“Kepolosan adalah bujukan paling ampuh.”
***
Tidak ada kontak orang tua murid di ponsel Sakura sehingga ia tidak bisa menghubungi Andrew untuk putar balik ke rumahnya sebentar. Alhasil, ia harus rela menunggu pagi tiba dan meminta rekan kerjanya untuk mengakses data orang tua murid di kantornya. Awalnya ia dicurigai akibat meminta nomor orang tua murid, tetapi penjelasan yang diberikannya secara rinci akhirnya diterima.
Dengan berbekal nomor ponsel Andrew, Sakura memberanikan diri ㅡatau lebih tepatnya membuang gengsi akibat rasa malunyaㅡ demi mendapatkan barang miliknya. Ia membutuhkan USB drive yang berisi materi pelajarannya hari ini.
"Halo. Selamat pagi, Pak Andrew. Ini saya Sakura." Demikianlah kalimat pembuka yang Sakura pilih untuk dikatakan.
"Ah, ya. Ada apa, Sensei?"
"Tas saya ketinggalan di mobil Pak Andrew. Ada barang penting yang saya perlu pakai jadi tidak bisa menunggu sampai nanti sore." Akhirnya ia mengatakan yang sejujurnya.
"Oh. Ya nanti saya minta staf saya untuk kirim pakai ojek online yaㅡ"
"Jangan!" Mendengar kata 'ojek' membuatnya langsung teringat ada sejumlah besar uang tunai yang Sakura simpan di dalam tasnya. Ia tipe orang yang tidak bisa langsung percaya pada orang yang tidak dikenal dan tidak ingin mengambil resiko kehilangan uangnya.
"Kenapa? Barangnya penting banget ya? Kalau gitu saya minta staf saya pribadi saja yang mengirim."
Sakura menyetujuinya. "Ya, Pak. Nanti saya kirimkan alamat lengkap saya lewat w******p," katanya.
"Nggak perlu. Saya masih ingat kok karena antar Sensei semalam. Memori saya itu kuat sekali."
Tawa kecil Sakura terdengar seperti berpartisipasi saja karena ucapan Andrew yang dianggapnya 'sok'. "Baik, Pak. Terima kasih. Maaf merepotkan." Ia tidak berbasa-basi lebih lama lalu menyelesaikan panggilan setelah mendengar kalimat terakhir Andrew.
Sakura meletakkan ponselnya ke atas nakas lalu menghampiri lemari pakaiannya. Ia mengambil satu set pakaian rumah dan masuk ke dalam kamar mandi. Tidak lupa dibawanya pula sepaket alat mandi yang baru sampai pagi ini setelah memesan tiga hari lalu secara online di toko favoritnya. Ia sudah tidak sabar untuk mencoba aroma yang baru.
Ponsel Sakura berdering singkat saat kakinya baru melangkah ke kamar mandi. Alhasil, ia kembali lagi untuk memeriksa pesan yang masuk.
'Maaf, Sensei. Sekretaris saya baru mengabari ada rapat mendadak, jadi saya dan staf yang tadi saya bilang harus rapat dengan klien pagi ini jam 9.30. Jadi, dia mungkin bisa antar sekitar empat jam lagi. Bagaimana, Sensei? - Andrew'
Desahan kesal diperdengarkan oleh Sakura dengan sebelah tangan berkacak pinggang. Dia tahu bahwa empat jam itu terlalu lama, sementara ia perlu mempersiapkan materi untuk nanti sore. "Kalau begitu saya kesana saja, Pak. Saya ambil sendiri. Tolong kirimkan alamatnya." Dituliskannya pesan yang sembari diucapkannya cukup keras itu di w******p dan kemudian dikirimnya.
Setelah mendapat persetujuan dari Andrew, Sakura buru-buru masuk ke dalam kamar mandi; mengingat hanya ada empat puluh lima menit sebelum Andrew memulai rapat. Ia mengurungkan niatnya menikmati waktu lebih lama untuk mandi dengan sabun cair yang baru. Alhasil, ia hanya menghabiskan kurang dari lima belas menit di kamar mandi.
"Mi, aku pergi dulu ya." Sakura mengambil sebuah roti lapis bikinan Liana dan mengapitnya dengan bibir sembari memasukkan kemeja ke dalam roknya.
"Eh, itu lipstick kemana-mana. Benerin dulu." Liana menunjuk pada bibir putrinya.
Sakura mengangguk-angguk. "Iya nanti aku benerin. Daah, Mi." Ia menarik roti dari mulutnya dan mulai mengunyah, sementara tangannya yang lain mengambil air mineral gelas. Kemudian ia meninggalkan rumah dan masuk ke dalam mobilnya.
Dengan lokasi yang dibagi melalui w******p, Sakura meluncur ke kantor Andrew. Ia beruntung karena jarak kesana hanya sekitar sepuluh menit jika tidak ada kemacetan menurut Google Maps. Namun di jam sibuk, jalanan masih cukup dipenuhi dengan mobil para pekerja yang memulai jam kerja pukul sembilan.
Namun yang namanya Sakura tidak mungkin berhenti jika bukan karena mesinnya yang bermasalah. Kemacetan parah saja bisa ia hindari, apalagi situasi yang masih ramai biasa. Dia mengenal kota Bandung dengan sangat baik, hingga jalan tikus manapun bisa diaksesnya. Dalam lima belas menit mobil tipe city car warna merahnya berhenti di depan sebuah gedung bertingkat tiga di jalan Merdeka.
Rambut terurai bebas, tubuh berbalut setelan minimalis dan wajah berhiaskan dandanan seadanya adalah deskripsi yang tepat untuk penampilan Sakura saat ini. Namun kulit putih miliknya yang diturunkan dari Liana membuatnya tetap enak dipandang dengan kesederhanaannya. Sinar matahari yang menyinarinya seakan lampu sorot yang mengikutinya saat ia berjalan masuk ke dalam gedung.
"Permisi, dimana saya bisa bertemu dengan Pak Andrew?" tanya Sakura pada seorang resepsionis cantik yang sudah menyambut dengan senyuman saat pertama kali melihatnya.
"Apakah Ibu sudah membuat janji? Karena pada saat ini Pak Andrew belum bisa diganggu." Wanita itu memberitahu.
Sakura mengangguk dan menjawab, "Iya. Saya kesini karena sudah bicara dengan Pak Andrew."
"Nama Ibu?"
"Sakura. Saya tutor bahasa Jepangnya Hana." Ia memperkenalkan dirinya lebih jelas, berharap tidak ada kendala.
"Sensei!" Suara anak kecil yang familiar terdengar dari arah kanan. Hana berlari mendekat, meninggalkan seorang wanita muda berseragam tipikal pengasuh yang tadi menggandengnya.
Sakura setengah membungkuk lalu menggendong Hana. "Hana kok disini? Nggak ada sekolah?" tanyanya.
Hana menggeleng. "Nanti jam dua belas, Sensei," jawabnya.
"Hana selalu disini setiap hari dari pagi sebelum berangkat sekolah." Sang resepsionis memberi informasi setelah menyelesaikan telepon singkatnya. "Oh ya. Pak Andrew meminta saya untuk memberitahu kalau Ibu bisa masuk ke kantor beliau."
"Oh, oke. Dimana ya kantornya?" tanya Sakura.
"Hana tahu!" Gadis kecil itu menyahut dengan sebelah tangan terangkat. "Ayo kita kesana."
Sakura berterima kasih pada sang resepsionis lalu berjalan menuju ke arah yang Hana tunjukkan. Di sampingnya, pengasuh muda itu hanya berjalan mengikuti tanpa kata terucap.
Ketiganya masuk ke dalam lift dan tombol nomor tiga ditekan oleh si pengasuh. Ia tersenyum pada Sakura yang juga tersenyum balik padanya.
"Ibu, dekat ya sama Pak Andrew dan Hana?" Pertanyaan itu tiba-tiba diberikan.
"Hm, sebenernya ini baru hari ketiga atau keempat gitu sih sejakㅡ" Sakura menahan perkataannya. Ia tidak mungkin menceritakan perseteruan kecil yang terjadi di antaranya dan Andrew saat itu. "Selama ini saya hanya tahu Pak Andrew dan Hana di kelas Bahasa Jepang saya."
Gadis muda itu mengangguk-angguk. "Saya Helda, pengasuh Hana sejak dia masih setahun." Ia memperkenalkan diri tanpa diminta.
"Oh ya? Halo, Helda. Senang berkenalan sama kamu. Sakura tersenyum padanya dengan ramah.
Ding!
Lift terbuka dan mereka melangkah keluar. Ruangan tepat di depannya adalah tujuan akhir Sakura. Ia tidak menunggu lama untuk mengetuknya dan mendapati Andrew sedang mengobrol dengan seorang laki-laki yang tampak tidak berbeda jauh usianya.
"Daddy, ada Sensei." Hana berseru, menarik perhatian semua yang ada di ruangan itu.
Andrew bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekat pada Sakura dan Hana. "Maaf karena Sensei harus ambil sendiri tasnya disini," katanya. "Tasnya ada di atas meja. Itu." Ia menunjuk pada tas berwarna merah tua di meja yang lebih pendek di tengah ruangan.
Sakura menoleh pada benda miliknya lalu kembali pada Andrew. "Ah ya, itu. Terima kasih, Pak. Maaf mengganggu waktunya. Kalau gitu saya langsung pergi aja supaya nggak menyita waktu Pak Andrew."
Bukannya menyetujui langsung, Andrew justru menggaruk belakang kepalanya. "Uh, ini pasti terkesan mengada-ada dan saya sengaja lakuin ini. Tapi cuma selang beberapa menit Sensei masuk kesini, saya baru selesai bicara dengan klien yang mengundur pertemuan jadi besok." Pemberitahuannya itu membuat Sakura langsung mendongkol.
Tahan, Sakura. Dia bilang dia nggak sengaja. Jangan bikin image-mu jelek di depan banyak orang, Sakura membatin pada dirinya sendiri. "Ah, oke. Nggak masalah. Yang penting barang saya masih ada dan utuh," ucapnya, lalu menyerahkan Hana pada Daddy-nya. Ia menghampiri meja dan mengambil tasnya.
Ketika Sakura hendak berpamitan, tampak ekspresi kecewa di wajah Hana. Kedua manik matanya berair dan bibirnya membentuk setengah lingkaran menghadap ke bawah. Ia kemudian membenamkan wajahnya di d**a Andrew.
Melihat reaksi putrinya, Andrew menjadi terkejut. "Loh? Kok Hana nangis sih?" tanyanya.
"Sensei jangan pergi," ucap Hana lirih tapi masih bisa didengar oleh semua yang berada di dekatnya.
Gawat. Hana makin lama makin nempel sama aku aja nih. Tiap kali mau pisah, bisa-bisa bawaannya mewek begini. Gimana nih? "Hana, sini lihat Sensei." Sakura mendapat sebuah ide, dan berharap bahwa Hana akan bisa dibujuk.
Air mata yang sudah membasahi pipi Hana tampak ketika ia menoleh pada Sakura.
"Sensei janji habis selesai kursus nanti sore, kita nonton film My Little Pony sama-sama." Sakura menyebutkan sebuah judul film animasi yang diadaptasi dari kartun populer di kalangan anak-anak baru-baru ini. "Itu kalau Hana nggak nangis sampai kita ketemu lagi sore ini. Gimana?"
Meskipun masih cemberut, Hana mengangguk.
"Ii musume," Sakura membelai lembut pipi Hana. "Sensei pergi dulu ya sekarang. Kita ketemu lagi jam lima sore."
Hana mengangguk lagi.
Sakura tersenyum senang karena rencananya berhasil. "Mari semuanya." Ia berpamitan lalu berbalik menuju ke luar ruangan. napasnya menyembur ke atas meniup poninya, menandakan kelegaannya. Untung aku sempet lihat jadwal film di bioskop beberapa hari lalu. Tinggal siapin kekuatan ekstra aja nih untuk pulang rumah telat lagi.
[T-MSD]
Keterangan:
[1] Anak baik