“Ada kalanya gencatan senjata diperlukan demi sesuatu yang lebih penting.”
***
Lima belas menit berlalu setelah Kenza dibawa masuk ke ruang persalinan. Sakura duduk menunggu di sebuah kursi besi dan Andrew yang ada di sebelahnya sedang memangku Hana. Belum ada suara tangisan bayi sedari awal dan Juan, suami Kenza belum juga datang setelah dihubungi.
Kedua tangan Sakura terlipat dan matanya tertutup, berdoa dalam hati agar semua berjalan dengan lancar. Kepanikan yang tidak bisa disembunyikan pun membuat kedua kakinya mengetuk-ngetuk lantai tanpa disadarinya.
“Sensei kenapa, Dad?” Hana berbisik pada Andrew tapi suaranya tetap terdengar oleh Sakura.
Andrew meletakkan telunjuk kirinya di depan bibir, mengisyaratkan putrinya untuk diam. “Kenza bakalan baik-baik aja.” Ia memecah keheningan dengan sebuah kalimat menghibur. “Dia ada di tangan yang tepat.”
“Emangnya persalinan selalu selama ini ya? Mana saya nggak boleh masuk lagi. Padahal kan saya sahabatnya.” Bukannya berterima kasih atas ucapan Andrew, Sakura justru menyatakan keluhan demi keluhan. “Dulu istri Pak Andrew waktu ngelahirin Hana juga selama ini?”
Tidak ada jawaban dari Andrew selama beberapa detik. Sakura menjadi heran dan kemudian menoleh padanya. Tampak raut wajah datar yang tidak bisa ditebak oleh wanita itu.
“Proses persalinan orang berbeda-beda. Saya bukan dokter persalinan yang tahu persis tentang ini, tapi saya tahu kalau semua akan baik-baik aja.” Andrew menatap Sakura dengan yakin saat memberikan jawaban positif ini. Namun kemudian ia tampak tidak yakin untuk menjawab pertanyaan selanjutnya dari wanita di depannya. “Proses persalinan istri saya nggak terlalu gampang waktu itu. Tapi Hana berhasil lahir dengan sempurna. Sayangnyaㅡ”
“Sa!” Suara seorang pria berseragam PNS memotong pembicaraan Andrew.
Baik Sakura maupun Andrew langsung berpaling ke arah sumber suara. Tampak Juan berjalan cepat dengan napas terengah-engah lalu berhenti di depan Sakura dan bertanya mengenai kondisi istrinya.
Sakura berdiri, menyamai tinggi tubuh suami dari sahabatnya itu. “Belum nih,” sahutnya “Udah hampir dua puluh lima menit sekarang.”
“Aku lagi rapat dan ninggalin HP di mejaku. Jadi nggak tahu Kenza telepon.” Juan menghapus keringatnya yang tidak berhenti mengucur. “Tapi keadaannya gimana waktu sampai sini?”
“Dia masih sempet usilin aku sih. Jadi harusnya dia baik-baik aja.” Melihat Juan merasa panik, Sakura menahan diri untuk menjadi panik juga dan memberikan jawaban positif sebagai gantinya. Ia langsung paham alasan kenapa Andrew melakukannya tadi ketika melihat dirinya panik.
Belum lama, suara tangisan bayi terdengar begitu kencang dari ruangan dimana Kenza dibawa masuk. Senyuman lebar diiringi air mata dipertontonkan oleh Juan dan Sakura.
“Ternyata dia nunggu Ayahnya,” ucap Sakura dengan tawa penuh haru.
Juan yang kini berlinang air mata pun mengangguk. “Ya Tuhan. Makasih, ya Tuhan.”
“Selamat, Ju.” Sakura menepuk lengan pria itu lalu menghapus air matanya. Ia menoleh pada Andrew yang turut tersenyum. Mendadak perutnya terasa aneh hingga membuatnya teringat bahwa ini sudah hampir waktunya untuk makan malam.
Hanya selang lima menit, seorang wanita dengan jas putih dan leotat menutupi seluruh lengannya muncul. “Keluarga ibu Kenza?”
“Saya suaminya, Dok.” Juan mengangkat tangan kanannya setengah tiang.
“Kalau begitu silakan ikut saya ke dalam.” Dokter mempersilakan.
“Saya sahabatnya, Dok. Bisa saya ikut masuk ke dalam?” Sakura juga tidak ingin ketinggalan untuk melihat kondisi sahabatnya dan bayinya yang baru lahir.
Dokter tersenyum tetapi memberikan jawaban yang tidak diharapkan. “Mohon tunggu disini. Yang bukan anggota keluarga akan diperbolehkan untuk berkunjung setelah ibu dan bayi dipindahkan ke ruang perawatan.”
“T-tapiㅡ” Ucapan Sakura tidak dihiraukan oleh sang dokter yang langsung berbalik meninggalkannya. “Pak Andrew, apa dulu waktu istri Bapak selesai bersalin juga begini? Bahkan orang terdekat, kalau bukan keluarga nggak boleh masuk?”
Andrew mengangkat kedua bahunya sebagai tanggapan.
Sakura berdecak. Dengan perasaan kesal yang diakibatkan oleh dokter serta Andrew, ia merajuk seperti anak kecil dan duduk kembali di tempat yang sama. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan melipat kedua lengannya.
“Daddy, Sensei kenapa?” Hana menanyakan kembali hal yang sama, tetapi kali ini Andrew tidak memintanya untuk diam.
Sebaliknya, Andrew mengisyaratkannya untuk mendekati Sensei-nya dan gadis itu seolah tahu apa yang harus diperbuat.
Tangan mungil Hana menyentuh lutut Sakura. “Sensei, daijoubudesuka?[1]” tanyanya mengenai keadaan wanita itu.
Perhatian gadis kecil yang kini berusaha naik ke kursi itu membuat kekesalan Sakura sedikit pudar. Ia membantu Hana untuk duduk dengan baik di sampingnya. “Hai, daijoubudesu. Arigatou[2],” jawabnya sambil membelai kepala Hana.
Namun Hana tidak berhenti sampai disitu saja. Ia memeluk Sakura dengan erat dari samping. “Daddy selalu begini kalau Hana lagi sedih. Terus Hana jadi nggak sedih lagi. Sensei pasti juga,” ucapnya.
Hati Sakura tersentuh, tangan kirinya terangkat lalu merengkuh Hana lebih dekat dengannya. “Ah? Pantesan Sensei jadi lebih enakan,” sahutnya.
“Kalau ditambah sama Daddy, pasti lebih enak.” Hana mengusulkan hal yang mencengangkan seperti saat di restoran.
Secara spontan tangan Sakura yang lain terangkat dari balik punggung Hana, dengan jari telunjuknya bergerak ke kanan dan kiri beberapa kali untuk memberi tanda agar Andrew tidak melakukan permintaan putrinya. “Nggak usah, sayang. Hana aja udah cukup,” katanya.
“Nggak, Senseiㅡ”
“Wah, perut Sensei rasanya lapar banget ih. Hana lapar nggak sih?” Sakura memutus perkataan Hana, mengalihkan topik dengan segera.
Hana memegang perutnya, menyadari perutnya juga kosong lalu mengangguk.
“Sensei juga lagi nungguin tante Kenza. Jadi, sambil nunggu kita makan yuk?”
Hana mengangguk lagi lalu menoleh pada Daddy-nya. “Daddy, Hana mau spaghetti. Kita makan sama Sensei lagi kaya kemarin.” Ia meminta dengan penuh kegirangan.
Andrew mengangguk setuju hingga Hana bersorak. Ia segera turun dari kursi dan menggandeng Sakura. Sementara itu, Andrew berjalan mengikuti dari belakang.
Kenapa rasanya aneh ya? Ini apa Pak Andrew nggak dicariin istrinya? Kenapa jadi makan sama aku sih? Sakura berpikir dalam hati selama berjalan. Ia merasa agak bersalah dan tidak enak hati jadinya. Dan, kenapa aku jadi temenan sama dia? Bukannya dia nyebelin?
Ketiganya berjalan melewati lorong rumah sakit dan masuk ke area parkir. Andrew kini berjalan memimpin untuk menunjukkan dimana mobilnya diparkirkan. Ia menekan tombol buka kunci otomatis dan membuat lampu sebuah mobil berwarna hitam berkedip dua kali dengan suara yang keras.
Andrew membukakan pintu penumpang depan. Awalnya Sakura berpikir bahwa ia akan menggendong Hana untuk mendudukannya disana. Namun aksinya memindahkan jok kecil itu dari jok depan ke jok tengah membingungkannya.
“Kok? Ah, supaya Hana duduk di belakang sama saya?” Sakura menebak asal.
“Dan saya jadi supir? Ogah lah.” Andrew menyahut dengan nada sarkastik.
Kedua mata Sakura langsung menyorotkan kekesalan yang sama, disebabkan oleh tingkah tipikal seorang Andrew. “Terus?”
“Ya Sensei duduk di depan. Hana dipangku. Itu lebih masuk akal kan?” Andrew memberikan ruang untuk Sakura dan Hana masuk ke dalam mobil.
Tangan Sakura meraih belakang telinganya lalu menggaruknya sekali. Sebuah kejanggalan dirasakannya hingga pemikiran aneh mengenai Andrew pun muncul di benaknya. Nih bapak satu ganjen apa ya? Wah, gawat kalo gini.
Andrew berdehem, menyadarkan Sakura yang hilang fokus sejenak. “Sensei, ngapain?”
Pos-think[3] aja, Sakura. Wanita itu menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran negatif itu. Ia segera menggendong Hana kemudian duduk di jok depan.
Andrew menutup pintu untuk mereka lalu masuk ke dalam mobil melalui sisi yang lain. Ia menyalakan mesin dan mengemudikan mobil untuk meninggalkan area parkir.
Mobil menyibak jalanan yang mulai ramai di malam hari. Paris van Java memang tidak mengenal kata sepi, terutama di sekitaran pusat kota. Gemerlap cahaya lampu jalan dan gedung benar-benar mengalahkan langit yang sudah gelap. Suasana seperti ini biasanya akan diiringi dengan musik jazz kesukaan Sakura. Tetapi di dalam mobil Andrew, lagu anak-anak berbahasa Jepanglah yang mengisi suasana.
“Sensei, nyanyi lagu ini juga. Kira kira hikaru, osorano hoshiyo[4],” ajak Hana, lalu mulai menyanyikan lagu Twinkle Twinkle Little Star versi bahasa Jepang seketika lagu itu terdengar di pengeras suara.
Sakura jelas hafal liriknya karena sering menyanyikannya sebagai bahan ajar di kelas. Ia pun turut bernyanyi mengikuti Hana. Tak kalah, Andrew dengan suara baritonnya menimpali suara kedua perempuan di sisi kirinya. Suasana di dalam mobil menjadi lebih semarak hingga ketiganya menikmati situasi yang menyenangkan itu.
[T-MSD]
Keterangan
[1] Guru, apa kamu baik-baik saja?
[2] Ya, baik kok. Makasih.
[3] Positive thinking (berpikir positif)
[4] Twinkle twinkle little star, How I wonder what you are