“Lintasan ini semakin mencekung dan bola di kedua ujungnya mulai mendekat.” *** “SAKURA, KENAPA?” Liana tampak cemas dan marah hingga Andrew terkejut, bingung harus menjelaskan apa. “Kamu pasti minum dingin kan?” Rupanya kemarahannya diarahkan pada Sakura karena hafal dengan kelemahan putrinya. Setengah sadar, tangan Sakura meraba-raba untuk berpindah dari Andrew ke maminya. “Mi, aku pusing banget. Perutku juga mual,” katanya lirih; salah satu tangannya memegangi perut. “Pak Andrew pulang aja. Maaf ngerepotin.” Kekuatan Liana rupanya tidak cukup untuk menopang berat badan Sakura hingga ia sedikit oleng. “Duh, Sa. Udah berat, nggak bisa jalan.” Ia kembali mengomel. Andrew melihat ke sekitarnya lalu menghampiri sofa yang ada di dekatnya. Diletakkannya Hana yang masih tertidur lelap tak

