Arisha sempat mengejar Arian, disusul oleh Intan yang kewalahan. Namun, dia kehilangan jejak. Saat dia mengecek di kelas lelaki itu pun, Arian tidak ada di sana. Perasaan Arisha semakin tidak bisa terkontrol. Kecurigaan dia pada Arian semakin melebihi kadar yang tak pernah dia duga sebelumnya. Ditambah, mengingat kalau Arshi tidak pernah mau dekat dengan laki-laki. Harusnya, Arshi lebih paham daripada dirinya.
Di foto yang lainnya pun, kebanyakan hanya ada Manda.
Kepala Arisha ingin pecah memikirkannya. Tidak mungkin kalau foto cetak di tangannya ini hasil editan, bukan?
"Duh, cepet banget, sih!" Intan menggerutu sembari mengatur napasnya yang tidak beraturan. Menoleh pada Arisha yang meremat sesuatu di tangannya dengan tatapan seperti sedang memikirkan soal limit, Intan mendengus. "Kak Arian nggak akan ngaku, deh, menurut gue. Dia mana mau mengakui lagi deket sama Arshi Arshi itu ke cewek dia sendiri."
"Duh, lo menyangka apaan antara gue sama dia!?" tanya Arisha jengah. Dia mulai berjalan menuju kelas dengan langkah cepat yang langsung Intan susul dengan decakan kesal. Arisha seperti ngajak lari marathon!
"Ya dari omongan yang gue denger tadi, kalian pacaran, frendzone, atau kakak adik bohongan, padahal lagi saling suka. Yang bener yang mana, geura."
Arisha tiba-tiba berhenti di tempat sepi depan lab olahraga.
"Nggak semuanya." Arisha menghela napas. "Arshi itu kakak gue."
"Hah? Ih, sorry. Yaaah, lo jadi sedih lagi?" Intan mulai ketar-ketir. Bibirnya melengking tidak tega. Gelengan dari Arisha tetap saja tidak membuat Intan merasa lega.
"Nggak. Gue hanya kepikiran doang." Arisha menatap Intan serius, merapatkan tubuhnya pada gadis itu. "Kemarin sore, gue nemu foto Kak Arian sama Kak Arshi di gudang. Gue curiga kalau Kak Arian pelakunya!"
Arisha menarik tubuhnya kembali saat telah bicara demikian. Intan mengangguk lembut mendengarnya. Tapi dia kurang setuju atas kecurigaan Arisha. Menurutnya, kurang masuk akal.
"Kakak lo kan bukan mati karena dibunuh, terus maksudnya apa? Kenapa lo harus curiga sama Cogannya gue, hah?"
Yang dipikirkan Intan terus saja cowok ganteng. Sepertinya, kalau Arian punya salah pun, dia akan tetap mendapatkan maaf.
"Gue takut kalau Kak Arian itu ... aib, ah, Tan."
"Ya udah, sih, jangan cerita." Intan mengusap lengan Arisha beberapa kali. "Mending nanti lo ke kelasnya lagi, gue temenin. Mau?"
Arisha langsung menerbitkan senyum lebar, mengangguk kecil kemudian.
"Misi, air panaaas!"
"Eh, Dodol!"
Arisha meloncat ke belakang saat merasa tubuhnya tersingkirkan paksa oleh seseorang. Melihat pelaku yang seenaknya ingin lewat, tatapan matanya berubah jadi sinis.
Jalanan di sini lebar, lho. Di belakangnya masih ada ruang.
"Heh, Wawan. Sekaliii aja, nggak nyari masalah sama gue bisa nggak, sih, huh!?" tanya Arisha emosi. Sementara Intan mulai butuh obat paracetamol. Agaknya, perang kedua akan dimulai lagi. "Di belakang gue masih ada jalan yang lebaaaar banget."
Hadwan pura-pura tidak tahu kalau ada yang bicara padanya. Lelaki itu memajukan kepalanya sedikit.
"Jalan di belakang lo itu keramik yang udah bersih. Berhubung gue itu anak yang menjunjung kebersihan dan duta Adiwiyata di sekolah, gue nggak mau mengotori lantai itu." Hadwan menarik kepalanya kembali, memasukkan kedua tangan ke dua saku celana.
Mendengarnya saja membuat Arisha langsung mual.
"LO!"
"Ah, lo mana paham, sih. Anak tukang rebahan kayak gini, mana tahu tentang sistem Adiwiyata di sini."
"Mulut lo kayak cewek, ya, kalau udah nyinyir. Huh, ciri-ciri cowok yang suka ghibah gini, nih!" Arisha mengacungkan telunjuknya beberapa kali yang mengarah pada Hadwan. Satu tangannya lagi bertengger manis di pinggang.
