Foto Itu

1707 Kata
"Bu, perasaan waktu itu aku lihat ada kardus, deh. Di mana, ya?" Arisha menuruni anak tangga dengan gelisah. Dia baru ingat kalau besok harus membawa kardus lumayan besar untuk Prakarya. Salah dia sendiri, kenapa tidak mencarinya dari minggu yang lalu. Ini yang selalu dia benci kalau menunda pekerjaan. Lastri yang memangku toples berisi kue gajah itu berpikir sejenak, tanpa memalingkan tatapan dari televisi yang menayangkan film Utaran. "Di gudang, coba cari. Ibu lupa juga, Sha," jawabnya ragu. Kemarin, dia sempat menyuruh ART untuk membuang tumpukan kardus. Itupun hanya seingatnya. Dengan langkah lebar, Arisha membuka gudang di ruangan paling belakang. Ternyata tidak dikunci. Cukup susah untuk menemukan stop kontak saat ruangan dalam keadaan sangat gelap seperti ini. Beberapa kali kakinya harus menubruk beberapa barang. Saat lampu tengah menyala, Arisha mengerjap beberapa kali, menyesuaikan cahaya. Tatapannya meliar ke semua penjuru ruangan. Banyak tumpukan kardus kecil di sebelah kanan, kardus besar di sebelah kiri, foto pernikahan lumayan besar yang potong di sebelah sudutnya, dan barang tidak terpakai lain yang tertata rapi. Arisha asal mengambil kardus lumayan besar paling depan. Namun, sepertinya dia harus bawa kotak yang telah jadi untuk jaga-jaga kalau gagal. "Ada isinya?" gumamnya saat mengangkat sebuah kotak panjang lumayan besar berwarna merah muda. Dengan ujung penasaran yang semakin membuncah, dibukanya kotak itu. Dua alis Arisha langsung naik saat melihat beberapa gambar yang disatukan memanjang di sana. Foto Arshi yang pertama kali dia temui membuat tangannya gemetar. Sesak masih mendominasi ruang dalam tubuh Arisha. Melihat foto selanjutnya, mata gadis itu membeliak. Dia sampai menunduk sangat dalam untuk melihat jelas kembali foto tersebut. Takut kalau dirinya salah lihat. Mencoba mengingat bentuk tubuh orang yang baru-baru ini dia temui, kepala Arisha terasa ingin pecah. Wajah mereka sangat mirip. Atau lelaki dalam foto itu memanglah pria itu. Yang Arisha tangkap setelah melihat semua foto yang berada di kotak, Arshi sedang dekat dengan orang tadi. Mereka kerap berfoto dengan latar yang berbeda-beda. Meskipun berjauhan, sesekali berpose layaknya orang pacaran. Apa selama ini Arshi menyembunyikan hubungan ini? Dan testpack yang dia temui, apakah benar milik kakaknya? Begitu banyak pikiran yang Arisha rangkai dari diri sendiri setelah menemukan beberapa barang yang seolah membuka celah ke jalan selanjutnya. Dia harus mencari bukti lebih serius lagi. Ah, ya! Bisa saja lelaki itu yang melakukannya, bukan? Kalaupun tidak, dia pasti memiliki keterangan lain yang bisa menguntungkan Arisha. Arisha harus bertemu dengannya besok! "Udah?" Lastri berdiri di ambang pintu masuk gudang, membuat dia buru-buru memasukan kembali foto dan menutup kotak. Gadis itu lekas menoleh, mengangguk seraya tersenyum tipis. "Ada Babang, tuh, di depan." "Hah? Ngapain?" tanyanya bingung seraya berdiri membawa kotak hitam tadi dan satu kardus. "Nggak tahu. Kamu samperin, gih. Ibu nggak paham sama omongan dia." Mendengar Lastri kesal, Arisha terkekeh pelan. Kemudian, menghampiri Babang di teras rumah setelah menyimpan barang di kamarnya. "Ada apa, sih?" Arisha duduk di seberang lelaki itu. Dengan muka melasnya, Babang menoleh. "Gue lupa belum ngerjain tugas kimia. Besok dikumpul, langsung diperiksa, gue nggak ngerti." Bau-bau ingin mencontek. "Lalu?" Arisha memiringkan kepalanya sedikit. "Martabak depan enak, lho!" Arisha menghela napas. "Maksudnya apa? Kimia, tugas, martabak, apaan?" "Gak peka lo, ah." Dih, malah dia yang disalahkan. "Ar." Babang memanggilnya beberapa kali. Dan ucapan Babang selanjutnya membuat dia memegang kening pusing. Ternyata, Babang pengen nyontek. "Iya, nanti gue send fotonya." Daripada dia tolak? Bingung juga, sih, sebenarnya. Senyum Babang langsung merekah. Dia berjingkrak layaknya anak kecil saat mendapati hujan. "Aaa, makasih, Sayaaang." "Hm," jawab Arisha malas. Lelaki itu hanya tertawa sembari berlari memasuki area rumahnya. Sebelum Babang masuk ke rumah, gadis itu berteriak, "DITUNGGU MARTABAK COKELAT-NYA." Meskipun dia sangat yakin kalau omongannya tidak akan didengar oleh tetangganya dari kecil itu. ••• Arisha menarik napas terus-menerus saat guru Kimia menjelaskan pembahasan soal hari ini. Sesekali dia melirik cemas keluar kelas. Intan yang tersadar akan gelagat aneh Arisha pun menyenggol lengannya, membuat gadis itu memejamkan mata, kemudian menoleh yang langsung mendapati bisikan dari Intan. "Kenapa?" "Pengen ke kantin," jawabnya jujur. Harusnya, waktu istirahat sudah dimulai dari sepuluh menit yang lalu. Namun, Bu Hetty seolah tak peduli atau tidak sadar. Dia tidak tahu. Demi apapun, perutnya sudah minta makaroni telur dari tadi. Dan kenapa pula, tidak ada yang berani untuk menegur beliau kalau waktunya sudah habis. "Jadi, harusnya jawabannya itu D, ya." Bu Hetty berbalik setelah menulis di papan. "Kalian sudah tahu Ar Ag itu, bukan? Di buku pun ada, lho. Kenapa masih bisa salah, hm?" Tidak ada pilihan lain. Mau Bu Hetty menjelaskan dari biloks sampai reaksinya pun, tidak akan masuk ke otak kalau dia lagi lapar. Arisha mengangkat tangan. "Ya? Kenapa?" "Maaf, Bu. Waktunya sudah habis," kata Arisha berani. Daripada dia mati kelaparan di sini. Anak kelasnya langsung menatap Arisha bersyukur. Akhirnya ada yang menyelamatkan mereka dari masalah hari ini. Arisha adalah super hero untuk masalah perut. "Oh, sudah habis. Istirahat harusnya, ya?" Semua anak kelas menjawab iya dengan sangat keras membuat Bu Hetty terkekeh, agak merasa bersalah. "Maaf, ibu nggak sadar bel. Nggak papa lah, ya. Cuma beberapa menit ini aja." Cuma? Lima belas itu cuma? Bagaimana benarnya guru saja lah, Arisha nurut. Semuanya hanya tersenyum terpaksa. Dalam hatinya sudah sangat kesal pada guru satu ini, yang suka makan waktu istirahat. Waktu mereka tinggal lima belas menit lagi. Oke lah, lumayan untuk jajan makaroni. Tapi tidak bisa beli nasi. Bu Hetty menyuruh mereka istirahat, lalu beranjak dari kelas. Sontak helaan napas keluar dari semuanya dan melayangkan banyak terima kasih pada Arisha beberapa kali. Mereka terburu-buru pergi ke kantin, sampai berlari dan silih bertabrakan. "Ke si Mpok, yuk. Pengen Maklor nih, gue. Sekalian ada perlu ke kelas lain." Intan yang masih memasukkan buku ke dalam tas menyahut, "Hayu aja." Keduanya mulai berjalan menuju kelas dua belas. Si Mpok Romlah—pedagang keliling khusus di dalam sekolah—memang suka diam di taman bawah pohon depan kelas XII IPA 1. "Sebenarnya lo mau ke siapa, sih?" tanya Intan setelah mereka memesan makanan: dua makaroni telur dan satu air mineral. "Ada lah. Nanti lo tahu." Intan mendengus. "So misterius aja lo." Arisha hanya mengangkat kedua alis, kemudian mengambil pesanan mereka. "Makasih, Mpok. Duluaan." Ibu-ibu yang memakai baju panjang bunga-bunga di di depannya itu menarik senyum tipis sembari menjawab mangga. Dia menyuruh Intan untuk memegang kantung plastik itu saat tangan Arisha tiba-tiba kesemutan. "Tangan gue terlalu manis kayaknya." "Lo kasih gula kali tadi pagi," komentar Intan. "Gue aja yang manis orangnya." Jiwa narsis Hadwan sepertinya sudah menular pada Arisha. Itulah yang langsung terlintas dari pikiran Intan untuk saat ini. Saat Arisha menaiki tangga pendek ke dua belas IPA 1, wajah Intan langsung bingung. Memangnya Arisha punya kenalan kakak kelas? Oh, atau lelaki waktu itu adalah tetangga Arisha, mungkin? Satu lagi pikiran Intan. Ini kan kelasnya Arian. Jangan-jangan mereka serius punya hubungan lebih? Dari awal pun, Arisha sudah terlihat dekat dengan Arian. Padahal, hanya kelihatannya. Nyatanya, mereka hanyalah dua orang asing yang dipertemukan lagi oleh kenyataan yang membingungkan. "Jangan bilang lo mau ke Kak Arian!?" tanya Intan histeris tertahan. Dengan santainya Arisha menjawab, "Emang iya. Gue lagi ada perlu sama dia." "Perlu atau perluuu?" Intan tersenyum menggoda. Arisha mencebik. Pikiran Intan pasti sudah kotor dengan: Arisha pasti suka dengan Arian. Dari semalam, dia memang telah memikirkan semuanya dengan matang. Hingga berani untuk datang kemari, tentu bukan tanpa alasan. "Permisi." Arisha melongokkan kepalanya sedikit ke kelas lelaki itu. Dia langsung mendapati kelas yang rusuh. Sangat jauh terbalik dengan kelas IPA pada umumnya. "Cari siapa, Dek?" teriak perempuan di ujung kursi depan Arian. "Cari Kak Arian, Kak," jawab Intan dengan lantang membuat semua penghuni kelas itu menoleh ke arah mereka. Dia langsung melayangkan tatapan tajam pada Intan. Namun, gadis itu malah tersenyum puas. Arian yang merasakan namanya disebut pun mendongak bingung. Tadi, dia sedang mencari beberapa turnamen dan lomba di i********: dengan sangat serius. Namun, tiba-tiba fokusnya langsung buyar hanya karena namanya terpanggil. "Dicari dedek gemes tuh, Yan!" teriak pria berkacamata yang duduk di seberang lelaki itu. Dengan wajah dinginnya, Arian berdeham dan melangkah mendekati Arisha. Aura dingin Arian memang cukup kuat sampai bisa menusuk kulit Arisha saat Arian berada di depannya langsung. Dia lekas mundur beberapa senti. "Boleh bicara sebentar di taman BO 2 nggak?" Sekarang dia sudah mulai tahu setiap singkatan tempat di sekolah ini. Iya, dari Hadwan. Meskipun meresahkan, lelaki itu bisa memperkenalkan setiap tempat dengan benar. Ada untungnya juga, sekolahnya mempunyai banyak taman. Hampir di semua sudut sekolah pun ada. Dan di semua depan kelas pun, taman semuanya, meskipun dalam area kecil. "Boleh," jawabnya singkat tanpa ekspresi. Intan menelan saliva, melirik Arisha. Kenapa dia bisa betah untuk bicara lama dengan Arian? Sungguh sangat terlihat jelas bagi Intan, kalau keduanya cocok. Sampai di taman, Intan memberikan privasi lebih besar. Dia duduk di teras ruangan kesenian, sedangkan Arisha dan Arian bicara di dekat bougenville 2. Intan masih bisa melihat interaksi keduanya dengan jelas. Suaranya pun sebenarnya masih terdengar jelas juga. Tidak ada fungsinya kalau dia duduk di sini. Padahal, Arisha pun tidak menyuruh Intan untuk menjauh. "Kakak kenal Arshi?" Satu pertanyaan langsung melayang dari Arisha. Dia menatap Arian dengan serius, meskipun lelaki itu enggan melihatnya. "Nggak," jawabnya semakin dingin. Aura di sini semakin tidak enak, menurut Intan itu pun. "Aku tahu kakak bohong. Aku kira, kakak orang yang jujur, lho." Rahang Arian mengeras. Dia menatap tajam Arisha. Namun, detik selanjutnya, tatapannya melunak. Arian hanya bisa mengepalkan tangan sebagai pelampiasan. "Gue nggak kenal." "Kakak bohong!" Tatapan Arisha semakin tajam. Dengan kelakuan Arian seperti ini, dia semakin yakin kalau Arian dan Arshi itu ada apa-apa. "Gue emang nggak kenal!" Arian semakin menjawab dengan tegas. Jawabannya sangat meyakinkan. Namun, tidak untuk Arisha. Dan Intan sangat ingin menarik tangan sahabatnya itu untuk pergi menjauh sebelum Arian murka. Namun, Intan tidak berani. Dia semakin menyangka kalau Arisha lagi cemburu pada yang namanya Arshi. Arisha tidak akan sampai berkaca-kaca menanyakan perempuan lain pada Arian, kalau mereka cuma berhubungan adik dan kakak kelas saja, bukan? "Ini? Masih bisa ngelak? Sebenarnya di antara kalian tuh ada apa?" Fix, Intan semakin yakin kalau mereka punya hubungan lebih. Pacaran, misalnya. "Aku nggak akan curiga kalau kakak nggak bersikap kayak gini!" Arian tidak bisa menjawab. Dia mulai menatap takut foto yang Arisha tunjukkan. Gadis itu semakin bingung. Kenapa tatapan Arian langsung berubah sendu? "Terserah lo." Tanpa berkata apapun lagi, Arian berlari sekuat mungkin menaiki anak tangga jalan pintas. Arisha terdiam beberapa saat. Ah, Arian tidak bisa diajak kerja sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN