Saat Arisha mengecek kembali setiap soal—takut kurang—regu pertama datang. Kala dia menyuruh mereka untuk jongkok dan membagikan soal, Hadwan kebagian mengecek timer. Di belakang mereka ada PMR yang siap siaga mengawasi. Disusul oleh regu lain, Arisha melakukan hal serupa.
"Aw."
Mereka sama-sama kompak menoleh ke arah regu yang baru datang. Di tengah-tengah mereka, ada perempuan yang jatuh dan tengah dibantu oleh teman-temannya. Vira lekas menghampiri. Namun, wanita itu malah menangis. Hingga Hadwan maju, dengan Arisha yang memperhatikan dari jauh—masih di depan setiap regu yang mengerjakan soal.
"Ada apa?" tanya Hadwan lembut. Huh, sangat berbanding terbalik sekali jika di depannya.
"Daraaaaah."
Mila merengek, menunjuk tangannya. Bukannya sakit karena darah itu sendiri, tapi dia takut lihat darah. Keringatnya pun sampai keluar deras.
Hadwan menyuruh anggota regu Mila untuk tetap maju ke arah Arisha, sedangkan Mila sendiri dibawa ke tepian oleh Hadwan untuk diobati oleh Vira.
"Jangan keras-keras, Kaaak." Mila kembali merengek saat Vira akan menekankan kapas pada luka gadis itu.
Sementara Hadwan mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Kamu kelas berapa?"
Mila sedikit mendongak. Menyadari kalau tinggi Hadwan sangat jauh, dia duduk bersila di samping Mila. Tolong, kelakuan kakak kelasnya ini membuat jantung Mila berdegup tak karuan.
"Ke-kelas sepuluh IPS satu," jawab Mila gugup sampai berdeham beberapa kali.
"Wah, sama. Kakak dulu di sana. Gimana kelasnya? Rame?"
Agak sebal saja gitu saat Hadwan so so-an menenangkan perempuan. Gara-gara itu, Arisha harus merebut paksa jam yang menunjukkan waktu dari tangan Hadwan. Lihatlah, Hadwan sampai melupakan tugas yang seharusnya.
"Pinjem!"
"Ngomong, kek, kalau pinjem. Perlu gue kasih contoh lagi, Arisha Larisha?"
Arisha memicingkan mata. Tahu dari mana nama panjang dia?
Gadis dengan pakaian olahraga yang tampak baru dan lebih berwarna dari yang lain itu, melengos sembari mendengus hingga mengundang senyuman geli dari bibir Hadwan.
"Untuk regu satu, waktunya sudah habis," kata Arisha sedikit menaikkan intonasi bicaranya.
Dari mereka terlihat berdecak, kesal, mungkin karena terlalu sedikit waktunya, meskipun pada akhirnya tetap mengumpulkan kertas jawaban pada Arisha dan lanjut ke pos 3.
"Pos 3 sebelah mana, Kak?" tanya Cici—ketua regu.
"Di de—"
Ah, ya. Jangan kasih tahu! Namun, kok dia kasihan gitu kalau mereka harus nyari.
"Nanti ada petunjuk di depan. Ikutin aja. Oke? Jangan tanya lagi, nanti nilai kalian saya potong!" Hadwan yang berada tak jauh di belakangnya menjawab. Untuk kali ini, dia berterima kasih pada Hadwan.
Kalau lelaki itu tidak menjawabnya, sudah dipastikan kalau Arisha akan bocor karena merasa kasihan.
"Yaah. Kakaknya jutek!" cibir orang di sebelah Cici—Sasa.
"Iya, bener. Jutek, keras kepala, bosy, nggak cocok banget buat kalian. Mending jauh-jauh deh dari kakak itu!" teriak Arisha menggebu, merasa semangat kalau menjelekkan Hadwan di depannya langsung. Daripada bicara di belakang, bukan? Lebih baik di depan orangnya, supaya Hadwan bisa introspeksi diri!
"Huh, kukira ganteng-ganteng adem. Ternyata ganteng-ganteng asem!"
Mendengar teriakan Sisi, mengundang Arisha untuk tertawa keras.
"Heh, tim kalian bisa ketikung tuh gara-gara ngomongin saya. Berangkat sana!"
Hadwan balik berteriak. Tim satu ini malah tertawa, kemudian pamit pada Arisha dan berlari kecil di tepian sawah.
"Udah nggak sakit lagi?" Hadwan menoleh pada Mila. Gadis itu menggeleng. "Sini tangannya, deh."
Mila menurut, memberikan tangannya yang tertutup hansaplast dan langsung diambil Hadwan. Lelaki itu meniupnya cukup kencang. Mila sampai tersipu dibuatnya.
Saat Arisha menoleh, matanya membola sempurna. Hih, Hadwan kerjaannya malah modal dusta pada adik kelas. Kalau tahu seperti ini, lebih baik dia pulang saja. Bukannya bantu Arisha dikit, kek.
"Modus aja terooos." Arisha mendelik sembari mencibir. Tentu, Hadwan mendengarnya dengan jelas.
Tanpa menoleh barang sejenak, Hadwan membalas, "Daripada lo. Hidupnya monoton terooos."
"Dih, tahu apa, sih, dia tentang hidup gue?" gumam Arisha mendelik malas.
"AWAS, TUH, WAKTU, ARISAN."
"IYAAA."
Mereka kira, panitia pengukuhan akan menyeramkan—sama dengan saat mereka pengukuhan di ekskul sebelah—tapi ternyata tidak. Wajah mereka pun tidak galak-galak banget, tidak cuek, dan masih bisa diajak bercanda.
"Kak, pacaran sama Kak Hadwan?"
Hah?
Arisha menoleh pada lelaki yang barusan bertanya. Memasang muka jijik, gadis itu bergidik.
"Bukaaan. Fitnah itu."
"Alhamdulillah."
Eh?
Teman di samping lelaki tadi, memukul lengannya.
"Ada kesempatan, Ga."
Adik kelas tadi, niatnya berbisik atau memang niat mau kasih kode padanya?
Arisha paham maksud perkataannya lah. Ya kali kesempatan untuk dekat dengan Hadwan. Pasti pada dirinya.
"Lah, kok nangis lagi, sih?"
Ucapan Vira barusan membuat Arisha menoleh. Memperhatikan kembali Hadwan dan Mila yang mulai berhadapan.
"Hey. Tutup mata kamu, tarik napas. Ya? Coba."
Seiring dengan Mila yang menurut, Hadwan menghapus air matanya. Dih, menjijikan di mata Arisha. Hadwan sangat bisa cari kesempatan dalam kesempitan. Mana Mila seperti senang diperlakukan seperti itu.
Kalau saja dia ada di posisi Mila, Hadwan pasti habis karena sudah berani menyentuh muka dan tangannya. Boro-boro diusap seperti itu, tak sengaja menyentuh seperti tempo lalu pun, Hadwan sampai ditendang oleh Arisha.
Apalagi konsekuensi kalau menyentuh. Mungkin, tangannya akan dia patahkan.
Hati-hati saja pada dia. Kalau ada lelaki yang mendekati, pasti langsung mode 'Senggol Bacok'.
Karena waktu sudah habis, Mila ikut masuk kembali ke dalam regunya. Mereka pun ikut berlari kecil ke pos selanjutnya.
"Lo bisa aja, ya, cari perhatian adik kelas."
Arisha lagi-lagi protes saat Hadwan kembali berdiri di sampingnya.
"Bukan cari perhatian, berprasangka buruk mulu bisanya kalau sama gue."
"Halah, terus apa? Ini pasti cuma siasat lo doang, biar nanti pas pemilihan ketua banyak yang milih!"
Lelaki itu menoleh, menatap Arisha tajam, sembari tersenyum miring.
"Sebenarnya, gue nggak kepikiran untuk lakuin itu. Tapi, berhubung lo bilang, layaknya bagus kalau gue kayak gitu."
Dih, Arisha semakin kesal mendengarnya. Ngeles terus kerjaan Hadwan iniii. Dia sampai mengepalkan tangan tepat di depan wajah Hadwan langsung. Bukannya balik kesal, Hadwan malah meledek dengan melakukan hal serupa. Apalagi mukanya yang sengaja dijelekkan. Meskipun tetap saja ganteng.
"Gue nggak tega kalau lihat cewek nangis." Hadwan tiba-tiba bicara.
Arisha menurunkan tangannya, menatap Hadwan serius.
"Bawaannya, kayak lihat ibu. Tiba-tiba suka sesak aja, pengen tenangin ceweknya."
Jadi, ceritanya Hadwan lagi curhat padanya?
Atau apa?
Hadwan membungkuk sedikit, agar sejajar dengan Arisha yang lebih pendek darinya.
"Kecuali lo."
"Dikira gue bukan cewek, hah?"
Hadwan mengangguk kecil. "Ya, masih perlu dipertanyakan."
"Najis banget, gue sama lo. Jauh-jauh deh!"
"Siapa juga yang mau deket-deket sama lo?"
Tolong, Vira pusing melihat mereka berdua!
•••
Saat semua regu telah maju ke pos selanjutnya, Arisha dan Hadwan memotong jalan untuk sampai dengan cepat ke Bu Adinda. Sedangkan Vira turun lagi lewat jalan tadi, untuk ikut berjaga di tenda kesehatan.
Saat berjalan di tepian, Arisha menoleh ke bawah. Hih, seram. Mana sangat tinggi pula. Bawaannya pusing kalau lihat ke bawah terus. Apa dia punya phobia ketinggian? Perasaan tidak.
"Hati-hati, Malih!" peringat Hadwan yang berjalan di belakangnya.
Baru saja berdeham, kaki Arisha terpeleset—hampir terjun ke bawah. Kalau saja dia tidak berpegangan langsung pada tanaman rambat dan akar pohon, mungkin dia sudah mati.
Napasnya langsung berburu takut. Dia melihat ke bawah. Gila, batu semua.
"Ar, pegang tangan gue!"
Perlahan, Arisha mendongak. Entah sejak kapan, Hadwan sudah mengulurkan tangannya. Apa dia bisa naik lagi ke atas? Dia takut. Namun, kalau dia melepaskan pegangannya, Arisha bisa bertemu dengan Arshi, kan?
"ARISAN, DENGERIN GUE. PEGANG TANGAN GUE SEKARANG, PINTER."
Arisha tak kunjung mengambil tangannya. Hingga menit selanjutnya, Arisha semakin turun ke bawah. Dia menangis.
Kalau dia bisa bertemu dengan Arshi, bagaimana dengan Fatur, Tio, dan Lastri? Hanya dia satu-satunya anak perempuan yang masih bertahan untuk hidup.
"Ar, lo nggak niat bunuh diri, kan? LO JANGAN SENGAJA LEPASIN!" teriak Hadwan kembali. Napas dia ikutan memburu. Tatapan matanya menajam seiring dengan Arisha yang menghela napas.
"Arisan!"
Arisha mendongak, menatap tangan Hadwan. Tanpa ragu yang memburu seperti tadi, dia menerima uluran tangan itu. Sampai Hadwan menariknya dengan sekuat tenaga.
"Lo nggak papa?"
Arisha selamat?
Dia masih hidup?
Arisha membungkuk saat sampai atas. Gadis itu menghapus air mata, seiring menenangkan jiwa.
"Gue takut kalau lo sampai terjun. Nanti lo mati di depan gue. Dan berhubung gue ketuanya, gue yang bakal kena marah!" marah Hadwan merasa tak habis pikir saat Arisha sangat lama menerima bantuannya.
"Jangan kebiasaan mikir yang nggak-nggak. Gue juga nggak akan lepasin lo tiba-tiba saat lo pegang tangan gue! Satu menit lagi lo nggak nerima, bisa jadi lo udah wassalam. Bisa bedain dikit nggak, sih?"
Arisha menoleh. "GUE NGGAK MIKIR KAYAK GITU."
Hadwan kaget. Wanita di depannya ini menangis? Ah, masa? Dia kira, seorang Arisha tidak akan bisa mengeluarkan air mata di depan manusia. Biasanya, tipikal orang seperti Arisha, suka lebih memilih diam-diam menangis, daripada terang-terangan.
'Gue mau nyusul kakak gue.'
Ya kali Arisha harus bicara jujur seperti itu. Pikiran tadi saja, sudah membuat Arisha kecewa pada dirinya sendiri.
"Sorry."
"Hm."
Arisha kembali menarik napas, mengusap kasar air matanya.
"Kalau lo mau nenangin diri dulu, duduk aja, nggak papa. Gue tungguin."
Ini beneran Hadwan?
Katanya, dia termasuk orang yang dikecualikan. Namun, ternyata tidak.
Seiring dia yang duduk. Hadwan ikutan duduk di depannya. Lelaki itu membalikan tas, memberikan yoghurt gambar aloevera ke hadapan Arisha.
"Minum dulu."
Meskipun masih aneh, Arisha menerimanya, menegaknya pelan-pelan. Dia masih menatap Hadwan yang menggendong tasnya kembali.
"Gue nggak racunin! Lihat aja sendiri, tadi masih disegel."
"Gue nggak nuduh lo. Gue pun mikir, ini masih biru. Meskipun bisa aja, lo kasih racunnya lewat suntikan ke minuman ini."
"Teteeeep aja nethink."
Melihat Hadwan yang mendelik, Arisha malah tersenyum. Hadwan sampai bingung melihatnya. Ada jin apa yang menempel, sampai Arisha bisa senyum tanpa mengejek seperti itu?
Hadwan memicing. "Lo kayaknya langsung tobat, ya, gara-gara mau mati barusan?"
"Heh, mulutnyaaaa."
"Lupa, gue. Lo kan manusia aneh. Eh, atau lo bukan manusia?"
"WAWAN!"