Menyogok?

1570 Kata
Arisha mengernyit, makanan yang selalu ada tiba-tiba di kolong meja itu kembali ada dan entah siapa yang mengirimnya. Padahal makanan waktu itu pun masih ada di dalam kulkas, belum terpikirkan untuk dia makan. Gadis itu memekik kaget kala Babang memukul meja, lalu duduk bersila di atas meja itu dengan tampang menantang. "Kenapa lagi lo?" Arisha hanya mengangkat bahu mendengar itu, kemudian duduk di kursi. Arisha mendongak pada Babang sembari memberikan paper bag kertas biru tua, "Buat lo aja deh, nih, Bang." Daripada kue tar itu basi, lebih baik dia berikan pada Babang yang jelas-jelas pasti mau menghabiskannya. Lihatlah, lelaki itu sekarang sudah tersenyum sumringah sembari mengambil wadahnya, kemudian makan dengan lahap. "Ada lagi? Dari siapa, sih?" tanya Intan bingung. Arisha memang sempat bercerita mengenai makanan yang selalu ada di kolong meja. Pada saat itu, Intan hanya menanggapinya sebagai candaan. Mungkin saja ada secret admirer, kan? Mengingat kalau pesona Arisha langsung melanglang buana di sekolah ini. Adik kelas yang jarang gadis itu temui atau bahkan mengobrol pun tidak pernah, sering kali Intan pergoki tengah membicarakan gadis itu. Apalagi kepintaran Arisha dan attitude pada guru, membuat guru di sini selalu membicarakan Arisha tiap di kelas, sampai disuruh untuk dijadikan contoh. Ya otomatis, semakin banyak orang yang penasaran dengan Arisha, bukan? "Jagat kali," jawab Babang spontan. "Menurut gue mah da bukan Kak Jagat, Bang. Dia biasanya suka terang-terangan kasih makanan ke Arisha. Dia mah nggak punya urat malu, kan? Jadi, nggak mungkinlah kalau Kak Jagat." Sekarang Intan yang memberikan argumennya. Masih agak abu di matanya kalau Jagat yang melakukan itu. Dan kalau Arian, rasanya tidak mungkin. Setelah mengingat kejadian waktu lalu di pemakaman, Arian tidak pernah muncul di hadapan mereka lagi. "Lagipula, Kak Jagat nggak pernah kejar gue lagi, Bang." "Arian. Gue yakin banget kalau yang nyimpen ini dia." Arisha menggeleng mendengar omongan Babang selanjutnya. Saat mereka bertemu pun, Arian kerap menghindar. Dan kalaupun Arian, lelaki itu pasti mempunyai rencana. Atau ... Arian punya salah padanya—menjadi penyebab Arshi misalnya? Jadi, lelaki itu ingin menebus kesalahan pada Arisha? Bisa jadi, kan? "Waktu itu ... dia pernah nyimpen kotak makan, kan, di sini?" Babang masih ingat betul, lho, saat Arisha memberinya sekotak makanan, lalu Hadwan tahu kalau kotak itu dari Arian. Ah, iya, Babang ingat sesuatu! "Atau bisa jadi si Hadwan!" seru Babang lantang. Itu, semakin mustahil. • Istirahat kedua tiba. Arisha melirik lengan jaket Hadwan yang masih terikat sempurna di perutnya. Jaket lelaki itu pasti sudah kotor dengan bekas noda darah milik Arisha. Kalau dia ke kantin sekarang dan ada Anida, bagaimana? Lalu, Anida marah dan mereka putus karena dirinya bagaimana? Tapi, Anida pun tidak mungkin mengenali jaket Hadwan, kan? Ah, dia bingung kan jadinya. "Jadi nggak?" tanya Intan sekali lagi. "Hah? Jadi-jadi." Arisha bergerak menyusul Intan yang sudah berdiri di ambang pintu kelas. Sampai di kantin, gadis itu berulang kali untuk berusaha menutupi badannya dengan tubuh Babang. Sampai akhirnya, dia bisa menghela napas lega kala sudah duduk di meja paling pojok tanpa harus takut badannya akan kelihatan jika Anida tengah ke kantin. Huh, sungguh merepotkan diri sendiri. "Sore ini jadi kumpulan nggak, sih?" tanya Intan sambil menyendok sambal. "Jadi lah." Hadwan, lelaki itu tiba-tiba datang dan ngegas. Lalu, duduk di sebelah Babang sambil membawa mangkuk mie ayam. "Awas aja kalau kalian nggak datang. Nggak bakal, gue kasih nilai A buat di raport nanti." Arisha memutar bola mata malas. Hadwan tidak asik. Beraninya hanya mengancam mereka, mentang-mentang merasa paling aktif. Oke, pikirannya memang sudah semakin nyinyir. Ya gimana ya, orang seperti Hadwan memang cocok untuk dikomentari. "Berabe. Kita kan Bestie, ya kali lo mau kek gitu sama kita," balas Babang dengan tatapan tajam. Bahkan, lelaki itu mengancam balik Hadwan dengan garpu yang dia pegang. Namun, hal itu tidak akan menjadikan Hadwan jera sama sekali. Hadwan dengan segala sikap bossy, mengancam, dan percaya diri tingkat dunia itu sungguh sudah mendarah daging. "Tahu si Hadwan, nih. Tidak mencerminkan ketertiban di dalam ikatan pertemanan!" Intan mencebik. "Gue itu orangnya profesional, mohon maaf. Mau kalian temen gue atau bukan, yang namanya kesalahan tetep harus gue kasih hukumannya." Dan kumpulan hari termasuk kesalahan bagi Arisha. Padahal dia ingin pulang untuk sekadar ganti baju. Kalau pulang ke sekolah lagi, pasti tidak enak. Bawaannya ingin langsung rebahan! Tapi, kalau dia tidak ganti baju lebih dulu, Arisha merasa sudah kotor. "Ah, so banget lo!" Babang melempar sedotan bekas minumnya ke wajah lelaki itu, sampai ada setitik air jus di wajah Hadwan. "Gila, lo, ah!" Hadwan mengambil tisu, membersihkan wajah. "Wajah ganteng gue jadi bau jigong lo, Bang." Arisha tergelak puas. Hadwan dengan kepercayaan dirinya sungguh memuakkan. Jadi, lelaki itu kena karmanya. Hadwan berdecak. Kalau dia sedang kesusahan, Arisha seperti orang yang paling senang melihatnya. Dasar, netizen. "Seneng banget, ya, lihat gue kayak gini!" Arisha masih belum bisa meredakan tawanya. "Lo, sih, suka nyebelin." Arisha beralih pada Babang, "bagus, my sepupu. Lanjutkan!" "Wah, bukan temen gue lo pada." Hadwan menggeleng kecil beberapa kali. "Emang tadinya iya? Ya sorry aja, sih, Wan. Gue emang bukan temen lo." Arisha terkekeh setelah mengatakan itu. Hadwan menatapnya tajam, meskipun sedang sakit, ternyata anak satu ini tetap saja menjadi perempuan yang paling menyebalkan. "Terus Lo ngapain di sini? Kita bukan satu circle. Sama temen-temen Lo yang so aja sana." "Lah, gue kan udah sama lo, orang yang paling so di sini. Ngapain gabung sama temen gue yang lain?" Hadwan memajukan kepalanya semakin mendekati Arisha. "Bahkan, tiga temen gue pun kalah so tahu sama lo, Arisan." Arisha melotot karenanya. Seenaknya! Memang dia seperti itu!? "Diem deh lo." "Ya udah, lo juga diem. Bisa nggak?" "Berantemnya bisa cancel dulu nggak? Udah, itu pertanyaan yang paling tepat!" Babang berteriak emosi. "DIAM LO!" Keduanya menjawab bersamaan, lalu silih menoleh dengan tatapan menghunus. "NGIKUTIN GUE MULU." • Jaket yang melingkar di pinggang Arisha membuat Anida memicing. Dia kenal betul dengan setiap barang milik Hadwan. Tentu Anida akan peka jika Arisha memakainya. Merasa diperhatikan oleh gadis itu, Arisha mempercepat langkah untuk masuk ke ruang sekretariat. Bertepatan dengan itu, Hadwan pun masuk menyusulnya tanpa Anida cegah. Sekarang dia semakin yakin, kalau keduanya memang semakin sedekat itu. Jujur saja, Anida ingin marah. Tiap perlakuan Hadwan padanya telah berpaling pada Arisha terus. Padahal, jaket itu tadinya selalu berada di Anida. Tangannya mengepal kuat. Dia semakin benci dengan Arisha. Kenapa gadis itu harus datang ke kehidupan mereka? Dasar, anak tidak tahu diri. Anida ingin sekali mencakar mukanya. "Ar, tolong buat surat buat Pak Cece, dong," suruh Rahma yang sedang sibuk mengetik di laptop. "Oke, Kak." Arisha tahu kalau guru bahasa Inggris itu akan menjadi pemateri di technical meeting nanti. Jadi, dia tidak perlu bertanya lebih banyak kembali pada Rahma. "Wan, lo buat surat buat Pak Surya guru Agama gih." Rahma menyuruh kembali, membuat Hadwan berdeham dan duduk di hadapan Arisha. Jarak mereka hanya terhalang oleh laptop. Hadwan melirik kantung plastik putih besar yang sedari tadi Hadwan sembunyikan dari balik badan. Lalu, melirik Arisha yang tampak sibuk dengan laptopnya. "Arisan," panggil Hadwan pelan, nyaris tidak terdengar oleh sebagian orang yang ada di sana. Arisha menoleh, menekuk satu alis bingung. Namun, barang yang Hadwan taruh pelan-pelan di atas meja itu sungguh tidak menjawab apapun. "Buat gue? Tumben banget, Lo." Arisha berdecih sembari mengambilnya selepas Hadwan bilang iya. "Mau nyogok, Masnya?" "Emang," jawab Hadwan enteng. Rahma berdeham beberapa kali, kemudian pura-pura batuk. Padahal yang ada di sini banyak, lho, tapi yang Hadwan beri makanan hanya Arisha doang. Jujurly, Rahma iri. Dia pun lapar padahal. "Arisha doang, nih, yang dikasih?" tanya Rahma memberikan kode. "Duh, makan aja, Kak, kalau mau," katanya sambil mengeluarkan isi dari kantung plastik itu. Hampir semua isinya rasa cokelat, hanya ada air mineral dengan tulisan: supaya Lo fokus. Hadwan ini sedang kena virus uwu dari mana coba? Dia bukannya bawa perasaan, ujungnya malah geli melihat tingkah Hadwan jika sedang seperti ini. "Kalian juga, makan aja. Nggak papa." "Hadwan emang suka gampang lupain temen. Udah, jangan pikirin nggak enak hati sama dia," kata Arisha lagi saat melihat tatapan adik kelas yang merasa tidak enak. Hadwan berdecak. "Kenapa lo bagiin, sih?" "Ya emang kenapa, sih, Wan? Ya kali gue harus makan sendirian. Gue bukan Lo yang nggak pernah merhatiin orang sekitar, ya!" kata Arisha mendelik, kemudian lanjut mengerjakan tugasnya kembali. "Serius nih, nggak papa dimakan barengan? Nanti cowok Lo marah lagi, Ar. Karena nggak merasa dihargai. Acielah, dihargai." Ikhwan—akhirnya lelaki itu sekolah kembali setelah sekian lama malah keenakan liburan di Bandung, seolah sekolah ini adalah milik nenek moyangnya sendiri. Arisha sampai menggeleng pelan karena mendengar ucapan Ikhwan barusan. Dia tidak suka pacaran! Titik, tanpa koma. "For your information doang, nih. Gue nggak punya pacar Samsek, Ikhwan." Lalu Arisha menoleh pada kumpulan adik kelas itu, "Serius, makan aja. Jangan pikirin si Wawan kata aku juga." "Aku makan, ya, Kak?" Nadila mengambil gandum cokelat gambar ayam di meja, kemudian membagikannya pada orang di sebelah gadis itu setelah Arisha mengangguk. "Kenapa lo selalu mikirin orang lain lebih dulu, sih? Lama-lama, gue gedek sama lo, Arisan," bisik Hadwan memajukan kepalanya sedikit. "Perasaan orang lain lebih penting, Wan. So—astagfirullah." Arisha sontak memegang paper bag yang dilempar padanya tiba-tiba. Dan masih diuntung, wadah itu tidak kena mukanya langsung karena langsung Arisha tangkap. "Hati-hati kenapa!" Arisha melotot, tapi Babang membalas dengan gelak tawa. "Eh, itu titipan dari orang. Katanya buat Lo, biar nggak sakit perut." "Dari siapa?" "Manusia yang berkamuflase menjadi orang bertopeng." Demi apapun, Babang tidak jelas. "Serius, Bang." "Dia nyuruh gue buat rahasain." Hadwan meneliti paper bag tersebut. Isinya jamu saat dia intip. Huh, ini mah merk jamu mamanya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN