“Sebaiknya kamu hati-hati. Mas lihat, pria bernama Langlang itu agak gila,” seloroh Zaki dengan suara berbisik lirih agar tak di dengar anak-anak.
“Hah? Langlang?” Caroline memekik kaget begitu ia masih bisa mendengar sang suami menyebutkan nama pria yang dikatakan menyukai Savira itu.
“Kamu kenal? Pasti kenal, sih. Dia kan temennya Lewa. Namanya juga tidak umum,” monolog Zaki dengan ekspresi mencebik.
“Rasa-rasanya aku memang kenal dan hapal orangnya yang mana. Tapi seingatku… dia nggak aktif di Perhimpunan mahasiswa Indonesia. Kalau ada acara juga jarang hadir. Biasanya Lewa sama temen-temennya yang lain yang memang sering aku lihat.”
“Mbak kenal?” Kali ini Savira yang bertanya.
“Nggak kenal banget, sih, Vira. Tapi beberapa kali pernah ketemu. Kalau nggak salah mereka satu jurusan tapi beda kelas.”
“Iya, kah?” tanya Zaki lagi dan diangguki sang istri.
“Jadi dia yang nyatain sama kamu?” lanjut Caroline membuat Savira mencebik.
Caroline mengendikkan bahunya santai sementara tangannya tetap cekatan menata makanan ke atas mangkung anak-anak.
Keenamnya sedang makan siang di sebuah restoran seafood yang cukup terkenal di lokasi tempat mereka liburan.
“Anaknya memang ganteng, sih. Ramah. Cuma nggak terlalu suka basa basi kayaknya. Tipe yang kalau ngomong sesukanya dia,” imbuh Caroline membuat Savira membolakan matanya tanpa terlihat.
“Udah ketebak, sih,” dengus Savira membuat Caroline malah terkekeh.
Entah kenapa, setiap mendengar nama Langlang disebut, Savira jadi merasa kesal. Terlebih setelah pria itu menyatakan perasaannya dengan lantang di depan Zaki.
Memangnya Langlang pikir Savira ini wanita seperti apa?
Mereka bahkan baru bertemu beberapa kali saja. Tapi kenapa pria itu sudah menyatakan perasaannya pada Savira.
Jangan-jangan… Langlang memang hanya ingin mempermainkannya. Gumam Savira di dalam hatinya.
Mungkin Langlang ini sejenis pria yang terlalu terbawa perasaan hanya karena pertemuan pertama mereka waktu itu di rumah sakit.
Atau… bisa jadi Langlang hanya merasa tertarik karena Savira pernah menyelamatkan dosennya. Batin Savira kembali menduga-duga.
Tanpa Savira ketahui kalau sebenarnya Langlang memang sedang mencari pelarian.
Langlang pikir, obat patah hati adalah denga memulai cinta yang baru. Dan tanpa sadar pria itu memilih Savira, wanita yang membuatnya tertarik sejak pandangan perta namun justru tak tertarik lagi punya kisah yang bernama cinta.
Yang lebih menyebalkannya lagi, sikap Langlang yang semaunya itu membuat suasana di sekitar Savira menjadi tidak nyaman beberapa waktu ke belakang.
Seperti pagi ini…
“Penggemarmu datang lagi, Savira,” cibir Kujira yang pagi ini bertugas di IGD bersama Savira.
Savira yang sedang semangat bekerja kembali di hadapkan dengan Langlang yang tiba-tiba datang namun dengan wajah yang sungguhan pucat.
“Tapi sepertinya kali ini sakitanya bukan di hati,” cibir lainnya membuat Kujira mengulum senyum menggoda.
Dengan hati yang sedikit tak nyaman, Savira bersama seorang dokter yang bertugas di IGD pagi itu langsung memeriksa Langlang di tempat tidurnya setelah diarahkan oleh perawat yang lain.
Anehnya, Langlang tampak tak peduli ataupun terganggu dengan kehadiran dan pertanyaan yang Savira lontarkan mengenai gejala kesehatan yang sedang dialaminya.
Jika biasanya pria itu akan terlihat antusias dan balik menggodanya, kali ini Langlang benar-benar terlihat lemah dan tak bersemangat.
Savira pikir mungkin karena lambungnya yang bermasalah sehingga Langlang memang terlihat jadi pendiam dan hampir tak berbicara apapun selain menjawab pertanyaan dokter dan juga Savira.
Tapi entah kenapa, keterdiaman Langlang itu membuat Savira merasa terusik hingga Langlang selesai melakukan tes edoskopi dan kembali ke tempat tidurnya, Savira mengajaknya bicara lebih dulu.
“Mau kutelponkan Mas Lewa?”
Langlang menatap Savira lelah. “Nanti saja. Dia pasti sedang sibuk. Aku ingin istirahat dulu di sini,” katanya kemudian meletakkan satu lengannya di atas kening.
“Apa kamu memerlukan sesuatu? Makanan?”
Langlang menggeleng dengan senyum menggoda, “Apa kamu mulai mengkhawatirkanku?”
Savira mendesah dalam hati. Sepertinya keputusan dirinya untuk peduli hanya dipermainkan saja oleh Langlang.
Dengan mengacuhkan Langlang, Savira yang hendak berbalik dan meninggalkan tempat tidur pun urung ketika lengannya ditahan oleh Langlang.
Dengan tatapan lembut namun sarat kelemahan, Langlang tersenyum sambil berkata pada Savira kalau,
“Sungguh. Aku hanya ingin istirahat saja. Tolong tidak usah hubungi Lewa. Yang ada dia akan membuat keluargaku panik,” ujarnya terlihat serius.
Savira mendesah kentara sambil melayangkan tatapan pada pergelangannya tangannya yang masih dicekal Langlang.
“Kenapa?”
“Apa aku harus menemanimu di sini?” sarkas Savira dengan wajah datar tanpa ekpresi khasnya.
Langlang malah balas tersenyum lebar lalu terlihat melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Savira.
Namun rupanya bukan melepaskan cekalan di pergelangan tangan Savira, jemari Langlang kini malah menggenggam jemari Savira.
Dan ketika Savira ingin melepaskan genggaman itu, Langlang menahannya cukup kuat.
“Terima kasih.”
Savira sedikit tertegun ketika menemukan ketulusan sekaligus kelelahan yang sedikit mengganggu dari sorot mata pria itu.
Terakhir kali mereka bertemu adalah saat liburan musim dingin waktu itu.
Sudah hampir dua bulan berlalu dan mereka baru kembali dipertemukan. Lagi-lagi di rumah sakit namun dalam situasi yang sebenar-benarnya oleh sebab Langlang yang sakit.
“Baiklah. Kalau perlu sesuatu pencet–“
“Aku tahu, Suster Savira. Sekali lagi terima kasih sudah mencemaskan dan meperdulikanku. Tapi aku sungguh hanya ingin istirahat. Kalau sudah lebih baik aku rasa sebaikinya aku juga pulang saja. Aku tidak suka ada di sini lama-lama,” tuturnya panjang lebar lalu melepaskan genggamannya di jemari Savira.
Kening Savira mengernyit kecil. Terusik dengan apa yang dilakukan sekaligus dikatakan Langlang baru saja.
Namun, sesuai permintaannya, Savira pun tak menghubungi Pahlewa dan membiarkan Langlang beristirahat hingga Savira mendekat untuk mengecek infus yang dipasangkan.
“Sudah lebih baik?” tanya Savira begitu Langlang duduk di tempat tidurnya.
“Kenapa? Kamu mau mengusirku?”
“Tidak ada yang berhak mengusir pasien dari rumah sakit. Sekalipun pemilik rumah sakit itu sendiri. Kecuali pasiennya hanya pura-pura sakit dan kehadirannya mengganggu.”
Langlang terkekeh pelan apalagi ketika Savira mengatakan itu dengan nada kesal namun wajah yang datar tanpa ekpresi.
Langlang kadang takjub dengan mimik dan ekpresi Savira ketika bekerja dan menghadapi pasiennya.
Dan hal itu juga yang membuat Langlang tertarik saat pertama kali mereka bertemu di rumah sakit ini.
“Shindu apa kabar?” Langlang mengalihkan obrolan mereka.
“Iya?”
“Shindu.”
“Oh, Shindu baik. Dadynya selalu mengantar jemputnya setiap hari.”
Savira mengatakannya sambil tersenyum menatap Langlang. Namun, ekpresi Langlang terlihat sendu dan tak bisa diterjemahkan.
“Kenapa kamu berpisah dengan ayahnya Shindu?”
Savira tersentak. Namun dengan cepat ia bisa mengendalikan ekpresi wajahnya yang terlihat kaget sesaat.
Ditanya seperti itu tentu yang menjadi bayangan Savira adalah kehidupan rumah tangganya dengan mendiang Satya.
Mendesah berat lebih dulu, Savira menyunggingkan senyum sinis sambil mengatakan,
“Takdir.”
“Bercerai bukan takdir. Itu pilihan.”
Obrolan mereka jelas tidak nyambung. Tapi Savira juga tidak berniat menjelaskan yang sesungguhnya pada Langlang.
Kisahnya dengan mendiang Satya adalah hal terindah sekaligus menyakitkan yang akan selalu Savira kenang seumur hidupnya.
Savira lantas merogoh saku pakaian dinasnya. Tangannya memperlihatkan layar ponsel yang sedang ditatapnya.
“Aku harus pulang. Kamu yakin tidak perlu aku teleponkan Mas Lewa?”
Langlang mengangguk tegas. “Aku bisa mengurus semuanya sendiri. Besok kamu masuk shift apa?”
“Pagi.”
Dan Savira yang menyadari apa yang dilakukannya menatap Langlang dengan tatapan sedikit menyesal.
“Kenapa?” tanya pria itu merasa terganggu dengan ekpresi yang Savira sempat perlihatkan.
Savira hanya menggeleng sambil mengumpat dalam hati.
“Bodoh.”
Kenapa dia harus mengatakannya. Rutuk Savira dalam hati sebelum benar-benar pamit.
Bahkan yang tak habis dipikir lagi, Savira yang sudah keluar rumah sakit kembali menghampiri rekannya di IGD hanya untuk menitipkan pesan agar mereka segera menghubungi Savira jika terjadi sesuatu dengan Langlang.
Savira meyakinkan dirinya bahwa ia melakukan hal itu karena tanggungjawab atas dasar hubungan pertemanannya yang baik dengan Pahlewa.
Sekalipun Langlang sering membuatnya jengah, namun kondisi pria itu memang sedang tidak baik-baik saja.
Dan sebagai petugas medis, sudah menjadi kewajiban Savira untuk melindungi pasien yang jelas ia kenal itu.
Langlang adalah sahabat dekat Pahlewa. Jika terjadi sesuatu dengan pria itu dan Savira yang mengetahui kondisinya tidak memberitahukan Pahlewa, Savira tentu akan dikira jahat dan tidak profesional hanya karena rasa tak sukanya akan sikap Langlang selama ini.
Di antar langkahnya menuju parkiran rumah sakit, Savira pun akhirnya mengeluarkan ponsel dan mencoba mengetikkan pesan untuk Pahlewa.
Namun, belum sempat tangannya menekan tombol kirim, dari arah belakang seseorang langsung membekap mulut dan menutup kedua matanya.
Ponselnya yang terjatuh diambil oleh pria lain yang berdiri di hadapannya. Pria itu menatap Savira sambil menempelkan ponsel di telingan untuk memanggil rekannya yang membawa mobil.
Suasana parkiran sebetulnya tidak terlalu sepi. Namun posisi Savira yang tidak menguntungkan membuat wanita itu lolos dari perhatian orang-orang.
Savira yang merasakan kesadarannya semakin menghilang, hanya bisa pasrah ketika setiap hembusan napas yang ditariknya berulang kali mengambil kesadarannya dengan pasti.