“Dua orang berbeda biasanya bersatu karena tertarik pada hal yang sama.”
***
Semua kelas hari ini cukup menyenangkan, termasuk yang terakhir dimana Hana dan Andrew berada. Ditambah lagi, gadis kecil bermata belok dan coklat itu sudah menunggu Sakura di dalam kelas sembari membereskan semua peralatan dan barang-barang pribadinya. Sementara itu, Andrew sedang menerima telepon dari seseorang di luar kelas dan suaranya terdengar sampai ke dalam.
"Hana, Daddy kalau teleponan emang suaranya keras gitu ya?" Sakura bertanya pada Hana ketika ia sedang memasukkan beberapa buku ke dalam rak.
Sambil melihati gerakan Sakura, Hana menjawab singkat, "Iya. Selalu."
Udara tawa menyembur seperti lepas kendali dari bibir Sakura. Ia menjadi sangat geli, berpikir bahwa Andrew seperti orang tua yang kemampuan mendengarnya sudah menurun.
"Sensei, udah?" Pertanyaan itu diajukan ketika melihat Sakura hanya berdiri memandang sekelilingnya.
"Kayanya sih udah, Sayang." Sakura meyakinkan dirinya tidak ada satupun yang terlewatkan.
Tangan mungil Hana menyentuh Sakura dan kepalanya mendongak menatap dengan penuh harap. "Ayo kita pergi sekarang."
Melihat antusiasme anak itu, Sakura tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang rapi. Ia mengangguk, membawa tasnya lalu menggandeng Hana keluar dari kelas.
Andrew masih belum selesai menelepon. Tetapi ketika menyadari dua orang yang ditunggunya sudah keluar, ia berpaling dan berusaha menyelesaikan panggilan. Namun sepertinya ia mengalami masalah untuk melakukannya. "Dibilangin juga. Ditungguin si Hana ini. Mau jalan-jalan." Beberapa saat kemudian ia menekan layar ponselnya lalu menunjukkan Hana pada si pelepon wanita yang nampak di panggilan audio yang sudah berubah menjadi panggilan video tersebut.
"Tante Kezia!" sapa Hana riang.
"Hana mau jalan-jalan ya?"
"Iya!"
Andrew tidak membiarkan wanita itu berbincang lebih lama dengan menarik ponselnya dan melihat ke layar tersebut. Ia tampak bersiap-siap untuk memutuskan sambungan.
Namun belum sempat dilakukan, wanita itu berkomentar, "Siapa tuh yang gandeng Hana? Istri baru lo ya?"
"Eh, asal aja. Bukan siapa-siapa," sahut Andrew yang bermaksud untuk tidak melanjutkan topik itu.
Hanya saja di telinga Sakura, penangkapannya menjadi sedikit berbeda. Kurang ajar, bukan siapa-siapa dia bilang? Tinggal bilang Sensei-nya Hana aja kok dibuat sulit. Ia melengos ke arah lain beberapa detik sebelum kembali pada Andrew yang sudah mengakhiri panggilan.
"Udah siap?" tanya Andrew pada Hana. Kedua belah tangannya terulur, menawarkan diri untuk menggendong putrinya.
Lucunya, Hana justru menolak dengan sebuah gelengan hingga Sakura tertawa. Tetapi tawa itu hanya berlangsung sebentar ketika si gadis kecil menarik tangan Daddy-nya. Alhasil, mereka kini tampak seperti keluarga kecil beranggotakan seorang ayah, ibu dan satu anak.
Tidak mungkin Sakura melepaskan tangannya dari Hana. Gadis itu sudah pasti akan kecewa dan menangis. Sebagai akibatnya, ia hanya berjalan menurut menuju ke luar gedung. Ia beruntung tidak ada orang di sekelilingnya yang melihatnya di posisi seperti ini. Pak Yoto pun masih tampak mengobrol dengan seorang tukang parkir di dekat gedung.
Ketika ketiganya sampai di dekat mobil, mereka berpisah. Andrew ke sisi setir dan Sakura serta Hana di sisi sebelahnya. Baru sehari menghabiskan waktu bersama ayah dan anak ini, wanita yang hampir mencapai usia tiga puluh tahun ini seperti sudah terbiasa dengan posisinya; memangku Hana seperti mamanya sendiri.
"Pak Yoto, jangan ngobrol terlalu lama. Pintunya dijaga." Sakura mengingatkan satpam sif malam itu ketika mobil melewatinya yang masih asik mengobrol.
"Ah, iya Sensei! Maaf!" Pria itu membungkuk setengah sebelum mobil melaju meninggalkan area kursus bahasa.
Suasana riang dengan musik anak-anak pun mengisi kembali. Hana ikut bernyanyi seperti biasanya, sementara Sakura dan Andrew hanya menikmatinya. Saking senangnya, gadis itu bergerak banyak dan membuat paha Sakura agak pegal.
Melalui ekor matanya, Andrew melihat gerak gerik Sakura. "Hana, Sayang, jangan gerak-gerak gitu. Kasihan Sensei kalau nanti kakinya sakit." Ia langsung mengingatkan.
"Ah! Gomennasai[1]," Hana buru-buru meminta maaf.
Sakura menyungging senyum. Matanya mengarah kepada Hana, tetapi senyumannya diam-diam ditujukan untuk Andrew. Ia cukup berterima kasih atas perhatian kecil pria itu yang tidak disangkanya akan diberikan.
Perjalanan menuju ke Paris Van Java dimana lokasi bioskop berada tidak memakan waktu lama. Adalah hal yang baik menurut pemandangan Sakura karena mereka bisa menghabiskan setengah jam untuk makan lebih dulu sebelum menonton. Usulan itu diberikan kepada Andrew yang juga langsung menyetujuinya.
Setelah mobil terparkir, ketiganya masuk ke dalam gedung. Sementara Hana dan Sakura memesan makanan lalu duduk di meja kafe dekat pintu masuk area bioskop, Andrew mendapat bagian untuk membeli tiket menonton. Awalnya Sakura lah yang ingin membelinya karena ia sudah berjanji, tetapi dengan sedikit paksaan dari Andrew, ia akhirnya menurut.
Makanan pesanan datang dan ketiganya sudah ada di meja, siap untuk menyantap. Namun interupsi tidak terduga datang dari sepasang pria dan wanita yang tidak Sakura kenal, yang menghampiri Andrew.
"Ndrew!" Si pria menyapa dan akhirnya kedua pria itu saling memberi pelukan ala pria. "Ya Tuhan, lama banget nggak ketemu sama kamu."
"Iya loh, Ndrew. Padahal dulu kita bawaannya kemana-mana waktu kuliah sih. Sekarang kamu sibuk banget sampai nggak pernah dateng reunian." Si wanita menimbrung. Matanya kemudian beralih kepada Sakura. "Ini istri sama anak kamu ya?"
"Iya-nggak!" Andrew dan Sakura menjawab bersamaan dengan jawaban yang kontras.
"Iya apa enggak nih?" Wanita itu bertanya memastikan, diikuti oleh tawanya dan lelaki di sebelahnya.
Andrew terkekeh keras, berusaha menutupi yang sebenarnya. "Biasa. Dia itu emang kocak. Cara ngomongnya emang suka belagak ambigu," ucapnya asal. Ia kemudian berpindah dari posisinya ke sebelah Sakura, lalu merangkul dan memberi remasan tangan ringan di bahu kanannya. Ia memberikan isyarat rahasia pada wanita itu agar membantunya. "Kenalin, ini Sakura dan si kecil Hana."
"Oh hai, Sakura, Hana." Wanita itu melambai gemas pada Hana. "Aku Diarah, temen kuliahnya Andrew. Dan ini suamiku Gavin. Kita bertiga seperjuangan. Skripsi barengan. Susah bareng." Ia menceritakan masa lalu mereka.
"Iya. Dulu tuh Andrew orangnya pemalu banget. Udah punya pacar tapi nggak pernah dilihatin. Disimpen terus. Wuu." Gavin memajukan bibir bawahnya, berlagak mencibir tapi kemudian terkekeh. "Ternyata istrinya cantik gini. Pantesan disembunyiin."
Andrew mengeluarkan kekehannya yang khas, menandakan partisipasi paksaan. "Kalian nggak ada urusan nih habis ini?" tanyanya setengah mengusir halus.
"Honey, kita nggak diinginkan disini. Barusan diusir." Gavin berkomentar dengan ekspresi berpura-pura cemberut dan disambut dengan anggukan istrinya yang kompak mendukung.
Sementara itu, Andrew hanya mengangguk. Ia tidak ingin menanggapi, apa lagi memandang Sakura yang kini cukup geram.
"Ya udah kita berdua pergi. Tapi, sebagai gantinya kamu harus dateng ke reunian. Boleh lah ajak istri sama anakmu. Kita alumni NUS[2] bakalan kangen-kangenan," Gavin masih berusaha untuk membujuknya ikut berkumpul.
"Yoi. Gampang lah diatur. Masih ada nomorku kan? Kontak aja," Andrew hanya asal menjawab, demi mengusir mereka dan segera menjauh dari Sakura.
"Oke lah. Nikmatin aja kebersamaan sama keluargamu. Sorry loh jadi ganggu," sindir Diarah. "Yuk, hon. Daah, Ndrew, Sakura, Hana cantik." Lagi-lagi ia berlaku sangat manis khusus pada Hana.
Sedetik setelah kedua pasangan itu berbalik meninggalkan mereka, Sakura segera mendorong tangan Andrew yang duduk manis di bahunya. Ia melirik pada pria itu tanpa kata, karena ia sudah pasti ingin memakinya. Namun keberadaan Hana tidak memungkinkannya untuk melakukannya.
"Sensei, ini Hana nggak habis." Tangan Hana mendorong gelas berisi Blueberry Yogurt Frappe yang tadi dipesannya, beberapa waktu setelah mereka bertiga menikmati makanan.
Sakura tahu ia tidak bisa meminum dingin pada malam hari, tetapi ia mengabaikannya. Sekali doang mah nggak papa kali ya. Ia pun menyeruput minuman itu perlahan agar tidak terserang brain freeze[3].
"Yee! Hana udah selesai, Daddy. Sensei juga." Hana bersorak riang, tak sabaran ingin menonton karakter kuda poni warna merah jambu yang imut itu.
Andrew mengangguk ketika menyeka tangannya dengan tisu basah yang selalu dibawanya untuk Hana. Ia juga memberikan sehelai untuk putrinya yang turut menyeka tangannya, dibantu oleh Sakura.
Pada akhirnya ketiganya pergi meninggalkan kafe dan menuju ke dalam bioskop. Hanya sepuluh menit tersisa sebelum film diputar. Dengan kursi yang dipesan di baris kedua dua paling atas, mereka memposisikan diri dengan nyaman.
Di empat puluh menit pertama, Hana merasa sangat antusias menonton. Ia bahkan berdiri di kursi. Untungnya, tinggi badannya tidak melebihi sandaran kursi sehingga tidak mengganggu penonton lain di belakangnya. Tetapi setelah masuk durasi satu jam, Hana mendatangi Sakura untuk dipangku setelah lelah berdiri.
Film khusus anak-anak itu cukup lucu sehingga masih bisa dinikmati oleh orang dewasa. Banyak kali suara tawa menanggapi komedi di film tersebut memenuhi ruangan. Sakura adalah salah satu dari mereka. Ia memang suka film-film bawaan Disney sedari dulu, tidak peduli usianya yang semakin bertambah.
Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat dan film itu selesai. Hana yang tadinya masih terjaga, kini justru terlelap di d**a Sakura. Melihat situasi itu, Andrew pun cepat tanggap. Ia mengambil Hana dari Sakura dan menggendongnya.
Keduanya berjalan keluar dari studio bioskop bersandingan. Mereka tidak memiliki tujuan kemanapun selain pulang ke rumah masing-masing. Karena itulah, Andrew mengantarkan Sakura pulang ke rumahnya.
"Makasih ya, Sensei, udah nyenengin Hana hari ini." Perkataan tulus Andrew membuat Sakura menghentikan gerakannya saat ia hendak membuka pintu mobil.
Dengan setengah sadar, Sakura tersenyum dan mengangguk bersamaan. Ia merasa ada yang salah dengan dirinya sejak duduk di mobil. Kepalanya terasa pening, terutama di setiap belokan. Tadinya ia hanya mengabaikannya, tetapi kini ia benar-benar merasakannya.
"Pak Andrew, bisa tolong sesuatu?" Tidak ada pilihan bagi Sakura untuk menjaga gengsinya. Ia tersadar bahwa ini adalah kesalahan yang ia buat di kafe dengan meminum minuman dingin.
Andrew menyadari ada yang salah dengan Sakura. "Kenapa? Ada apa?"
"Tolong ambil kunci yang ada gantungan huruf S warna putih di tas saya ini." Sakura menunjuk pada tasnya yang ia letakkan di antara jok. "Boleh bantu bukain pintu gerbang untuk saya? Kayanya kepala saya agak pusing."
Andrew cepat-cepat melakukan apa yang wanita itu minta. Ia menggeledah tas itu lalu mengambil kunci yang dimaksud. Ia setengah berlari setelah keluar dari mobil, lalu membuka pintu gerbang. Tidak lama, ia kembali lagi ke mobil, tetapi di sisi penumpang.
"Saya gendong Hana sini." Andrew mengambil Hana dari Sakura perlahan.
Dengan tangan seakan meraba saja, Sakura mengambil tasnya dan keluar dari mobil. Dengan sekuat tenaga yang ada, ia berusaha berdiri tegak. "Terima kasih, Pak," katanya saat menerima kunci gerbangnya dari Andrew.
Baru beberapa langkah yang Sakura ambil, tubuhnya sudah oleng. Beruntung ia bersandar pada kap depan mobil. Andrew cepat-cepat menutup pintu lalu melingkarkan lengannya di pinggang Sakura.
"Nggak papa. Saya bisa kok kalau cuma sampai ke dalam rumah," Sakura sungkan untuk merepotkan.
Namun Andrew bukanlah orang yang bisa dibujuk dengan mudah. Ia menutup mengambil kunci mobil yang ada di sisi setir, menutup pintunya lalu menopang Sakura. Kini dengan tangan kanannya ia menggendong Hana, dan tangan kirinya ia melingkarkan lengan di pinggang Sakura.
Perlahan-lahan mereka memasuki area rumah dan sampai di depan pintu. Dengan sedikit kesulitan, Sakura menaikkan tangannya untuk menekan bel sambil bersandar pada Andrew.
Tidak lama, Liana menampakkan diri dari balik pintu yang terbuka dan berseru, "SAKURA!"
[T-MSD]
Keterangan:
[1] Maaf
[2] National University of Singapore
[3] Efek otak terkejut karena minuman dingin