Sayangnya, jam kosong hanya berlaku setengah hari di kelas Hadwan. Guru matematika masuk dengan hawa yang tiba-tiba tidak enak. Pak Sia memang terkenal dengan cap guru tanpa belas kasih. Terutama pada laki-laki. Guru itu meminta buku tugas untuk dikumpulkan ke depan, membuat Hadwan grasak-grusuk mencari bukunya di dalam tas, kolong meja, sampai dalam buku paket karena takut nyempil. s****n, bukunya di mana!?
"Kenapa, Hadwan?"
Hadwan mendongak dengan jantung berdebar, "Bukunya ketinggalan kayaknya, Pak."
Anak kelas sontak menoleh kompak. Seorang Hadwan—si anak ambisius yang suka bawa buku ke manapun—melupakan buku tugas?
"Makanya, Had. Jangan bawa buku mulu kalau ke mana-mana. Jadinya ketinggalan," ledek Haikal tersenyum jahil.
Hadwan menatapnya tajam, seakan bilang: awas lo.
"Lari enam putaran di lapangan sekarang!"
Tuh, kan. Pantas saat Pak Sia masuk, dia langsung panas dingin.
"Baik, Pak." Hadwan mengangguk lemah, berjalan santai menuju lapangan. Tidak apa lah sekali-kali. Toh, dulu pun saat masa putih biru dia sering dihukum memutari lapangan tiap hari. Belum lagi hukuman membersihkan halaman sekolah, dilanjutkan kerja rutin membersihkan sekolah.
Di satu sisi, kelas Arisha masih kosong. Guru sejarah Indonesia ternyata tidak masuk, karena langsung ke rumah sakit. Katanya, anaknya demam tinggi. Beliau hanya memberikan tugas untuk mengisi esai. Berhubung dikumpulkannya masih lama, semua anak kelas memilih nongkrong di lapangan diam-diam. Setelah ini pun pulang, memang mau apalagi? Jadi, mereka tidak perlu takut kalau tiba-tiba ada guru masuk.
Langkah Hadwan terhenti di tangga pertama. Yah, kenapa harus ada Arisha? Nanti dia pasti diledek habis-habisan.
"Hadwan!"
Begitu menoleh, Pak Sia ternyata menyusulnya. Tampangnya seakan menyuruh untuk dia lekas lari.
"Iya, Pak."
Hadwan mulai berlari mengelilingi lapangan dengan Pak Sia yang berdiri di anak tangga kedua. Pria itu menoleh pada segerombolan siswa yang pura-pura sedang belajar.
"Kalian sedang apa di sini?"
"Kerjain tugas, Pak. Cari suasana baru," jawab Fikri. Untungnya mereka memang kompak membawa buku sejarah sekaligus buku tugasnya.
"Ya sudah, kalian tolong awasi dia."
"Siap, Pak!" Babang menyahut semangat. Setelah Pak Sia berlalu dan langkahnya telah menghilang, Babang berteriak sambil tergelak puas, "KBL KBL, KAGET BANGET, LHO."
"DIEM LO, BANGSUL!" Hadwan berteriak kesal. Napasnya sudah mulai berburu. Masalahnya, lapangan utama terlalu luas untuk dia tempuh. Kenapa, sih, guru selalu memilih menghukum murid dengan cara seperti ini? Kenapa tidak mengerjakan tugas susulan atau diberi tugas tambahan saja? Namanya juga manusia, kan? Dia pasti akan pernah melakukan kesalahan.
Arisha menegak s**u cokelat dingin dalam cup bening itu ketika Hadwan melintas di hadapannya. Melihat Hadwan yang kehausan membuat dia bisa meledeknya lewat minuman ini.
"Minumannya seger banget, Ar." Intan ikutan kompor. s****n mereka. Hadwan sedang kesusahan malah makin menjadi. Teman macam apa, hah!? Setidaknya belikan dia minum kek ke kantin, bukannya bikin ngiler doang, pikir Hadwan.
"SGL SGL, seger banget, lho." Arisha memegang tenggorokannya pelan, mirip temannya Badrun dalam film Upin & Ipin saat minum kelapa dan membuat monyetnya ngiler.
"BANGSUL lo pada," teriak Hadwan sampai mengundang Arisha dan Intan tergelak penuh suka.
Hukuman berakhir. Hadwan membungkuk, memegang lututnya dan mengatur deru napas yang belum pulih.
"Bang, beliin minum lah. Capek banget gue."
"Nih, punya si Arisha." Babang melempar botol air mineral yang sudah tidak dingin pada Hadwan, yang langsung lelaki itu tangkap. Baru akan membukanya, Hadwan menghela napas saat Anida tiba-tiba berdiri di depan, merebut botol minum milik Arisha.
"Yang ini masih dingin, lebih enak." Anida memberikan botol minumannya, sementara botol tadi dia berikan lagi pada Arisha, hingga dia ambil santai. Mending dia yang minum.
Hadwan membuka tutup botol dari Anida, tapi matanya tidak lepas dari Arisha. Melihat setiap pergerakan yang membuat Hadwan berpikir, kalau Arisha memang biasa saja—tidak menaruh rasa lebih yang selama ini Hadwan pikirkan.
Saat Arisha akan meminumnya, dengan gerakan cepat Hadwan merebut botol tersebut sampai airnya sedikit jatuh ke baju seragam Arisha. Mata Anida membola kaget. Meskipun dia ada di hadapan Hadwan, ternyata lelaki itu akan tetap memilih Arisha.
"Apa-apaan, sih, lo?" tanya Arisha tak suka. Dia melirik Anida yang membuang muka kecewa. Lama-lama dia jadi kasihan melihatnya. Pasti sakit hati tuh anak. "Nggak menghargai banget pemberian orang."
Hadwan tandas menegak air mineral. "Ini gue menghargai, makanya ambil milik lo."
"Lo nggak paham-paham mulu, heran gue."
Sebaiknya, Hadwan terima milik Anida saja. Daripada harus seperti ini, sampai memberikan spekulasi lebih dalam diri Arisha.
"Nggak peka-peka mulu, heran gue," celetuk Fikri yang duduk di sebelah Intan.
"Jadi, ini nggak mau?" tanya Anida sedih. Hadwan suka sekali membuat anak ini kecewa dan malu di hadapan banyak orang. Arisha agak gimana gitu melihatnya.
"Boleh, nggak?" Hadwan menaikan satu alis, berpusat pada Arisha. Untuk apa coba, Hadwan minta izin padanya?
"Kenapa harus izin sama Arisha, Had? Lo udah sama dia?" Anida balik melihat Hadwan. Dia yang lebih dulu datang pada kehidupan Hadwan, tapi Arisha—orang yang datang paling akhir—selalu menjadi pusat perhatian lelaki itu.
"Ya terserah lo, ngapain izin ke gue?" Pertanyaan Hadwan semakin membuat banyak orang termakan oleh asumsi sendiri. Setelah ini, pasti ada gosip di mana dia cinlok dengan Hadwan. Heuh, dia merasa jadi artis dadakan.
"Bercanda. Serius banget," kata Hadwan terkekeh. Lalu, balik menatap Anida. "Nggak, kok. Gue nggak sama dia. Thanks, ya, minumnya."
Setelah itu, Hadwan berlari kecil kembali ke kelas. Meninggalkan Anida dan Arisha yang silih melempar pandang. Sikap Hadwan lebih gila lagi emang.
•
"Aw."
Arisha tersungkur ke lantai mall, satu tangannya tertekuk sakit. Kebanyakan memikirkan yang tidak-tidak, dia sering sekali ketabrak orang kalau sedang jalan. Seharusnya Arisha bisa belajar dari kejadian yang telah berlalu.
"Nggak papa, Mbak?"
Tunggu, kenapa suaranya tidak asing di telinga Arisha? Begitu mendongak, wajah Hadwan yang tersentak kaget menjadi pemandangan pertama. Kebiasaan deh cowok satu ini. Bukan hanya dia yang kebanyakan melamun, tetapi salah Hadwan juga yang sering ceroboh.
"Kebiasaan banget, ya, lo!" Arisha hanya menatap tangan dari Hadwan sekilas. Meskipun lelaki itu memang berniat membantunya berdiri, Arisha sama sekali tidak akan menerimanya. Dia menepuk rok hitamnya beberapa kali, menatap Hadwan tidak bersahabat.
"Lo yang terlalu kebiasaan. Makanya, kalau jalan tuh jangan kebanyakan bengong." Hadwan menarik tangannya lagi. s**l, bantuannya ditolak tanpa tahu berterima kasih.
"Terserah deh. Gue males berantem."
Arisha berjalan kembali. Tadi dia habis dari toilet, sementara Intan menunggu di tempat makan. Dia tidak berpikir kalau Hadwan akan ke sini juga. Kenapa banyak sekali tempat yang menjadi sebuah kebetulan untuk mereka bertemu? Padahal Arisha hanya ingin hidup tenang jika di luar sekolah, ingin menghilangkan perasaan aneh yang belum semakin tumbuh. Jika dibiarkan, dia takut menyalahi aturan. Bukan hanya dia yang akan kena imbasnya, melainkan Tio dan Fatur pun pasti akan kena.
"Arisan."
Hadwan bergerak mengejar. Mumpung Anida tidak sedang bersamanya. Gadis itu pamit lebih dulu ke lantai atas, sedangkan Hadwan tadi langsung pamit lebih dulu ke kamar mandi. Lelaki itu mencegatnya, membuat helaan napas panjang keluar dari Arisha.
"Apa lagi, sih, Wan? Gue lagi sibuk," tanyanya jengah.
"Ini cuma perasaan gue doang atau emang bener, ya?" Arisha mengernyit mendengar itu. "Lo jadi lebih penyabar dari biasanya. Padahal suka nyerocos aja teros."
"Lo cuma mau ngomong ini doang? Nggak guna amat." Arisha mendelik. Masih banyak kan yang harus Hadwan bilang selain ini? Atau Hadwan hanya memaksakan topik pembicaraan? Heuh, Hadwaaan. Jangan buat dia semakin gila dengan perasaan ini.
"Terus apa dong yang berguna?"
Arisha mengangkat bahu, memilih kembali berjalan meskipun Hadwan tetap mengikutinya.
"Lo kenapa, sih? Marah lagi sama gue?" Hadwan memasukkan kedua tangan ke celana Levis panjang hitam yang dikenakan. Lelaki itu tampak lebih tampan dengan hoodie abu-abunya.
"Nggak ada sebab buat gue marah sama lo kali," jawab Arisha sembari memegang kuat tali tas selempang hijau tua itu.
"Ya kali aja, lo marah karena lihat Anida pas mau tolong gue. Padahal lo juga mau bantu."
"Nggak! Jangan pede deh lo." Arisha memutar bola mata malas. Hadwan suka tidak tahu diri. Ah, iya, kan tingkat Songong lelaki itu sudah mendarah daging. Jadi, apapun kejadiannya, Hadwan suka lebih percaya diri terlalu over.
"Tapi gue emang nggak terima bantuan dia, Ar."
Memang apa fungsinya kalau Hadwan menjelaskan pada Arisha mengenai itu? Lagipula dia tidak butuh penjelasan. Kalau mau dengan Anida, ya silakan. Namanya orang mau bantu. Bodoh kalau Hadwan menolaknya karena gengsi semata. Padahal bengkel pada saat itu pun masih begitu jauh. Ah, iya, terus waktu itu Hadwan pulang bagaimana? Dorong motor sampai bengkel tidak, ya?
Ih, buat apa dia memikirkan itu? Saraf otaknya mulai ada yang tidak beres.
"Bodo amat, nggak tanya."
Langkah Arisha semakin berpacu cepat. Hadwan sampai terkekeh geli melihatnya. Apalagi saat memergoki wajah Arisha yang terlihat bete.
"Terus kenapa mukanya keki gitu? Bilang aja kali kalau marah."
Aduh, Hadwan ini maunya apa coba? Pantas saja suka banyak wanita yang terjebak oleh lelaki ini. Ternyata Hadwan bersikap seolah mempunyai rasa lebih dari teman, padahal nyatanya tidak. Apa Hadwan tidak memikirkan hal yang terjadi selanjutnya!?
"Gue nggak marah, Wawan."
"Itu marah."
"Ya karena lo nabrak gue tadi. Ngerti nggak?" Mata Arisha melotot gemas saat menoleh padanya. Tangannya mengepal untuk mengikis kesal yang terlampau kental.
"Oke-oke, maaaaaf banget."
"Ya!"
Arisha berbelok ke tempat makan Jepang. Dia menghampiri Intan yang makanannya sudah habis.
"Lo ngapain ikutin gue ke sini?" Arisha mencak-mencak saat Hadwan berdiri di sebelahnya. Lelaki itu memang dengan siapa ke sini? Sepertinya Hadwan memang lupa.
"Iya, ya. Ngapain?"
"Gak jelas banget." Intan menjadi pelampiasan. Dia ditarik oleh Arisha ke kasir, lalu berjalan dengan cepat untuk ke tujuan utama mereka. Yaitu toko baju, meninggalkan Hadwan yang dikagetkan oleh Anida.
"Gue di meja nomor sembilan, Had. Bukan dua sembilan."
"Sorry, lupa."
Mata Hadwan tidak lepas dari kepergian Arisha. Dia kok lebih betah mengikuti Arisha, ya?
"Lihatin siapa, sih?" Anida mengikuti arah pandang Hadwan, tetapi lelaki itu malah menarik pundaknya sampai menghadap Hadwan dengan penuh. Jelas saja Anida tercengang.
"Tadi mau ke mana? Sekarang aja gimana?" tanya Hadwan tersenyum kaku.
"Oh, ayo."
Hadwan melepaskan pegangannya, kemudian berjalan berdampingan dengan Anida. Sampai di toko pakaian, Anida mengambil dua kemeja navy dengan model berbeda. Satunya ada garis-garis lurus, sedangkan satunya polkadot.
"Kalau menurut lo bagusan yang mana?" tanya Anida memperlihatkan dua kemeja tersebut.
"Yang garis-garis, An."
Anida mengambilnya senang. Lalu, mereka keliling lagi. Hadwan hanya menemani dan kadangkala memberi saran. Saat menoleh, dia bisa melihat Arisha yang memilih pakaian pria pula. Itu untuk siapa? Tak lama kemudian, ada laki-laki yang datang. Hadwan tidak mengenalnya. Sepertinya lelaki itu bukan anak sekolah mereka.
"Arisha bukan, sih?" Sayang, perbincangan mereka tidak terdengar. Apalagi saat Arisha membelakanginya. Padahal dia ingin tahu mimik wajah gadis itu. Lelaki tadi siapa, sih?
"Iya. Siapa?" tanya Arisha bingung. Dia agak mundur, karena takut kalau orang ini ternyata orang jahat.
"Aku Aldo. Kamu tumben ke sini?"
"Oh." Arisha terkekeh kaku. Dia seperti orang yang ingat pria ini siapa, padahal nyatanya tidak. "Duluan, Aldo."
Arisha kembali menarik tangan Intan yang sedang memperhatikan Hadwan dan Anida, sampai gadis itu tercengang beberapa saat.
"Kenapa? Ada apa?"
"Nggak papa."
"Tadi siapa?"
"Gue nggak tahu. Mungkin temen satu SD atau SMP."
Intan mengangguk beberapa kali. Sampai akhirnya, mereka mengunjungi celana bahan di daerah tengah. Saat mengambilnya, bertepatan dengan itu pula, tangan Anida tergerak memegang celana tersebut.
"Arisha?"
"Iya."
Arisha mengalah pada akhirnya. Dia melirik pada Hadwan yang berdiri di belakang Anida. Oh, ternyata lelaki itu datang ke sini bersama wanita satu ini.