Hukuman

1554 Kata
Perut Arisha yang kosong tidak bisa lagi dia tahan. Berhubung dia bukan orang yang suka makan nasi di pagi hari, gadis itu membawa satu plastik donat di kantin. Duduk di kursi kantin paling atas membuat dia bisa memerhatikan setiap orang yang sibuk dengan kegiatannya. Kali ini, Arisha sendirian. Dia pula belum menaruh ransel ke kelas saking sudah sangat lapar. Semalam, dia lupa makan. Itulah sebabnya. "Bisa minta saos cokelat?" Mendengar pertanyaan barusan, Arisha yang semula akan menyimpan wadah cokelat cair itu pun mendongak. "Em, oke," katanya kaku sembari memberikan wadah transparan itu yang langsung Arian terima. Siapa sangka, kalau Arian langsung ikut duduk di depannya. Sadar kalau orang di depan dia bingung, Arian mengedarkan pandangan lebih dulu. "Semua kursi penuh. Jadi—" "Oh, iya-iya. Paham. Nggak papa, duduk aja, Kak." Arisha tersenyum paksa sebagai formalitas. Dia kembali makan donat dengan muka berpaling ke sisi kiri. Memperlihatkan para murid yang mulai berdatangan, adik kelas yang piket di depan, dan yang main bola di lapangan. Huh, mereka sangat rajin sekali. "Aris—sha?" tanya Arian patah-patah. Wajahnya terlihat ragu. Saat Arisha menoleh kaget, lelaki itu malah berdeham sembari menunduk beberapa detik. "Ya?" Arisha memajukan kepalanya sedikit. "Em, kenapa?" "Nggak-nggak. Cuma ... itu." Arisha meringis. Mereka kenapa jadi sama-sama seperti orang gagap seperti ini!? "Itu? Itu apa?" "Makasih." Meskipun tidak tahu ucapan itu pada kejadian yang mana. Arisha hanya mengangguk. Menit selanjutnya, meja mereka hanya diisi kekosongan semata. Tak ada obrolan yang keluar lagi. Mungkin, bingung juga harus bicara tentang apa. Mengingat kalau keduanya memang belum terlalu lama kenal. Kenal pun hanya sebatas tahu nama dan orangnya. "Kak, aku duluan." Arisha mengangguk kecil. Arian mendongak, sampai tersedak saat melihatnya. Takut kalau makannya berantakan, dia lekas meraba muka tak beraturan. Melihat tangan. Bersih, kok. Lalu, Arian kenapa? "Iya." Langkah Arisha mulai cepat menuruni anak tangga. Entah hanya perasaannya atau memang iya, dia merasa kalau Arian memerhatikan sampai sekarang. Saat dia menoleh, lelaki itu tengah melihat ke arahnya. Namun, langsung memalingkan wajah saat sadar kalau Arisha sudah menoleh. "Dia kenapa, sih? Bulu kuduk gue sampe merinding gini." Arisha mengusap lengannya, kemudian memacu langkah menuju kelas. Tepat di belokan koridor, mata gadis itu menajam saat berpapasan dengan Hadwan. Dan yang paling penting, Hadwan duluan yang menatapnya jahil. "Semalam teleponan berapa jam?" Hadwan memberhentikan langkahnya, tepat di samping Arisha sampai gadis itu pun ikut berhenti mengingat kejadian semalam. Pertanyaan Hadwan tidak salah, karena sangat tumben, malam kemarin, obrolan mereka lumayan nyambung. Sampai tidak sadar kalau teleponan hampir dua jam. Hey, musuh macam apa yang mau melakukan interaksi semacam itu sampai larut? Dia khilaf. Meskipun, tidak bisa dipungkiri kalau dia dan Hadwan itu satu frekuensi. "Kuota gue abis gara-gara lo!" katanya bengis. Hadwan langsung terkekeh. Haduh, sangat bodoh sekali Arisha ini. "Jadi gue? Lo sendiri yang mau diajak ngobrol." "Ya lo, sih, nyerocos mulu. Gue kan jadi kepancing, Wawan." "Tapi gue asik, kan, sebenarnya? Yang penting lo terhibur!" Terhibur? Mendengarnya saja sampai membuat wajah Arisha masam. Baru saja menunjuk muka Hadwan, perempuan dari belakang menegur. "Kalau mau pacaran jangan di Koridor." "Si—eh, Kak?" Arisha terkekeh kaku melihat ketua English Club yang sesungguhnya. Dia melotot pada Hadwan, tetapi lelaki itu malah mengangkat bahu acuh. "Duluan, Kak. Bye!" Arisha berlari kecil setelah melambaikan tangan. Hadwan sampai geleng-geleng kepala melihatnya. "Wan, thanks, ya, udah handle pengukuhan kemarin. Padahal lo belum resmi gantiin gue," kata Hanum merasa bersalah. "Sip. Santai aja kalo sama gue. Harusnya gue yang berterima kasih sama lo." Hadwan tersenyum miring. Hanum mengernyit. Kenapa jadi kebalik? "Why?" "Gue jadi punya b***k baru!" balas Hadwan terkekeh pelan di akhir kalimat. Kalau saja Arisha tahu, maksud dari pernyataan Hadwan, dia pasti sudah dihajar. "Gebetan baru kali. Yang tadi, ya?" Hanum sengaja tersenyum menggoda. Namun, Hadwan malah bergidik. "Enemy! Nggak akan jadi gebetan. Percaya sama gue!" Hanum mendengus, kemudian pamit ke kelasnya yang berseberangan dengan koridor tempat berdiri mereka saat ini. "Intaaan." Baru sampai kelas, Arisha langsung duduk di sebelah Intan dan merengek. Gadis itu langsung menutup buku, mengubah duduknya menghadap Arisha. "Lo sama Kak Arian makan bareng?" "Hah?" Padahal dia tidak mau cerita tentang itu. Akan tetapi, sepertinya ada cerita yang harus dia luruskan. "Fotonya kesebar di grup kelas," lirih Intan. "Diam-diam menghanyutkan lo, Ar. Tahu-tahu lagi PDKT sama idola sekolah." Arisha menoleh bingung pada Ela yang berteriak di belakangnya. Kenapa mereka langsung menyimpulkan seperti itu? Dia menyangkal ucapan Ela barusan. Sampai semua anak perempuan di kelas mengerubunginya, meminta penjelasan. Arisha sampai menghela napas lebih dulu. "Jadi, keadaan kantin lagi penuh. Ya ... nggak ada kursi kosong selain di meja gue. Makanya Kak Arian ikut di sana. Udah, the end." Arisha menggerakan kedua tangannya ke samping. Mereka belum puas. "Tapi, Kak Arian bisa aja bawa makanannya ke kelas. Di sini nggak ada larangan nggak boleh makan di kelas ini, terus kenapa dia bisa milih duduk sama lo?" tanya Novi sampai memberikan opini yang lumayan masuk akal sebenarnya. "Mungkin, ribet." "Emang tadi dia makan apa?" Kali ini, Ulfah yang bertanya. Hih, dia mendadak jadi artis gini. "Donat." Ela yang duduk di belakangnya menggebrak meja gemas. "Donat tuh simpel, kan? Berarti ada alasan lebih, kenapa Kak Arian mau makan sama lo gini." Vira mengangguk beberapa kali sampai mengusap dagunya pelan, seolah berpikir. "Faktanya gini, Kak Arian tuh paling nggak mau makan sama orang yang nggak terlalu dia kenal." Ela kembali menggebrak meja. "Nah, itu! Tiap ke kantin pun, dia udah kayak cewek. Mepet mulu sama dua sahabatnya." "Kalian pikirin aja sendiri lah konspirasinya gimana." Arisha berkata, menghela napas kemudian. Dia menyuruh mereka untuk bubar dari bangkunya. "Gue curiga kalau Arian naruh penasaran ke diri lo, Ar." "Ck! Elaaaa. Diem, ih!" protes Intan yang dari tadi diam. Dia yang pemburu cowok ganteng dan misterius ini sedang berpikir. "Gue masih penasaran tahu!" "Gue teh lagi mikir tahu!" Intan mendelik. Seiring dengan Ela yang menarik tubuhnya dari meja dan duduk kembali. ••• Istirahat yang cukup membuat geger grup pengukuhan. Katanya, Hadwan dipanggil oleh kepala sekolah. Firasat Arisha sungguh tidak baik-baik saja sekarang. Langkahnya berpacu di tengah koridor. Membuat Intan mengernyit, meskipun akhirnya ikut berlari menyusul gadis itu. Tiba di depan ruangan kepala sekolah, kepalanya menempel pada pintu. Menajamkan telinga agar pembicaraan mereka terdengar. Disusul oleh Intan yang merapat, lalu memegang bahunya. "Mereka ngomong apa, sih?" bisik Intan yang dibalas gelengan. "Orang tua dia melapor ke sekolah." Suara kepala sekolah terdengar. Hah? Arisha langsung memejamkan mata. Kejadian saat di sekolahnya dulu terasa kembali terjadi. Tentu, yang disalahkan yang mengadakan acara. Bahkan, orang tuanya sampai menuntut pihak sekolah. Oleh karena itu lah, dari kemarin dia yang paling khawatir. "Saya mengaku salah, Pak." Kepala sekolah menghela napas lelah. "Saya kecewa dengan kalian. Setelah diberi kepercayaan, harusnya bisa menjaga amanah dengan baik. Baru kali ini, ada ekskul yang sampai membuat orang tua sampai akan menuntut kita." "Menuntut, Pak?" tanya Hadwan tak percaya. Kepala sekolah mengangguk—Brama. "Hadwan udah di dalam?" Mendengar pertanyaan yang secara tiba-tiba terdengar itu, kedua orang tersebut berjengkit kaget dan memundurkan langkahnya. Kemudian, menghela napas lega saat mendapati Bu Adinda yang khawatir. "Iya, Bu. Hadwan udah di dalam." "Ya udah, ibu masuk dulu. Kalian jangan khawatir. Semuanya bakal baik-baik aja." Ucapan Bu Adinda memang demikian, tetapi raut wajahnya berkata tidak. Bukannya semakin tenang, mereka malah makin khawatir. "Konsekuensi apa yang kamu pikirkan?" "Hukuman?" tanya Hadwan ragu. "Kamu ketuanya, bukan?" Hadwan mengangguk tegas. "Saya akan mencabut hak kamu untuk ikut pemilihan ketua umum." Napas Hadwan langsung sesak. Untuk bicara pun susah. Seolah ada gledek panjang yang menghantam tubuhnya. "Saya ikut!" Saat Bu Adinda melangkah masuk, Arisha mengikuti dari belakang. "Pak?" sapa Bu Adinda lebih dulu sebagai formalitas. "Menurut saya, Hadwan tidak salah, Pak!" Arisha berucap tegas. Karena baginya, yang salah bukan lah Hadwan. "Bukan hanya Hadwan yang salah, tetapi saya pun salah di sini." "Semua panitia yang bersangkutan ikut bersalah, Pak." Semua orang dalam ruangan menoleh kaget ke tengah pintu. Di sana ada semua panitia yang bicara kompak. Arisha tersenyum haru, sedangkan Hadwan menatap tak percaya, pun dengan Bu Adinda. Ternyata, anaknya memiliki jiwa solidaritas yang tinggi. Meskipun Hadwan sering menyuruh mereka tidak masuk akal, tetap Hadwan tetap lah ketua yang terbaik untuk mereka. Kalau saja Hadwan tidak tegas menyuruh ini dan itu, pekerjaan mereka pasti akan terkesan lebih lambat lagi. "Bukan hanya Hadwan yang seharusnya dicabut hak itu." Arisha kembali menoleh, menatap berani kepala sekolah yang tidak berkutik sama sekali. "Ketua itu ayah dari kalian. Kalau kalian gagal, berarti dari ketua itu sendiri. Keputusan saya sudah tepat dan tidak bisa diganggu gugat. Bahkan, saya ingin mengganti pembina kalian dengan yang baru," jawabnya enteng. Arisha langsung kaget. Seenaknya sekali memutuskan keputusan seperti ini secara sepihak. Mentang-mentang kepala sekolah? Mentang-mentang jabatan tinggi? Jabatan ayahnya lebih tinggi lagi. Bahkan, dia bisa saja menyuruh ayahnya agar Pak Brama dikeluarkan. Namun, Arisha tentu tidak akan mengambil langkah pendek seperti itu. "Maaf, Pak. Menurut saya, tindakan bapak terlalu gegabah!" kata Bu Adinda kesal. "Iya, sebagai kepala sekolah. Seharusnya, bapak bisa mengambil langkah dengan bijak. Bukan dengan cara seperti ini. Bagi kami, bapak adalah yang sama dengan Hadwan. Seharusnya, bapak bisa berperilaku adil dan tidak semena-mena." Kepala sekolah menoleh pada Arisha yang berucap demikian barusan. Harga dirinya terasa tersentil. "Bagi saya, langkah tadi sudah bijak." Huh, dasar kerasa kepala. "Tapi kami pun sepertinya harus mendapatkan ganjaran juga, bukan? Bukan hanya Hadwan," kata Khansa berani. "Jika kalian memang merasa bersalah, baik." Kepala sekolah mengedarkan pandangan. "Bersihkan semua kamar mandi yang ada di sini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN