"Selamat siang Indonesia! Junaid datang!" gumam Junaid saat menuruni anak tangga dari pesawat itu.
Ia pun menolehkan kepalanya untuk melihat ke sekitarnya.
"Oh. Awan mendung. Cuaca yang menyenangkan," lanjutnya kemudian.
Satu jam kemudian Junaid telah selesai mengurus visa dan mengambil bagasinya. Kini Ia mulai berjalan dalam kerumunan penumpang lainnya di area kedatangan.
"Dimana Ayah dan Ibu, ya?" gumam Junaid.
Ia pun mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan orang tuanya diantara kerumunan para penjemput. Beberapa menit kemudian.
'Oh! Ternyata Mereka menyuruh orang untuk menjemputku,' ucap Junaid di dalam hatinya.
Kemudian Junaid melangkahkan kakinya mendekati lelaki yang membawa tulisan bertuliskan namanya. Beberapa menit kemudian.
"Tuan Muda Junaid, ya?" tanya lelaki itu dalam Bahasa Inggris.
"Iya Paman. Saya Junaid," jawab Junaid.
"Tuan Akbar menyuruh Saya untuk menjemput Anda. Kalau begitu, mari Kita pulang, Tuan Muda!" ajak lelaki itu.
"Maaf. Kalau boleh tahu, Paman ini siapa? Lalu siapa nama Paman?" tanya Junaid.
"Saya adalah sopir untuk rumah dinas Ayah Anda, Tuan Muda! Nama Saya Rendra," jawab lelaki itu.
"Oh. Begitu rupanya?" ucap Junaid.
"Iya Tuan Muda! Mari! Biar Saya yang membawa kopernya!" ucap Rendra.
"Baiklah!" jawab Junaid.
Kemudian Mereka mulai melangkahkan kaki Mereka meninggalkan area kedatangan penumpang itu.
"Oh iya. Dimana Ayah, Ibu, dan Anabia? Mengapa Mereka tidak menjemputku?" tanya Junaid.
"Pada jam-jam seperti ini, Tuan Akbar tentu saja masih sibuk di kantor, Tuan Muda!" jawab Rendra.
"Oh," sahut Junaid.
"Sedangkan Ibu Anda sedang menghadiri kegiatan Darma Wanita. Lalu Nona Anabia juga masih ada di sekolah," jawab Rendra.
"Oh. Begitu rupanya?" ucap Junaid sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya Tuan Muda. Akan tetapi, dalam perjalanan pulang nanti, Kita akan mampir untuk menjemput Nona Anabia di sekolahnya terlebih dahulu," ucap Rendra.
"Wah. Apakah Anabia sebelumnya tahu kalau Aku akan ikut serta untuk menjemputnya?" tanya Junaid.
"Tidak, Tuan Muda," jawab Rendra.
"Wah. Itu artinya, Kita bisa memberinya kejutan!" ucap Junaid.
"Tentu saja, Tuan Muda!" jawab Rendra, diakhiri dengan senyumannya.
"Kalau begitu. Sebelum Kita sampai di sekolahnya, Kita mampir untuk membeli bunga atau boneka dulu ya!" pinta Junaid.
"Baiklah, Tuan Muda," jawab Rendra.
"Akan tetapi maaf!" ucap Junaid.
"Maaf untuk apa, Tuan Muda?" tanya Rendra.
"Bisakah Aku meminjam dulu uangmu untuk membeli barang itu? Hehehe. Paman tahu sendiri, Aku tidak punya mata uang Rupiah saat ini," jawab Junaid.
"Oh. Iya Tuan Muda. Tidak masalah," ucap Rendra.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Paman!" ucap Junaid.
"Sama-sama," jawab Rendra, diakhiri dengan senyumannya.
"Oh iya. Satu hal lagi!" ucap Junaid.
"Iya? Ada apa?" tanya Rendra.
"Tolong panggil saja Aku Junaid! Itu lebih nyaman di telingaku, Paman!" pinta Junaid.
"Akan tetapi Tuan Muda? Bagaimana kalau Tuan Akbar dan Nyonya tahu?" tanya Rendra.
"Aku yang akan menjelaskannya kepada Mereka! Oke, Paman?" tawar Junaid.
"Baiklah, Junaid!" jawab Rendra.
"Nah. Itu baru asyik!" ucap Junaid.
