Tersentil

1851 Kata
Kalau boleh bilang, Arisha tuh capek. Pulang sekolah, mereka harus kumpulan lagi. Untungnya, mereka kumpulan di alun-alun. Jadi, bisa sambil jajan dan nge-wifi. Setidaknya dia tidak bosan sekali kalau di sini. Ditambah, banyak pohon yang membuat suasana menjadi adem. Tidak gerah seperti di sekretariat. Intan membawakan pisang cokelat dan seblak. Tadi, dia sengaja nitip. Kalau dia, bagian beli minuman di ujung alun-alun. Arisha duduk di kursi paling ujung setelah Intan duduk lebih dulu. Saat dia mengecek list setiap anak yang sudah mendapat izin orang tua di laptop, Hadwan yang suka ngaret di manapun kumpulannya, mendadak duduk di depan Arisha sambil menyimpan s**u fermentasi di atas meja. Disusul dengan laptop. Hm, cukup menggoda. Dia mauuu. Akan tetapi, Arisha tidak bisa bilang. Dia hanya bisa meliriknya sekilas sambil menahan air liur yang mau menetes. "Ada berapa orang yang udah kasih feedback surat izin?" tanya Hadwan. Dia mengambil mie ayam yang barusan diberikan oleh penjual, menyimpannya di samping laptop. "Lumayan, ada dua puluh orang." "Bagus juga lo bujuk mereka. Yang belum kasih, coba lo rayu lagi. Bilang kalau tes nanti emang nggak berat atau gimana lah, terserah lo aja. Lo kan udah kelihatan, ada benih-benih f**k girl," kata Hadwan nyerocos tanpa rem sambil menyampurkan kecap dan sambal pada mie. Arisha hanya berdeham. Dia kembali pada chat room. Dia memang se niat itu, sampai semua anggota yang di grup, dia chat satu-satu. Dia yang tidak tahu mana kelas sebelas, dua belas, dan kelas sepuluh, beberapa kali salah peserta. Arisha memasukan pisang cokelat pada seblak. Sontak, mata Hadwan melotot. Bukan, bukan hanya Hadwan. Empat orang di meja sana sampai melongo. "Cara lo makan aneh banget, gila," cibir Hadwan sambil memasukan yoghurt ke mie. Intan mendengus. Mereka sama-sama aneh. "Kalian kayak jodoh, kalian tuh cocok. Soalnya sama. Sama-sama manusia abnormal." Ikhwan berkata demikian dengan mulut penuh pentol. Semuanya mengeluarkan gelak tawa saat melihat Hadwan dan Arisha saling memicingkan mata. Namun, tawa mereka harus reda oleh seseorang yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. "Lo juga belum ada pengukuhan," kata Anida yang pindah duduk menjadi di samping Hadwan. Arisha kembali mendongak. "Hm, dia belum ikutan tes lagi." Babang menimpali. "Terus, kenapa lo bisa jadi panitia? Harusnya, kan, lo dikukuhkan dulu gitu. Jangan seenaknya langsung masuk aja." Perkataan Anida barusan membuat Arisha sedikit tersentil. Duh, kenapa jadi gini? Babang kira, perkataan tadinya hanya sebatas candaan semata. Dia sudah sadar, kalau dia dan Anida memang tidak satu frekuensi. Hati dan seluruh badannya seakan bilang, bahwa Anida bukan kriteria untuk dia jadikan teman dekat. Boro-boro teman dekat, teman pun tidak. "Lebih baik dia keluar dulu aja nggak, sih? Humas ganti aja sama Kak Gian. Dia udah beres lomba, kok, udah free. Dan kerjaan Kak Gian pun lebih gesit gimana gitu, kan? Dia lebih berpengalaman juga. Sedangkan Arisha cuma anak baru, dia nggak ngerti apa-apa," kata Anida lagi. Hadwan yang semula makan mie pun berhenti, dia melihat Arisha tanpa ekspresi. "Kemarin, gue udah konfirmasi sama dia dan mau-mau aja, sih." Anida semakin kompor. "Mungkin, besok lo nggak dibutuhin lagi." "Kamu mau, aku keluar?" Arisha bertanya dengan datar. Melihat Anida yang hanya membuang muka, gadis itu menarik laptop. Mengangkatnya dan membawa tas. Intan, Babang, Ikhwan langsung kaget. Apa Arisha akan berhenti? "Sha, jangan ambil hati!" kata Intan memegangi lengan gadis itu. Namun, Arisha malah berdiri. "Lo mau ke mana? Udah, duduk." Babang pun ikut angkat bicara. Dia tidak mau kalau Arisha digantikan oleh kakak kelas. Please, Babang agak anti dengan kakak kelas laki-laki. Dia takut kalah saing. "Emang mau ke mana, sih?" tanya Rani bingung. Dia sempat menatap tajam Anida yang tersenyum miring. Huh, dia sangat benci dengan wanita ular satu ini. "Seblaknya belum habis. Lo masih punya tugas bujuk adik kelas, kan?" Wawan ikut menimpali. Suasana semakin canggung. Apalagi saat Arisha hanya diam, menatap Hadwan yang belum niat membuka suara sama sekali. "Oke." Gadis itu terkekeh. "Kalau itu mau kamu, ya oke. Kalian berhak punya rekan kerja yang lebih bagus. Iya, bener. Arisha masih anak baru, ruang OSIS aja nggak tahu di mana!" Arisha menyeret langkahnya keluar meja. Berjalan dengan cepat ke arah parkiran samping sekolah. Entah kenapa, dia sangat berat hati meninggalkan mereka. Huh, perasaan apa ini? Ingat, dia hanya terpaksa mengikuti kegiatan itu, karena Intan. Hatinya bergemuruh tak menentu. Titik sensitif Arisha telah disentuh lancang oleh Anida. Dia tidak suka diremehkan, hingga menyulut emosi. Terserah Anida saja lah. Hadwan termenung. Dia tidak mimpi? Arisha benar-benar keluar atau hanya marah? Tidak mungkin, kan, kalau gadis itu mengambil kekalahan segampang ini? "Lo ngapain, sih, ngomong gitu?" tanya Babang tajam. Dia yang awalnya dekat dengan Anida, merasa jadi benci. Anida hanya mengepalkan tangan. Apa dia salah, kalau dia cemburu karena semua temannya beralih pada Arisha? Tidak, bukan? "Arisha emang anak baru. Meskipun Kak Gian lebih berpengalaman dari dia, Arisha tetap yang terbaik buat kita. Dia bisa hidupin suasana, nggak kayak Kak Gian yang kayak es kutub. Dia bisa ambil hati adik kelas, sampai banyak yang mau ikutan daripada tahun kemarin. Kalau dia salah, ya wajar. Pengusaha sukses aja nggak langsung bisa ini itu dari lahir!" Intan menekankan setiap perkataannya. "Dan lo salah besar udah buat Humas kita keluar. Kak Gian bilang ke gue saat gue tawari buat gantiin dia di hari pertama, tapi dia emang nggak mau karena mau fokus persiapan buat masuk universitas. Omongan lo, bullshit!" ujar Ikhwan membawa tas. "Lo aja yang terlalu benci sama dia!" Rani mencibir. Seiring dengan Ikhwan yang berdiri. "Mau ke mana?" tanya Hadwan mendongak. "Susul Arisha. Gue nggak kayak lo, yang cuma bisa diem." "Biar gue aja. Lo sambung kerja." Hadwan berdiri, tetapi Anida menarik tangannya agar tidak pergi. Lelaki itu menghela napas, melepaskan tangan Anida pelan-pelan sampai terlepas sepenuhnya. Lalu, Hadwan berlari sekuat tenaga menuju tempat parkir. Dia pasti ke sana, karena motornya memang di sana. Dan benar saja. Arisha hampir pergi. Kalau saja dia tidak berdiri sambil merentangkan tangan dengan jantung yang berdegup kencang, capek habis lari, Arisha pasti sudah pulang. "Minggir! Gue capek, mau tidur!" teriaknya menatap Hadwan sengit. "Lo masih punya tanggung jawab." Hanya ingin bilang jangan pergi pun, sangat susah untuk Hadwan lakukan. Jujur, dia tidak mau kalau Arisha keluar dari panitia. Dia tidak punya lagi jasa ketik kalau sedang malas, tidak punya lagi teman bertengkar kalau kumpulan, dan masih banyak lagi yang masih Hadwan rasakan untuk dia pendam. Dia pun bingung, dia kenapa. "Nggak. Gue serahin ke Kak Gian, Gian, itu. Besok, gue serahin semua file ke dia. Gue bakal datang, kok, ke kelasnya." Hadwan menatap tajam Arisha. Tatapan tajam yang sangat berbeda dari biasanya. Apa Hadwan marah sungguhan? Tatapan marahnya sangat berbeda sekali. "Emang lo tahu kelasnya di mana?" Ya dia tidak tahu lah. Hanya, Arisha kan punya mulut, punya otak, dia bisa tanya pada anak kelas atau siapapun yang nanti dia temui. "Tahu. Minggir lo!" "Nggak!" Hadwan semakin berjalan mendekat. Arisha sampai menghela napas dibuatnya. Maunya apa, coba? Dia sudah mengalah untuk pergi. Jadi, Hadwan pun tidak akan merasa terganggu oleh dirinya, bukan? "Lo mau se gampang itu mundur, hanya karena omongan Anida? Hati lo cetek banget. Anida tuh, orangnya emang kayak gitu. Dia suka asal ceplos. Jangan ambil hati." "Terlepas dari sikap dia, gue pengen pergi. Gue takut, Anida merasa nggak nyaman kalau ada gue. Lagipula, lo lebih lama kenal sama dia. Nggak papa lah, kalau gue keluar. Justru bagus. Hidup lo bisa tenang, Hadwan." Baru kali ini, Arisha memanggilnya dengan sebutan Hadwan. "Tolong banget, gue beneran capek." Wajah letih Arisha, suara yang bergetar, dan tangisan di pelupuk mata membuat Hadwan menggeser tubuhnya. Memberi celah untuk Arisha pulang. "Ar, jangan keluar." Sayang, perkataan itu bisa terlontar saat motor Arisha sudah sangat jauh. ••• Besok siangnya—saat istirahat pertama—Arisha membawa sebuah flashdisk dan beberapa lembar kertas ke arah kelas dua belas. Dia sudah tahu, Gian kelas apa. Katanya, kelas IPA. Kelas yang waktu itu Arisha datangi untuk meminta formulir. Dia mengucap salam, hingga beberapa atensi di kelas Gian menoleh padanya. "Cari siapa?" tanya perempuan dengan kacamata bulat yang duduk paling depan dekat pintu ramah. "Kak Gian, Kak. Ada?" Alin menoleh sejenak ke bangku Gian. Kenapa tatapan matanya langsung sendu? Hm, Arisha langsung tahu kalau keduanya ada apa-apa. "Gian, biasanya di taman bougenville 2." "Oh, oke. Makasih, Kak." Alin tersenyum, seiring dengan Arisha yang beranjak. "Dia doi Gian yang baru? Weh, baru juga putus sama lo, Lin!" Perkataan terakhir yang Arisha dengar, tetapi tidak membuat dia terlalu memikirkannya. Tujuannya saat ini hanyalah Gian. Sudah, tidak ada lagi. Namun, taman bougenville 2 ada di mana, hey? Arisha menoleh ke setiap sisi jalanan. Hingga dia tidak sadar, bahwa ada belokan di depannya. Lelaki yang baru mau belok itu langsung menabrak tubuhnya sampai sama-sama mundur ke belakang karena kaget. Dia mendongak, hendak minta maaf. Matanya melebar beberapa detik. Arian lagi. Lama-lama, dia bisa semakin penasaran dan berakhir suka kalau ketemu terus. Eh, tidak. Boro-boro suka. Dia saja tidak tahu bagaimana mendeteksi suka atau tidak pada pria. "Kak Arian!" Arian yang semula tak peduli dan memilih pergi pun berhenti tepat di samping Arisha. Lelaki itu menoleh, menaikan sebelah alisnya. "Boleh anter ke taman bougenville 2? Maaf, kalau lancang. Aku ... nggak tahu tempatnya di mana dan keadaannya mendesak banget. Terus—" "Ayo," jawabnya sambil berbalik arah. Senyum Arisha terbit seketika. Dia mengikuti Arian dari belakang. "Kak? Kak Gian yang itu, bukan?" Arisha bertanya kala mereka telah sampai di taman itu. Sebenarnya, hanya ada satu orang di sana. Lelaki yang tengah baca buku sambil menaikan satu kakinya. "Iya." "Oh, oke. Makasih, udah anterin." "Iya." Arian kembali beranjak, menaiki anak tangga dengan cepat. Sedangkan Arisha melangkah maju ke dekat Gian yang duduk di kursi, tubuhnya bersandar ke tembok. Seakan tidak takut kalau bajunya akan kotor setelah itu. "Maaf. Kak Gian, ya?" Gian yang terusik pun mendongak. Dia mengangguk setelahnya tanpa senyum sedikit pun. Hih, serem. "Aku Arisha, Kak. Seksi Humas dari EC. Aku mau kasih file sama berkas lain ke kakak." Arisha menyerahkan setumpuk kertas dengan flashdisk di atasnya. Gian hanya mengernyit. Dia tidak paham. "Kakak katanya mau gabung lagi jadi Humas di sana? Jadi, aku mau kasih ini." "Dan lo mau mengundurkan diri, terus kasih ke gue?" Arisha mengangguk beberapa kali. "Kata Anida, kakak mau." "ARISAN!" Mendengar panggilan itu, Arisha langsung menelan saliva. Hanya Hadwan yang memanggilnya seperti ini. "Lebih baik lo pikir lagi. Dan hati-hati sama Anida," kata Gian lekas berdiri. Dia pergi lewat jalan pintas, meninggalkan Arisha yang bergeming. Hati-hati? "Arisan." Mendengar kembali suara yang menjadi lirih, dia tetap tidak mau berbalik. Dia sangat sadar, kalau Hadwan ada di belakangnya. "Jangan keluar." Tubuh Arisha langsung menegak. Perlahan berbalik, dia melihat Hadwan yang mengepalkan tangan sambil membuang muka. Disusul oleh Intan, Ikhwan, Babang, Rani, Adinda, dan Sherly yang menuruni anak tangga dengan tergesa. "Meskipun kita baru ketemu, gue yakin lo bisa. So, tetap lah bertahan!" kata Sherly tersenyum tipis. "Balik, yuk, Sha!" Intan menatapnya sendu. Mereka segitunya tidak mau dia keluar? "Gue .... " "Lama! Jadi, oke, Arisha bakal balik lagi!" teriak Hadwan tersenyum lebar. "Ih, Wawaaaaan." Dan keributan mereka menjadi tanda, kalau Arisha tidak jadi keluar. Gadis itu merengut masam sambil melempar gantungan micky mouse yang dari tadi dia pegang pada Hadwan. Namun, lelaki itu malah tersenyum miring. Kemudian, menoleh pada Arisha dengan muka datar pada menit setelahnya. "Makasih."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN