Jingga duduk termenung di Kafe. Di sana dia berjanji dengan orang itu. Sungguh gadis itu tidak menyangka orang itu memiliki andil dalam kematian Biru. Sembari mengaduk-aduk kopi, Jingga berpikir. Mungkinkah semua ini hanya imajinasinya semata atau mungkin memang kenyataan? Tetapi bukti yang sudah ada di depan mata tidak bisa dipungkirinya. Maka hari ini Jingga ingin memastikan bahwa dugaannya ini salah. Sebuah motor berhenti di depan Kafe. Si pengendara motor melepaskan helmnya kemudian menyapa Jingga dengan senyum. Pria itu menghampiri Jingga lalu duduk di depannya. "Hari ini dingin sekali ya. Ada apa kok tiba-tiba menelepon?" tanya pria itu Jingga tersenyum kecil. "Apa kamu pergi ke rumahku tadi siang?" tanya Jingga. Pria itu mengerutkan keningnya. "Nggak, kenapa memangnya? Kok dari

