah Aku kalau Kamu menghadapi kesulitan! Oke?" pesan Ammad. "Baiklah Ammad. Terima kasih banyak," jawab Aisha. "Ya sudah. Kalau begitu Kami berangkat dulu. Tinggalkan saja Kami! Kalian berdua pergilah untuk mengurus urusan Kalian! Semoga Allah memberi kelancaran untuk urusan Kalian hari ini," ucap Ammad. "Aamiin. Semoga begitupun dengan urusan Kalian," jawab Aisha dan Ilham. "Ya sudah! Sampai jumpa di lain kesempatan! Jaga diri Kalian! Allah Hafiz!" pamit Ammad. "Sampai jumpa lagi! Allah Hafiz!" pamit Junaid. "Sampai jumpa di lain kesempatan! Allah Hafiz!" jawab Aisha dan Ilham pada saat yang bersamaan. Kemudian Mereka pun saling melempar senyum. Setelah itu Mereka saling melambaikan tangan. Lalu Ammad dan Junaid pergi menjauh memasuki area check in Bandar Udara itu. Beberapa menit kemudian, kedua sosok itu telah hilang dari pandangan Aisha dan Ilham. "Ayo Kita lanjutkan perjalanan Kita, Aisha!" ajak Ilham. "Baiklah," jawab Aisha. Kemudian Mereka pergi meninggalkan Bandar Udara Internasional Benazir Bhutto untuk menuju ke kantor Kedutaan Besar. Waktu pun berlalu. Hari telah berganti. Hari ini Ilham mengantar Aisha mengunjungi markas besar yayasan Al Khidmat Foundation di Kota Lahore. "Assalamu'alaikum. Selamat siang. Bisakah Kami bertemu dengan Ketua Yayasan atau mungkin orang yang bertanggung jawab terhadap operasional keseharian kantor ini, Kak?" tanya Ilham kepada seseorang yang duduk di meja resepsionis dengan bahasa Inggris yang fasih. "Waalaikumsalam. Maaf! Kalau boleh tahu, Anda berdua ini siapa ya? Dan tampaknya Anda berdua bukan warga negara Pakistan?" tanya seseorang itu. "Iya Kak. Kami perwakilan dari sebuah yayasan amal dari Negara Indonesia. Kami dikirim kesini untuk bergabung dengan yayasan amal ini," jawab Ilham. "Oh. Iya, iya. Saya telah mendengar tentang kabar ini sebelumnya. Kalau begitu, mari Saya antar ke ruangan pimpinan kantor ini!" ajak orang itu. "Terima kasih. JazakAllah khair, Bhai!" jawab Ilham. "Sama-sama. Wa anta fa jazakAllah khair, Bhai!" ucap orang itu, diakhiri dengan senyumannya. Beberapa saat kemudian, kini Mereka telah sampai di depan sebuah ruangan kantor. "Assalamu'alaikum Malik!" sapa orang itu sambil mengetuk pintu ruangan kantor itu. "Waalaikumsalam," jawab pimpinan kantor itu. Kemudian Beliau pun mengalihkan pandangannya untuk memandang Mereka bertiga. "Oh. Ada tamu, rupanya?" lanjut Beliau. Kemudian Beliau berdiri dari balik meja kerjanya. "Assalamu'alaikum," sapa Ilham dan Aisha. "Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh," jawab pimpinan kantor itu. "Malik! Mereka ini adalah tamu yang dikirim oleh yayasan amal Indonesia untuk bergabung dengan yayasan amal Kita," ucap seseorang itu. "Oh. Iya, iya! Alhamdulillah, akhirnya Kalian sampai juga di kantor Kami. Ayo silahkan duduk!" jawab pimpinan kantor itu. "Terima kasih Malik," jawab Ilham. Pimpinan kantor itu menanggapinya dengan anggukan kepalanya. Kemudian Mereka bertiga duduk di sofa yang berada di ruangan itu. "Kalau begitu Saya tinggal dulu ya, Malik!" pamit seseorang itu. "Iya. Terima kasih telah mengantarkan Mereka kesini!" jawab pimpinan kantor itu. "Sama-sama, Malik!" jawab seseorang itu. Kemudian Ia pun pergi meninggalkan ruangan itu. "Apa kabar, Tuan dan Nona? Maaf! Siapa nama Kalian berdua?" tanya pimpinan kantor itu. "Alhamdulillah Kami baik, Malik!" jawab Ilham, diakhiri dengan senyumannya. "Alhamdulillah," ucap pimpinan kantor itu. "Assalamu'alaikum!" sapa seseorang yang tiba-tiba datang ke ruangan itu sambil mengetuk pintu. Seketika ketiga orang yang berada di dalam ruangan itu pun menolehkan kepala Mereka untuk memandang tamu itu. "Waalaikumsalam," jawab Mereka bertiga. "Wah. Ada tamu, rupanya? Apakah kedatangan Saya mengganggu?" tanya tamu itu. "Oh. Tidak, tidak, Malik! Anda sudah jauh-jauh datang dari Gujrat. Mari silahkan masuk! Bergabunglah dengan Kami!" ajak pimpinan kantor itu. "Oh. Alhamdulillah. Terima kasih," jawab tamu itu. Kemudian tamu itu duduk bersama dengan Aisha, Ilham, dan pimpinan kantor itu. "Ini adalah tamu Kami dari jauh, Malik! Beruntunglah Anda, hari ini datang dan sempat bertemu dengan Mereka," ucap pimpinan kantor itu. "Oh ya? Alhamdulillah kalau begitu," jawab tamu itu. "Tuan! Nona! Perkenalkan! Ini adalah salah seorang donatur tetap untuk yayasan amal ini. Nama Beliau adalah Tuan Ahtisham Ali. Beliau datang dari Gujrat. Dari Lahore, dibutuhkan sekitar satu setengah sampai dua jam berkendara dengan mobil pribadi. Beliau adalah seorang pengusaha auto workshop and maintenance, dan juga auto spare parts general trading establishment. Dan satu lagi! Pemuda ini masih single!" jelas pimpinan kantor itu, diakhiri dengan tawa kecilnya. "Hahaha. Anda bisa saja, Malik! Saya jadi malu," ucap tamu itu. Aisha dan Ilham menanggapinya dengan senyuman. "Oh iya. Sewaktu Tuan Ali datang, Mereka juga baru saja datang. Waktu itu Kami baru memulai acara perkenalan," ucap pimpinan kantor itu. "Oh iya? Kalau begitu, Saya tidak ketinggalan untuk acara perkenalan ini bukan?" tanya Tuan Ali. "Benar sekali, Tuan! Oh iya. Senang berkenalan dengan Anda, Tuan Ahtisham Ali! Nama Saya Ilham. Dan ini adalah rekan Saya, Aisha Anna. Kami datang dari Indonesia," sapa Ilham, memperkenalkan diri. "Oh.., MashaAllah. Dari Indonesia?" tanya Tuan Ali. "Iya Tuan! Mereka ini adalah Relawan kemanusiaan yang dikirim oleh salah satu yayasan amal Indonesia untuk bergabung dengan yayasan amal Kami dan beberapa yayasan amal lainnya di Pakistan," jelas pimpinan kantor itu. "Oh. MashaAllah. Sungguhkah itu?" tanya Tuan Ali. "Sungguh, Tuan! Sebenarnya Aisha inilah yang dikirim oleh yayasan amal Kami untuk bergabung dengan yayasan Kalian. Disini peran Saya hanya untuk mengantarnya dan mendampinginya untuk beberapa waktu saja," jelas Ilham. "Oh. Begitu rupanya?" ucap Tuan Ali sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oh iya. Saya malah lupa untuk memperkenalkan diri. Perkenalkan! Nama Saya Aziz ur Rehman. Untuk kedepannya, panggil saja Aziz! Saya yang memimpin operasional harian kantor ini," ucap pimpinan kantor itu. "Baiklah Malik!" jawab Ilham. "Maaf Ilham! Bukankah Tuan ini menyuruh Kita untuk memanggil Beliau dengan sebutan Tuan Aziz? Mengapa Kamu selalu memanggilnya dengan sebutan Malik?" tanya Aisha bingung. Kemudian Ilham, Tuan Ali dan Tuan Aziz pun saling pandang. "Maaf! Nona Aisha ini baru sedikit-sedikit belajar Bahasa Urdu," ucap Ilham. "Oh. Saya mengerti," jawab Tuan Ali. Tuan Aziz menanggapinya dengan anggukan kepalanya. "Aisha! Malik itu artinya Tuan. Sebutan untuk Pria yang dihormati. Faham?" tanya Ilham. "Oh. Oke. Aku mengerti sekarang!" jawab Aisha dalam Bahasa Urdu. Kemudian Ia pun tersenyum. "Hahaha. MashaAllah. Bahasa Urdumu bagus, Nona!" ucap Tuan Ali. "Terima kasih, Malik!" jawab Aisha, diakhiri dengan senyuman manisnya. "Hmm. Untuk kedepannya, panggil saja Saya Ali atau Sham! Tampaknya usia Kita tidak berbeda jauh. Oke?" saran Tuan Ali. "Baiklah Bhai Ali. Senang berkenalan denganmu!" jawab Aisha. "Senang juga berkenalan denganmu, Aisha Anna!" ucap Bhai Ali, diakhiri dengan senyumannya. Kemudian Mereka pun larut dalam perbincangan. Satu jam kemudian. "Oh iya Tuan! Pihak kedutaan Besar memberi Kami sebuah alamat sebagai rumah tinggal Aisha di Kota Lahore. Saya sendiri belum begitu paham Kota ini. Adakah orang yang bisa mengantar Kami untuk menemukan alamat itu?" tanya Ilham. "Tentu saja! Saya akan mengantar Kalian dan memastikan Kalian selamat sampai tempat itu," jawab Bhai Ali. "Oh. Terima kasih banyak, Bhai Ali!" ucap Aisha dan Ilham. "Sama-sama," jawab Bhai Ali, diakhiri dengan senyumannya. "Kalau begitu. Bagaimana kalau sekarang saja Kita kesana?" saran Ilham. "Baiklah!" jawab Bhai Ali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN