Part 16. Kehangatan Keluarga

1854 Kata
"Hmm. Iya. Akan tetapi, Aku tidak menemukan salju disini. Di Indonesia, hanya ada dua tempat yang terkadang ada salju turun. Di puncak Dieng Provinsi Jawa Tengah, dan di puncak Bromo Provinsi Jawa Timur," jawab Anabia. "Oh. Alhamdulillah kalau begitu," ucap Junaid. "Akan tetapi, proporsinya dan intensitasnya sangat kecil, Junaid! Potensinya diperkirakan hanya lima persen dibandingkan dengan Pakistan," ucap Anabia. "Oh? Begitukah?" tanya Junaid. "Hmm. Iya. Lagian tempatnya juga jauh dari Jakarta. Maka dari itulah terkadang Aku rindu untuk pulang ke Pakistan," jawab Anabia sambil cemberut. "Jangan bersedih! Aku akan berbicara kepada Ayah tentang liburanmu ke Pakistan. Kita lihat nanti ya!" janji Junaid. "Terima kasih, Junaid!" jawab Anabia gembira. "Hmm. Sama-sama," ucap Junaid, diakhiri dengan senyumannya. Beberapa menit kemudian, kini Mereka telah sampai di kediaman Rumah Dinas Kedutaan Besar Pakistan. "Assalamu'alaikum!" ucap Junaid dan Anabia, saat memasuki rumah Mereka. "Waalaikumsalam," sapa Ibu Mereka dari dalam rumah. "Oh. MashaAllah! Putraku Junaid!" lanjut Beliau. Kemudian Junaid setengah berlari menghampiri Ibunya. Setelah itu Ia mencium punggung tangan Ibunya dan meminta berkatnya. "Tuhan memberkatimu, Nak!" ucap Ibunya. Kemudian Junaid pun memeluk Ibunya. "Hmm. Putra Ibu masih mau juga memeluk Ibu, rupanya?" ucap Ibunya. "Ya iya dong Bu! Habisnya mau memeluk siapa lagi?" jawab Junaid. "Biasanya anak laki-laki sebesar Kamu itu sudah tidak mau lagi bermanja-manja dengan Ibunya. Atau mungkin saja Kamu sudah mempunyai pacar?" tanya Ibunya bercanda. "Hahaha. Ibu ada-ada saja! Akan tetapi Ibu benar juga!" jawab Junaid. "Apa?" pekik Anabia dan Ibunya bersamaan. "Aduh! Kalian berdua ini bisa membuat gendang telingaku rusak, tahu!" ucap Junaid sambil menutup kedua telinganya. "Siapa pacarmu itu?" tanya Anabia dan Ibunya bersamaan. "Ya Allah. Galak amat sih! Junaid cuma bercanda aja kali!" jawab Junaid. "Serius cuma bercanda?" desak Ibunya. "Iya Bu! Junaid serius! Hanya bercanda saja!" jawab Junaid. "Hmm. Baiklah kalau begitu," ucap Ibunya. "Kalau begitu, ayo Kita makan dulu!" ajak Beliau kemudian. Lalu Mereka pun makan siang bersama. Setelah itu Mereka istirahat. Waktu pun berlalu. "Ibu!" panggil Junaid. "Iya. Ada apa, Junaid?" tanya Ibunya. "Jam berapa Ayah akan pulang?" tanya Junaid. "Kantor tutup pukul lima sore. Sebentar lagi Ayah juga akan pulang. Kalau tidak ada meeting atau acara penting lainnya," jawab Ibunya. "Oh. Oke," ucap Junaid. Kemudian Junaid melihat keluar jendela. "Cuaca Kota Jakarta menyenangkan juga ya, Bu! Padahal sebelumnya, Junaid dengar Kota Jakarta itu panas dan sumpek," ucap Junaid. "Iya Nak. Itu kan yang Kamu rasakan di dalam rumah ini. Akan tetapi, di luar sana banyak warga yang hidup dalam segala keterbatasannya. Kamu tahu sendiri lah! Dimanapun tempat, bila ada si miskin, ada pula si kaya. Tuhan telah membuat semuanya saling melengkapi satu sama lainnya, sayang!" jawab Ibunya. "Iya Bu. Junaid paham," ucap Junaid. Kemudian Junaid mengisi waktunya untuk memandang keluar jendela. Beberapa menit kemudian. "Oh. Tampaknya itu Ayah," gumam Junaid. Saat itu Ia melihat ada mobil sedan Toyota Camry yang memasuki halaman rumah dinas Mereka. Beberapa menit kemudian. "Assalamu'alaikum!" ucap Tuan Akbar ketika memasuki pintu rumahnya. "Waalaikumsalam Ayah!" jawab Junaid yang telah bersiap menyambut kedatangan Ayahnya itu. "Oh. Alhamdulillah. Kamu sudah tiba dengan selamat, Junaid!" ucap Tuan Akbar. "Alhamdulillah Ayah. Apa kabar Ayah?" jawab Junaid. Ia pun mencium punggung tangan Ayahnya dan meminta berkat darinya. "Alhamdulillah Ayah sehat. Semoga Allah selalu memberkatimu, Nak!" ucap Tuan Akbar. "Wah. Ayah sudah pulang," ucap Ibu Junaid yang tiba-tiba datang. Tuan Akbar menanggapinya dengan senyuman. Kemudian Ibu Junaid mengambil alih tas kerja dan jas suaminya. "Mandi dulu, Yah! Nanti Kita lanjutkan lagi ngobrolnya," saran Ibu Junaid. "Iya sayang," jawab Tuan Akbar. Kemudian Tuan Akbar pergi meninggalkan ruangan itu. "Bersiaplah untuk ibadah Sholat Maghrib! Waktu Maghrib akan tiba sekitar sepuluh menit lagi. Setelah itu Kita makan malam bersama di ruang makan. Oke, Junaid?" perintah Ibunya. "Baiklah Bu," jawab Junaid. Waktu pun berlalu. Kini Mereka telah berkumpul di ruang makan. "Ibu! Ini masakan apa?" tanya Junaid. "Junaid!" panggil Ibunya. "Iya Bu," jawab Junaid. "Mulai hari ini Kamu harus membiasakan lidahmu untuk merasakan hidangan khas Indonesia. Karena Kamu akan tinggal disini untuk waktu yang lama," ucap Ibunya. "Iya Bu," jawab Junaid. "Iya. Karena di Indonesia tidak banyak restoran yang menyediakan hidangan khas Asia Selatan. Lalu. Untuk menyiapkan hidangan itu sendiri pun, Kita terkendala dengan kurang lengkapnya ketersediaan bahan baku dan rempah-rempah di negara ini. Apakah Kamu mengerti sekarang?" tanya Ibunya. "Iya Bu. Tidak masalah. Aku pasti bisa kok! Hanya saja..," jawab Junaid. "Hanya saja apa? Aku saja bisa lho!" sahut Anabia. "Hehehe. Hanya saja, tolonglah sesekali Ibu menyiapkan hidangan khas Pakistan untukku," jawab Junaid. "Iya, iya. Tentu saja!" janji Ibunya. "Terima kasih, Ibu!" ucap Junaid. "Sama-sama," jawab Ibunya. "Oh iya Kak. Mulai besok, Aku akan ajak Kakak untuk berwisata kuliner. Asal Kakak tahu, hidangan Indonesia juga lezat lho! Aku akan membantu Kakak mengurangi kerinduan Kakak akan hidangan Pakistan," janji Anabia. "Sip deh!" jawab Junaid. "Kalau begitu ayo Kita makan sekarang!" ajak Tuan Akbar. Mereka menanggapinya dengan anggukan kepala Mereka. Waktu pun berlalu. Kini Mereka telah menyelesaikan makan malam Mereka. Saat ini Mereka sedang berada di ruangan keluarga. "Ayah," panggil Junaid. "Iya Junaid. Ada apa?" tanya Tuan Akbar. "Tolong beri Aku uang lima ratus ribu Yah," jawab Junaid. "Buat apa? Buat pegangan?" tanya Ayahnya. "Bukan Yah. Jadi begini ceritanya. Tadi siang kan Paman Rendra menjemput Aku di Bandara tuh," jawab Junaid. "Iya. Lalu?" tanya Ayahnya. "Dalam perjalanan pulang, Paman Rendra bilang kalau Kami harus menjemput Anabia dulu," jawab Junaid. "Oke. Lalu?" tanya Ayahnya. "Kemudian Aku berinisiatif untuk memberikan sedikit kejutan untuk Anabia. Maklumlah Yah. Junaid kan lama tidak berjumpa dengan Adik semata wayang Junaid ini," jawab Junaid sambil mengacak rambut Anabia. Anabia menanggapinya dengan senyuman. "Hmm. Iya, iya. Lalu?" tanya Ayahnya. "Nah. Kemudian Junaid membeli sebuah boneka dan sebuah karangan bunga tulip untuk Anabia. Akan tetapi, Junaid meminjam uang Paman Rendra. Karena Junaid tidak punya sepeserpun mata uang Rupiah," jelas Junaid. "Uff Allah! Kakak! Ternyata ini yang Kamu bilang tadi siang bahwa Kamu menjual urat malumu untuk mendapatkan hadiah untukku?" tanya Anabia. "Hehehe. Iya," jawab Junaid sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal itu. "Hmm," ucap Ayah dan Ibu Mereka. Mereka pun menggeleng-gelengkan kepala Mereka. Beberapa saat kemudian. "Baiklah. Ini Ayah ada uang tunai lima ratus ribu. Besok pagi bayarlah hutangmu itu!" perintah Ayahnya sambil menyerahkan uang kepada Junaid. "Terima kasih Ayah," ucap Junaid. Ia pun mengambil uang dari tangan Ayahnya. "Lalu ini ada kartu ATM Ayah. Bawalah dan gunakanlah untuk sementara waktu. Lihatlah! Kamu bisa berbelanja di semua gerai yang melayani Visa dan Mastercard dengan kartu ini," ucap Ayahnya. "Terima kasih Ayah," jawab Junaid, diakhiri dengan senyumannya. Ia pun mengambil kartu ATM itu dari tangan Ayahnya. "Wah. Bahagianya," ledek Anabia. Junaid menanggapinya dengan senyumannya. "Minggu depan Ayah akan longgarkan sedikit waktu untuk menemanimu membuat rekening bank untukmu," ucap Ayahnya. "Terima kasih Ayah," jawab Junaid. "Kamu sudah dewasa, Junaid! Gunakanlah dan aturlah keuanganmu dengan bijak! Kamu mengerti kan apa maksud Ayah?" tanya Ayahnya. "Iya Yah," jawab Junaid. Beberapa saat kemudian. "Oh iya Yah!" ucap Junaid. "Ada apa lagi?" tanya Ayahnya. "Bagaimana dengan ponselku Yah?" tanya balik Junaid. "Besok Sabtu sore setelah ibadah Sholat Ashar, Kita pergi ke Mall. Kita akan jalan-jalan bersama dan membeli ponsel baru untukmu. Kita akan mengisinya dengan SIM card Indonesia. Oke?" tawar Ayahnya. "Oh. Terima kasih sekali, Ayah!" jawab Junaid. "Sama-sama. Lalu. Ada lagi yang ingin Kamu minta atau tanyakan?" tanya Ayahnya. "Oh iya. Aku minta izin yah!" jawab Junaid. "Izin buat apa?" tanya Ayahnya, Ibunya, dan Anabia pada waktu yang bersamaan. "Duh duh! Kompak amat ya? Kalian berasa menghakimi Aku saja!" jawab Junaid. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian Mereka bertiga tertawa kecil menanggapinya. "Junaid cuma mau meminta izin untuk mengikuti kemanapun Paman Rendra pergi. Ya untuk satu atau dua Minggu kedepan, mungkin?" ucap Junaid. "Hmm. Untuk apa?" tanya Ayahnya. "Junaid ingin mengenal dan menghafal jalanan Ibukota Jakarta, Ayah! Lalu Junaid juga ingin mengantar dan menjemput Adik kesayangan Junaid ini," jawab Junaid. "Baiklah. Lakukan saja apa yang Kamu inginkan!" ucap Ayahnya. "Jadi? Mulai besok pagi Kakak akan mengantar dan menjemput Aku, gitu?" tanya Anabia. "Iya. Memangnya kenapa?" tanya balik Junaid. "Iya. Sepertinya Kamu keberatan, Anabia. Memangnya kenapa? Apakah Kakakmu ini memalukan? Apakah Dia kurang tampan?" tanya Ibunya. "Oh. Tidak, Bu! Justru yang terjadi hari ini adalah yang sebaliknya," jawab Anabia. "Maksudnya?" tanya Ibunya. "Oh Ibu! Tahu tidak? Apa yang terjadi sewaktu Junaid berdiri di depan pintu gerbang sekolah untuk menjemputku tadi siang?" tanya balik Anabia. "Apa?" tanya Ibunya. "Semua siswi membicarakan tentang Pemuda tampan ini!" jawab Anabia sambil mencubit pipi Kakaknya. "Aduh! Sakit tahu!" ucap Junaid. "Hahaha. Biar sadar diri! Jangan cari-cari perhatian ya!" pesan Anabia. "Ih. Siapa juga yang mau cari perhatian anak-anak SMA? Tidak level!" jawab Junaid. "Ih, Kakak!" ucap Anabia kesal. Kemudian suasana kekeluargaan yang hangat itu pun terus berlanjut. Beberapa jam kemudian, Ayah dan Ibu Mereka meminta izin untuk istirahat. Mereka juga menyuruh Junaid dan Anabia untuk beristirahat juga. "Oh iya Junaid! Ayo ke kamarku dulu!" ajak Anabia. "Memangnya mau ngapain?" tanya Junaid. "Mau apa tidak? Kalau nggak mau ya sudah!" jawab Anabia sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Junaid. "Hmm. Ya sudahlah!" ucap Junaid. Kemudian Ia pun melangkahkan kakinya mengikuti Adiknya itu. Beberapa saat kemudian Anabia menoleh kebelakang. "Nah. Gitu dong!" ucap Anabia, diakhiri dengan senyumannya. Beberapa menit kemudian kini Mereka telah sampai di depan pintu kamar Anabia. Setelah itu Anabia membuka pintu kamarnya. "Assalamu'alaikum," ucap Mereka berdua. "Ayo masuklah!" ajak Anabia kemudian. "Baiklah," jawab Junaid. "Wah. Kamarmu nyaman sekali, Anabia!" ucap Junaid. "Harus dong!" jawab Anabia. "Oke. Lalu. Mengapa Kamu menyuruh Kakak untuk datang ke kamarmu? Kamu mau memamerkan ruangan kamarmu yang bagus ini?" tanya Anabia. "Prasangka Kakak sungguh tidak baik," jawab Anabia sambil cemberut. "Santai sajalah! Jangan terlalu dibawa perasaan! Kakak hanya bercanda, tahu!" ucap Junaid. "Beneran?" tanya Anabia memastikan. "Iya, Adikku sayang!" jawab Anabia. "Baiklah. Kalau begitu, ini untuk Kakak!" ucap Anabia. Saat itu Ia menyerahkan sebuah bingkisan berpita biru muda untuk Junaid. "Wah. Apa ini, Anabia? Ini untuk Kakak?" tanya Junaid. "Iya. Ini adalah hadiah sambutan kedatangan Kakak. Ambillah!" jawab Anabia. Kemudian Junaid mengambil bingkisan itu. "Wah. Terima kasih, Anabia!" ucap Junaid kemudian. "Hmm. Sama-sama," jawab Anabia. "Waktu itu Aku sangat bahagia saat mendengar Ayah menyuruhmu untuk melanjutkan studi di Indonesia. Lalu Aku berpikir untuk memberimu hadiah kecil saat Kamu datang. Kemudian Aku pun mulai menyisihkan uang sakuku untuk Aku tabung," lanjutnya bercerita. "Oh. MashaAllah. Kamu baik sekali," ucap Junaid. Anabia menanggapinya dengan senyumannya. "Kalau begitu, bukalah kado itu Kak! Aku harap Kakak menyukainya," perintah Anabia. "Baiklah," jawab Junaid. Kemudian Junaid pun membuka kado itu dengan hati-hati. Dua menit kemudian. "Wah. Jam tangan Alexandre Christie!" ucap Junaid. "Iya Kak," jawab Anabia sambil tersenyum. "Wah, keren! Dilengkapi analog detik, tanggal, hari dan bulan! Ini pasti mahal harganya, Anabia!" ucap Junaid. "Iya Kak. Aku juga memilih edisi khusus warna sepenuhnya hitam. Karena Aku tahu kalau Kakak menyukai warna hitam," jawab Anabia. "Iya Anabia! Dengan warna sepenuhnya hitam, jam tangan ini terlihat sangat elegan," ucap Junaid, diakhiri dengan senyumannya. "Alhamdulillah, Kak!" jawab Anabia. "Alhamdulillah. Lalu. Berapa lama Kamu menyisihkan uang sakumu untuk membeli ini, Adikku sayang?" tanya Junaid. "Tiga bulan Kak," jawab Anabia. "MashaAllah. Kamu rela mengirit uang jajanmu selama tiga bulan demi Kakak? Terima kasih sekali, Anabia! Semoga Allah selalu memberkati dan menjagamu. Aamiin," doa Junaid. "Aamiin," jawab Anabia. Waktu pun berlalu. Keesokan harinya. Kini Anabia dan Junaid telah sampai di depan pintu gerbang sekolah Anabia. Rendra pun memarkirkan mobilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN