"Kalian ke mana aja?"
Pertanyaan Bu Adinda membuat dia dan Hadwan silih pandang sejenak. Arisha memberi kode agar lelaki itu tidak membicarakan kejadian tadi—saat Arisha hampir jatuh ke bawah. Namun, telinga Hadwan harus dicungkel pakai linggis. Mulutnya harus dikasih lem biar tertutup rapat.
"Ada tragedi sedikit, Bu. Arisha ceroboh. Dia kepeleset. Terus nangis."
Ih!
Melayangkan tatapan tajam—yang sungguh, tidak membuat Hadwan takut sama sekali—Arisha menginjak kaki lelaki itu murka. s****n! Dia jadi malu saat ditatap khawatir oleh sebagian orang. Mana ada satu adik kelas yang nyempil, karena belum hapal-hapal. Dia rasa, bukan hanya Babang yang pandai dalam merusak image-nya. Hadwan masuk ke list pertama!
"Tapi kamu nggak papa?" tanya Bu Adinda dan menyuruh Arisha untuk duduk lebih dulu di sampingnya, kemudian memberikan air mineral yang Arisha terima langsung. Sedangkan Hadwan duduk di batang pohon sisa ditebang dengan Babang. Lelaki itu bisa melihat Arisha dari samping.
Dia menggeleng. Tolong, Arisha tidak suka kalau ditatap seperti itu.
"Nggak papa, Bu. Saya beneran nggak papa, tadi cuma syok aja karena Hadwan."
Hadwan menghela napas setelah ditepuk bahunya oleh Babang dan menunjuk Arisha yang merasa tak berdosa sama sekali. Mereka malah silih saling mengadu terang-terangan kembali.
"Gue lagiii," ucap Hadwan melengos sampai mengundang gelak tawa dari yang lain. Punya salah apa, sih, dia dengan Arisha?
Sepertinya tidak.
Sepertinya!
"Ya udah kalo gitu. Ibu takut, kamu kenapa-kenapa."
Arisha tersenyum tipis. "Maaf, ya, Bu, kami telat."
"Nggak papa. Yang penting kamu selamat. Tadi ada Babang sama Ikhwan yang handle, kok."
Akhirnya, Arisha bisa menarik napas lega. Jadi, semua kelompok sudah selesai dites vocab dan sekarang sedang istirahat di dekat danau. Mereka telatnya kelewatan. Oleh karena itu, Arisha merasa sangat bersalah.
Saat Intan dan Khansa memanggil semua panitia, Arisha berjalan cepat agar bisa duduk di batang pohon yang sudah jatuh. Sedangkan yang lain duduk di saung.
"Eh, cek dulu jawabannya. Kita tentuin juara sekarang."
Lho? Agaknya dia kurang briefing lagi. Dia kira, yang cek soal itu, ya anak yang buat soalnya.
"Lo kalau mau nyantai gak papa. Lo habis jatuh. Diem aja!" kata Intan menunjuk. Dan Arisha tentu akan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Dia malah mengambil tas dan balik lagi ke tempat sebelumnya, kemudian menikmati cokelat.
"Hadiah juaranya apa aja?" Kali saja Arisha bisa menambah kalau masih kelihatan kurang.
"Juara satu, sih, cuma dua cokelat doang. Dua sama tiga disamain," jawab Khansa sambil menghitung nilai.
"Gue tambahin, deh. Boleh?"
Semuanya kontan menoleh. Bukannya tidak mau, mereka takut kalau makanan Arisha aneh-aneh. Karena yang sudah lalu pun, bukan aneh lagi. Namun, sangat aneh.
"Kenapa, sih?" Arisha bertanya aneh. Keningnya mengerut.
"Gue hargai niat baik lo, tapi .... "
Rani melirik Khansa dan Intan. Dia seperti tidak enak untuk melanjutkan ucapannya.
Hadwan yang nyalinya lebih gede dan memang sudah niat untuk menjahili Arisha everywhere dan everytime, angkat suara.
"Makanan lo suka aneh. Mereka bukannya seneng, malah kena mental liatnya." Hadwan melengos.
Arisha beristighfar, menggelengkan kepala. "Makanan gue masih manusiawi, Allahu. Nih, lihat sendiri."
Arisha berdiri dan memperlihatkan isi tasnya. Mata Babang langsung mengerling. Dia mendekati Arisha.
"Gue minta satu. Ya?"
Huh, awalnya takut, tapi diminta juga.
"Hm, ambil aja."
Dia menyodorkan tas ke tengah-tengah mereka. Makanan yang ukurannya besar langsung dipisahkan untuk hadiah.
Melihat isi tas Arisha yang sudah berceceran, Hadwan memejamkan mata sejenak. Kelakuan anak satu ini sangatlah absurd. Terlalu banyak makanan yang Arisha bawa, sangat mirip dengan tas Doraemon.
"Lo mau jadi minimarket berjalan, apa, hah?" tanya Hadwan tak habis pikir.
Dengan muka polosnya, Arisha menoleh. "Nggak. Makanan dari abang gue kebanyakan. Jadi, daripada mubadzir, mending dikasih."
Satu hari yang lalu, Fatur memang mengirimkan segala jenis makanan kesukaan Arisha ke rumah. Tentunya, dengan buku yang Arisha suka pula yang sempat ketinggalan di Jakarta.
"Ih, abang lo baik banget. Kakak able gitu, gak, sih? Dia kelihatan banget se sayang itu sama loooo!" kata Rani dengan tatapan memuja.
"Ya ... begitu lah."
Arisha menarik napas, kemudian duduk kembali ke tempat semula.
"Mendadak pengen punya kakak nih, jadinya. Suer!" Sherly yang tengah menghias hadiah dengan pita bersuara.
"Punya kakak tuh nggak seenak yang kalian bayangin," ucap Babang membuka bungkus kue cokelat yang lumayan besar. Kue cokelat itu segera saja diburu oleh orang yang lagi menganggur.
"Halah, terserah lo, tapi gue mendadak suka sama abang lo, Ar. Kapan-kapan sabi lah, gue main ke rumah lo, biar bisa ketemu." Intan menahan sebuah senyum yang sedari tadi ingin lepas.
"Abang gue nggak ada di rumah, sih, tapi."
Intan lekas menoleh. "Ah, ya, lupa!"
"Dia di mana emang?" tanya Khansa penasaran.
"Jakarta."
"Kok, di Jakarta? Ngapain? Kok nggak ikut lo pindah ke sini?" tanya Khansa lagi. Sherly langsung menyikut lengannya, takut kalau Arisha merasa terbebani.
"Abang gue masih kuliah, sekaligus kerja juga. Jadi, ya gimana? Tanggung kalau dia ikut ke sini, bentar lagi lulus soalnya."
Mendengar jawaban Arisha, Intan menepuk tangannya sambil tersenyum. "Kita kan bestiee. Jadi, gue mah mau ikut lo aja, ya, kalau abang lo wisuda?"
Babang langsung melempar bungkus kue yang kosong. "Modus aja, lo!"
"Diem-diem, pawangnya marah!" kekeh Rani disusul oleh tawa yang lain.
Arisha hanya tersenyum geli, kemudian melirik Hadwan yang tumben saja, mendadak diam. Mungkin, karena Hadwan sedang fokus makan.
"Ngapain lo, lihat gue? Udah mulai percaya, kalau Hadwan ini ganteng?"
Masih dengan mulut penuh kue cokelat, Hadwan melayangkan sebuah perkataan yang sangat narsis di telinga Arisha.
"Idih. Apaan, sih? Meskipun kata orang-orang lo emang ganteng, ya maaf aja. Bagi gue masih tetap belum."
Arisha mendelik.
"Di mulut doang bilang kayak gitu. Padahal, di hatinya bilang gini: 'Hadwan, kok, ganteng banget, sih? Tapi gue malu kalau bilang.' Haha. Ketebak sama gue. Udah-udah. Ngaku aja, lo!"
Arisha berlagak ingin muntah. Demi apapun, mau sampai kapanpun, dia tidak akan mau bilang kalau Hadwan memang ganteng. Dia cuma naif doang. Arisha perempuan biasa, lho, ini.
"Ada yang sakit. Dia mau dibawa ke RS sekarang. Tolong, ikut gotong!" Vira berlari dari arah ruang kesehatan.
"Hah?"
Arisha langsung kaget. Sampai dibawa ke rumah sakit? Berarti parah, dong?
Hadwan, Babang, dan Ikhwan yang berlari terkesan lambat di matanya. Padahal, mereka sudah berlari kencang. Kejadian ini, membuat d**a Arisha sesak. Dia kenapa?
Apalagi saat melihat perempuan itu dibawa ke mobil oleh mereka. Keringat Arisha semakin turun tak terkira.
"Lo kenapa? Sakit?"
Arisha hanya menggeleng dengan tatapan kosong. Dia malah menyuruh mereka untuk tetap melanjutkan pengukuhan. Sebelum Bu Adinda ikut naik mobil dengan Hadwan, beliau memang sempat bilang, kalau pengukuhan harus tetap dilanjutkan meskipun tanpanya.
Hingga akhirnya, acara inti tetap berlanjut. Walau hanya sebentar.
•••
Malam tiba. Arisha menarik napas terus-menerus. Dia duduk di tepian jendela sambil bersedekap d**a. Matanya sesekali melirik ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja belajar.
Anak tadi tidak kenapa-kenapa? Dia takut, kalau anak itu sakit karena kelalaian panitia.
Daripada penasaran, Arisha duduk di meja belajar dan mengambil ponsel setengah apel itu. Di sana ada chat dari Hadwan di grup pengukuhan.
Hadwan: Iya, lumayan parah.
Dia punya firasat buruk untuk hari esok. Setelah mengirimkan balasan di grup, tak lama kemudian, Hadwan menelepon. Lah, dia tidak salah sambung?
Meskipun Arisha tidak menyimpan nomor Hadwan, dia lumayan tahu dengan foto profilnya.
Meskipun aneh, dia tetap mengangkat.
"Ha ... lo?"
Terdengar helaan napas dari Hadwan. Dia kenapa? Pikiran Arisha semakin runyam saja rasanya. Bagaimana kalau peserta tadi meninggal? Duh, pikiran dia tidak bisa terjaga dengan benar.
"Arisan."
"Apa?"
Ternyata benar. Hadwan tidak salah sambung. Lalu, kenapa Hadwan tumben mau menghubungi? Arisha jadi curiga.
"Anak tadi dirawat."
Tuh, kan.
"Kayaknya, kita terlalu keras, deh. Tempatnya terlalu jauh dari pos satu ke pos selanjutnya, maksudnya. Terus dia gimana sekarang? Pingsan? Atau gimana? Lo masih di rumah sakit? Atau, hah, gimana, sih?"
Hadwan menarik senyum tipis. Dia duduk di depan ruangan. Pada nyatanya, Hadwan tanggung jawab. Dari sore, dia tetap menunggu Kiara di luar.
"Dia lagi istirahat. Dan lo bener. Kita terlalu nekan mereka."
"Yah, Wawan. Terus sekarang lo di mana, heh?"
Hadwan melirik pintu yang sempat terbuka. Itu Dokter yang baru cek. Dia tersenyum sebentar, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Arisha.
"Di rumah sakit."
"Lo temenin dia? Dari tadi?"
"Iya. Baik banget, kan, gue?"
Arisha berdecak mendengarnya. Mau segenting apapun keadaannya, Hadwan masih mengutamakan memuji diri sendiri.
"Sombong amat."
Hadwan terkekeh. Bukan terkekeh karena ucapan Arisha. Dia menertawakan dirinya sendiri. Kenapa dia bisa salah pencet dan menghubungi gadis ini, hingga akhirnya teleponan. Sebenarnya, saat Hadwan memanggilnya tadi, dia hanya mengalihkan pembicaraan supaya tidak keceplosan.
"Gue hanya bangga sama diri sendiri. Tolong bedain. Gitu doang nggak bisa," kata Hadwan mencibir.
"Lo yang nggak bisa bedain, Malih!"
Arisha bersungut-sungut sambil beranjak keluar kamar. Tiba-tiba, dia haus. Mungkin karena sering kesal kalau sedang bicara dengan lelaki itu.
"Ar, gue gabut. Lo ngomong apa, kek, gitu."
Hadwan serius bicara seperti ini padanya? Terasa sangat mustahil sekali.
"Hadwan, sekolah nggak akan kasih score atau potong poin ke kita gara-gara kejadian ini, kan?" Arisha hanya ingin memastikan ketakutannya selama ini.
Setelah mengambil botol minum di kulkas, dia duduk di ruang tengah sambil menyalakan televisi. Selagi Hadwan diam, dia mengederkan pandangan ke setiap penjuru rumah. Sepi. Ibunya pasti masih di kamar.
"Nggak akan, semoga."
Ucapan Hadwan sungguh tidak membuat Arisha merasa tenang.
"Semoga?"
"Ya, semoga. Gue nggak yakin, Arisan."