Salah Sangka

1603 Kata
Menonton beberapa penampilan tadi ternyata semakin membuat tenggorokan kering. Mereka berempat akhirnya memilih warung depan sekolah SMK 1 itu sebagai pelarian. Di depan mereka sudah tersaji es teh dingin dengan Cipak—katanya menu baru yang berasal dari Garut. "Keanehan lo apa lagi?" Hadwan sungguh merasa bingung dengan gaya makan Arisha. Biasanya, gadis itu suka aneh-aneh. Namun, sekarang tidak. Gadis itu makan dengan normal seperti manusia pada umumnya. Arisha hanya mengangkat bahu tak acuh sembari makan makanan pedas itu, "Nggak ada. Kenapa? Kangen sama campurnisasi makanan gue?" Hadwan mendelik, memainkan sedotan. "Ogah." "Shaaa." Arisha mendongak, tersenyum lebar setelahnya saat gadis dengan name tag yang mengalung dan kaos panitia itu mendekati meja mereka dengan sendirinya. "Halo, Kak. Lagi istirahat?" tanyanya sebagai formalitas. Manda mengangguk kecil seraya menarik senyum tipis. Hal itu membuat Hadwan menoleh, memperhatikan gadis itu meskipun tidak terpesona banget. Sebagai cowok, perlu dia akui kalau Manda ini sangat cantik. Rambutnya yang terikat sebagian menambah ke-feminiman gadis itu. "Gimana tadi acaranya? Seru?" "Seru banget, Kak. Kapan-kapan adakan lagi atuh, ya?" Intan menyerobot saat Manda bertanya. Manda hanya terkekeh membalasnya, mengangguk kecil lagi. Arisha hanya menggaruk kepala gatal sembari mengigit bibir bawahnya. "Ini Intan, Kak. Anaknya ... hehe, emang gitu." Lagi-lagi Manda tersenyum, merasa maklum. Anak kelasnya lebih-lebih dari Intan soalnya. "Babang bukan, sih?" Babang yang masih sibuk dengan makanannya itu mendongak penuh, padahal mulutnya masih penuh. Dia terdiam sejenak, merasa lupa. "Kita pernah ketemu di tempat les Arshi waktu itu. Sepupuan, kan?" Iya, les Arshi. Karena dia tidak ikut sama sekali. Manda ogah banget ikut yang seperti itu. Dulu, dia terlalu malas. Akhirnya lelaki itu mengangguk pelan. "Ah, iya, gue inget." Mereka memang pernah bertemu saat Babang menjemput kakak sepupunya itu. Lalu, Arshi mengenalkan dia pada Manda. Dulu bukannya Manda pakai kerudung, ya, saat bertemu dengannya? Pantas kalau dia lupa. "Oh, lo ternyata yang dimaksud Arisha." "Gue nggak mau dikenalin ... gitu?" tanya Hadwan sekalian protes. Hanya mereka berdua saja yang belum saling kenal. Lelaki itu terkekeh menyindir. Arisha menganga beberapa saat. Bukannya, Hadwan memang lagi suka, ya, sama Manda? Dia kira mereka memang sudah kenalan. "Kenalan aja sendiri!" katanya galak. Hadwan mendelik karenanya. Arisha tuh cemburu apa, ya, kalau dia sama perempuan lain? Bawaannya sensi mulu. Hadwan kan jadi semakin percaya diri jadinya. Lelaki itu beralih pada Manda, menampilkan sebuah senyum terbaik yang sama sekali tidak membuat Manda terpesona barang sejenak. Hadwan memang ganteng, sih, lebih dari ganteng malah. Namun, crush dia lebih oke tentunya. "Halo, Manda. Gue ... Hadwan. Panggil apa aja, asal jangan Wawan," kenalnya sembari menyodorkan tangan kanan yang lekas Manda jabat. "Kenapa?" Manda menaikkan satu alis. "Cuma orang yang lagi sakit dan pura-pura so kenal, yang panggil gue kayak gitu," bisik Hadwan. Namun, masih bisa dia dengar dengan jelas, lho. Mengingat kalau jarak Arisha itu di depan Hadwan, tidak jauh-jauh banget. Gadis itu menghela napas kemudian, menatap Hadwan tidak suka. Ya emang bener, sih, sebenarnya. Awal mereka marahan, dia langsung memanggil Hadwan dengan Wawan karena mendengar Intan yang bicara 'Wan'. Ya dia tidak salah, dong. Siapapun yang mendengarnya pasti langsung menjurus pada nama yang sekarang dia pakai untuk memanggil lelaki itu. "Oh, iya-iya. Gue Manda, salam kenal." Hadwan mengangguk kecil, masih melihat Manda intens sampai lupa kalau tangan mereka masih berpegangan. "Ehem!" Arisha berdeham beberapa kali. "Itu, tangannya jangan lama-lama. Takut ada setan lewat terus ketawa. Nanti lo jadi Bestie setannya, Wan, karena kebanyakan modus." "Dih, sirik mulu." Hadwan menarik tangannya, kemudian duduk kembali dengan senyum mengejek. "Panas, ya? Kipas anginnya kurang?" "Nggak, kok. Udah enak, dingin," sahut Intan lugu membuat Babang menyenggol lengannya, membuat Intan menoleh sembari mengangkat kedua alis. "Biarin aja mereka," bisik Babang mendekat yang Intan balas dengan anggukan dan senyum misterius. "Atau hati lo yang panas?" Hadwan melipat kedua tangan saat Arisha memicingkan mata tak bersahabat dengan rahang yang mengeras, "Perlu gue dinginin?" "Males!" balasnya sinis. Manda jadi agak bingung berada di situasi ini. "Sha, aku ke sana dulu." Akhirnya, Manda memilih pamit dan beranjak ke tempat pesanan saat Arisha bilang, "Iya, Kak. Sorry, jadi berantem." Tadi, Manda hanya membalasnya dengan kekehan dan anggukan maklum. "Lo, sih. Jadi jelek nih pasti gue di mata dia. Kapan jadiannya?" Mendengar itu, membuat Arisha melempar sedotan bekas ke wajah Hadwan. Dari mana jadi salah dia? Hadwan, kok, yang salah. Mohon maaf, dia masih termasuk dalam golongan wanita yang selalu ingin benar. "Balik, yuk. Gue capek ini." Babang menarik tangannya ke atas, sampai terdengar suara 'kretek'. Dia benar-benar pegal! "Gue bareng, ya, sama lo?" Tanpa membalas apapun lagi, Intan melipir ke depan dan duduk di motor Babang, pertanda kalau tidak mau ditolak. Babang mendengus karena gadis itu. Lalu, menyusul ke sana bersama Arisha yang kelimpungan. Terus dia pulang sama siapa kalau Intan dengan Babang? Angkot mungkin bisa jadi solusi, tinggal tanya sama bapaknya. Dan di sini lah Arisha sekarang, berdiri di tepi jalanan. Di sisi lain, Hadwan masih berusaha menghidupkan motor. Demi apapun, semoga motornya tidak mogok mendadak lagi. Itu, sungguh melelahkan untuknya. Beberapa kali dia mencoba—diselah dan distater—tapi masih belum nyala. s****n! Begitu menoleh, dia melihat Arisha yang celingukan bingung. Salah Arisha sendiri sebenarnya, kenapa tidak bawa motor? Saat berangkat tadi, dia nebeng dengan mobil si kembar sekalian berangkat sekolah. b**o! Arisha semakin gemar merutuki dirinya sendiri. "Bareng nggak?" Hadwan tiba-tiba berdiri di sampingnya, membuat dia menggeser badan. Begitu menoleh, lelaki itu memusatkan pandangan ke jalan raya. "Naik motor lo?" "Bareng-bareng dorong motor maksudnya. Motor gue nggak nyala." Arisha menendang kaki Hadwan geram. "Ogah! Gue capek." "Gue juga capek. Kayaknya minta tolong my enemy aja lah. Mumpung dia di sini." Curhat ceritanya? Arisha, sih, bodo amat mau Hadwan menghubungi siapapun. "Angkot arah rumah lo bukan sebelah sini. Nanti makin jauh. Lo mau muter ke sekolah kita dulu? Kalau gue, pasti nggak mau. Sampe rumah pasti magrib." Kok serem? Perasaan deket kalau naik mobil. "Lo bohong, kaaaan? Mau jebak gue, hah?" "Beda jalur, Arisan. Angkot itu lo kira taxi yang bisa belok di mana aja?" Arisha lagi-lagi hanya mendengus. Lalu, mengikuti Hadwan yang menyebrang jalan saat lelaki itu memaksanya. Berdiri di sebelah Hadwan sungguh tidak enak, karena dia jadinya insecure. Hadwan kok ternyata lebih tinggi dari dia!? Hadwan melambaikan tangan saat ada angkutan kuning yang berada beberapa radius dari mereka. Persiapan banget cowok satu ini. Saat ditanya, katanya biar supir angkotnya tidak mengerem mendadak, kasihan penumpang yang lain. "Duluan." Arisha menurut, duduk paling depan dekat pintu dengan Hadwan di depannya. Di dalam sana lumayan padat, membuat dia harus desak-desakan dengan ibu hamil di sampingnya. "Eh!" Tubuh Arisha terdorong ke depan saat angkot tiba-tiba berhenti. Untung tangannya dengan sigap memegang kursi dan berusaha menyeimbangkan diri supaya tidak limbung. Hadwan tiba-tiba keluar. Lho, kok, keluar? Dia pulangnya bagaimana!? Hadwan jahat emang. Lalu, satu kakek-kakek yang pakai baju batik masuk dan hendak duduk di kursi dekat pintu yang menghadap belakang seolah tidak takut jatuh. "Kek—" "Jangan di sana, Kek. Di situ aja." Tunggu, itu suara Hadwan. Saat dia melongokkan kepala karena penasaran, ternyata ... Hadwan tidak pulang membuat bibirnya tertarik sedikit. Setidaknya, ada yang mengarahkan dia untuk pulang. "Oh, ya udah. Makasih, yaa." Hadwan beralih duduk di tempat itu, menjadi lebih dekat dengannya. Duh, gimana kalau dia tiba-tiba nyungseb ke depan seperti di film-film? Oke, itu terlalu skenario banget. "Apa lihat-lihat?" Hadwan tersenyum miring. s**l! Kenapa dia ketahuan, sih!? "Nggak, mata lo picek kali." • Arisha tidak pernah menyangka kalau mereka akan pulang selarut ini. Mungkin, bagi Hadwan itu terlalu hiperbola karena waktu masih menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Ya namanya juga baru pertama kali, pulang malam tanpa Tio maupun Fatur. Jadi, masih wajar, bukan? Begitu turun dari angkutan umum itu, ternyata Hadwan mengikutinya dan berjalan bersama berdampingan. Sesekali dia menoleh, menelisik wajah yang tetap menatap lurus ke depan, tampangnya seolah tengah memikirkan hutang. Namun, Arisha tidak bisa bertanya lebih jauh. Biarkan Hadwan cerita dengan sendirinya. Gadis itu kembali menoleh ke depan. Keduanya terus terbungkam dalam sebuah sepi. Oh tidak-tidak. Tidak sepi. Barusan ada tukang nasi goreng baru langganannya yang lewat dan menawarkan dia, tapi Arisha tolak karena masih kenyang. Ngomong-ngomong, malam ini mendadak jadi sangat dingin. "Cemen banget lo. Segini doang kedinginan. Abis kepanasan, sih, tadi lihat gue sama Manda." Omongan Hadwan benar-benar membuat dia ingin menendangnya. Dan berakhir lah dengan tangan Arisha yang memukul lengan lelaki itu yang tertutup jaket navy. Terlihat kalau pemiliknya sangat menyukai warna gelap. Mengingat barang Hadwan yang lain pun, berwarna sama. "Kepedean." "Jangan gengsi." Hadwan melepaskan jaket, kemudian dengan cepat melemparnya pada muka Arisha. Kalau saja tidak langsung dia tangkap, sudah dipastikan kalau jaket itu akan langsung lepas landas ke jalan. "Jangan terus pura-pura baik aja di depan gue." "Emang lo siapa? Kenapa gue nggak boleh kayak gitu?" tanya Arisha memancing sembari memakai jaket lelaki itu yang kegedean. Bye the way, ternyata parfum Hadwan wangi. Arisha suka. "Karena mulai hari ini, kita resmi menjadi .... " "Apa?" "Musuh, tapi peduli." Arisha menahan tawa, sebelum akhirnya tergelak puas. Hal itu mengundang alis Hadwan untuk terangkat. Arisha kenapa coba? "Udah kayak film aja, tahu nggak!" "Ya emang. Kali aja kisah kita sama kayak skenario film?" "Males banget." Arisha mendelik, memasukkan tangannya ke saku jaket. Ternyata nyaman. "Tiap orang pasti punya skenarionya sendiri." "Dan skenario gue, tergantung skenario hidup lo." Maksud Hadwan apa? Dan perbincangan kecil itu masih menjadi sebuah misteri yang masih butuh Arisha pecahkan, sampai keduanya tiba di depan halaman rumah. "Makasih, udah nganterin." "Haha." Tunggu, kenapa Hadwan ketawa? Apa omongan dia barusan itu dianggap sebuah lelucon? "Gue emang mau nginep di rumah Babang," kata Hadwan tersenyum remeh. Lelaki itu melambaikan tangan sembari berjalan mundur memasuki pekarangan rumah sepupunya. Jadi, sedari awal nyeberang jalan tadi, Arisha sudah terlampau percaya diri gitu? Ternyata itu hanya spekulasi dia sendiri? Sungguh menjengkelkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN