TUL 5 - War

1764 Kata
“Shindu, kamu nggak papa, Nak?” Savira berjongkok untuk memastikan kalau anaknya baik-baik saja. “Shindu nggak kenapa-kenapa kok. Tadi Om-Om itu bantuin bikin boneka salju Ayah sama Bunda lagi. Makanya cepet,” aku polos pria kecil itu. “Tadi Aunty Selwa bilang Shindu nangis. Bunda kira Shindu terluka.” “Nggak kok, Bund. Shindu nangis karena boneka Ayah hancur jadinya.” Savira tersenyum lembut sambil mengusap kepala bocah itu. Obrolan mereka terjadi dalam bahasa Indonesia. Membuat pria dengan luka gores panjang di pipinya itu menatap datar. “Ya sudah. Bilang terimakasih sama Om-nya. Habis itu kita makan, ya?” Shindu mengangguk lalu berbalik menatap pria yang tampak kaku dan diam dengan wajah dinginnya itu. “Terimakasih, Tuan,” ucap Shindu dalam bahasa Jepang yang cukup baik. Charoline lantas memanggil Shindu untuk mendekat padanya sementara sang Bunda bicara dengan pria tersebut. “Maaf kalau anak saya jadi merepotkan,” tuturnya dalam bahasa Jepang sambil membungkuk sopan. Savira agak gugup sebetulnya. Namun, sebagai petugas medis yang harus terbiasa menghadapai siapapun pasien di hadapannya, perempuan itu berusaha tenang menghadapi pria yang tampak seperti ketua geng mafia itu. “Maaf anak buahku sudah merusak boneka salju anakmu,” balas pria itu. Savira mengangguk lalu kembali membungkuk sebelum berpamitan pada mereka. Namun, belum langkahnya mengayun, pria itu kembali memanggilnya. “Tunggu!” “Iya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?” Mulut pria itu sudah hampir terbuka ketika sebuah suara membuatnya mengatup kembali. “Ah, Tuan Kagawashi. Tidak menyangka bertemu di sini?” Zaki menghampiri pria itu kemudian membungkuk sopan padanya sebelum lanjut berkata, “Mereka ini keluargaku. Itu istri dan anaknya.” Charoline membungkuk sopan bersama kedua anaknya Selwa dan Salma. “Dan yang ini adikku dan anaknya. Apa mereka membuat masalah denganmu?” Pria yang ternyata bernama Kagawashi itu menggeleng pelan sebelum kembali menatap Savira yang kini memutus pandangannya dengan cepat. Zaki mengangguk kecil pada Charoline seraya meminta mereka pergi sementara ia berbincang dengan Kagawashi. Entah apa yang dibicarakan keduanya. Meski terlihat mencemaskan, Charoline hanya bisa menurut jika suaminya sudah memberi isyarat tajam dengan matanya. “Mbak Charol nggak kenal sama orang-orang itu?” tanya Savira begitu mereka tiba di dalam villa. “Kalau kenal aku juga nggak akan tanya sama kamu tadi tuh dong, Vira.” Savira meringis malu. “Iya, sih. Tapi Mas Zaki kenal banget kayaknya.” Charoline mengedikkan bahu. “Aku nggak terlalu tahu urusan relasi bisnis dia di sini, Vira. Kecuali yang udah kenal kami lama dari sejak di Indonesia, hampir semuanya aku kenal dan tahu,” terang wanita berambut hitam legam itu. Savira mengangguk paham dan tak banyak bertanya lagi. Perempuan itu lebih memilih mengurusi makan siang anak-anak sampai akhirnya Zaki kembali. Pria itu makan sendirian setelah semuanya selesai makan. Savira yang sedang mencuci piring pun menoleh begitu Zaki bertanya apakah, “Kalian bicara apa saja tadi?” Charoline yang sedang menemani anak–anak dan mendengar pertanyaan suaminya dari arah ruang tengah itu pun langsung bangun untuk menghampiri. “Kamu kenal mereka, Mas?” Zaki berdeham kikuk. “Nggak kenal dekat. Tapi Tuan Kagawashi pernah membantu beberapa urusan perizinan barang yang menyulitkan.” Charoline terdiam. Dalam hatinya mencerana sesuatu yang nampakanya serius dan berbahaya. Jika sudah menyangkut urusan pekerjaan sang suami. Maka itu artinya ada hubungannya dengan mafia. Memng, Zaki bukan pebisnis kotor. Bidang yang digelutinya adalah ekspore import furniture yang sudah lama menjadi bisnis turun temurun keluarga besarnya. Namun, dalam dunia bisnis yang meluas, banyak hal yang sering kali tidak bisa disebarluaskan secara mendetail. Dan hubungan Zaki dengan Kagawashi adalah salah satu yang tidak bisa dijelaskan itu. “Jadi, kalian ngobrol apa aja tadi?” ulang Zaki kembali dijawab sang istri. “Ngobrol biasa aja. Boneka salju anak-anak katanya rusak sama anak buahnya. Makanya dibantuin. Selwa sempet panik karena Shindu nangis. Terus kita samperin. Ternyata ya gitu,” terang Charoline diangguki Zaki. “Kalau memang tidak ada urusan yang mendesak, Mas pesan hindari orang-orang seperti Kagawashi. Kita hanya orang biasa. Jangan sampai karena masalah yang tidak kita ketahui urusan lain jadi ikut kena imbas. Apalagi anak-anak. Ingat pesan Mas ya, Vira.” Savira mengangguk meski di hatinya jadi bertanya-tanya siapakah pria dengan luka goresan panjang di pipinya itu dan bernama Kagawashi sampai-sampai Zaki harus berpesan seperti itu pada mereka. Tapi karena Zaki sudah berpesan seperti itu, maka tak ada pilihan bagi Savira maupun Charoline untuk membantah. Mereka pun melanjutkan liburan yang sudah direncanakan akan berlangsung dua hari di sana. Dan keesokan paginya, usai sarapan keenamnya pun menuju resort ski yang letaknya tak jauh dari villa yang mereka sewa. Zaki mengajak kedua anak kembarnya juga Shindu untuk bermain seluncuran sementara Savira dan Charoline mengikuti sambil bermain ski dengan pelan. Awalnya keseruan mereka tampak begitu menyenangkan sebelum seseorang datang dan membuat suasana menjadi kikuk. “Ah, Tuan Kagawashi. Selamat pagi!” sapa Zaki dengan tenang. “Selamat pagi Tuan Zaki.” Lalu tatapan pria itu beralih pada ketiga anak kecil yang ada di hadapan Zaki. Kagawashi lantas lebih mendekat sebelum berjongkok di depan Shindu yang mentapnya dengan polos. “Kau sudah tidak sedih lagi?” Shindu mendongak dan mendapat anggukan dari Zaki. “Tidak Tuan. Tuan kan sudah membantuku membuatkannya lagi.” Pria yang terlihat misterius dan dingin itu menyunggingkan senyum miring yang samar. Saking samar, hanya Shindu dan kedua anak kembar Zaki serta Charolin yang sempat melihat ekpresinya tersebut. “Baguslah. Anak laki-laki tidak boleh lemah.” “Lemah? Kata Ibuku menangis itu bukan karena lemah,” sahut Shindu spontan. “Lalu karena apa?” tanya Kagawashi dengan wajah yang mulai tidak ramah. “Karena kita manusia. Manusia itu memiliki perasaan. Dan perasaan itu banyak rupanya. Ada sedih. Ada marah. Ada gembira dan kalau bersedih, kita boleh menangis. Hanya saja tidak boleh berlama-lama.” Kagawashi mengetatkan rahang. Air mukanya berubah keruh dan tak menyenangkan. Lengannya mengepal kuat seolah siap menghantamkan bogem pada siapapun yang bisa menerimanya. Zaki yang melihat hal itu buru-buru menarik Shindu dan menjauhkannya dari Kagawashi. “Maafkan kepolosan keponakanku.” Namun, tiba-tiba Savira malah nyeletuk, “Kami memang mengajari anak-anak hal-hal seperti itu. Bukankah di Jepang juga anak-anak diajarkan untuk mengelola dan mengekspresikan emosi mereka sejak kecil?” Sepasang mata tajam itu kini menghunus pada Savira. Namun, perempuan itu tetap tegar berdiri di posisinya. Air mukanya tidak menantang atau memprovokasi. Sebaliknya, Savira tampak tak menunjukkan ekspresi apapun. Seperti yang biasa dilakukannya jika harus menghadapi keluarga pasien dan memberi mereka kabar duka. “Maaf. Aku mau mengajak anakku bermain. Ayo Shindu, Salma, Selwa!” Charoline membantu Savira sementara sang suami dibiarkan menghadapi kenalannya itu seorang diri. Anak buah Kagawashi yang mulanya hendak menahan Savira dan Charoline pun dicegah begitu sang Tuan memberinya aba-aba dengan tangan. “Maaf sudah menyela waktu bermainmu dengan anak-anak itu.” Kagawashi berlalu diikuti anak buahnya kemudian. Zaki mendesah lega sambil menatap kepergian Kagawashi dari hadapannya. Hanya sehari ini saja Zaki membiarkan anak-anak bermain sepuasanya sebelum pri itu mengubah rencana liburan mereka dan pindah ke tempat yang lain. Charoline yang paham maksud suaminya pun menjelaskan pada anak-anak dengan baik. Tapi Savira yang penasaran akhirnya bertanya, “Apa ini ada hubungannya sama pria yang namanya Kagawashi itu, Mas?” “Tidak ada. Mas ada urusan mendadak. Jadi kita liburan di tempat yang dekat dengan pertemuan bisnis, Mas saja,” terang pria itu tampak tak berbohong. Savira hanya bisa menurut. Lagipula ia yang menumpang pada mereka. Jadi sebagai tamu, Savira harusnya tak banyak protes. Sayangnya, bagi Savira kepindahan mereka seperti musibah baru yang harus dihadapinya dengan keluhan hati-hati. Bukan apa-apa lokasi liburan mereka kali ini rupanya malah berdekatan dengan lokasi liburan Langlang dan Pahlewa. “Om Lucu!” seru Shindu lalu loncat ke pangkuan pria berkacamat itu. “Wah, Shindu makin berat ya. Sedang apa di sini?” “Liburan dong! Om Lucu lagi apa sama Om Baik?” Pahlewa lantas menoleh ke arah Langlang yang tampak tegang dan kikuk sendiri. “Om baik?” Shindu mengangguk. “Om-nya emang baik kok. Nemenin Shindu cari mainan waktu di mall. Tapi nggak dapet soalnya Om baik nggak bisa bantuin cari mainan yang bagus. Tapi karena udah baik nemenin aku, jadi kukasih nama Om baik deh,” cicitnya panjang lebar membuat Pahlewa mendenguskan tawa kecil seraya mengejek sahabatnya itu. “Om itu emang nggak pinter kalau dimintai cari mainan. Nanti kapan-kapan Om temenin cari okay?” “Lego, ya?” “Beres!” “Shindu!” “Hore! Dibeliin lego sama Om baik, Bunda” Langlang berdecih. “Om juga bisa beliin kamu Lego kok. Gimana?” “Nggak usah deh Om. Kata Daddy nggak boleh punya mainan sama banyak.” Pahlewa menaha tawanya mendengar penolakan pria kecil itu. “Nggak banyak donk kalau serinya berbeda.” Shindu lantas menatap sang Bunda seraya meminta persetujuan atas pendapat ibu kandungnya itu. Savira menggeleng dan Shindu menatap Langlang dengan polos sambil berkata, “Kalau Bunda ngizinin aku sih mau aja. Tapi Bunda nggak ngizinin. Gimana donk, Om?” Langlang menatap Savira yang tampak tenang menatap balik pria yang justru kesulitan menelan ludahnya. Meski malu dengan kekonyolannya di depan mall waktu itu. Namun, pantang menjilat ludahnya sendiri apalagi yang dikatakan pria itu juga bukan kebohongan. Harga diri Langlang jelas dipertaruhkan. Apalagi posisinya sebagai pria tidak boleh menyerah begitu saja hanya karena Savira menolaknya mentah-mentah sekalipun. “Gimana Vira. Boleh saya belikan mainan untuk Shindu?” “Nggak usah, Mas. Shindu nggak perlu banyak mainan. Aku memang nggak membiasakan dia punya mainan banyak sejak kecil.” “Kenapa?” “Itu bukan urusan kamu.” “Itu jelas urusan saya juga. Karena Shindu anak kamu.” “Memangnya Shindu anak siapa?” “Maksud saya, kalau kita nanti menikah. Shindu juga akan jadi anakku.” "Khayalan kamu ketinggian!" Shindu dan Pahlewa yang mendengar perdebatan dua orang dewasa itu malah jadi saling lirik bingung. "Om itu kok mau nikah sama Bunda? Nikah itu apa sih, Om?" tanya Shindu pada Pahlewa. "Mmm, nikah itu–“ "Siapa yang mau menikah?” Suara berat itu membuat bulu kuduk Langlang seperti berdiri. Langlang dan Pahlewa kompak menoleh ke belakang di mana Zaki sedang menatap mereka berdua dengan pandangan tajam. Pria itu baru saja datang dari lokasi pertemuannya dengan rekan bisnis. Untunglah Charoline dan anak-anak sedang mencari makanan mereka sehingga Langlang tidak akan tahu kalau pria itu sebenarnya bukan mantan suami Savira. “Siapa yang mau menikahi Savira? Kamu?" tunjuknya pada Langlang. Glekkk …. Langlang menelan ludah serat sementara Pahlewa menahan tawanya susah payah. Savira yang tahu ke mana arah ucapan pria yang sudah dianggap kakaknya itu hanya bisa mendesah dalam hati. "Punya apa kamu berani melamar Savira?" imbuh Zaki dengan tatapan mengintimidasi. ‘War!’ 'Kena lo!' lirih Savira dan Pahlewa bersamaan dalam hati mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN