Bersama Hadwan

1915 Kata
Es teh lemon, benar-benar dengan extra lemon. Tahu kan, lemon yang suka dijadikan pajangan di gelasnya saat minum di Cafe-Cafe? Nah! Hadwan sampai tercengang hanya karena masalah lemon itu yang Arisha makan. Ekspresi gadis itu pun tidak terlihat menyedihkan, lebih mirip dengan seorang YouTuber asmr yang sedang menikmatinya. "Udah, jangan heran. Lo lihat dia kayak gini kek baru pertama kali aja," sembur Babang yang hanya mendapat gelengan ngeri dari lelaki itu. Sebenarnya, Hadwan lumayan tidak sadar diri. Keanehan Arisha pun sering terjadi padanya. Lihat sekarang, Hadwan mencocolkan ayam ke es krim avocado. Dengan nasi pula. Siapa yang lebih aneh? Oke, dua-duanya memang aneh. Biarkan mereka dengan gayanya masing-masing. "Apa, sih? Toleransi aja, kali," protesnya mencebik. Dia sedang menikmati keasaman hidup ini, mirip dengan lemon. Tolong jangan ada yang nyinyir. "Iya-iya, udah diem ini." Ikhwan akhirnya bicara. Sementara Intan tampak sibuk dengan ponselnya sambil sesekali memakan burger-nya itu, diselingi senyum lebar seolah telah mendapat rezeki nomplok. "Di SMK 1 mau ada Pensi tahu, ih, siah. Penontonnya terbuka buat umum. Kita harus ke sana pokoknya!" Intan mengangkat kepala, melihat reaksi mereka. Artis yang datang benar-benar membuat Intan wajib ke sana. Lagipula acaranya hari sabtu. Berhubung mereka termasuk ke dalam sistem full day, kan jadinya libur, terus bisa sepuasnya lihat artis di sana. Kapan lagi coba kejadian ini ada? Hadwan yang sedang makan pun menelan dulu makanannya sambil mengangkat tangan, "Harus! Gue mau ke sana. Ini adalah sebuah peluang untuk mendekati gebetan gue. Kapan, nih?" Lelaki itu yang paling antusias. Padahal Babang sudah mendesis malas. Nanti mata Intan pasti jelalatan di sana. Sedangkan Ikhwan netral. Dia mau ikut saja. Tidak pun ya oke. "Sabtu minggu ini." "Mepet banget lo tahunya. Beli tiketnya gimana, Maimunah?" desis Hadwan sebal. Matanya memicing heran. Kenapa Intan tidak kasih tahu dari awal coba? Padahal niatnya ke sana bukan untuk mencari wanita waktu itu. Hadwan cuma ngarang. Tapi si Babang malah iya-iya aja lagi tadi. Dia ingin tahu reaksi Arisha bagaimana. "Ada orang dalem, tenaaang." Intan menunjuk Arisha sambil mengangkat alis dua kali. Arisha kan pernah cerita padanya mengenai Manda yang sekolah di sana. Mereka pun waktu itu kelihatan akrab. Jadi, mungkin Arisha bisa dijadikan tumbal untuk beli tiket dengan cepat supaya tidak kehabisan. Masalahnya, artisnya ini yang lagi viral. Para manusia pasti memburu tiketnya dengan buas. Bara—siapa, sih, yang tidak kenal dengan pria itu? Mana masih anak SMA pula. Ya mereka seperti menemukan sebuah celah untuk mendekati Bara. Kali saja suatu saat nanti, mereka satu prodi di universitas yang sama? Aamiin. "Ya, kan, Ar?" tanya Intan berharap lebih. Harapan mereka satu-satunya hanyalah Arisha. Gadis itu terbatuk-batuk beberapa saat, lalu menerima gelas dari Hadwan, menegaknya sampai tandas. Lalu, melayangkan tatapan protes lagi pada mereka. Memang tidak ada yang lain? Hadwan misalnya? Relasi lelaki itu pasti lebih banyak daripada dirinya, bukan? Ah, Hadwan pemalas! "Kok jadi gue?" "Kan lo deket sama anak sana!" jawab Hadwan ngegas. Arisha ini perlu dikasih obat apaan, ya? Kali saha gadis itu lupa mengenai kehidupannya sendiri. "Belum tentu Kak Manda emang panitia. Apalagi dia udah kelas dua belas." "Ya setidaknya, lo nitip kek gitu sama dia buat beliin dulu tiket? Nanti kita ganti, Dodol." Hadwan berdecak, "katanya mau ngalahin gue, tapi gini doang lemotnya nggak ketolong." Hadwan sungguh menyebalkan. Maksud dia bukan begitu. Huh, pengen dia jambak saja tuh rambutnya. "Ya udah, sih, jangan ngegas." Arisha menatap Hadwan tajam, "oke, serahin ke gue." "Nah, kan kalo kayak gini lo berguna: jadi penyelamat kisah romansa gue, Arisan," ucap Hadwan sembari tersenyum khasnya. Arisha hanya membuang muka, mengambil ponselnya untuk menghubungi Manda. Untung saja gadis itu sedang online. Arisha: Kak Mandaaaaa. Can you help me? Tak butuh waktu lama untuk Manda membacanya. Kak Manda: Iya, dong, tentu bisa. Lalu dia memberitahu Manda kalau sedang membutuhkan tiket lima orang untuk masuk ke Pensi itu. Dengan senang hati, Manda mau membantu mereka. Katanya tiketnya tinggal sedikit, untung Arisha menghubungi Manda dengan cepat. Kebetulan, Manda juga menjadi panitianya kembali. Persis seperti tahun kemarin. Arisha: Thank you, Kak. "Ada, tuh tiketnya. Udah gue booking enam orang." "Enam? Gue jadi nyamuk, dong," kata Ikhwan tak terima. "Ya terus, lo mau ajak siapa?" Babang bertanya iseng. "Nggak mau ikut, ah, gue." "Ya udah terserah," kata Intan tak masalah sama sekali. "Satunya lagi buat siapa? Kenapa jadi enam, dah? Lo kagak bisa ngitung apa, hah?" Hadwan bertanya saat sudah sadar kalau mereka hanya lima orang. Dan dikurangi Ikhwan, menjadi empat orang. "Kali aja salah satu dari si kembar mau ikut. Kata Kak Manda, tiketnya sisa segitu. Ya udah gue ambil semua." "Ide yang bagus!" Intan mengacungkan jempol. Dan sekarang, si kembar bisa berangkat dua-duanya. Kasihan mereka karena sering di rumah terus. Kali saja butuh liburan. "Lah, adek gue kagak libur, b**o. Mereka nggak full day." Oh, iya bener. "Buat gue aja dua-duanya. Temen gue udah ada yang mau ambil." Hadwan cukup cekatan. Sebenarnya kebetulan, ada kakak kelas yang nge-chat. Padahal dia pun baru tahu sekarang kalau ada Pensi di sana. "Kita janjian di mana nih, Kawans?" Babang memangku tangan sambil bertanya. "Depan sekolahnya langsung aja nggak, sih?" saran Intan. "Boleh." • "Hah, gimana-gimana? Pak Endang sakit?" Dia baru mau pulang dan saat menghubungi beliau, yang mengangkatnya malah satpam rumahnya. Setelah beliau bilang bahwa Pak Endang memang sedang sakit demam, Arisha langsung bertanya apakah sudah ke dokter apa belum. "Aku panggil Dokter Hafidz, deh. Tunggu aja, Pak." Lalu, dia mematikan sambungan telepon dan menghubungi dokter muda itu. Kalau saja Intan tahu parasnya pasti langsung heboh. Untung lah dokter pribadi keluarga dia itu akan on the way sebentar lagi ke rumah. "Kenapa?" Intan bertanya pelan. "Pak Endang sakit. Kayaknya kita harus cari ojeg atau angkot apa gitu." "Lo balik aja sama gue, apa susahnya?" Hadwan menantang sembari menggendong tas. Intan dan Babang silih pandang sejenak. Memangnya Arisha mau naik motor Hadwan? Sudah dipastikan gadis itu akan menggeleng tidak mau dengan kuat. "Kita balik duluan. Ya, kan, Tan? Kita ... ada disuruh Bunda buat belanja. Eeem, urgent." Babang melotot, memberikan kode pada Intan agar mau dia ajak pulang duluan. Untungnya gadis itu mengerti. "Ah, iyaaaa. Bunda teh kan suruh belanja bahan dapur. Kalau nggak sekarang, nanti orang rumah makan apa? Air mendidih?" "Eeeh." Arisha melayangkan protes. Namun, Intan tetap menarik tasnya sembari cengengesan dan berlari bersama Babang dengan tatapan Arisha yang tidak bersahabat. Sungguh alasan yang tidak masuk akal. Mereka pasti bohong, nih. Awas saja. Kalau dia sudah sampai rumah, mereka berdua akan habis! "UDAH, JANGAN NGAMUK. HAVE A NICE DAY." "Have a nice day apaan," gerutu Arisha setelah mendengar teriakan Babang barusan. "Nggak ada alasan untuk nolak gue lagi." Hadwan menaikkan alis sembari tersenyum. "Nggak. Gue nggak mau balik sama lo. Mending naik angkot sekalian." Bilang saja kalau Arisha itu nekat. Dia tidak terlalu tahu daerah ini. Bahkan, dia pun tidak tahu harus naik angkutan umum nomor berapa dan warna apa yang menjurus ke rumahnya. Mata Arisha makin melotot saat menyadari kalau: ponselnya low bat. Duh, mana dia lupa bawa charger lagi. Padahal tadinya dia ingin mendownload aplikasi kendaraan online. Sungguh tidak bersahabat untuk hari ini. "Wan." Hadwan menoleh sembari mengangkat alis bertanya. Lelaki itu sudah duduk kembali, hanya untuk memastikan Arisha masih selamat di sini. Kalau gadis itu nekat pergi sendirian, bisa nyasar lagi kan bahaya. "Pinjem hp dong." "For what, Arisan?" Dia menggaruk kepalanya malu, "Pesen taxi online." "Hp gue udah dead." Tangannya mengepal geram, lalu menoleh ke segala penjuru Cafe. Bodyguard dia ke mana ini? Biasanya suka ada di sekitar Arisha. Lalu, dia harus bagaimana coba selain diantar Hadwan!? "Kenapa susah banget, sih? Ribet tahu nggak. Kalau lo balik sama gue pun, nggak bakal gue apa-apain, sumpah." Hadwan menunjuk tasnya, "Ini tas, bisa gue taruh di tengah. Paham?" "Awas aja kalau tiba-tiba belok lagi kayak waktu itu." Mata Arisha memicing. Tentu, kejadian saat setelah mengantar surat undangan itu masih teringat jelas dalam memori ingatannya. "Laki-laki itu, harus bisa tanggung jawab sama omongannya." "Iya, Bawel." "Dih, lo yang bawel." Hadwan mendesis lelah. Berbicara dengan Arisha tidak akan ada ujungnya. Keduanya berlalu dari Cafe, meninggalkan bekas-bekas kisah yang mungkin, nantinya akan dikenang atau malah ... diharapkan. Lelaki itu menaiki motornya lebih dulu, kemudian memberikan helm yang memang suka dia bawa pada Arisha. "Cepetan dong, Wan!" katanya selepas naik di boncengan dan Hadwan tidak kunjung menyalakan motor. "Jangan bilang kalau motor lo mogok lagi?" "Nggak. Motor gue bisa jalan saat lo ngomong dulu." "Maksudnya?" Arisha memukul bahu Hadwan lumayan keras. Agak perih, sih. s****n si Arisha "Ini gue udah ngomong dari tadi sampai mau berbusa, lho." "Yang bener ngomongnya, jangan galak-galak. Motor gue aja sampai takut sama lo." Arisha berdecak, memukul bahu Hadwan lebih keras. Lelaki itu selalu saja menjadi makhluk yang paling menyebalkan. "Harus gimana?" Hadwan berdeham, "Gini: Hadwan, gue nebeng, ya. Tolong anterin sampai rumah. Makasih, Hadwan." Ih, dia ingin muntah mendengarnya. Oke, terpaksa. Kali ini, Arisha mencoba meniru ucapan Hadwan dengan imut—diimut-imutkan lebih tepatnya. "Nah, gitu! Nyala kan motor gue." "Pembodohan publik! Ya iya lah bisa jalan, orang lo nyalain. Sementara tadi nggak." Hadwan hanya tergelak, lalu menarik pedal gas sampai membelah jalanan kota yang lumayan padat. Rasanya masih sama: sejuk dan bising. Tiba-tiba, Arisha ingat sesuatu. Pembalut di rumahnya pasti sudah kosong. Karena dia sering membelinya saat pertama kali haid. b**o, sih, pembalut dari Hadwan malah ditinggalkan di ruang kesehatan. "WAN!" "APA?" Arisha berpikir lebih dulu. Nanti Hadwan iseng, tidak? Duh, dia malu mau bilangnya. "Wan, ke mini market dulu, dong. Ya?" Lelaki itu hanya berdeham. Lalu, membelokan motornya ke pekarangan mini market. Keduanya sama-sama melangkah masuk. Tentu Hadwan yang berjalan di belakangnya. "Katanya ... jangan belok dulu, tapi sendirinya yang nyuruh." Hadwan meledek saat dia akan mengambil pembalut. Gadis itu menoleh lebih dulu. "Itu beda lagi. Ini kan gue yang nyuruh, bukan lo. Dan ini ... cuma ke mini market doang." "Terus aja kasih pembelaan." Hadwan mendelik sembari memasukkan tangan ke saku celana. Lelaki itu membiarkan Arisha yang susah payah menggapai barang tujuannya. "Diem, deh, lo." Lagi-lagi, Hadwan mendelik. Sungguh, sekarang Arisha ingin memberi kritik pada yang menata barang di sini. Sudah tahu, kalau pembalut tuh pasti rata-rata yang belinya perempuan. Namun, kenapa harus disimpan paling atas, hm? Uh, menyebalkan. Kakinya sudah pegal berjinjit! Karena merasa geram, Hadwan mengambilnya dengan mudah sampai gadis itu menoleh kaget dan menurunkan badannya kembali. "Haha, kurang tinggi, sih." Hadwan memajukan kepalanya sembari tertawa puas. "Makanya berenang, biar tinggi." "Gue suka berenang, ya, Wan, di rumah. Bukannya makin tinggi, lama-lama gue jadi item." Hadwan hanya kembali tergelak. Selepas tragedi itu, akhirnya mereka kembali berkendara. Hanya butuh setengah jam untuk sampai rumah. Hanya! Ini gara-gara Hadwan yang memilih jalan memutar. Gini, sih, lelaki itu ingin bersamanya lebih lama. Jadi, mencari akal deh. "Jaket lo gue cuci dulu. Nanti gue lempar ke muka lo," kata Arisha selepas turun. "Emang lo bisa nyuci?" Hadwan tersenyum meremehkan. "YA BISA. EMANG LO?" "Santuy dong, Mbak. Gini-gini juga, gue jago." "Oke. Intinya, makasih." Selepas itu, Arisha berjalan salah tingkah ke rumah. Bukannya dia mau terlalu percaya diri, tapi ... dia rasa kalau Hadwan memang memerhatikannya. Dan perkiraan Arisha memang benar. Hadwan menatap punggung itu dengan penuh petasan dalam perut. Sial, gara-gara itu, membuat dia tidak memperhatikan sekitar sampai— "Eh, awas—" Arisha mengaduh, kala keningnya terpentok pintu. Duh, sungguh memalukan. "—nabrak." Hadwan sampai meringis melihatnya, meskipun akhirnya lelaki itu tergelak puas. "Sukurin!" Apalagi saat Arisha menoleh padanya tak suka, sambil menampilkan bogeman tangan kiri, air mata lelaki itu sampai sedikit keluar. Lalu, Arisha masuk ke rumahnya sambil mengelus kening. "Duuuuh, malu-maluin lo, Shaaa." Sungguh terlihat kalau dirinya tengah salah tingkah! "MAKANYA, KALAU JALAN, JANGAN SAMBIL PIKIRIN GUE MULU." "NAJIS."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN