ACC!

1715 Kata
Harap-harap cemas, itu lah yang dirasakan oleh penghuni semua ruangan. Meskipun kegiatan mereka lagi santai—ada yang nonton Drama China di pojokan, seperti Arisha, Intan, dan Rani—main game, layaknya Babang dan Ikhwan, serta Adinda dan Sherly yang nonton tutorial make up, percayalah. Hati mereka ketar-ketir tak beraturan menunggu Hadwan, Reva, dan Anida. Mereka tengah mengajukan proposal yang sudah tiga kali direvisi dan ditolak oleh kepala sekolah. Kalau harus direvisi lagi, benar-benar mengecewakan. Mereka sudah lelah tenaga dan mental. Sementara kegiatannya pun tinggal menghitung hari. Dan proposal masih belum di-aprove. Ya bagaimana mereka tidak takut, coba? "Wawan belum balik, ya?" tanya Arisha gamblang menoleh ke arah pintu lab bahasa. Belum ada tanda-tanda kalau mereka sudah pulang ke sini. Dia sampai menegakkan badannya untuk melihat ruang kepala sekolah yang bisa dilihat dari kaca jendela transparan Lab. Intan menoleh sebentar, sebelum akhirnya kembali menonton film Once We Get married. "Belum. Semoga berhasil, deh. Supaya tenang bikin soal buat di pos dua. Waktu itu cuma beres dikit, masih khawatir kalau tiba-tiba harus diundur." Intan berkata pelan. Disusul oleh Sherly yang merasa bersalah. Sudah tiga minggu mereka kumpulan, tetapi dia baru bisa masuk, karena mengikuti perkemahan, disusul oleh lomba lain di bidang olahraga. "Gue nggak kerja apa-apa selama ini, sorry, yaaaa," ucap Sherly merasa sangat tidak enak hati. "Santai kali, Sher. Kerjaan lo kan emang ada di lapangan langsung, jadi dokumentasi. Rasain, nanti lo yang capek di sana. Gue sans!" Babang meledek dari balik mimbar. Seiring dengan itu, terdengar suara double kill dari ponsel lelaki itu. "Nanti gue mau gusur lo biar bantu. Gampang, lo kan sans." Dan Sherly pun menimpali dengan tidak serius. "Sichen ganteng banget, asli. Kalau gue punya suami kayak dia, betah banget di rumah. Senyuman miringnya tuh malah buat gue baper banget, iiih. Sisain satu, Gusti." Intan rame sendiri. Dia menahan senyumnya saat melihat adegan pemeran utama terlihat gengsi, tetapi sebenarnya peduli. "Kayaknya nggak ada, deh, di sekitaran kita," komentar Arisha merasa realistis. Kalau ditanya mau atau tidak, dia pun mau. Hanya, memang ada di kehidupan nyata? "Yeeeh, adaaaa. Pasti ada! Katanya, setiap manusia tuh punya kembaran beda darah—maksudnya, ada yang mirip gitu, lho. Entah di belahan mana. Dan pasti ada orang yang mirip sama lo juga, Ar." Intan tetap bersikukuh dengan opininya. "Ar?" Agak aneh saat Intan memanggilnya dengan nama itu. Dia jadi teringat Arshi. Dadanya kembali terasa sesak. Ternyata, dia masih belum rela kalau sang kakak pergi secepat itu. Kadang, Arisha selalu termenung sendiri di kamar. Namun, dia harus balik ceria saat membuka pintu dan berhadapan dengan sang ibu. Dia harus pura-pura kuat, meskipun nyatanya, runtuh. "Kalau gue panggil 'Sha'. Khansa suka ikut noleh. Biasanya, dia sering dipanggil 'Sha' juga, karena serepetan dari 'Sa'." Begitulah ceritanya. Untuk menghindari salah panggil. Jadi, Intan memberikan nama panggilan lain. "Aaaar." Arisha mengejanya. Wajahnya berubah murung. Dia menatap lurus laptop, menyandarkan diri ke tembok. Tiba-tiba, segala kenangan terus berputar dalam otaknya hingga merangsang air mata untuk terjatuh. Tubuh Intan yang semula membungkuk, berubah tegak. Dia menatap Arisha serius. Raut wajahnya sangat terlihat berubah 180 derajat. "Lo kenapa? Gue salah ngomong?" Intan semakin heboh kala melihat buliran bening jatuh ke pipi Arisha. Namun, gadis itu langsung menepisnya. "Duh, lo kenapa, sih?" tanyanya khawatir. Arisha tersenyum tipis, menelisik wajah Intan. Dia tengah mencari kepercayaan di sana. Dan Arisha menemukannya. "Kakak gue suka dipanggil Ar. Dan gue ... pengen ketemu dia." "Emangnya dia ke mana? Oh, nggak ikut pindah ke sini, ya?" Arisha menggeleng, mengundang kerutan di dahi Intan. "Dia udah meninggal satu bulan yang lalu." Intan merengek, meminta maaf. Detik selanjutnya, gadis itu memeluk Arisha dari samping. Tandanya, kakak Arisha masih baru meninggal. Gadis ini pasti masih berduka. "Sorry bangeeet." "Nggak papa, gue aja yang sensitif." Arisha tersenyum tak enak. "Ya udah, gue panggil lo kayak biasa aja." "Nggak papa, Ar juga. Gue suka. Biar gue ngerasa, ada kakak di tubuh gue, Tan." Intan menghela napas. Dia semakin memeluk Arisha erat. Menenangkan Arisha agar tidak bersedih lagi. "Jangan sedih lagiiii. Anggap aja, gue kakak lo. Gue bakal ada sama lo terus!" kata Intan tersenyum lebar. Hati Arisha menghangat. Ternyata dia beruntung, bisa dekat dengan Intan cukup lama. Meskipun anaknya seperti toa, cerewet, berisik, tetapi Intan rame. Dia merasa, dia dan Intan satu frekuensi. "Dan gue lagi cari seseorang, yang kemungkinan besar udah buat kakak gue meninggal." Tangan Arisha mengepal kuat. Intan bisa merasakannya. Dia langsung mengambil tangan itu. "Gue bantu." "Makasih." Intan menarik tubuhnya. "Kakak lo dibunuh?" bisiknya. Arisha menggeleng. "Nggak." "Terus?" "Gue belum bisa cerita." Oke, Intan paham. Lagipula, setiap orang punya privasi. "GUYS!" Mendengarkan teriakan itu, mereka semua kontan menoleh pada Reva yang berdiri di ambang pintu. Wajah ketiganya sangat lesu. Ralat—Anida yang berbeda. Gadis itu sangat sinis, jutek. "Gimana? Disetujui, kan?" tanya Adinda langsung sangat berharap. Hadwan mengedarkan pandangan. Dia menarik napas berat. Dari raut muka Hadwan, sangat terlihat sekali kalau dia mulai putus asa. Mereka tidak mau berspekulasi kalau ditolak kembali, tetapi Hadwan seakan bilang seperti itu meskipun hanya diam. Suasana semakin hening, menegangkan. "DI-ACC!" Hadwan berteriak sambil menunjukkan hasilnya. "Hah?" Kaget, aneh, speechless, senang, entahlah. Mereka merasakan serangan jantung dadakan. Senyum Arisha terbit, meskipun masih bingung. Apalagi Intan yang langsung cengo. Sedangkan Babang teriak tertahan, lelaki itu sampai meninju udara. Yang paling kalem memang Sherly. Dia hanya menghela napas lega, sambil mengucap Hamdalah. "Ada ... apa, sih?" Khansa yang baru beres kumpulan Silat bingung melihat mereka. Tatapannya berkeliaran, meminta jawaban. "Proposal kita akhirnya di-acc!" teriak Ikhwan. "Hah? Asli? Eh, serius, eh!" "Serius gueee," kata Ikhwan lagi. Hadwan tersenyum pongah, dia duduk di tengah-tengah lab. Euforia di ruangan ini langsung berubah drastis. Tentu mereka bahagia, karena merasa kerja kerasnya membuahkan hasil. "Besok, kita mulai dispen buat nyiapin bahan." "Yes, dispen!" Adinda tentu sangat senang. Besok, bagian pelajaran kimia. Dia pusing dan ingin istirahat. Jadi, bisa bolos berkedok dispen! Huh, jangan dicontoh caranya ini. "Kalau dispennya, ikut pas setelah istirahat aja boleh nggak, Wan? Jam pelajaran pertama gue ada ulangan Fisika." Dan berbanding terbalik dengan Adinda, Arisha tetap memikirkan ulangan. "Nggak!" Arisha menatap tajam lelaki itu. Jangan bilang kalau Hadwan ingin nilainya jelek. Meskipun bisa nyusul sebenarnya saat istirahat. "Nggak bisa lah," jawab Hadwan lagi dengan nada sinis. Lagi-lagi dia menghela napas, gadis itu berdiri. Mengambil tasnya. Dan berjalan keluar lab. "IH, AR, MAU KE MANAA?" teriak Intan heboh. Arisha menoleh sejenak. "Susul guru fisika, kali aja masih di kantor. Gue mau ulangan sekarang." "Tunggu!" Hadwan lekas menarik tangan Arisha, tetapi gadis itu menepisnya sekuat tenaga. Matanya melotot, menatap tajam Hadwan. Seenaknya tangannya disentuh-sentuh! Dia emang cewek apaan, hah? "Jangan pegang-pegang! Mau gue tendang!?" tanya Arisha semakin galak. Hadwan berdeham, menarik tangannya. "Besok aja." "Katanya harus dispen!" Dia semakin sensi lah. Hadwan selalu senang mempermainkannya. "Nggak bisa nolak maksudnya." Hadwan tersenyum miring. Dia tidak salah dengar? Ck! Hadwan sangat menyebalkan, tolong. Sekali-kali, dia perlu healing. Menjauh sejenak dari Hadwan. "Hah?" Dia merasa makin bodoh. ••• Tadinya, Intan mau dispen saja daripada mengikuti ulangan Fisika. Namun, Arisha mengancam. Katanya, nilai lebih penting. Kalau saja Intan lebih memilih pergi ke lab bahasa—terus menunggu anak lain yang ngaret—sebenarnya hanya siasat Intan karena takut nilainya kecil. "Lo pasti bisa. Percaya, deh, sama gue. Udah belajar, kan, semalam?" tanya Arisha kembali. Dia menghalangi Intan yang akan loncat ke meja karena jalannya terhalang oleh gadis itu. Intan berdecak, merengut masam. "Udaaah, tapi gue takut kalau jawabannya langsung diperiksa. Terus, nilai gue kecil dan jadi bahan ledekan: kok anak IPA bodoh. Gue takut, iiiih!" "Sama aja lo nggak yakin sama diri lo sendiri, Tan. Kalau kayak gini, meskipun emang nyatanya lo bisa, jadi nggak bisa. Karena lo keburu takut duluan dan akhirnya nge-blank. Percaya sama kemampuan lo, bahwa lo bisa. Nilai lo pasti di atas KKM!" Intan menarik napas. Dia masih takut atas kejadian ketika kelas sepuluh. Nilai fisikanya kecil, berakhir Intan yang dibicarakan. Meskipun memakai topeng hanya sebatas candaan, sungguh melukai hati Intan. "Eh, jangan kabur!" Arisha menarik tangannya. Hingga mengharuskan Intan terduduk paksa di kursi. Dia tidak bisa keluar karena kursinya terpentok meja. Jalannya hanya naik meja atau naik jendela. "Tarik napas!" suruh Arisha sungguh tidak bersahabat. Dan Intan langsung berpikir, "Lo nggak cocok kalau jadi psikolog atau guru. Galak bener kalau nenangin orang. Niatnya doang yang baik." Gadis itu malah mencibir. Arisha mendengus. Ya memang benar, sih, ucapan Intan. Lagipula, dia pun kurang berminat mengambil profesi tersebut. Menit selanjutnya, guru Fisika masuk sambil membawa lembar kerja. Mau tidak mau, Intan harus tetap berada di kelas. Saat ulangan tiba, dia menatap Arisha sejenak. Gadis itu mengangguk, meyakinkan. Kepercayaan Intan terasa melambung tinggi dalam seketika. Dia mengambil pensil dalam tas, kemudian mengisi soal dengan lancar, dia pasti bisa. "Ar, nomor 2 rumusnya apa?" Orang-orang jadi ikutan manggil 'Ar' setelah Intan sering memanggilnya seperti itu di kelas. Tentu, Arisha mendengar bisikan dari bangku belakang itu. Bukannya mau pelit atau sombong, dia hanya tidak mau memberi contekan. Sama saja dia membantu di jalan yang sesat. Karena dari bertanya rumusnya apa, pasti langsung merembet ke jawabannya apa. Arisha bukan yang dulu lagi. Di mana dia sering dimanfaatkan oleh semua teman angkatan, untuk menyebarkan jawaban. Dia yang mikir, mereka yang menyalin. Ah, mengingatnya membuat dia sakit hati. Di saat dia membutuhkan bantuan, mereka langsung pergi. Dua jam dipakai ulangan, akhirnya jawaban mereka langsung dicek sembari guru menjelaskan. "Kalau nilai gue kecil gimana?" tanya Intan. Padahal, baru dua jam yang lalu dia merasa percaya diri! "Tambahin aja angkanya di belakang, biar disangka gede." "Ar! Aing serius." Intan menatapnya tajam. Namun, tatapan itu malah terlihat menggemaskan. "Dih, kasar." Arisha hanya mampu terkekeh. "Intan." Namanya dipanggil saat pembahasan dan mengecek jawaban selesai. Lembar jawaban Intan ada di siapa, ya? Dia jadi harap-harap cemas. "Sembilan puluh, Pak!" "What?" Intan tidak salah dengar!? Nilainya di atas KKM!? Bahkan, jauh! Arisha menoleh, tersenyum lebar. Kemudian beradu kepalan tangan dengan gadis itu. Karena keraguan yang kita punya, malah akan menyuguhkan hasil yang kita takutkan. "Arisha Lashira." Bagian namanya yang dipanggil. Dia tidak yakin nilainya akan sempurna, karena merasa salah hitung. Detik selanjutnya, saat Arisha menoleh ke pintu. Hadwan tersenyum jahil sambil mengangkat kedua alis. Dia pasti akan memberikan surat dispen, karena dari tadi pagi belum ada. Seiring dengan itu, nilainya disebutkan. Dia mohon, nilainya jangan sampai memalukan. Ini ada Hadwan! "Seratus, Pak." Hadwan yang belum juga bersuara, langsung mengubah ekspresi. Dia melihat Arisha jijik saat gadis itu menampilkan senyum bangga. "Kebetulan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN