Jihan masih terpaku mendengar penjelasan Alvian. “Jadi selama ini--,” batin Jihan. “Maaf, aku baru berani mengatakannya sekarang hiks ... hiks ...” Jihan menatap manik Alvian, ia mencari kebohongan dari semua perkataan Alvian. Namun, Jihan tidak menemukan kebohongan dari manik itu, justru manik Alvian menunjukkan kesungguhan dan rasa bersalah yang besar. Plak! Plak! Wajah Alvian berpaling ke kiri, barusan Jihan menampar bolak-balik kedua pipinya. “Kenapa Mas tega melakukan itu padaku! Kenapa Mas tega meninggalkanku dengan benih yang Mas titipkan di rahimku hiks ... hiks ... Mas tidak tahu semenderitanya aku, saat aku tahu hamil dan tidak tahu siapa ayah dari bayi yang kukandung!” “Maafkan, Mas hiks ... hiks ... Mas menye—“ “Menyesal?! Kenapa Mas menyesal, hah?!” sentak Jihan sembar