"Lo yang suka ghibah. Namanya cewek!"
"Dih, lo kali. Mulut cewek dasar!"
Hadwan sengaja memajukan tubuhnya, semakin membuat Arisha bergerak mundur. Dia menodong Hadwan dengan pulpen cair dengan ujungnya yang tajam.
"Sekalinya lo mendekat lagi, ujung pulpen ini bakal nancap di mata lo!" Arisha semakin menatap Hadwan kesal.
"Calon-calon cewek yang suka nyakitin gue!"
"Dih. Gaje, lo!"
Arisha mendelik. Daripada darahnya bisa naik ke angka seratus delapan puluh, dia menarik tangan Intan yang dari tadi diam untuk lekas pergi.
"Pengen gue ceburin ke selokan aja tuh, si Hadwan!" sungut Arisha saat mereka berjalan bersisian dengan tungkai tidak santai.
"Sip. Nanti gue bantu. Tinggal rencanain aja mau selokan di mana!"
"Heh, Arisan!"
Bodoamat, Arisha tidak dengar. Mau berulang kali Hadwan memanggilnya, dia tidak akan menoleh.
"Hey!"
Hadwan menyusul, berjalan cepat di belakang Arisha. Untung ke sepuluh kalinya, dia berucap hey. Sebelum melangkah ke lorong anak IPA, dengan lelah, Arisha membalikkan badan.
"Hey, Tayo!"
Iiiih. Hadwan sangat menyebalkan!
Tersenyum merasa menang, Hadwan berlari menuju lorong anak IPS.
"Dih, si Lani!"
"Hadwan nggak akan berhenti jailin lo, deh, Ar. Percaya sama gue." Mendengar ucapan Intan barusan, Arisha merengek. Dia tidak mau berurusan lagi dengan pria bernama Hadwan!
"Intaaaaan."
"Gue nggak mau nolooong. Papaaaay." Intan berlari ke kelas. Meninggalkan Arisha yang mencak-mencak tidak jelas.
•••
Bel pulang sekolah membelah setiap anak kelas ke beberapa tempat. Mereka bagai popcorn yang mendesak segera jadi, meletup-letup di wajan hingga menimbulkan keributan. Sudah beberapa kali Arisha harus terjebak di lorong ini. Semuanya padat! Gerbang sekolah yang telat dibuka menjadi pemicu macetnya setiap jalan di dalam sekolahnya.
Mau keluar dari keramaian pun sangat susah.
"Demo lah, demo. Bel udah bunyi dari tadi!" Fikri, teman satu kelasnya yang berdiri di depan Arisha itu paling semangat masalah protes ke guru ataupun satpam. Dia sempat mendengar beberapa dari mereka mengumpat kesal.
"Keluarnya susah, b**o! Mau demo di mana!? Di sini? Nggak akan ada yang denger," kata Upi—si lelaki kurus yang bersandar pada tiang di seberang Fikri.
"Kenapa bisa telat gini lagi, sih? Udah tahu kalau anak SMA kita itu pada bar-bar kalau telat buka gerbang." Ucapan Novi dari belakang Arisha membuat dia mengernyit.
"Udah sering gini?"
Ela mengangguk semangat. "Iya. Makanya anak-anak pasti demo tuh di depan. Huh, gue jadi pengen nonton. Cepetan dong maju."
"Ya elah, lo mah. Kalau bisa maju, berarti nggak ada lagi yang demo!" jawab Intan menggetok kepala Ela geram. Gadis itu merengut setelah mencebik.
"Kayaknya dia pasti pulang kalau kita udah keluar." Arisha mulai merasa ketar-ketir.
"Nggak. Percaya, deh, sama gue. Dia juga pasti kejebak di lorong, Ar."
"Iya, sih."
"Dia siapaaa?" Novi memanjangkan lehernya agar bisa mendengar ucapan mereka berdua. "Lo nunggu siapa?"
Arisha menatap Intan sekilas. Novi ini sangat kepo!
"Doi!" celetuk Intan tanpa berpikir panjang.
"Ih, siapaaaa? Arian?" tanya Ela sumringah. Memangnya apa manfaat bagi mereka kalau dia dekat dengan Arian?
"Apa, siiiih?" Arihsa mendelik jengah. Kentara sekali kalau dia sudah risi dengan memalingkan wajah. Namun, Novi dan Ela semakin gencar menggoda sampai kerumunan pun perlahan tak sesak lagi.
Arisha buru-buru berlari ke area kelas XII yang kosong. Terlihat kalau mereka lebih memilih duduk lebih dulu di dalam kelas. Pintar juga. Kenapa tadi dia tidak seperti itu saja, sih?
Arisha mengetuk pintu. Dia mengedarkan pandangan dengan senyum yang belum luntur. Mencari Arian di dalam kelas itu sangat susah. Atau memang Arian tidak ada di kelasnya.
"Kak Arian ada?" Intan yang mewakili.
"Arian udah pulang dari istirahat kedua."
Pupus sudah asa Arisha.
•••
Arisha mengaduk jusnya tidak nyaman. Sesekali matanya melirik ke jalan depan alun-alun yang lumayan ramai. Terisi dengan anak sekolah yang jalan kaki maupun kendaraan yang hilir mudik tanpa henti.
"Gue masih penasaran banget, asli."
Intan yang lagi makan Cappuccino Cincau kesukaannya itu pun menggigit sedotan dengan garis hijau tersebut. "Kalau lo nekan dia pada hari yang sama, kemungkinan besar kalau Kak Arian nggak bakal ngaku kenal sama Arshi atau nggak."
"Tapi gue ... duuuuh, jadi Gegana, nih, gue!"
Intan mencebik. "Lagak lo kayak orang lagi ngadapin pacar selingkuh tahu, nggak, sih?"
"Ih, amit-amit!"
"Tapi, sih, menurut gue—Arian nggak bakal mau ngaku. Kecuali lo cari tahu sendiri lagi tentang hubungan mereka berdua."
"Kayaknya kita perlu stalk kehidupan Arian!" tegas Arian bersungut-sungut.
Dia menyeruput jus mangga sampai menyapa tenggorokan dengan lembut. Matanya melebar saat mendapati Babang dan Hadwan yang berjalan memasuki pintu alun-alun. Dia langsung menunduk, menghalangi wajahnya dengan sebelah tangan. Seolah kalau Hadwan melihatnya, hidup Arisha akan hancur.
"Lo kenapa dah?" tanya Intan bingung saat mendapati kelakuan Arisha yang suka abnormal.
"Ada tukang maling ketenangan orang." Arista berbisik.
"Siapa?"
"Si Wawan."
Eh, tunggu sebentar. Kenapa bukan suara Intan yang barusan bertanya? Tentu ini sangat jelas kalau suara laki-laki.
Dengan ragu, Arisha menurunkan tangannya. Tubuhnya terasa tersengat listrik saat melihat Hadwan yang berdiri di samping meja mereka. Kenapa dia harus ke sini!? Warung di alun-alun tuh banyak padahal. Sangat apik sekali dalam merebut ketenangan Arisha.
"Oh, si Wawan." Hadwan bersedekap d**a seraya menatap Arisha tajam. Gadis itu tidak berkutik sama sekali. Sangat mirip dengan patung manekin yang sering dia temui di perempatan jalan kota. "Padahal, maksud si Wawan ini nggak gitu."
"Apa?"
Barulah Arisha bertanya.
"Wawan cuma mau deket sama lo!" kata Babang terkekeh sembari duduk di samping Arisha. Merebut gelasnya, dan minum jus Arisha dengan sedotan baru yang tersedia di atas meja.
Arisha tersenyum angkuh. "Lo suka sama gue!? Ya ampun, Wawan. Bilang dong dari dulu. Kalau gue tahu dari awal .... "
Arisha sengaja menggantungkan ucapannya. Sementara Hadwan lekas menatap dengan penuh tuntutan.
"Lo bakal apa? Mau terima gue? Atau mau semakin cari perhatian sama gue!?"
Bibirnya tersungging miring. "Gue bakal diem lah, terus pergi deh dari EC. Gue nggak akan berurusan sama lo."
"Dan sayangnya, semua ini cuma halu doang. Mana ada gue suka sama lo." Hadwan bergidik, menyuruh Intan untuk geser sampai duduk di hadapan Babang.
"Siapa, ya, yang mau keluar tiba-tiba karena kesinggung? Baperan banget."
Untuk masalah itu, Arisha masih sensitif. Dia masih sangat malu atas kelakuannya sendiri. Kenapa tidak bisa mengontrol emosi dengan baik. Gadis itu membawa tas, menatap Hadwan tajam.
"Eh, mau ke mana, lo?" tanya Hadwan membuat Intan dan Babang yang semula mengobrol pun menoleh pada Arisha yang berdiri dengan muka tanpa ekspresi.
"Pulang." Arisha menjawab dingin. Melangkah pergi, seiring dengan Hadwan yang mengatakan kalau dia sangat bawa perasaan. Disusul oleh Intan yang langsung marah pada lelaki itu, kemudian berlari menyusul Arisha.
"Kalau udah kayak gini, dia beneran marah, Wan!"
"Hah? Serius lo? Jangan nakutin gue!"
Dan entah kenapa, Hadwan jadi cemas sendirian.