"Makasih."

1515 Kata
Tepat sebelum keluar kamar mandi, Arisha berhenti sejenak di ambang pintu. Tangan kanannya memegang pel-an, sedangkan tangan satunya lagi memegang ember yang lumayan berat. Di tangga menuju kamar mandi, Hadwan ikut terpaku. Keduanya menjadi sama-sama kaku, entah karena apa. "Ar?" Arisha hanya berdeham malas dengan kepala menunduk. Kemudian, berjalan ke ujung luar kamar mandi itu, sendiri. Sementara Intan masih ada di dalam, membersihkan kaca. Dan anggota lainnya berada di kamar mandi kelas sepuluh. Perlahan, Hadwan menuruni anak tangga. Tiba-tiba ikut membersihkan lantai di samping Arisha. Gadis itu lekas menoleh, merasa kaget. Memang Hadwan sudah selesai membersihkan kamar mandi lainnya? Kenapa harus di sini, sih? Lebih baik dia sendirian sekalian. Lagipula, dia sudah sering membersihkan rumah. Dan sebenarnya, dia masih malu saat mengingat bahwa dia membela Hadwan mati-matian. Namun, tentu bukan karena Hadwan alasannya. Demi ekskul mereka, mungkin. Kejadian saat di SMP dulu membuat Arisha semakin waspada. Itu saja. Meskipun masih dilanjutkan dengan sebuah ragu yang hinggap. "Berhubung, gue anaknya sangat tahu diri banget. Jadi, .... " Hadwan sengaja menjeda ucapannya. Dia kira Arisha akan berhenti dulu membersihkan lantai, tetapi malah tetap berlanjut tanpa mau mendengarkan. "Awas! Kalau nggak niat, nggak usah bantu, deh!" Arisha mendorong pel tepat ke sepatu Hadwan. Lelaki itu mendengus, mundur beberapa langkah. Membuat dia dengan leluasa bisa bekerja. Baru juga akur beberapa jam, besoknya langsung bikin darah tinggi lagi. "Gue mau ngomong, Arisan. Dengerin dulu!" Masih sibuk bekerja, Arisha berdeham keras. Hadwan geram. Dia langsung merebut alat pel dorong itu, tetapi hanya sebatas niat. Nyatanya, tidak bisa. Tenaga Arisha lebih besar. Bukannya bisa merebut alat kerjanya, malah Hadwan yang tersungkur ke rumput. "Tenaga kuda!" cibir Hadwan seraya berdiri dan menepuk celana putihnya. "Bodo amat." Arisha semakin mempercepat tempo kerja. "Kalau mau ngomong, ya ngomong aja. Gue nggak b***k. Lo ngomong di situ aja, mau nggak mau udah gue dengerin." Hadwan hanya bisa mendelik. Tenggorokan dia keburu seret. "Pertama-tama, gue ucapin makasih banget sama yang di atas, anggota EC—" "Lama!" Arisha berdecak. Tubuhnya menegak, melempar alat pel ke tubuh Hadwan. Untung dia bisa menangkapnya dengan gesit. Lihatlah, wanita satu ini tidak mencerminkan wanita sama sekali. "Kayak pembukaan lomba aja, lo." "Durhaka, lo, sama mereka." "Terserah," katanya malas. Langkah Arisha membawanya ingin masuk ke dalam, tetapi Hadwan langsung menghadang, tepat di depannya langsung. Lagi-lagi, hanya helaan napas yang bisa Arisha jadikan pelampiasan. Kalau memukul Hadwan, ini masih jam sekolah. Dia bisa dibawa ke BK. "Apa lagi, sih, Wawan!? Gue mau bantuin si Intan." Arisha mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya. Bukannya lekas bicara saat mendapati Arisha kesal, Hadwan malah melamun. Niat orang ini apa, sebenarnya? Arisha melirik jam tangan. "Kurang lebih udah lima menit, lo diem terus." Arisha kembali menurunkan satu tangannya, "lo buang waktu gue. Jam terakhir masih ada kelas Kimia, ck! Mau—" "Makasih." Tunggu. Apa Arisha tidak salah dengar? "Hah? Apa?" "MAKASIH, ARISAN." Hadwan berteriak sembari tertawa lebar. Dia gila, kali, ya!? "Diem lo, ah! Berisik!" Arisha mendelik, menyuruh Hadwan untuk menyingkir. Dia tidak mau pergi kalau Arisha belum jawab. "Apa lagi, sih?" tanya Arisha jengkel. Dia ingin sekali menyeret Hadwan ke kelas. Lebih baik dia belajar aja tuh di sana. Tak apa, jangan menjalankan hukuman. Sangsi Hadwan sudah berat. "Lo kenapa harus bantu gue?" Arisha mendongak. Tersenyum miring. "Ya karena lo manusia." "Gue nggak paham." "Otak lo harus dipanasin dulu. Pergi sana, gih. Istirahat ke kantin. Beli minum apa gitu. Terus, kalau bisa, jangan balik lagi. Lo diem aja di sana." Tiba-tiba, Hadwan kembali tertawa. Arisha langsung mengernyit. Hadwan langsung kena mental sepertinya saat dicabut hak. "Acie. Udah mulai perhatian sama gue." Hadwan menghela napas seolah memiliki beban berat. Dia memegang jidatnya. "Duh, lo jangan baper sama gue mendingan." "Baper? Boro-boro sama lo. Dia nggak pernah baper sama cowok." Tentu bukan Arisha yang menjelaskan barusan. Dia menoleh pada Babang, Ikhwan, dan deretan anggota lainnya yang menyusul ke sini. Yang bicara tadi adalah Babang. Dia sudah sangat tahu perasaan Arisha. "Hati lo mati?" Mendengar pertanyaan Hadwan yang pura-pura polos, satu ember kosong yang Babang bawa langsung masuk ke kepala lelaki itu. "Adeuh, salah tingkah," katanya menggema. Hadwan menarik ember bersih tersebut, meskipun ada beberapa tetes air yang turun ke bajunya. "Sebenarnya, dia bukannya nggak baper. Dia cuma malu doang kalau harus ngomong sama gue." "Dih, amit-amit." Arisha bergidik. "Amor katanya!" "Fix, telinga lo b***k!" Arisha mendelik, kembali menyuruh Hadwan untuk segera keluar. "Eh, awas atuh." Intan yang masih terjebak oleh Hadwan pun mendorong lelaki itu agar pergi. Meskipun dia sadar kalau tenaganya tidak sekuat pria. Hadwan maju, membuat Arisha mundur. Kalau dengan Intan, baru mau. Sungguh menyebalkan. Ini sangat tidak adil. "Belum beres, kan?" tanya Khansa. Intan mengangguk. Boro-boro beres. Dari tadi, dia tidak bisa membersihkan kamar mandi setengahnya saja. Kamar mandi ini terlalu luas untuk dibersihkan berdua. Meskipun lantainya tidak terlalu kotor, wc yang jadi masalah. Ditambah kaca yang banyak ramat. "Belum. Kalian mau apa ini teh ke sini? Yang lain udah beres?" Intan bertanya linglung. Sesekali mengusap keningnya yang bercucuran keringat. "Dari tadi udah, Beb." Babang membalas sembari berjalan masuk ke dalam. "Kita mau kerjain bareng-bareng!" tegas Sherly tersenyum. "Oke, tapi itu tolong lah sepatunya. Lantai depan udah gue bersihin. Udah kinclong gitu. Jadi kotor lagi, heh!" Arisha memberengut. Bukannya merasa bersalah, mereka malah tertawa. Sungguh tidak ada beban sama sekali. Dikira tidak lelah apa!? "Nanti kita bersihin lagi." Dia akan pegang ucapan Rani. Kalau mereka bohong, dia mau kabur. Mereka langsung masuk ke dalam. Membersihkan setiap celah kamar mandi tanpa terlewat. "Ih, Wawan, Bambang! Jangan main air, bisa nggak, sih? Di kota lain, nyari air itu susah." Arisha, bagai ibu yang memperingati anaknya. Namun, Hadwan dan Babang semakin memutar keran lebih besar. Membuat lantai sangat basah. Dan itu lah maksud mereka. Keduanya langsung membuka celana sekolah dan baju seragam. Menjadikan lantai itu perosotan air. "The real of nggak mau modal, tapi pengen holiday," ucap Ikhwan menyindir. Sementara gadis dengan kerudung putih sampai sepinggang itu menghela napas. "Ya Allah, kenapa temanku berbeda!?" jeritnya tertahan sambil melangkah hati-hati ke arah kaca besar depan wastafel. Bruk! "AW!" Sial. Pantatnya langsung menyapa lantai tidak bersahabat. Sakit, sungguh. Rok dia pasti basah setelah ini. Huwaaa, Arisha pengen pulang saja kalau seperti ini ceritanya. Pergerakan mereka langsung terhenti, menatap Arisha dengan muka ngilu. Berbeda dengan Hadwan yang terkekeh beberapa kali. Lelaki itu paling senang memang, kalau melihat dia kesusahan. "Awas, Yang, jatoh." Babang memberikan peringatan yang amat telat. Sungguh tidak berguna sama sekali. Yang ada, malah membuat darahnya semakin meninggi. "Arisan," panggil Hadwan membuat gadis itu menoleh sinis. "Mau gue bantu bangun nggak?" "NGGAK PERLU. TANGAN LO MASIH HARAM." Arisha menerima uluran tangan Intan sedetik kemudian. Dia menoleh, melihat roknya yang beneran sangat basah. Dia seperti habis mandi! "Berarti bakal halal, ya?" celetuk Khansa, padahal lagi sibuk menyikat WC. "Kalau halal, berarti kita nikah? Mau banget lo sama gue." Hadwan tersnyum pura-pura malu. Hih, melihatnya membuat Arisha semakin menambahkan Hadwan ke black list calon suami. "Dih, lo kali. Dari tadi, lo mulu deh perasaan yang suka goda gue. Ucapannya kayak berharap banget. Kebalik, Wawan." Arisha melihat Hadwan dari kaca. "Gue, sih, ogah. Makanya lo jangan terlalu berharap sama gue," kata Hadwan ikutan berdiri. Detik selanjutnya, Hadwan kualat. Dia ikutan kepeleset seperti Arisha tadi. Tawa mereka langsung menguara seketika. Apalagi Arisha. Dia yang paling keras menertawakan Hadwan untuk sebuah pembalasan. "Puas! Kualat sama gue." Arisha bergumam pelan. "Gue denger, heh!" Hadwan langsung menyahut dengan cepat. "Hm, sengaja, biar lo denger. Harusnya lo minta maaf, sih, sama gue kalo bisa. Nanti lo bisa jatuh lagi karena gue belum ikhlas untuk didzolimi." Arisha membalikan badan, tersenyum pongah sembari menaikan alis dua kali. "Nggak mau lah. Gue nggak percaya." Hadwan kembali berdiri, tetapi detik itu juga, dia jatuh lagi. Sudah Arisha bilang, kan, tadi? Hadwan kenapa bisa sangat keras kepala, coba? Dia sudah baik untuk memperingatkan Hadwan. "Minta maaf lo sana, Wan. Suhu gue ini," ucap Babang menunjuk Arisha. Huh, semakin besar kepala saja si Arisha, batin Hadwan mulai ketar-ketir. "Please don't be mad at me." Muka Hadwan memelas kasihan. Seolah memanfaatkan keadaan, Babang menyuruh Intan membuka filter acara televisi. Dengan senyum puasnya, Intan menurut dan merekam aksi lelaki itu. Arisha yang menyadari pun berdeham beberapa kali. Dia menarik napas. "Belum tulus kedengerannya. Minta maaf yang baik, ya, Big Boy." Arisha tidak kuasa menahan tawa. Apalagi saat melihat Babang, Rani, Ikhwan, dan Khansa yang tertawa sampai keluar suara 'ngek'. Tolong, Arisha ikutan bengek. Hadwan mencebik. "I didn't mean to—" "Iya-iya, udah. Aduh, perut gue. Bengek, woy." Arisha mencengkram perutnya dengan tawa yang masih susah untuk berhenti. Dia sampai jongkok untuk bisa merelakannya. Saat sadar kamera, Hadwan langsung diam tak berkutik. Dih, dia dijadikan konten. "Lo semua ngefans sama gue?" "Dih, s****n, lo!" Tampaknya, Babang ikutan kesal meskipun masih tertawa terbahak. Intan kembali memutar video, dia berjongkok dan membuat mereka mendekat, meskipun berdiri. Muka Hadwan sangat totalitas kalau main drama. Bisa jadi, Hadwan bisa menang kalau ada pentas di sekolah. "Muka si Hadwan mah bully able banget," kata Intan terus terang. Daripada dia harus bohong terus, kan? Intan baik niatnya. "Si aduh. Kasihan si Hadwan." Hadwan merasa punya teman. Tapi cuma Ikhwan doang. "Tapi sayang, ucapan lo bener, Tan." Ikhwan yang semakin s****n.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN