“Gaa, ni aku kasih mmuaahhhh, buat upah nggendong,hehehee,” Zahra tidak tahan untuk tidak mengecup pipi lelaki yang tengah menggendong tubuhnya. Sebuah kecupan singkat namun sarat dengan rasa kasih dan sayang. “Waahhh, lagi dong, lagii,” “Hahahaha, udahh, ngga boleh kemaruk,hahaha,” Entah kenapa hati Zahra serasa lebih tenang, setelah cukup lama terombang-ambing, mulai dari tersingkapnya kembali memori mereka saat pertemuan beberapa tahun lalu, yang berbuah menjadi rasa cinta yang kembali menyapa, disusul dengan hadirnya cemburu, marah, kesal, dan petualangan gilaaa sebagai pelarian hatinya. Dan kini, dirinya kembali memeluk lelaki yang beberapa tahun lalu bersimbah darah dipangkuannya. Dengan kedamaian hati yang tak pernah ditemukannya sebelumnya. “Ranggaaa, maafin aku ya,” ucap Zahr

