Sungguh menjengkelkan. Hari ini dia dan Hadwan menjadi godaan sepanjang duduk di sekretariat. Adik kelas yang tidak tahu awalnya pula, mendadak menggodanya. Katakanlah kalau Arisha risi, tapi di satu sisi, banyak bunga yang mekar dalam perutnya. Hey, untuk apa dia bawa perasaan hanya karena ini? Mungkin, dia butuh tembok untuk menjedugkan kepalanya supaya dia sadar: kalau Hadwan dan dirinya itu hanya sepasang manusia yang berbeda arah. Terlalu banyak perbedaan dalam diri keduanya, tapi tanpa sadar, kalau mereka saling mengisi dalam perbedaan itu.
Sadar dirilah, Arisha. Tujuan dia ke sini bukan untuk menyukai laki-laki. Melainkan tugasnya hanya tiga: untuk mencari dalang hamilnya Arshi, belajar supaya masuk PTN favorit, dan menemani ibunya, kalau bisa menikah lagi dengan Tio—meskipun Lastri yang selalu pergi. Setelah itu, dia bisa pergi kembali ke Jakarta dengan tenang di sana. Ah, iya, Intan. Dia melupakan satu hal. Kalau bisa, Intan lebih baik ikut dengannya sampai menemukan penjaga yang hebat—at least pasangan atau tantenya yang masih jadi TKW.
"Mending kalian fokus kerja. Ya? Nanti malah nggak konsen! Daripada ngebacot mulu," kata Hadwan yang langsung mengundang gelak tawa. Mereka sungguh masih bisa konsen meskipun terus meledek Hadwan maupun Arisha.
"Baru kali ini, gue percaya sama lo, Wawan," Arisha menyender pada tembok, "nanti ada yang marah, lho. Ada yang cemburu. Aku nggak mau kena masalah lagi."
"Alah, lo ngomong kayak gitu buat ngode si Hadwan." Ikhwan menyambung enteng. Ih, memangnya dia sedang mengirim sebuah kode apaan?
"Sebenarnya Kak Arisha mau tanya: Kak Hadwan tuh udah punya pacar atau belum," sambung Anggun terkekeh kecil. Arisha sampai mencebik karenanya. Bukannya takut, mereka semakin gemas melihat tingkah gadis itu. Mau sekeras apapun Arisha berusaha menolak dengan mimik wajahnya, itu tidak akan berhasil, karena ujungnya malah terlihat lucu.
"Dia emang gengsi orangnya!" Hadwan kenapa harus angkat bicara!? Lebih baik lelaki itu diam saja, daripada harus ngomong mulu.
"Suer, bener. Aku nggak mau tanya tentang itu. Buat apa? Aku udah tahu ini, kalau si Wawan udah punya pacar." Mata Hadwan melotot, menyentil tangan Arisha dengan pulpen membuat dia menoleh kesakitan, "Ya gue bener, kan?"
"Apaan? Nggak. Duh, lo jangan ngadi-ngadi." Bukannya Anida dan Hadwan memang sudah pacaran? Buktinya waktu itu ... ah, Hadwan kan memang sering perhatian pada semua perempuan dan sering jalan. Harusnya Arisha berpikir ke sana. Hadwan pula orangnya memang humble di awal. Ya, di awal. Beda lagi dengan dirinya. Minta disantet emang itu orang.
"Masa, sih? Waktu itu kan—"
"Lo nyangka gue pacaran sama Anida gitu?" Arisha mengangguk kecil dengan tampang bingung, "dodol banget lo, sumpah."
Hadwan sudah sangat yakin, kalau gadis itu pasti menjurus pada Anida. Secara langsung, dia memang terlihat dekat dengan Anida jika di hadapan Arisha. Mungkin, ditambah dengan gadis itu yang mendengarkan permintaan Anida saat memintanya datang ke pesta ulang tahun kakak Anida. Lalu, bertemu kembali di Mall secara tidak sengaja.
Bibir Arisha mencebik karenanya.
"Mana ada gue pacaran sama dia. Kita cuma temen doang," jelas Hadwan. Padahal, untuk apa?
"Tuh, Kak, dengerin. Hati Kak Hadwan cuma buat kakak doang." Arif sampai tergelak oleh omongannya sendiri.
"Diam kau, Arip," desis Arisha kesal. Namun, lelaki itu malah semakin gencar tertawa. Kalau kata gurita di dalam film Spongebob: dia bukan tertawa bersamamu, melainkan menertawakanmu. Uh, sungguh tepat dengan keadaannya saat ini.
Intan, di mana dia? Dia butuh teman yang membela. Ini lagi si Babang. Malah diam saja! Sudah tahu sepupunya ternistakan di sini.
"Udah cukup penjelasannya?" bisik Hadwan dengan senyum menyebalkan khasnya. Ih, Arisha ingin sekali menyumpal mulut Hadwan dengan sapu tangan yang sudah dipakaikan obat bius.
"CUKUP! Meskipun nggak guna!" ejek Arisha sembari mencabut flashdisk, karena bukan laptop miliknya, melainkan milik Ikhwan.
"Sekarang aja nggak guna. Padahal dalam hati: untung, ya, Hadwan nggak beneran pacaran." Rahma kenapa harus ikut-ikutan!? Aaaaa, dia ingin pulang dan rebahan langsung di kamar.
"Kaaaaak. Ih, asli. Kalian ngeselin." Di saat semuanya harus tertawa, dia pengen nangis kejer.
Rahma tiba-tiba mengacungkan jari telunjuk, merasa menemukan berlian dalam galian tanah. "Ooooh, pantes si Hadwan ngeyel pengen pindah ke Humas."
Hadwan memejamkan mata, sementara Arisha menebalkan muka. Tentu dengan hati pula.
"Sampe chat gue, pengen banget kayaknya di Humas. Gue kira ... dia emang mau fokus ke seksi itu, kaaan."
Rahma sengaja menggantungkan omongannya. Dia tidak takut sama sekali dengan tatapan Hadwan yang sekarang tengah mengancamnya. Anak lain malah protes untuk tetap melanjutkan cerita Hadwan.
"Eh, ternyata mau satu seksi sama gebetannya! Apa gue izinin aja kali, ya, sekarang buat pindah?"
"Emang bener mau diizinin, kalau gue kasih saran izinin aja?" tanya Hadwan memicing curiga.
Dengan entengnya, Rahma menjawab sembari tertawa, "Ya nggak lah, Had."
Sialan Rahma!
"Modusnya bisa bener lo, Wan." Akhirnya Babang bicara setelah puas melihat dia terkena tekanan batin. "Ketahuan bokap sama abangnya, bisa langsung masuk reparasi tulang, lo."
"Duh, Bang. Bagi si Hadwan mah, mau ketahuan sampe babak belur juga nggak papa kalau demi Arisha," kata Khansa ikut-ikutan. Oke, cuma Rani temen dia!
"Cinta mati kali, ya, dia."
Dih, Rani ikutan lagi. Arisha memalingkan muka karena mereka.
"Silakan suarakan kehaluan kalian." Hadwan sudah mulai ngegas. "Yang penting ... isinya emang nggak bener."
"Halah, emang lo lagi suka sama siapa lagi selain si Arisha?" pancing Ikhwan membuat Hadwan terdiam beberapa saat sambil melihat gadis yang tengah memalingkan muka darinya itu, tapi tetap penasaran dengan jawaban Hadwan.
"Gue lebih suka anak SMK waktu itu, Brother." Hadwan beralih pada Babang, membuat Arisha lekas menoleh santai. Meskipun isi hatinya beda. "Lo tahu, kan? Yang waktu itu kita temuin di kantin pas LCC KIR?"
"Oh, hooh. Gue inget!"
"Lo bisa nilai sendiri. Dia orangnya baik, kalem, nggak galak, nggak suka nuduh, anggun banget jadi cewek. Idaman nggak, tuh?" Hadwan menaikan alisnya beberapa kali. Lalu, kembali menoleh pada Arisha. "Beda lagi sama ini! Ah, kalian nilai sendiri aja lah. Udah galak, tukang nuduh, nyebelin, username dia doang yang tulisannya baik."
Arisha mengepalkan tangan kuat-kuat, menatap Hadwan tajam. Kenapa akhir-akhir dia suka semakin serius kalau Hadwan lagi mengajak perang dengan omongan lelaki itu? Rasanya langsung jleb gimana gitu ke relung hati.
"Heh, emang lo udah sebaik apa, hah? Bisa aja komentar."
"Ya kan gue emang belum banyak, ya, ngelakuin kebaikan. Jadi, gue butuh dia buat saling melengkapi. Kalau sama lo, masih ada bolongnya. Nggak akan bisa ditambal."
