Pingsan

1933 Kata
"Lo beneran yakin ini teh masih mau sekolah?" tanya Intan sebelum mereka turun dari mobil. Masalahnya, sedari malam tadi, Arisha tidak bisa jalan dengan benar—harus membungkuk—karena perutnya yang sakit. Tadi pagi pun, gadis itu sebenarnya susah untuk jalan jika tidak berpegangan. Namanya bukan Arisha kalau tidak tetap memaksakan diri untuk pura-pura tidak apa-apa. Dikira Intan tidak sadar apa, heuh? Mereka berteman sudah ratusan hari, ke mana-mana pasti barengan, ya masa dia tidak peka sama sekali. "Yakin, dong. Nggak ada alasan buat nggak sekolah, Otan." Arisha menjawab sembari tersenyum menyebalkan. Intan sampai mendengus mendengarnya. Keduanya turun dari mobil setelah berterima kasih pada Pak Endang, lalu berjalan berdampingan menuju kelas. Karena perutnya yang masih terasa begitu sakit, seakan tulangnya mau patah, langkah Arisha sempat tersendat dan sampai mau limbung ke depan. Intan sontak memegangi tangannya cekatan, sembari berdecak. Kenapa Arisha susah sekali dibilangin, coba? "Tuh, kan, Ar. Bandel banget, sih, lo." "Kaki gue kesandung doang, padahal." Arisha menarik tangannya, berusaha berjalan dengan tenang meskipun setiap bergerak, sakitnya semakin menjadi. Lagipula, kalau di kelas pun pasti diam mendengarkan materi. Hari ini pun tidak ada jadwal olahraga. Kalau dia sekolah, masih bisa hidup tenang. "Lama-lama nih, ya. Ini mah gue harus punya pendeteksi suara hati seorang Arisha Larisha!" ucap Intan sinis. Gadis itu malah tergelak. "Kalau sakit, bilang atuh, Ar. Biar nanti gue anterin ke UKS. Oke?" "Iya, ih, bawel banget lo, Otan." Intan mendengus. Begitu sampai ambang pintu kelas, pandangan Arisha mendadak hitam sebagian. Lamat-lamat dia bisa mendengar Intan yang memekik takut. Gadis itu menahan tubuh Arisha supaya tidak limbung ke lantai. "IH, BABANG ATUH INI BANTUIN. BABAAAANG." Babang bergegas menghampiri, melihat Arisha khawatir. Sontak semua penghuni kelas pun mendadak menghampiri keduanya. "Arisha kenapa!?" "Pingsan ai maneh." Sempat-sempatnya Babang menyangka kalau Arisha hanya ketiduran. Lelaki itu menggendong Arisha, membawanya ke UKS dengan langkah lebar. Kalau saja Arisha tahu jika dirinya disentuh oleh lelaki, dia pasti marah besar pada Babang. Namun, ya gimana. Namanya juga kepepet dan menyangkut urusan nyawa. Waktu itu Intan yang pingsan, sekarang Arisha. Mereka berdua senang sekali membuat Babang jantungan. Bagaimana kalau Lastri bertanya mengenai Arisha padanya? Dia harus jawab apa? "PMR! PMR!" Arisha terbaring lemah di kasur. Tak lama kemudian, muncul Hadwan dan Tiffany yang sedang berjaga. Tiffany melakukan pertolongan pertama, lalu Hadwan yang mendadak telat mikir. "Dia ... kenapa?" "Ya pingsan, Oncom. Lo kagak lihat sendiri, Bangsul?" tekan Babang keder. Tak lama dari itu, muncul Intan bersama Novi dan Ela. Arisha kenapa, ya? Apa obat yang pernah dia temukan waktu itu, sebenarnya obat Arisha yang harus dikonsumsi tiap hari? Lalu sebenarnya, Arisha punya penyakit serius yang disembunyikan!? Ya Allah, semoga pikiran negatif dia tidak benar deh. Intan memegang kepala frustasi, untung ada Novi dan Ela yang masih bisa menenangkannya. Sementara Babang berjongkok, melamun memikirkan keadaan Arisha. Ini anak tumben, pingsan? Biasanya pun paling kuat dari yang lain. Kalau bukan karena itu, Babang tidak akan se khawatir ini. "Udah ada bel masuk. Mending kalian ke kelas dulu, kalau jam kosong atau istirahat baru ke—" Ucapan Tiffany langsung terpotong. "Nggak, gue mau di sini!" kata Intan galak. "Tapi peraturannya udah kayak gitu, yang jaga PMR. Lebih baik kalian balik dulu, sebelum diusir Bu Nina," ucap Tiffany kembali. Intan hanya berdecak kesal, lalu beranjak dari sana setelah ditarik oleh Novi dan Ela. "Udah, Tan. Dia bakal baik-baik aja." Novi memberikan tepukan di pundak Intan, menyalurkan kekuatan. "Iya, semoga," sambung Ela. "Wan, tolong jagain, ya. Jangan lo ajak berantem dulu. Sepupu gue tuh." Mendengar petuah Babang, Hadwan mengangkat kedua alis mau. Dia mengambil alih kayu putih dari Tiffany, kemudian mendekatkannya pada hidung Arisha. "Kayaknya dia belum sarapan." Tiffany bergegas mengambil uang, "gue beli dulu makanan buat dia, Had." "Lo beli donat cokelat aja, kasih saus cokelat tambahan. Jangan yang berat-berat." "Serius dong, Had. Masa dikasih donat doang, mana kenyang." Arisha orang Indonesia tulen, kan? "Serius gue. Dia nggak suka makan nasi pagi-pagi." "Yang lagi deket mah beda, serba tahu," ledek Tiffany tersenyum sinis. Lalu, gadis itu beranjak keluar ruang kesehatan. "Nyari mati emang lo, Arisha. Kebiasaan kakak lo kenapa harus nular ke lo, sih?" Hadwan menoleh saat mendengar desisan itu. Mencoba mencari sumber suara, tapi tidak mendapati siapapun. Hih, Hadwan jadi merinding ngeri. Mata Arisha terbuka perlahan, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk. Sampai akhirnya, dia menemukan Hadwan yang berdiri di samping pembaringan. Eh, ini dia di mana!? Arisha langsung bangkit, meskipun setelahnya meringis linu. "Duh, lo ngapain bangun, Arisan? Udah, tidur lagi sana." "LO NGAPAIN DI SINI? IH, LO ABIS NGAPAIN, HAH?" Wajah Arisha semakin ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat. Dia tidak mungkin mengalami hal serupa dengan Arshi, kan? Ih, tidak mau. Dia pengen pulang saja rasanya. "Gue anak PMR. Ya jagain lo yang tadi pingsan," jawab Hadwan enteng. Detik selanjutnya, lelaki itu duduk di seberang kasur Arisha. "Emang gue pingsan? Pingsan kenapa? Lo nggak kasih gue obat bius, kan, Wawan?" Hadwan tersenyum kecut, menghela napas. Ini anak bawaannya selalu berpikir tidak jernih. Lagipula manusia mana yang mau kasih obat bius saat di sekolah seperti ini? "Mikir buruk mulu, lo, sama gue. Suka heran," kata Hadwan menirukan gaya ucapan Arisha. "Lebih baik mikir buruk dulu kalau sama cowok." Arisha akan berpegangan pada prinsip hidupnya. Hadwan menyahut tak suka. Namun, di satu sisi, ini kenapa berasa ada yang tidak enak. Arisha bergeser, melihat selimut yang terdapat bercak merah. Pantas perutnya sakit dari tadi malam, ditambah badannya yang linu dari ujung kepala sampai kaki. "Kenapa lo? Mau nuduh lagi, kenapa selimutnya jadi merah? Serius, deh, Arisan. Gue cuma berdiri doang, kasih lo minyak kayu putih. Tadi juga ada Tiffany di sini, cuma dia lagi beli makanan buat lo di kantin." Butuh berapa paragraf lagi untuk Hadwan bisa membuat Arisha percaya? "Nggak-nggak. Gue .... " "Naon?" Hadwan melirik Arisha yang terlihat gelisah. "Kayaknya gue mens," cicit Arisha malu. Membuat Hadwan turun dari ranjang. "Ya udah, lo diem dulu di sini. Jangan ke mana-mana." "Nggak, ah. Gue mau beli roti Jepang." "Masih aja pikirin makanan." Arisha hampir saja menyemburkan tawa. "Pembalut, Wan." "Ya makanya lo diem, biar gue yang beliin ke Kopsis." Arisha mengangguk patuh, tapi saat Hadwan sampai ambang pintu, gadis itu memanggilnya lagi. "Wawan." Hadwan memejamkan mata, lalu menoleh. "Pembalutnya yang halal." "Iyaaa." Hadwan maju lagi, tapi Arisha juga memanggilnya lagi. "Apa lagi? Nggak bisa jauh-jauh dari gue? Ya udah, sih, sabar. Nanti juga gue bakal balik lagi ke sini buat jagain lo, Arisan." Arisha berdecak. Lelaki ini masih saja terlampau percaya diri. "Kalau ada, pembalutnya yang ada sayapnya." "Ah, jadi cewek tuh ribet. Buat apa ada sayapnya? Lo mau terbang ke Mars pake pembalut?" "Udah tahu ribet, masih aja disakitin." Hadwan memutar bola mata malas. "Lo ngode?" "Nggak. Buruan sana." • Anida mengambil pembalut kotak paling atas, bertepatan dengan Hadwan yang mengambilnya pula. Gadis itu menyangka kalau Hadwan memang membantunya. Mungkin, semenjak jalan-jalan waktu itu, hati Hadwan mulai terbuka untuk Anida. Dia sampai tersenyum malu-malu. "Makasih, Had." Hadwan yang akan berlalu ke kasir pun mendadak mundur kembali. Dia mengernyit. Memangnya Hadwan telah melakukan apa sampai Anida bilang terima kasih? "Buat apa?" "Itu barangnya udah diambilin." Hadwan tersenyum kaku. Daripada membuat Anida malu untuk ke sekian kalinya, lelaki itu lebih memilih memberikannya pada Anida. Padahal hal tersebut malah semakin membuat Anida untuk berjuang lebih giat lagi. "Gue duluan, Hadwan." "Oh, iya-iya. Duluan aja, An." Hadwan menggaruk kepalanya gatal, melihat Anida yang semakin menjauh. Lalu, lelaki itu mengambil pembalut yang baru dan membayarnya ke penjaga. "Hayo si Hadwan. Buat siapa pembalutnya?" Hadwan menyengir kuda saat penjaga yang memang sudah kenal dengannya itu menggoda. Lagipula lelaki mana yang akan pakai pembalut? Pasti Bu Cica langsung berpikir kalau pembalut ini memang untuk perempuan yang Hadwan suka. "Buat pacarnya, ya?" Tuh, kan. Malah kejauhan mikirnya. "Temen, Bu. Temen, kok." "Temen, tapi demen maksudnya?" kata Bu Cica sembari memberikan kantung plastik pada Hadwan. "Nggak lah, Bu." Hadwan jadi teringat sesuatu. "Ada rok panjang nggak, Bu?" Rok Arisha pasti kotor dan gadis itu pasti akan malu kalau sampai kelas dengan kondisi seperti itu. Berhadapan dengannya hanya bilang sedang menstruasi pun seakan sedang membongkar aib yang memalukan tujuh turunan. "Rok panjang lagi kosong, Had. Adanya rok pendek aja." "Oh ya udah, ini aja, deh, Bu. Permisi." "Iya, salam buat ceweknya." "Siap, Bu," balas Hadwan sembari terkekeh. Dia berlari sampai ruang kesehatan, lalu melempar kantung plastik pada wajah Arisha yang sedang tiduran. s****n si Hadwan! "Makasih." "Yang ikhlas dong." "Terima kasih, Wawan." Arisha tersenyum sangat manis, hingga sempat membuat Hadwan terpaku sejenak. Kenapa tidak setiap hari saja, sih, Arisha seperti ini? Jadinya kan dia tidak akan marah-marah terus. "Sama-sama." Arisha berusaha bangkit, lalu berdiri meskipun sesekali mau limbung. Untung sudah ada Tiffany yang datang. Gadis itu langsung mengantarnya ke kamar mandi. Meninggalkan Hadwan yang kebagian rebahan dengan tangan yang dijadikan bantalan. Arisha keluar kamar mandi dengan tidak percaya diri. "Udah?" Arisha mengangguk. Saat dituntun untuk kembali ke ruang kesehatan, hampir saja keduanya akan ditabrak oleh lelaki yang tiba-tiba akan berbelok ke arah kiri. Keduanya sempat beradu pandang. Kenapa mereka harus bertemu kembali, saat Arisha tidak enak badan? Lelaki yang selalu menjadi pokok utama dalam pikirannya itu baru sekarang memunculkan batang hidungnya lagi. Padahal biasanya, Arian selalu mendekatinya jika di kantin. Atau bahkan sengaja mencari jalan ke dekat kelasnya supaya mereka berpapasan dan akhirnya mengobrol. Seperti dugaannya, Arian membuang muka dan berlari melewatinya begitu saja. Dia ... pasrah. Begitu sampai ruang kesehatan kembali, Arisha kembali tiduran di kasur. Beberapa kali dia melirik pada Hadwan yang tertidur dengan pulas. Wajahnya kelihatan sedang keletihan. Tanpa sadar, dirinya ikut memejamkan mata sampai waktu istirahat tiba. Intan dan Babang lekas ke ruang kesehatan setelah membeli beberapa makanan dan minuman kesukaan gadis itu. "Masih pingsan!?" tanya Intan pada Tiffany yang masih setengah sadar. Dia pula malah ikutan tertidur saat dilanda bosan. "Tidur." "Alhamdulillah." Babang menghela napas lega. Lalu, pandangannya berubah pada Hadwan. Tidak asing kalau pria itu sampai ikutan merem. Karena di manapun Hadwan berada, jika sudah sangat capek, dia pasti tidur. Bahkan, saat Upacara sekalipun, dia tidur sambil berdiri. Untung Hadwan tinggi dan bisa mengambil barisan paling belakang. "Keadaan lo gimana?" tanya Intan langsung saat Arisha membuka mata. Padahal dia pun masih mengumpulkan nyawa. "Udah makan obat, kan?" "Udah baikan." Arisha berubah duduk. Kepalanya sudah tidak terlalu pening. Meskipun perutnya masih agak sakit. "Tadi ada ulangan mendadak nggak?" Intan mencebik. Kenapa Arisha masih memikirkan ulangan? Kalau dia bilang ada, gadis itu pasti langsung pergi menemui guru detik ini juga untuk susulan. "Nggak ada. Udah, deh, lo jangan mikirin dulu ulangan. Yang penting lo sembuh dulu." "Iya, ih, bawel." "Lo juga bawel!" kata Intan tidak terima. Kebisingan itu mengusik Hadwan. Dia bangun, mengucek matanya yang masih berat. Semalaman, Hadwan harus menemani Anida di pesta Kakak gadis itu. Di sana pun, Hadwan harus rela ditarik ke sana-sini sampai menemui semua keluarga Anida. Dan berakhirlah dengan harapan mereka yang menginginkan Hadwan menjadi calon menantu. Itu, terlalu kejauhan bagi Hadwan. "Gue pengen ke kelas aja lah, udah mendingan ini." Arisha tidak butuh lagi di sini. Kalau dia tiduran terus, yang ada malah semakin kerasa sakit. Lebih baik dia menyibukkan diri. Jelas-jelas kalau di kelas bisa ngobrol atau belajar sampai melupakan rasa sakitnya. "Lo yakin? Nanti sampe kelas malah pingsan lagi. Gendong lo berat!" Arisha mendengus mendengar gerutuan Babang. Meskipun, setidaknya dia berterima kasih karena lelaki itu sudah mau mengangkutnya ke sini. "Nggak, Babang. Lo jangan lebay kayak Intan, deh." Arisha perlahan turun. Saat berdiri pun, dia sudah bisa jalan tanpa dituntun lagi. Tuh, kan! Dia memang sudah merasa enakan tahu. "Rok lo kotor." Intan melirik rok belakang Arisha. "Iya, tadi tembus," lirihnya malu. Hadwan menyugar rambutnya, kemudian mengambil jaket di belakang pembaringan. "Pake ini." Lelaki itu melempar jaket hitam miliknya pada Arisha. Tanpa dijelaskan pun, Arisha pasti paham, bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN