Chat yang sungguh membuat Arisha naik pitam! Tegar menanyakan laporan kegiatan dan katanya belum dikumpulkan oleh ketua maupun wakilnya. s****n si Hadwan. Senang benar membuat jantung dia bergetar tak karuan. Tak butuh waktu lama, Arisha lekas menghubungi lelaki itu. Bahkan, menelponnya saat Hadwan tidak kunjung membalas pesan padahal tengah online. Bodo amat tentang: pria itu tengah chat-an dengan siapa. Yang dia ingin, Hadwan segera tanggung jawab. Tentu ini bukan tugasnya dan dia yang kerepotan. Padahal waktu itu pun, yang revisi dan membuat laporannya kebanyakan dia. Lalu, gunanya Anida dan Refa apa sebenarnya?
Sungguh menyebalkan.
Dan akhirnya, sambungan tersambung. Oke, marah-marah dimulai.
"WAWAN!"
Hadwan sedikit menjauhkan telinganya. Malam-malam telepon, ini anak langsung ngegas. Cobalah bicarakan dengan baik-baik memang tidak bisa!? Dasar siluman.
"Apa?"
Hey, lihatlah. Anak ini sangat santai sekali. Apa Tegar tidak menanyakan pada Hadwan juga? Ya jelas pasti, dong.
Saat dia bertanya, kenapa tidak menghubungi Hadwan dan Anida saja, jawaban Tegar adalah bahwa Anida masih memblokir nomornya—entahlah mereka ada masalah apa, Arisha tidak peduli, yang dia tahu kalau mereka itu satu kelas dan mungkin saja ada cinta lokasi belajar mungkin—dan Hadwan masih tidak aktif. Lah, ini aktif cobaaaa. Huh, dia harus cari skincare anti penuaan dini mulai sekarang. Semua orang tiba-tiba berubah seperti Ironman dan menjadi membuatnya jengkel terus menerus.
"LO BELUM KASIH LAPORAN KEGIATAN SAMA SI TEGAR APA, WAN? HAH?" Intan yang baru keluar kamar mandi langsung menutup telinga. Teriakan Arisha membuat telinganya mendengung cukup lama. Seisi rumah pasti ikut mendengarnya pula. Lalu, gadis itu berjalan sembari meringis, naik ke kasur dan menyumpal telinganya dengan headphone putih yang mulanya tergeletak di atas nakas.
"Ya emang kenapa?" tanya Hadwan sambil terduduk di kursi putih memanjang belakang rumah. Iya, dia akhirnya pulang setelah dipaksa oleh musuhnya di rumah itu. Lalu, menaikan kedua kakinya, bersila.
"Ya Allah. Kenapa lo nggak sadar-sadar, sih? Lo tentunya tahu, dong, Wan, deadline pengumpulan tanggal berapa! Kalau udah beres tuh kumpulin, biar Tegar nggak tanya-tanya lagi. Kelakuan lo ngebuat reputasi ekskul ini semakin buruk tahu, nggak!? Mulai hari ini, mereka pasti cap kita sebagai tukang ngaret."
Arisha itu terlalu cerewet! Tapi Hadwan suka mendengarnya. Omongan panjang Arisha persis menjadi dongeng saat sampai di gendang telinga Hadwan.
"Emang udah dicap gitu dari generasi pertama. Terus?" Hadwan semakin menantang. Rahang Arisha sampai mengeras. Dengan napas berburu, gadis itu membuka pintu, lalu membantingnya kasar.
"Kalau udah tahu EC itu dicap kayak gitu, kenapa lo malah mempertahankannya, ya? Mikir dikit, dong, Wan. Harusnya lo ilangin cap kayak gitu tuh. Itu tantangan buat lo." Arisha perlahan menuruni anak tangga, duduk di undakan anak tangga terakhir. "Visi misi lo nanti apa sebenarnya? Cuma buat membual doang?"
"Lo bakal beri asupan janji-janji palsu? Perihal kayak gini aja—di saat lo belum benar-benar jadi ketua umum pun—lo udah ... salah, Wan. Lo banyak ngerepotin OSIS!"
Hadwan hanya mengangguk kecil, meskipun sebenarnya Arisha tidak akan pernah melihat balasannya itu.
Ini kenapa si Hadwan malah diam lagi? Lagi merenung? Sukur kalau gitu. Atau lelaki itu ketiduran?
"Terus?"
"YA KAPAN MAU LO KUMPUL?" Dia mulai darah tinggi nih. Duh, kepalanya pusing. Arisha butuh obat. Suer, dia butuh obat. Dan obatnya adalah seblak super pedas. Meskipun perutnya nanti sakit, setidaknya pusing dia ilang.
"Besok."
"Besok Sabtu, Wan. Andai aja, ya, lo kumpulin hari ini. Kenapa, sih, hah? Kenapa lo nggak pernah on time?" Arisha menghela napas panjang, menempelkan keningnya pada lutut yang ditekuk. "You're freaking me out!"
"Feel free. Tomorrow, gue bakal ke rumah Tegar, serahin sendiri laporan itu. Puas, Mbak? Tolong kasih bintang limanya!"
Arisha menggeram tertahan. Dia benar-benar ingin menonjok muka Hadwan yang sekarang pastinya sedang tersenyum menjengkelkan seperti biasa.
"Masih aja bercanda. Besok, jam delapan, kita ada janji di depan sekolah SMK 1. Jadi, lo harus ke rumah Tegar pagi-pagi."
Arisha sudah mirip dengan sekretaris pribadinya, bukan? Gadis itu suka sekali mengatur jadwalnya.
"Nih, ya, Ar. Kalau nggak punya sopan santun, mungkin gue udah loncat ke rumah Tegar detik ini juga. For your information, rumah Tegar ada di depan rumah gue. So, lo jangan khawatir muluuuu."
Perlu Arisha akui kalau ucapan Hadwan itu membuat dia tenang. Ya setidaknya lah, laporan kegiatan masih bisa diantarkan. Dan tunggu. Hadwan pulang ke rumahnya? Semoga saja hal ini menandakan, kalau keadaan keluarga lelaki itu sudah membaik.
"Oke."
"Dih, tadi aja marah mulu kayak kenalpot anak Jamet. Lah, sekarang?"
"KAN UDAH TENANG. GUE UDAH PERCAYA SAMA LO, BEGE!"
Arisha lagi-lagi hanya bisa menghela napas panjang. Huh, Hadwan membuat dia ingin melemparkan piring ke wajah lelaki itu. Tuh, kan, pikiran dia jadi kasar.
"Asek, percaya. Sangat merasa tersanjung banget gue." Hadwan tergelak. Huh, tawa Hadwan tidak enak. Lebih baik dia mendengar kucing yang meow meow terus di depan rumah. "Eh, btw. Gue pulang tahu ke rumah. Malas banget."
Oh, perkiraan dia salah ternyata. Hadwan masih menyimpan luka itu dan tidak mau berdamai.
"Kenapa? Bukannya rumah itu tetap akan menjadi tempat pulang yang paling nyaman? Bokap lo ... nggak ada juga, kan? Jadi, ya ... keduanya nggak akan kelihatan berantem di depan lo."
Arisha melunak. Dia paling sensitif kalau sudah membahas keluarga. Waktu itu pun, saat Hadwan cerita padanya mengenai keluarga lelaki itu: Arisha nangis. Yang punya masalah siapa, yang nangis siapa. Dia tidak mau kalau banyak rumah yang memiliki kisah sama dengan rumahnya. Ya meskipun, setidaknya dia bersyukur karena Tio dan Fatur tetap selalu datang ke sini dan mengajaknya video call.
"Nggak semua rumah bakal menjadi tempat pulang yang nyaman, Ar. Ada rumah, yang malah dianggap menjadi lubang luka."
Hadwan menghela napas panjang.
"Gue capek dihujat mulu, kayak artis banget hidup gue emang. Kalau nggak dipaksa sama doi, gue nggak bakal mau."
Siapa yang Hadwan maksud?
"Perasaan itu punya asam traumalin yang bisa membuatnya sembuh nggak, sih? Kayak pohon karet yang diambil getahnya, terus pohon itu balik kayak semula. Gue harap, lo jawab iya."
"Mungkin iya. Kalau kita sakit hati, bisa disembuhin sama terima—Ikhlas dan rela. Nggak semudah itu emang. Kita butuh waktu untuk sampai di titik itu. Ya sama kayak asam traumalin. Cuma mungkin ... beda nama sama jenisnya tentunya."
Arisha masih butuh koreksi. So banget dia bilang begitu, padahal diri sendiri pun masih dalam tahap mencoba merelakan. Namun, sepertinya Hadwan pun butuh?
"Ar?" Hadwan menahan senyum, perlahan menurunkan kedua kakinya ke lantai.
"Iya?"
"Lo lebih menyenangkan kalau nggak marah-marah."
"WAWAAAAN!"
Hadwan akan tetap menjadi pria paling menyebalkan dalam hidupnya di situasi apapun.
Padahal tadinya, Hadwan mau bilang terima kasih pada Arisha. Jujur, kalau sudah cerita pada gadis itu: bawaannya lega—memang menenangkan—dan membuat dia nyaman.
•
Jam delapan tepat, mereka sudah nangkring di depan SMK 1 yang padatnya bukan main. Sudah tahu, bukan, kenapa mereka masih di gerbang? Tentu jawabannya adalah Hadwan. Lelaki itu belum datang. Tukang ngaret memang. Mana ponselnya tidak aktif. Kalau masih lama, Arisha akan pulang. Dia sudah tidak mood untuk menonton Bara.
Padahal, Hadwan itu sudah dia wanti-wanti pas semalam. Ini anak enaknya diapakan pas sudah datang!?
"Guys! Sorry, telat."
Bodo amat. Pelampiasan Arisha hanya dengan membuang muka selepas menatap tajam lelaki itu. Intinya, dia marah. Hadwan tuh harus dikasih pelajaran supaya jera. Orangnya tidak disiplin! Huh, butuh berapa kali lagi dia menghela napas untuk menghilangkan kesal dan bisa menonton dengan tenang!?
"Ke mana aja maneh teh?" Intan mendengus saat Hadwan terkekeh kecil tidak enak, "Cangkel ini teh, ih."
"Tinggal duduk, Tan," kata Hadwan terkekeh lagi. Huh, lihatlah. Betapa menyebalkannya pria satu ini. Mereka mau duduk di mana wahai anak muda? Di sini tidak ada kursi! Ya kecuali kalau memang mau duduk di tembok, seperti orang yang sedang mengemis di tengah keramaian.
Arisha menarik tangan Intan agar segera masuk. Meninggalkan Babang dan Hadwan yang silih memberi kode: maklum mereka cewek. Gadis itu tadinya ingin mengambil tempat paling belakang, tapi Intan begitu semangat untuk menerobos kerumunan sampai mereka berada di tengah-tengah.
"Tan, di sini sempit!" protesnya kala banyak orang yang beberapa kali membuat dia terdorong ke depan, belakang, samping—huh, sempurna.
"Namanya juga lagi nonton. Ya wajar atuh."
"Di belakang lebih enak. Tinggi juga. Bara masih bisa kelihatan di sana."
"Tapi di sini lebih deket, Ar."
Intan kembali melihat ke panggung— di mana di sana ada Bara yang sedang main gitar, bersama teman duetnya si Daffa. Melihat Bara seolah melihat cahaya di tengah kegelapan. Lelaki itu bersinar dengan sendirinya, tanpa heboh atau genit pada perempuan di atas panggung itu.
"Katanya itu Dara, pacar baru Bara." Intan menunjuk perempuan yang berdiri mencolok di samping panggung, menghadap Bara. "Padahal dia kelihatan cocok sama Gani. Eh, ternyata cuma temenan. Sama Dara juga cocok, sih, sebenarnya."
Arisha hanya mengangguk beberapa kali. Dia tidak mau tahu tentang kehidupan laki-laki itu. Arisha hanya menyenangi lagunya yang puitis, itu saja. Terserah mereka mau bagaimanapun, toh itu kehidupan keduanya, bukan Arisha. Idola pun pasti punya kehidupan sendiri tanpa campur tangan fans atau per-shiperan, kan?
Intan kembali menarik senyum memuja, "Duh, kok Bara ganteng banget. Musisi Bandung yang ngebuat gue pengen terus di Bandung dia tuh tahu nggak!?"
"Terserah lo deh, Tan."
Hadwan dan Babang cukup sulit untuk menghampiri keduanya. Dan setelah berusaha lebih keras, akhirnya lelaki itu lebih duluan sampai di belakang Arisha selepas melihat pria yang dengan sengaja akan menabrak gadis itu.
"Hati-hati, dong, Mas," katanya sinis. Lalu, Hadwan berusaha melindungi Arisha saat begitunya banyak deretan manusia brutal yang bergerak ke mana-mana.
"Ar?"
Hadwan memanggil lumayan keras karena suaranya yang pasti akan teredam oleh suara bising di sana. Arisha hanya diam, meskipun sekali menengok pada Hadwan.
"Duh, ngambek lagi lo?"
Arisha berdeham lebih keras. Oke, dia memang terlalu jujur.
"Laporannya udah gue kasih ke Tegar tadi pagi." Hadwan mengacak rambutnya, "Tadi gue ... telat karena ...."
"Gue nggak butuh penjelasan lo, Wan."
Hadwan hanya berdecak. "Anida tadi pingsan. Di rumahnya cuma ada si Mbok. Supir mereka ikut keluarga dia ke Bali. Dan ART dia cuma tahu gue doang."
"Oh."
"Ngambek mulu. Cemburu, ya?"
Arisha mengangkat bahu tak acuh. Bilang saja kalau dia memang gampang marah. Dan apa katanya tadi? Cemburu? Haha. Arisha ingin sekali tertawa mendengarnya.
"Arisha tuh." Di salah satu kerumunan itu, Arian diapit oleh kedua temannya. Perkataan Zikri memang membuat dia menoleh penuh, tapi hanya sejenak. Berbeda dengan Jagat yang terdiam. "Pada kenapa, sih? Biasanya paling semangat, rebutan buat deketin dia."
"Gue nyerah," lirih Jagat kalah. Zikri tertawa karenanya. Jagat tidak akan bertahan lama saat mengejar perempuan yang terlalu sulit untuk digapai. "Dia udah kayak berlian. Sementara gue emas palsu. Dan saingan gue permata semua."
Arian menarik seulas senyum tipis. Sekali lagi, tatapannya fokus pada gadis itu yang terlihat sedang marah. Di belakangnya, Hadwan seperti tengah membujuknya. Arisha yang mendelik, menggembungkan pipi gemas, membuat Arian tidak kuasa menahan senyum geli. Dia ingin mendekat, tapi sadar posisi. Hal itu akan menjadi sebuah luka untuk mereka bertiga.
"Ar. Gue jadi merasa sendiri di tengah keramaian." Hadwan kembali membuka suara.
"Bodo amat."
"Masa gue harus nyerah dulu, biar lo balik lagi?" Hadwan menyentil kepalanya geram, membuat dia melotot tak terima. Gila si Hadwan. "Maaf. Asli, maaf. Iya, gue tahu gue salah. Gue nggak bisa on time orangnya."
"Balik lagi gimana? Gue emang udah kayak gini dari dulu, Wan!"
Hadwan saja yang tidak sadar, mungkin.
"Dan gue yang berubah jadi lebih parno kalau lo jadi pendiem kayak gini."
Arisha semakin membatu. Memangnya kenapa kalau dia jadi pendiam? Ada yang salah? Dia tidak tiba-tiba bisu, kok.
"Gue takut nggak punya tempat curhat lagi."