Permasalahan Arisha dalam pandangan Anida rupanya belum selesai. Gadis itu terang-terangan mengadu pada pembimbing saat di ruang sekretariat—yang jelas-jelas mereka pun berada di sana, termasuk Arisha—tapi Anida tak takut sama sekali.
"Oh, iya, kamu juga belum, ya?"
Mendapat pertanyaan tersebut, Arisha mengangguk sembari tersenyum tipis.
"Dia ikut dikukuhkan besok aja, Bu, sekalian," kata Babang.
"Biar panitianya kekeluargaan banget, ya, kan, sama peserta?"
Intan ikut bicara. Lho, ini sangat berbeda dengan pikiran Anida. Ah, ekspetasi dia hancur.
"Terserah Arisha aja, mau dites sekarang atau besok."
Kenapa Bu Adinda bicara seperti itu!? Huh, sangat membuat Anida geram. Dia ingin pulang kalau seperti ini jadinya. Lihatlah, Bu Anida pun kenapa sangat baik pada Arisha?
Padahal, dia ingin Arisha keluar.
"Sekarang, Bu!" Tunggu, itu bukan Arisha yang bilang. Melainkan Hadwan yang berniat jahat padanya. Hadwan ingin, Arisha kesusahan. Pasti. Sudah ketebak pikiran Hadwan bagaimana.
Menoleh pada Hadwan yang duduk di depannya dengan jarak yang renggang, mata Arisha melotot dengan senyum terpaksa. Sedang Hadwan tersenyum miring. Kapan lagi, melihat Arisha susah?
"Kenapa jadi kamu? Ibu nggak tanya."
Haha. Skakmat.
"Kan, itu, Bu. Arisha kan temen DEKET saya. Jadi, saya pasti tahu kalau ... dia pasti bisa lah kalau cuma 100 vocab aja," jelas Hadwan sangat manipulatif.
Arisha menghela napas. Hadwan sangat totalitas, ya, rupanya dalam mengerjai dia!?
Dikira Arisha tidak bisa apa!?
Bu Adinda berdeham beberapa kali, membuat Hadwan sadar kalau dia salah ngomong. Matanya mengerling sembari menelan saliva, saat semua orang yang ada di ruangan itu menatap mereka bergantian.
"Iya, sekarang aja, Bu. Kalau besok, takut ngeganggu peserta lain."
"Nanti mereka bingung, kalau lo itu siapa. Atau lo disangka sombong, karena udah jadi kakak kelas, tapi kok ikut dites?" kata Hadwan memeragakan orang yang sedang bingung. Di balik itu, masih ada senyum devil yang masih bisa Arisha lihat.
Bu Adinda menyuruh dia mendekatinya, kemudian menyuruh Hadwan untuk menjadi saksi—disuruh ngitung—seberapa banyak vocab yang Arisha sebutkan. Sementara panitia lain disuruh mengambil pin di rumah Bu Adinda yang ketinggalan, cek tempat, dan pesan makanan.
"Bu, kok, dia? Mending saya itung sendiri aja. Dia suka nggak jujur orangnyaaaaa."
Hadwan merotasikan mata malas. Arisha terlalu overthinking. Meskipun, Hadwan sebenarnya punya niat untuk melakukan itu. Hanya saja dia kasihan. Mau bagaimanapun ceritanya, dia masih punya hati nurani.
"Tuh, Bu. Bukan saya yang suka bohong, tapi dianya aja yang suka overthinking. Ujungnya fitnah saya berlebihan dan—"
"Lo juga barusan fitnah, Wawan." Arisha memotong ucapan Hadwan seraya melempar penghapus bor ke tangan lelaki itu.
Dan Hadwan tidak tinggal diam. Dia mengadu pada Bu Adinda, sampai pembimbing itu menggelengkan kepala beberapa kali karena pusing melihat kelakuan mereka berdua. Dia seperti sedang cosplay jadi ibu kandung mereka, yang menyaksikan keributan adik-kakak di rumah.
"Dia suka nyakitin saya, Bu," adu Hadwan memelas.
Arisha lekas menatapnya tajam. Hey, apakah tidak salah? Bukannya Hadwan yang pertama kali menyakitinya!? Lelaki itu mendorong dia sampai terjungkal, lho. Posisi saat itu pun, dia berada di tempat atas. Ya sakit lah rasanya. Sakitan mana coba?
"Dia duluan, lho, Bu. Sejak pertama ketemu—"
"Lo langsung suka sama gue!"
"Idih!"
Arisha kembali melempar penghapus bor satunya lagi. Tatapan matanya sungguh tidak bersahabat bagi siapapun saja yang melihatnya.
"Jangan ngarep! Manusia setengah setan kayak lo, nggak mungkin jadi tipe gue. Dih, amit-amit."
Arisha bergidik ngeri. Kalau disuruh milih antara Hadwan dan Babang pun, dia pasti milih Babang. Meskipun anaknya sengklek, Babang tuh setia, tidak emosian, pengertian.
"Berantemnya udah?" Bu Adinda melihat mereka bergantian, "katanya deket, tapi kok berantem mulu."
"Hadwan doang, Bu, yang merasa dekat sama saya. Saya, sih, nggak. Kasihan, ya, Bu. Kayak cinta sepihak gitu." Arisha memajukan kepalanya sedikit, berniat berisik, tapi suaranya kegedean.
Hadwan melotot. "Woah, dia sengaja biar waktunya diundur. Padahal lagi ngapalin dulu. Pinter banget ngelesnya."
"Fitnah lagi, kan? Lihat, kan, Bu? Nanti, kalau Kak Hanum udah beneran lengser, jangan deh, Bu, jadiin dia ketua EC."
Arisha mengibaskan kedua tangan. Sepertinya, gadis itu punya julukan baru dari Hadwan.
"Tukang hasut, lo."
"Hah? Suaranya burem."
Arisha melengos. Disusul dengan helaan napas dari Bu Adinda.
"Awas, lho, jodoh." Hadwan dan Arisha silih pandang, sama-sama bergidik ngeri, "kayak cerita ibu sama suami. Meskipun dulunya kami suka berantem kayak kalian, tetap langgeng sampai sekarang. Udah punya Khansa pun, kami tetep sama kayak kalian. Gini, nih, berantemnya."
"Tapi, di balik itu, kami saling sayang, cuma ketutup," lanjut Bu Adinda.
Arisha tidak pernah berpikir, kalau dia dan Hadwan beneran nikah. Namun, sekarang jadi kepikiran. Rumah bakal sangat berantakan, penuh teriakan, barang pecah, sama dengan kasus KDRT. Duh, tidak bagus kalau dia dan Hadwan bersatu.
"Bu, tes sekarang."
Arisha terkekeh mengalihkan pembicaraan. Dia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, sedangkan Hadwan malah menelan saliva.
Hih, dia sungguh tidak akan mau jika bersanding dengan makhluk astral seperti Arisha. Mending jomblo seumur hidup.
Detik selanjutnya, Arisha menyebutkan vocab yang ada dalam pikirannya. Dia hanya menerjemahkan barang yang dia lihat dari sekitar. Hadwan kira, Arisha tidak akan bisa. Dia pun berpikir, kalau gadis itu mengikuti ekskul ini hanya untuk bergaya. Skill Arisha pun pasti jelek.
Namun, ternyata tidak.
Pelafalan Arisha sangat bagus, suaranya mirip dengan orang luar. Dia telah salah menilai orang.
"Kandidat ibu nambah satu!" puji Bu Adinda tersenyum bangga.
Ah, Arisha sampai malu hingga menunduk dan tersenyum malu-malu.
"Dih, dipuji dikit doang terbang." Hadwan mencibir. Biasalah, orang iri. Arisha maklum.
"Iri, yaaaa?" Arisha tersenyum mengejek sembari mengangkat kedua alis.
"Jangan sombong!"
Arisha melengos. Dia sangat puas melihat Hadwan seperti ini. Ingat, dia tidak suka diremehkan.
•••
Hari yang sungguh membuat mereka kaget. Tepat, saat kumpul di sekolah dan akan apel lebih dulu, ada panitia yang sakit. Yaitu Anida dan Dinda. Padahal mereka berdua yang menjaga pos dua bersamaan. Jadi, pos dua kosong. Sedangkan mereka telah ditugaskan di pos masing-masing dan Sherly yang foto-foto.
Tidak mungkin, mereka menyuruh Sherly. Karena dia pun pasti harus bolak-balik.
"Arisha sama Hadwan kan bantu ibu, di pos terakhir. Gimana kalau mereka berdua di pos dua dulu aja? Untuk di pos terakhir, nanti mereka nyusul setelah semua regu lanjut ke pos berikutnya," saran Rani yang duduk di tengah-tengah lobi.
Sedangkan yang lain duduk di kursi sisi yang mepet dengan tembok.
"Nah, iya, gitu juga bisa, tapi kalian keteteran nggak nanti?" Bu Adinda meminta jawaban pada sepasang manusia yang malah silih pandang itu.
"Kayaknya saya nggak bisa, Bu."
Baru saja Hadwan akan menyetujui, Arisha menolak. Dia tak mungkin berduaan dengan Hadwan.
"Kenapa, siiiih?" tanya Rani geram. Padahal, mereka sedang berada dalam suasana bingung. Setidaknya lah, jangan sangkut pautkan dengan masalah pribadi.
"Nanti kita berduaan, dong, di sana. Nggak mau. Yang ketiga setan," kilahnya sampai membuat mereka melongo. Ini anak kurang suplemen, vitamin, kurang briefing, atau kebeneran lagi lola saja?
"Pikun amat hidup lo, makanya makan tuh yang bergizi, empat sehat lima sempurna. Jangan bisanya jajan seblak doang!"
Hadwan memberikan omelan sembari menarik tali name tag hitam miliknya pelan. Dia bingung, sebenarnya mereka kenapa?
Dia tidak salah bicara padahal.
"Di setiap pos pasti ada PMR!" Jawaban Intan akhirnya membuat dia malu setengah mati. Gara-gara kemarin ketiduran saat kumpulan, dia jadi seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.
Beberapa menit kemudian, mereka mengadakan apel di lapangan. Sedangkan yang kebagian jaga di pos—bersama PMR—berangkat duluan. Bertinggal Sherly dan Bu Adinda di sekolah, yang mengarahkan peserta untuk naik mobil sebagai fasilitas mereka.
"Heh, ayo!" Hadwan meneriaki Arisha tak sabaran saat mereka telah sampai di sebuah saung kecil dekat sungai yang kering. Padahal, dia sedang bawa beberapa lembar soal dari Khansa.
"Buruan, Arisan. Nanti peserta keburu dateng dan liat kita jalan ke arah mana. Mikir dikit, kenapa!"
Huh, bisanya ngomel doang. Setidaknya, bantu dia kek untuk bawa lembar ini. Sangat tidak cocok sekali menjadi ketua!
"Ya udah, buruan," katanya garang menatap sengit Hadwan.
Awalnya, mereka jalan berdua. Namun, saat Vira—anggota PMR—telah selesai mendirikan tenda untuk ruang kesehatan, mereka jalan bertiga. Hadwan di depan, sedangkan mereka berdua di belakang.
Sampai di pos dua yang ternyata lumayan jauh, sampai harus nanjak sana-sini, Arisha langsung duduk lesehan di tepian sawah. Napasnya tersenggal. Mana dia lupa, tidak bawa tas. Dia kira deket.
Gadis itu berkacak pinggang, mengambil kertas satu lembar, dan menjadikannya kipas. Matahari lumayan sudah naik.
Hadwan yang semula hanya berdiri dan melihat sungai, menoleh. Kemudian, melirik tali tas yang masih dia gendong.
Lelaki itu menyimpan tasnya lebih dulu di tumpukan jerami, mengambil air mineral baru dan buku, kemudian duduk di samping Arisha—menghalangi bagaskara yang menyorot langsung.
Menyadari tak silau lagi, Arisha perlahan mendongak. Lambat menatap buku bergambar barbie dengan tatapan aneh, dia menoleh. Tolong, dia ingin tertawa.
"Jangan Baper!" tekan Hadwan saat Arisha tersenyum.
Mendengar itu, semakin membuat Arisha tidak bisa menahan tawanya. Seorang Hadwan, masih pakai buku Barbie?
Apalagi dia cowok, ya setidaknya UPIN atau apa gitu.
"Kenapa, lo, ketawa?" Hadwan bertanya galak dengan muka merajuk.
Namun, Arisha tidak bisa berhenti tertawa. Tawanya semakin meledak, yang ada.
"Nggak-nggak."
Mencoba meredakan tawa, Arisha menggeleng beberapa kali, hingga menenggelamkan wajahnya pada lutut yang ditekuk.
Hadwan semakin penasaran. Kenapa Arisha sampai selepas itu tertawa!?
Dia ikut mendongak, melihat buku yang dia pegang. Eh? Barbie?
Dengan gerakan cepat, Hadwan menyembunyikan buku itu di balik punggung dan memalingkan wajah. s**l, dia salah ambil buku.
"Oh, Hadwan suka barbie."
Lihatlah, Arisha ingin membuat dia malu.
Gadis itu perlahan kembali mendongak, melihat ke arah Hadwan.
"Barbie? Suka Barbie yang mana, Hadwan? Mariposa atau ... Putri Duyung?"
Dia semakin gencar meledek Hadwan saat melihat mukanya yang memerah.
"Emang salah kalau cowok suka barbie?"
"Ya nggak, tapi aneh aja gitu, lho. Biasanya cowok tuh gagah. Sukanya robot—"
"Terus gue melehoy!?"
"Eh, nggak gitu. Gue nggak bilang, ih."
Arisha menarik napas. Tawanya sudah mulai habis. Detik selanjutnya, Hadwan berdecak, melirik botol yang belum dia berikan pada Arisha. Kalau dia kasih air, nanti Arisha mikir macam-macam bagaimana?
Beberapa menit, Hadwan bergelut dengan pikirannya sendiri sampai mendapat kode lewat telepon dari Babang bahwa peserta sudah datang, Hadwan melempar botol ke pangkuan Arisha. Gadis itu kembali menoleh, menekuk alisnya bertanya.
"Gue nggak mau lo pingsan dan nyusahin gue, sampai acara ini gagal."
Hadwan bangkit setelah membicarakan itu. Lebih memilih duduk di tumpukan jerami. Melirik Hadwan beberapa menit, Arisha mengigit bibir bawahnya. Jadi, minuman ini untuknya?
"SAMA-SAMA," teriak Hadwan. Dia tidak sadar kalau Hadwan pun tengah menoleh ke arahnya. "NGGAK TAHU DIRI BANGET, LO."
Baru saja mau bicara, kalau Hadwan tuh ternyata pengertian, hanya gengsi saja. Namun, mendadak lenyap pujian itu.
"MAKASIH, WAWAN. ATAS IZIN ALLAH DAN MAMA PAPA, GUE MINUM, SEMOGA NGGAK DIKASIH RACUN."
Arisha menegaknya pelan-pelan, masih menatap Hadwan seakan bicara, "Awas aja, kalo gue masuk rumah sakit gara-gara lo kasih racun di dalamnya."