Kemudian Mereka pun tersenyum bersama. Beberapa saat kemudian Mereka telah sampai di area parkir, dimana mobil Mereka diparkirkan.
Lalu Mereka memulai perjalanan Mereka, membelah jalanan Ibukota Jakarta itu. Setelah empat puluh menit lamanya berkendara, kini Mereka telah sampai di kawasan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan.
Setelah itu Mereka mampir ke sebuah toko aksesoris untuk membeli boneka. Kemudian Mereka juga mampir ke sebuah toko bunga.
"Wah. Ada bunga tulip juga disini!" ucap Junaid.
"Iya Junaid. Ini adalah toko bunga terbaik dan terlengkap di kawasan ini," jawab Rendra.
"Baguslah Paman! Kalau begitu, Aku akan membeli satu karangan bunga tulip untuk Anabia. Karena Dia sangat menyukai bunga tulip," ucap Junaid.
"Baiklah. Lalu. Warna apa yang akan Kamu pilih?" tanya Rendra.
"Hahaha. Kalau mengingat makna dari masing-masing warna bunga tulip itu sendiri, sebenarnya kurang ada yang pas untuk hubungan Kami berdua," jawab Junaid.
"Hmm," ucap Rendra sambil mengerutkan keningnya.
"Iya Paman! Coba Aku ingat-ingat. Tulip kuning itu melambangkan persahabatan; tulip putih melambangkan permohonan maaf; tulip merah melambangkan cinta sejati; tulip ungu melambangkan kerajaan dan kejayaan; lalu tulip biru melambangkan kedamaian karena menaruh kepercayaan dan kesetiaan cinta," jelas Junaid.
"Jadi? Warna apa yang akan Kamu pilih?" tanya Rendra.
"Aku akan mengambil semua warna untuk dijadikan satu karangan bunga," jawab Junaid.
"Hahaha. Itu ide yang cerdas!" ucap Rendra.
"Oh iya Paman! Di Pakistan, tepatnya di Kashmir, ada perkebunan Tulip yang sangat indah dan luas. Semua warna tulip ada disana," ucap Junaid sambil memilih bunga.
"Oh. Kashmir? Aku sering mendengar tentang Kashmir. Apakah tempat itu benar-benar indah?" tanya Rendra.
"Iya Paman! Sangat indah! Aku punya banyak dokumentasi di laptopku. Kapan-kapan Aku akan tunjukkan dan ceritakan kepada Paman," jawab Junaid.
"Wah. Terima kasih, Junaid," ucap Rendra.
"Sama-sama, Paman Rendra," jawab Junaid, diakhiri dengan senyumannya.
Waktu berlalu. Beberapa menit kemudian, kini Mereka telah sampai di depan SMA Negeri delapan puluh dua Jakarta.
"Kita sudah sampai di sekolah Nona Anabia," ucap Rendra.
"Oh," jawab Junaid.
"Pukul berapa Anabia akan keluar dari kelasnya, Paman?" lanjut Junaid bertanya, sambil melihat ke arah jam tangannya.
"Beberapa menit lagi. Ayo Kita tunggu Dia di depan gerbang sekolah!" ajak Rendra.
"Baiklah," jawab Junaid.
"Oh iya Paman. Aku akan membawa karangan bunga tulip ini. Tolong Paman bawakan bonekanya ya!" lanjut Junaid memohon.
"Baiklah," jawab Rendra.
Kemudian Mereka turun dari mobil dan berjalan menuju ke pintu gerbang sekolah itu. Beberapa saat kemudian.
"Kita tunggu saja disini, Junaid! Karena Aku terbiasa menunggunya disini," ucap Rendra.
"Oh. Baiklah," jawab Junaid.
Beberapa saat kemudian.
"Selamat siang, Pak Rendra," sapa seorang sekuriti sekolah itu dengan ramah.
"Selamat siang juga Pak Suroto," sapa balik Rendra, sambil menganggukkan kepalanya.
"Wah. Ada acara apa ini? Kok bawa hadiah segala untuk Nona Anabia? Lalu, siapa pemuda tampan ini, Pak?" tanya Pak Suroto.
"Oh. Ini Kakaknya Nona Anabia. Dia baru saja datang dari Pakistan," jawab Rendra.
"Oh. Begitu rupanya?" ucap Pak Suroto.
"Iya Pak. Kami ingin memberikan sedikit kejutan untuk Nona Anabia," ucap Rendra.
"Iya, iya. Saya mengerti. Kalau begitu, Saya kembali ke pos dulu ya!" pamit Pak Suroto.
"Iya Pak. Silahkan," jawab Rendra.
Kemudian Pak Suroto memberikan senyumannya kepada Rendra dan Junaid. Setelah itu Ia melangkahkan kakinya meninggalkan Mereka berdua. Beberapa saat kemudian, terlihat para siswa mulai berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing.
"Wah. Mereka sudah pulang, Pak!" ucap Junaid bahagia.
"Iya," jawab Rendra.
Beberapa menit kemudian.
"Waduh! Semua gadis berpakaian sama. Aku jadi bingung yang mana Anabia! Hahaha," ucap Junaid.
"Hahaha. Tentu saja yang paling cantik, tinggi, dan memiliki paras berbeda dengan yang lainnya, Junaid!" jawab Rendra.
"Oh iya!" ucap Junaid.
Kemudian Junaid pun mengamati para gadis yang berjalan keluar dari sekolah itu. Riuh ramai suara para siswa berpadu dengan riuhnya suara kendaraan bermotor Mereka.
Kali ini suara bertambah ramai gara-gara kehadiran Junaid. Gadis-gadis siswi SMA Negeri delapan puluh dua itu tengah ramai membicarakannya.
"Junaid!" panggil Rendra.
"Iya Paman?" jawab Junaid.
Ia menjawab dengan tidak memandang Rendra. Pandangannya masih fokus untuk mencari keberadaan Adiknya.
"Apa Kamu tidak menyadari sesuatu?" tanya Rendra.
"Menyadari apa, Paman? Apakah ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Junaid.
Ia pun memalingkan wajahnya untuk memandang Rendra. Lalu Ia melihat dirinya sendiri.
"Bukan seperti itu. Sadarilah! Saat ini Kamu sedang menjadi pusat perhatian dari gadis-gadis siswi SMA itu," jawab Rendra.
"Oh? Benarkah Paman?" tanya Junaid.
"Iya. Tentu saja! Kehadiranmu sungguh sangat mencolok. Seorang pemuda Pakistan yang tampan sedang berdiri di depan gerbang sekolah sambil membawa sebuah karangan bunga," jawab Rendra.
"Saat ini Mereka sedang membicarakan dirimu. Akan tetapi, sebagian besar civitas akademika sekolah ini tahu kalau kedatanganmu pasti untuk Nona Anabia," lanjut Rendra.
"Oh. Bagaimana bisa?" tanya Junaid.
"Karena Nona Anabia adalah satu-satunya Gadis Pakistan yang bersekolah disini. Dan sebuah kehormatan bagi sekolah ini, karena Putri dari seorang Duta Besar bersekolah disini. Iya, meskipun sejak awal sekolah ini sudah tergolong dalam sekolah favorit," jelas Rendra.
"Oh. Iya, iya. Aku mengerti sekarang," ucap Junaid.
Kemudian Junaid kembali mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Adiknya. Sementara itu, di sisi lain dari tempat itu.
"Ada apa sih? Mengapa ramai sekali ya?" tanya seorang siswi.
"Hmm. Mungkin ada artis yang datang kali," jawab siswi lainnya.
"Hai! Aku mendengar, kalau ada pemuda tampan yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Pemuda itu membawa sebuah karangan bunga tulip," ucap siswi yang lainnya.
'Pemuda tampan di depan gerbang sekolah? Karangan bunga tulip?' tanya Anabia di dalam hatinya.
Lalu Anabia berusaha melihat ke arah gerbang sekolah. Beberapa saat kemudian.
"Wah! Itu Junaid!" pekik Anabia.
"Apa Kamu mengenal pemuda itu, Anabia?" tanya seorang siswi.
"Iya. Tentu saja! Itu Kakakku! Dia baru saja datang dari Pakistan hari ini," jawab Anabia.
"Oh?" ucap semua siswi itu serempak.
"Ya sudah! Aku duluan ya!" pamit Anabia kepada teman-temannya.
"Oke," jawab Mereka.
Kemudian Anabia berlarian menghampiri Kakaknya. Beberapa saat kemudian.
"Junai..d!" pekik Anabia dari kejauhan.
Junaid yang mendengar namanya dipanggil pun mencari ke arah sumber suara itu. Beberapa saat kemudian, Ia menangkap sosok Anabia yang sedang berlarian ke arahnya.
"Wah. Anabia!" pekik Junaid.
Beberapa saat kemudian, Anabia berhambur untuk memeluk Kakaknya itu.
"Aku sangat merindukanmu, Junaid! Apakah Kamu tidak merindukan Aku? Kenapa Kamu tidak pernah mengunjungi Aku?" tanya Anabia bahagia bercampur kesal.
"Hahaha. Tentu saja Aku juga merindukanmu, Anabia! Makanya Aku datang hari ini," jawab Junaid.
"Tidak! Kamu datang hari ini karena perintah Ayah. Iya kan?" tanya Anabia sambil melepaskan pelukannya.
"Hmm. Iya juga," jawab Junaid sambil mengangkat kedua alisnya.
"Tuh kan?" rengek Anabia.
"Uff! Jangan merajuk seperti itu! Apa Kamu tidak malu? Semua temanmu sedang melihatmu sekarang," ucap Junaid.
"Biar saja!" jawab Anabia.
"Oke. Baiklah! Kalau begitu tolong maafkan Aku! Aku bawakan bunga tulip putih sebagai permohonan maaf. Oke, Tuan Putri?" pinta Junaid.
"Mana tulip putih? Ini warnanya campur-campur seperti ini?" tanya Anabia.
"Iya. Karena semua perlambang dari warna-warna bunga tulip ini, Kakak persembahkan untukmu, Adikku sayang!" jawab Junaid.
"Hmm," ucap Anabia.
"Ayo ambillah! Kakak masih ingat kalau bunga tulip adalah bunga kesukaanmu. Kakak pun bersusah payah sampai menjual urat malu Kakak untuk mendapatkannya," perintah Junaid.
"Oh ya? Bagaimana bisa?" tanya Anabia sambil membelalakkan matanya.
"Nanti Aku akan menceritakannya padamu. Jadi. Sekarang ambillah bunga ini dan maafkan Aku! Kalau Kamu tidak mau, Aku akan berikan pada salah satu gadis yang lewat," perintah Junaid.
"Iya, iya. Baiklah!" jawab Anabia sambil mengambil alih karangan bunga itu dari tangan Junaid.
"Lalu. Mana senyum untukku?" tanya Junaid.
Kemudian Anabia memberikan senyuman kepada Kakaknya itu.
"Memaafkan Aku kan?" tanya Junaid.
"Hmm," jawab Anabia sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Paman! Mana hadiah itu?" tanya Junaid.
"Ini," jawab Rendra.
Rendra menyerahkan boneka yang tadinya Ia sembunyikan di balik punggungnya. Junaid pun menerimanya.
"Boneka ini juga untukmu, Adikku sayang!" ucap Junaid, sambil menyerahkan boneka itu.
"Wah! Manis sekali!" jawab Anabia.
Ia pun tersenyum lepas dan begitu bahagia.
"Terima kasih, Junaid!" ucapnya kemudian.
Lalu Ia pun mengambil boneka dari tangan Junaid, dan memberikan kecupan pada kedua pipi Junaid.
"Wah! Anabia! Kamu menjatuhkan pasaranku!" ucap Junaid.
"Memangnya kenapa?" tanya Anabia.
"Semua gadis melihat Kamu menciumku. Mereka pasti berpikir kalau Aku ini adalah pacarmu atau tunanganmu!" jawab Junaid.
"Iih! Junaid!" ucap Anabia kesal.
"Hahaha," tawa Junaid.
Rendra yang melihat tingkah sepasang Kakak beradik itu pun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya sudah! Ayo Kita pulang! Apa Kalian tidak merasa lapar?" ajak Rendra.
"Oh. Iya, Paman!" jawab Junaid.
"Ayo Kita pulang!" ajak Junaid sambil menggandeng tangan Adiknya.
"Biar Saya bawakan bonekanya, Nona!" pinta Rendra.
"Baiklah. Ini Pak!" jawab Anabia.
Kemudian Mereka pun melanjutkan perjalanan Mereka menuju kediaman keluarga Mereka. Beberapa menit kemudian.
"Wah! Hujan!" ucap Junaid.
"Alhamdulillah. Disini sering hujan, Junaid! Tidak peduli musim kemarau pun, terkadang hujan juga turun," jawab Anabia.
"Oh. Sungguhkah? Sepertinya cuacanya menyenangkan.