“Masih pusing, Boo?” “Iya, Hon.” Sejak bangun tidur Ammar mengeluh sakit kepala. Dia bahkan tidak mau turun sarapan bersama dengan anggota keluarganya. “Aku panggilkan Dokter ya, Boo?” “Tidak usah,” tolak Ammar. Ammar tidak mau bangun dari tidurnya dan tidak mau dipanggilkan Dokter membuat istrinya kebingungan. Hari ini, Ihsan pulang dari Surabaya. Dia mengajak anak dan menantunya makan siang bersama di cafe Mama Shanum. Melihat keadaan suaminya seperti itu membuat Titan berniat membatalkan janjinya dengan Ihsan. Papanya pasti akan mengerti dengan keadaan menantunya. “Papa sudah sampai Jakarta?” “Belum ada kabar. Sepertinya masih di pesawat.” “Kita pulang ke rumah Papa sekarang. Sebelum beliau sampai rumah,” ajak Ammar. Titan mengerucutkan bibirnya. Sejak tadi dia memijat kening

