“Kadang-kadang ada momen dimana kamu cuma bisa terdiam.”
***
Perut terisi penuh, stok energi kembali. Suasana hati Sakura pun kembali menjadi baik karena kebersamaan singkat yang ia habiskan bersama dengan Hana dan Andrew di Pondok Pizza. Meskipun gengsi mengakui, tapi dalam hati ia mensyukurinya.
Kini Sakura sedang berjalan di rumah sakit, tepatnya di koridor menuju ruang perawatan setelah menerima pesan dari Juan mengenai lokasi dimana Kenza dipindahkan. Katanya pula, ia sudah meminta waktu khusus kepada pihak rumah sakit agar Sakura diberi ijin menjenguk sebentar.
Masalahnya Sakura tidak sendirian. Meskipun ia bersikeras untuk pulang sendiri nanti setelah menjenguk sahabatnya, keputusan Andrew untuk tetap menemani dan mengantarnya pulang tidak bisa terelakkan. Awalnya ia yakin bahwa pihak rumah sakit hanya akan mengijinkannya, tetapi anehnya kedua ayah dan anak itu juga diijinkan untuk masuk.
Ruangan Kenza sudah terlihat di ujung. Mereka berhenti di depan pintu. Dengan tiga kali ketokan, Sakura membuka pintu lalu masuk diikuti oleh Andrew dan Hana. Mereka datang mendekati Kenza yang sedang terbaring di ranjang sementara Juan menggendong sang bayi.
“Hei, akhirnya datang juga.” Itulah kalimat sapaan yang diutarakan Kenza pada Sakura. “Kirain langsung pulang.”
Sakura berdecak sambil melipat tangan di d**a. “Ya kan aku ditolak. Nggak boleh masuk,” ucapnya. “Aneh banget gitu. Masa iya dokternya nggak ngebolehin? Setahu aku kan pasti boleh kalau orang deket.” Ia kemudian menengok sosok mungil di dekapan Juan sambil tersenyum.
“Yah, maaf. Itu memang aku yang minta, Sa.” Kenza mengaku.
Kedua alis Sakura yang tidak pernah diwarnai dengan pensil alis itu saling mendekat. “Maksudnya?”
Helaan napas panjang diperdengarkan. “Tadi tuh banyak darah. Kalau kamu masuk tadi, pasti langsung pingsan.” Kenza mengungkapkan alasan di balik semuanya.
Sakura menelan ludah. Ia memang paling takut melihat darah dan segala sesuatu yang berhubungan dengan benda tajam. “Oh. Ya udah aku maafin langsung,” sahutnya lalu terkekeh, diikuti oleh yang lainnya.
“Ah, kalopun pingsan kan ada pacarnya yang nolongin.” Juan asal berceletuk tapi matanya tidak beralih dari bayinya. Ia tampak begitu mengaggumi ciptaan Tuhan yang masih merah itu.
Telapak tangan Sakura melayang lalu mendarat di lengan Juan cukup keras. “Apaan sih? Asal banget ngomongnya. Udah berkeluarga tahu. Itu anaknya.” Ia setengah berbisik dengan mata melotot. Kemudian ia berpaling pada Andrew dengan perasaan bersalah bercampur cemas. “Maaf ya, Pak. Teman saya ini asal ngomongnya.”
Andrew menggeleng dan tersenyum bersamaan. “It’s okay. Wajar kalau orang salah mengira seperti itu karena saya memang masih kelihatan muda dan menarik, dan anak saya jadi kelihatan kaya keponakan,” ujarnya.
Sementara Kenza tertawa mendengar candaan itu, Sakura justru merasa itu aneh. Apanya yang lucu sih? Yang ada mah itu narsis.
“Tapi kamu nih, Sa, masa iya nggak dikenalin gitu dari tadi?” Kenza menyentuh lengan Sakura yang ada di sebelahnya, memberi isyarat mata melirik pada Andrew dan Hana yang kini digendongnya.
“Di rumah kamu kan udah.” Sakura menyatakan keengganannya. Ia sedikit merasa situasi menjadi aneh karena sahabatnya ini seperti sedang menjodoh-jodohkannya dengan orang yang jelas masuk ke dalam daftar hitamnya.
Sakura memiliki daftar yang cukup panjang berisi tipe dan karakteristik pria yang tidak akan pernah ia lirik sebagai lawan jenis; seorang playboy, pembohong, arogan, suka menyindir, pria yang sudah bertunangan apalagi berkeluarga. Itulah sebabnya ia terus berusaha untuk tidak terlalu dekat dengan Andrew, terlebih setelah beberapa kali membuatnya kesal. Jangan sampai ia mendapat label seorang pelakor hanya karena ditolong oleh seorang pria berkeluarga.
Andrew berdehem. “Mungkin lebih baik saya memperkenalkan diri saja supaya nggak menimbulkan kesalahpahaman,” ucapnya menengahi. “Saya Andrew, orang tua dari Hana yang adalah murid bahasa Jepang, Sakura Sensei. Saya tadi sore lihat Sensei seperti sedang kesulitan, jadi saya menawarkan bantuan. Dan ternyata benar, sahabat Sensei membutuhkan bantuan.”
Juan menepuk pelan lengan Andrew. “Makasih banyak ya, Bro, udah bantuin istriku,” ujarnya begitu santai, seolah memperlakukan seorang teman lama.
Sebelah alis Andrew naik diikuti oleh sebelah ujung bibirnya yang juga naik. Ekspresinya seakan memperlihatkan keterkejutan disertai ketidaknyamanan terhadap cara Juan memperlakukannya barusan. Namun ia mengangguk-angguk menanggapi ucapan terima kasih Juan.
“Tante Kenza.” Hana akhirnya angkat bicara. “Siapa nama adiknya?”
Kenza tersenyum semringah. “Claudia Emerald Situmorang,” jawabnya dengan bangga.
“Claudia? Itu kaya nama temenku di kursus bahasa Jepang.” Hana memberitahu lalu menoleh pada Sakura. “Iya kan, Sensei?”
Sebuah anggukan diperlihatkan oleh Sakura. “Akhirnya kamu pakai juga nama itu setelah siapin puluhan nama. Kan udah aku bilang kalau ini salah satu yang terbaik dari nama lainnya.” Giliran ia yang merasa bangga telah memberi usulan nama.
“Iya, iya. Makasih loh, Sa.” Kenza menjulurkan lidahnya, bertingkah seperti seorang anak SMA yang saling mengejek tetapi kemudian sama-sama tertawa.
Suara ketukan di pintu terdengar dan seorang wanita dengan seragam putih menampakkan diri. Ia memberitahu bahwa waktu menjenguk telah habis. Semua yang ada disana sontak melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul delapan tiga puluh malam.
“Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu ya, Kenz, Ju.” Sakura berpamitan. “Besok aku dateng sini lagi. Mungkin siang ya. Mobilku baru dianter besok pagi soalnya.”
“Oh? Jadi ini pulangnya sama Bro Andrew?” Juan bertanya menimpali dengan cepat.
Meski merasa aneh dengan panggilan Juan untuknya, Andrew menyahut, “Ya. Kasihan kalau malam-malam wanita pulang sendirian, apalagi nggak pakai mobil sendiri.”
Sekali lagi Juan menepuk lengan Andrew, namun kali ini dengan punggung tangannya. “Wah, keren banget kamu, Bro. Gentleman,” pujinya.
Sepengelihatan Sakura, Andrew perlahan menarik diri dan menjauh dari Juan. Ia berdecak diam-diam. Sok cool amat sih, pikirnya.
"Ati-ati di jalan ya." Juan dan Kenza berkata hampir bersamaan ketika Sakura, Andrew dan Hana melangkah keluar dari ruangan.
Ketiganya menuju ke tempat parkir dan masuk ke dalam mobil sesuai dengan posisi masing-masing. Sakura memangku Hana yang bergelayut manja padanya.
Suara musik anak-anak kembali memenuhi ruang di dalam mobil. Namun si pendengar utama justru menguap dan mulai menutup mata. Hari memang sudah malam bagi seorang berumur empat tahun seperti Hana.
Alhasil, perjalanan dari rumah sakit yang tidak singkat ke rumah Sakura dipenuhi dengan keheningan sejenak. Situasi terasa semakin janggal di antara mereka. Dua orang dewasa di dalam mobil mendengarkan lagu anak-anak dalam diam.
Lampu lalu lintas di persimpangan jalan Pasirkoja memancarkan sinar merah tepat saat mobil Andrew hanya berjarak kira-kira lima meter. Mobil pun dihentikan untuk pertama kalinya setelah berjalan tanpa henti.
Tangan Andrew meraih layar pemutar musik dan menghentikan lagu yang sedang dimainkan. Ia keluar dari folder berisi lagu anak-anak kesukaan Hana dan masuk ke sebuah folder lain. Ketika tombol ‘Play’ ditekan, lagu milik Vanessa Carlton, A Thousand Miles terdengar. Sakura langsung mengikuti irama lagu catchy yang pernah masuk ke daftar favoritnya di satu dekade lalu itu.
“If I could fall into the sky, do you think time would pass me by? Cause you know I’d walk a thousand miles if I could just see you … tonight.” Suara lirih Sakura menyanyikan bagian reffrain terdengar.
“Istri saya itu pemain piano yang handal. Melodi intro yang sulit menurut orang awam, bisa dimainin sama dia bahkan sambil tutup mata.” Andrew membuka suara, memecah kesunyian di antara keduanya.
Sakura menoleh sekilas pada Andrew dan memberikan senyuman singkat sambil mengangguk-angguk. “Ah, hebat,” komentarnya.
“Sensei juga suka lagu ini ya? Sampai hafal di luar kepala liriknya,” sambung Andrew.
“Ya. Dulu waktu SMA saya nyanyiin lagu ini sama temen-temen sekelas.” Akhirnya Sakura masuk ke dalam percakapan. “Kelas kosong, guru nggak masuk kelas, ya udah deh kami pakai komputer di kelas untuk puter banyak lagu termasuk lagu ini. Terus kami nyanyi deh sama-sama.”
Andrew terkekeh mendengarnya. “Emang masa SMA tuh nyenengin banget. Saya sendiri inget lagunya Extreme, More Than Words itu biasanya dipakai untuk nembak cewek.” Ia mengenang masa lalu.
“Ah, bener banget. Cowok-cowok pada berlomba-lomba belajar main gitar khusus untuk pamer di depan cewek.” Sakura menyambung dan tertawa.
“Saya salah satunya.” Andrew mengaku. Ia kembali menancap gas saat lampu lalu lintas menyala hijau.
“Oh ya?”
“Ya. Itu pertama kalinya saya jatuh cinta sama cewek.”
“Ah, cewek yang main musik pasti suka cowok yang bisa main musik juga ya.” Sakura mengangguk-angguk, lalu sebersit pikiran muncul mengenai sikap Andrew. Ini laki-laki kayanya jatuh cinta banget sama istrinya sampai bangga ceritainnya. Bagus lah, berarti dia bukan penggoda. Eh, tapi dia pulang semalam ini untuk nemenin aku ㅡyang notabene wanita lainㅡ apa istrinya nggak nyariin ya?
“... Halo? Are you still there?[1] Sensei!”
Karena sebuah tangan melambai tepat di depan wajah, Sakura tergugah dari lamunan, lalu menggelengkan kepala dengan gerakan cepat dan singkat. “Maaf, maaf. Apa?”
Andrew justru terkikik. “Mikiran apa sih? Ngelamun sampai gitu amat. Ah ... takut kalau pacarnya mikir aneh-aneh karena dianterin sama cowok nggak dikenal?” Ia menebak asal dan mendapatkan lirikan mendelik dari Sakura.
Barusan aja udah bisa mikir positif tentang dia. Eh, kambuh lagi deh suka nyindirnya. Malesin banget sih. “Nggak, nggak ada pacar.” Sakura menjawab sedikit ketus. “Tenang aja.”
“Hm, gitu. Bagus lah.”
“Ha? Bagus? Maksudnya?”
“Nothing.” Andrew mengedikkan bahu tanpa menoleh sedikitpun pada wanita yang menepuk-nepuk punggung Hana saat gadis itu bergerak. “Makasih dan maaf ya, jadi gendong Hana. Dia makin hari makin berat.”
Perkataan itu membuat Sakura sedikit luluh. Emosinya yang tadi agak naik kini kembali netral. “Nggak papa. Saya suka anak-anak kok. Itung-itung latihan kalau nanti punya anak senㅡuh, ya gitu lah.” Ia cepat-cepat memutus jawabannya sendiri. Apa sih? Kok aku jadi ngomong gitu segala ke dia? Duh… malu-maluin.
Suara tawa yang tiba-tiba diperdengarkan oleh Andrew sangat kontras dibandingkan dengan alunan lagu romantis NSYNC di pengeras suara yang populer di tahun 2000an. Ia seperti baru saja menonton sebuah film komedi.
Sakura berdehem. “Tolong jangan berpikir yang aneh-aneh ya, Pak. Saya nggak bermaksud apa-apa.” Ia mencoba meluruskan situasi yang sudah berubah menjadi janggal.
“Enggak kok. Saya cuma tiba-tiba mau ketawa aja,” kilah Andrew tapi masih lanjut tertawa tanpa suara.
“Ini belok kiri, ke jalan Hegarmanah." Sakura memberi peringatan di persimpangan sekaligus mengaburkan rasa malunya. "Ambil kanan aja, rumah saya yang pagar putih tinggi itu."
Andrew melakukan sesuai instruksi, lampu sein kanan menyala memberi tanda akan menyeberang jalan. Rumah yang dimaksud nampak dan mobil berhenti, begitu pula dengan tawanya.
"Hana mau ditaruh di kursinya dia kaya sebelumnya kah?" tanya Sakura.
"Iya, tolong keluar dulu. Saya pasang kursinya dia." Andrew keluar dari sisi setir lalu berputar ke sisi lainnya bertepatan dengan Sakura yang juga perlahan keluar sambil masih menggendong Hana.
Karena guncangan kecil terasa, Hana setengah terbangun dan mengeluh di alam bawah sadarnya. Tangannya melingkari di sekitaran leher Sakura lebih erat.
"Mmm, kayanya dia bakalan nangis kalau ditaruh di kursi." Andrew memberitahu. Ia tidak jadi membuka pintu tengah. "Ya udah, saya pangku aja sambil nyetir."
Sakura mengangguk setuju. Ia membiarkan Andrew menutup pintu kiri dan mengikuti pria itu yang kemudian masuk ke dalam sisi setir kembali.
"Sini." Tangan Andrew siap menerima putrinya setelah mendapatkan posisi yang nyaman di atas jok.
Hana berpindah dari Sakura kepada Andrew, namun tangan gadis itu menggenggam rambutnya hingga ia tertarik mendekat pada Andrew. Wajah mereka bertemu begitu dekat, menimbulkan debaran jantung yang hebat. Cepat-cepat disingkirkannya tangan Hana dan menegakkan tubuhnya lalu mundur satu langkah.
"Maaf. Dan, uh, terima kasih, uh, sudah antar saya sampai rumah," kata Sakura terbata-bata. "Silakan pergi." Eh, kok jadi ngusir? Ah, tahu ah.
Andrew memasang sabuk pengaman, menutup pintu dan menyalakan mesin kembali. "Sama-sama," ucapnya singkat juga. "Mari, Sensei."
Dengan sedikit membungkuk, Sakura memberi salam perpisahan dan tidak menunggu lama untuk berbalik melangkah menuju gerbang. Ia merasakan kecanggungan yang hebat disertai rasa malu hingga ia buru-buru menyembunyikannya. Namun karena itulah ia melupakan sesuatu yang sangat penting baginya.
"Tasku!" Sakura keluar dari gerbangnya lagi untuk mengambil barangnya tapi mobil Andrew sudah menghilang pergi.
[T-MSD]
Keterangan:
[1] Apakah kamu masih di sana?