"Terserah lo lah. Lagipula gue nggak mau sama lo, heuh! Kita nggak sepadan."
"Lah, iya. Gue sama lo itu nggak selevel."
Arisha melempar Hadwan dengan bolpoin.
"Seblak kali ah, pake level-level."
Hadwan tertawa pura-pura. "Haha, lucu. Garing!"
"Terserah gue. Selera aja udah beda gini. Hih, nggak kebayang kalau gue harus sama lo."
"Iya, gue ke kiri, lo ke kanan. Mau sampai kapanpun, cara kita beda."
Rahma berdeham beberapa kali. "Kenapa ujungnya jadi ribut begini, ya, Friends?"
"Dia tuh duluan!"
Mereka kembali menjawab dengan kompak, sambil tangan silih menunjuk. Uh, Arisha benci dengan Hadwan!
•
"Ngafe, yuk!"
Mereka berlima yang sedang memakai sepatu di depan ruang sekretariat itu menoleh kompak. Sudah tahu kalau tugas rumah lagi banyak dan Babang mengajak mereka nongkrong!?
"a***y, kek jadi predator aja gue," gumam Babang seraya menunduk, menuntaskan tugasnya. "Padahal kalau gue traktir mau-mau aja nih pasti anak-anak manusia."
"Emang lo mau traktir?" Ikhwan memicingkan mata.
Babang mengangkat bahu, "Yoi. Nilai ulangan harian fisika gue—pertama kali buanget, lulus dari KKM! Begitu bangganya hari ini, pada diri sendiri."
"Yang dapet seratus aja diam-diam aja. Lah, lo? Tumpengan sakalian maneh mah, Bang." Intan tergelak.
Arisha jadi bingung di sini. Memang sejak kapan, ulangan harian fisika nilainya sudah diumumkan? Bukannya hari ini tidak ada pelajarannya? Dan kenapa dia tidak dikasih tahu!? Bagaimana kalau dia diremedial?
"Terus LKJ gue mana? Masih di guru? Ih, gue dapat berapa coba?"
"Udah gue masukin ke tas lo. Tenang aja lah, lo dapat seratus lagi ini." Babang akhirnya berdiri.
"Si Arisan dapet seratus? Haha. Lo mau jadi rival gue di perangkingan?"
"Emang. Masalah?" tanyanya sambil tersenyum mengejek. Kemudian, gadis itu ikut berdiri, berjalan di belakang Babang yang langsung disusul oleh yang lain. Hadwan tiba-tiba nyerobot, berjalan di samping Arisha.
"Masalah bagi gue, sih, nggak. Because gue yakin kalau diri gue masih mampu untuk mempertahankan peringkat pertama pararel." Hadwan memasukkan kedua tangannya ke saku celana, melihat Arisha remeh, "Tentu gue lebih kasihan sama lo, nih. Lo nggak akan bisa kalahin gue sampai kapanpun. Dan nanti lo jadi sedih, terus kepikiran. Mending nggak usah berharap yang banyak banget gitu. Ya? Ngerti?"
Oke, kita diamkan saja omongan Hadwan kali ini. Mari kita dengarkan lelaki itu mau bicara sampai mana.
"Ngerti nggak?" tanya Hadwan lagi membuat dia mendelik. Lalu, menatap lelaki itu menantang.
"Oke, gue ngerti. Tapi masalahnya ... gue nggak takut sama lo. Gue yakin sama diri gue sendiri. Gue udah berusaha, tinggal serahin aja sama yang di atas. Dan kalaupun lo akan di atas gue, gue nggak akan sedih, tuh." Arisha terkekeh kecil. Membuat Hadwan mengernyit.
"Karena itu pasti mimpi, Wawan," bisik Arisha sungguh menyebalkan di telinga Hadwan. "Lo bakal kegeser sama gue. Mending lo siapin mental, ya? Bentar lagi udah pembagian rapot bayangan, nih, soalnya. Nanti lo nangis di pojokan lagi."
"HEY, ARISAN!" Arisha terperanjat. Gila, suara si Hadwan gede bener! "Jangan so dulu, jadi orang. Kita lihat nanti."
"Siapa takut?" Arisha semakin menantang.
"Yang kalah, makan seblak level lima di Bi Tuti. Deal?"
Tentu, Arisha akan menyetujui pertandingan dari Hadwan.